• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Program Bimbingan Akhlak bagi Santri Putri di UPT

7. Pola Pendidikan Kepesantrenan

Mahasantri yang dibina di Ma‟had Al-Jami‟ah UIN Raden Intan Lampung juga menyandang staus sebagai mahasiswa aktif yang mengikuti

14

, Laporan Pertangungjawaban, Opcit, h. 57.

15 Ustad Asep Budianto, Wawancara dengan Penulis, Staff Ma‟had Al-Jami‟ah UIN Raden

perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan lain dari pagi hingga sore hari, ditambah dengan kesibukan mengerjakan tugas-tugas kuliah di malam hari. Mudir, Asatidz juga tidak tinggal dan menetap dilingkungan pesantren, melainkan pada jam-jam tertentu saja. Sehingga praktis yang

menjadi‟menjaga gawang adalah Murabbi/ah (Pembina Asrama) dan para

Musyrif/ah.16

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya membangun

lingkungan kepesantrenan yang ideal dan efektif. Karena itu, Ma‟had Al

-Jami‟ah UIN Raen Intan Lampung „berijtihad‟ membangun pola pendidikan

kepesantrenan yang tidak tersentral pada figur Kyai dan asatidz sebagai aktor utama pendidikan kepesantrenan, melainkan lebih bertumpu pada figur Mudir, Murabbi/ah, Musyrif/ah sebagai pelaksana lapangan yang berinteraksi langsung dengan Mahasantri.

Pola atau metode pendidikan/bimbingan yang dikembangkan di Ma‟had

Al-Jami‟ah UIN Raden Intan Lampung mengandung spirit pengembangan Knowledge, skill, dan habit pada diri mahasantri, dengan pendekatan sebagai berikut:

a. Pengajaran

Mahasantri mendapat pelajaran mengenai ilmu-ilmu dasar keIslaman, antara lain: Tauhid, Fikih, Tafsir, Hadis dan yang

16

terpenting adalah Akhlak. Pola pengajaran dikemas dalam bentuk tutorial studi keisalaman beruba pengajian kitab-kitab kuning secara bandongan oleh para asatidz. 17

“Pelaksanaannya dilakukan setiap malam hari, kitab yang

digunakan kitab klasik pesantren, yaitu kitab kuning, yang dipandu oleh satu orang asatidz/dosen. Guru membaca dan menjelaskan santri

menulis dan mendengarkan”18

Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pengajaran menggunakan cara yang dilaksanakan pada pondok pesantren pada umumnya, yaitu menggunakan metode bandongan.

b. Bimbingan

“Mahasantri dibimbing dengan sistem pendampingan dan mentoring yang bersifat intensif dalam praktik membaca dan menghafal Al-Qur‟an, teori serta praktik ibadah, serta praktik

komunikasi bahasa asing (Arab dan Inggris) fungsi ini dijalankan oleh musyrif/ah dengan arahan Murabbi/ah dan koordinator masing-masing

bidang”.19

Kegiatan bimbingan dilaksanakan oleh Musyrifah dengan arahan dari Murobiyah dan Koordinator masing-masing bidang,

17Laporan Pertanggungjawaban Workshop Kepesantrenan, (Bandar Lampung: 2017), h. 38

18

Ustad Muhammad Nur, Wawancara dengan Penulis, Sekretaris Ma‟had Al-Jami‟ah UIN

Raden Intaan Lampung. 28 Agustus 2018.

artinya pengurus Ma‟had saling bekerja sama dan berinteraksi serta

bersatu padu dalam pelaksanaannya. c. Pelatihan

Mehasantri dilatih untuk memiliki kecakapan dan keterampilan dibidang keagamaan maupun non-keagamaan sebagai bekal hidup dilingkungan masyarakat, antara lain melalui program kultum ba‟da shalat maghrib berjamaah, latihan pidato, tilawah Qur‟an, seni hadroh

hingga pelatihan jurnalistik dan kewirausahaan. Program pelatihan ini bersifat harian, mingguan, bulanan, atau semester. Pelatihan kultum dan pidato dibimbing oleh Musyrif/ah.20

“Kultum dilakukan setiap ba‟da shalat maghrib jadwal dan judul

ditentukan sama devisi Minat dan Bakat, latihan pidato yaitu waktu

Muhadharah kubra dan sughra, tilawah qur‟an setiap halaqah dan

kegiatan ekstrakulikuler, semua kegiatan itu dilaksanakan oleh

mahasantri dan diawasi oleh Musyrifah sebagai pendamping”.21

Berdasarkan wawancara di atas dapat diketahui bahwa pelatihan dilaksanakan secara rutin dengan jadwal yang sudah ditentukan dan dengan pengawasan dari Musyrifah.

d. Pembinaan dan pengasuhan

Fungsi ini dijalankan oleh Mudir, Murabbi/ah sesuai dengan tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) masing-masing tujuan

20

Opcit, Laporan Pertanggungjawaban Workshop Kepesantrenan , h. 40.

21

Ukhti Nadzrotul Uyun, Wawancara dengan penulis, Kordinator Bidang Minat dan Bakat

mengarahkan, memotifasi, mengevaluasi, dan memastikan civitas berjalan dengan fungsinya masing-masing.

“Mudir selaku pembina yang menjalankan peranan ini, satu

bulan sekali diadakan rapat evaluasi, untuk mengontrol kegitan setiap bulannya, mudir juga melaksanakan pengawasan meskipun tidak setiap malam, tapi beberapa hari dalam seminggu beliau sempatkan untuk menginap dan mengontrol secara langsung kegiatan

keasramaan”.22

Kegiatan ini dilaksanakan oleh mudir, diwujudkan melalui rapat evaluasi setiap satu bulan satu kali dan juga dengan pengawasan secara langsung di masing-masing gedung asrama.

e. Peneladanan

“Seluruh elemen pengurus berperan aktif sebagai figur teladan mahasantri dalam hal berperilaku secara umum. Lebih spesifik lagi, mereka tampil sebagai contoh nyata dlam penerapan disiplin beribadah dan berbahasa sehingga mahasantri termotivasi meniru dan mencontohnya, jadi kami coba biar gak Cuma ngomong aja, tapi juga

justru langsung memberi contoh nyata”.23

Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa sebagai uswah atau teladan menjadi tanggung jawab seluruh pengurus tanpa terkecuali dengan memberikan contoh nyata dalam keseharian.

22

Ukhti Damona Mayang Sari, Wawancara dengan Penulis, Murobiyah Asrama Putri 2, 28 Agustus 2018.

23

f. Pembiasaan.

Mahasantri dibiasakan dan diakrabkan pola dan suasana khas pesantren, serta praktik kehidupan keagamaan secara umum. Shalat berjamaah (Subuh, Maghrib dan Isya), wirid, shalawat, dan membaca

Al-Qur‟an menjadi menu wajib dalam rangka menanamkan kebiasaan

baik, disamping menu-menu sunah lainnya seperti sahalat malam, shalat Duha, Istighatsah, dan puasa dihari Senin dan Kamis. Selain itu Mahasantri dibiasakan untuk hidup bersih serta rapi serta perilaku positif lain, baik secara stimulan maupun sistemik (berbasis program).

“Meskipun belum murni seperti pesantren pada umumnya, tapi

kami tetap membiasakan nilai-nilai dan kegiatan pesantren pada

umumnya di Ma‟had ini, seperti shalat berjamaah meskipun hanya 3 waktu saja dan kegiatan lainnya, kami mencoba untuk konsisten

dalam menjalankannya.”24

Berdasarkan wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa

kegiatan yang ada di Ma‟had adalah beberapa kegiatan yang ada di

pondok pesantren pada umumnya, yang dilaksanakan secara rutin atau istiqamah, melalui pengawasan dalam bentuk absen portopolio mencakup kegiatan keseharian yang harus dilaksanakan oleh santri dan mendapatkan bimbingan dari pengurus.

Dokumen terkait