• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola pengembangan paragraf secara deduktif

Dalam dokumen sma12bhsind PiawaiBerbahasa Agus (Halaman 151-159)

Aoh Kartahadimaja

2. Pola pengembangan paragraf secara deduktif

Jika dalam pelajaran terdahulu diutarakan masalah pengembangan paragraf secara induksi, pada kesempatan ini kita akan mendalami pola pengembangan paragraf secara deduksi. Pengembangan paragraf secara deduksi meliputi silogisme dan entimem. Apa pengertian kedua hal tersebut?

Secara singkat silogisme dapat diartikan sebuah cara menarik simpulan (konklusi) berdasarkan premis yang ada. Premis adalah penyataan yang dianggap atau diasumsikan benar. Premis umum mencakup lingkup atau kelas yang luas (biasanya didahului kata

semua, setiap, seluruh, atau yang sejenis). Premis khusus mencakup lingkup yang sempit yang merupakan bagian dari premis umum.

Rumus silogisme PU : A = B PU = premis umum PK : C = A PK = premis khusus K : C = B K = konklusi/simpulan a. Silogisme Contoh 1 1) Silogisme positif

PU : Semua pemimpin harus bersikap jujur dan bertanggung jawab. PK : Suwandi adalah pemimpin.

K : Suwandi harus bersikap jujur dan bertanggung jawab.

2) Silogisme negatif

PU : Semua negara maju memiliki pendapatan per kapita tinggi. PK : Indonesia bukan negara maju.

K : Indonesia tidak memiliki pendapatan per kapita tinggi.

b. Entimem

Entimem adalah silogisme yang diperpendek atau dipersingkat. Caranya adalah dengan melesapkan unsur PU (premis umum). Rumus entimem adalah

Entimem = K karena PK Contoh 1

Suwandi harus jujur dan bertanggung jawab karena ia (Suwandi) adalah pemimpin.

Contoh 2

Pak Johan selalu memahami dan menerima dengan pikiran yang positif segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya sebab ia (Pak Johan) adalah seorang yang berjiwa besar.

1. Susunlah masing-masing lima buah: a. silogisme positif

b. silogisme negatif c. entimem positif d. entimem negatif

2. Carilah bersama teman pernyataan-pernyataan di media massa yang dikembangkan secara deduksi menggunakan pola silogisme!

D. Menulis

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat menulis esai dengan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup.

Menulis esai dengan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup

Dalam pelajaran 6 telah disinggung tentang pola pengembangan karangan yang terdiri atas paragraf: pembuka, isi, dan penutup. Sekarang Anda akan diajak berlatih menulis esai dengan pola tersebut. Sebelum itu, perhatikan penjelasan singkat tentang esai berikut!

Esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Sebagaimana artikel, esai biasa dimuat di media massa

Dari segi isinya, esai terdiri atas esai formal dan informal. Perbandingan keduanya sebagai berikut.

Aspek-Aspek Esai Formal Esai Nonformal

Maksud Mengajarkan, meyakinkan, Menyajikan impresi/kesan

disertai argumen-argumen. pribadi.

Nada Biasanya serius. Biasanya ringan/santai.

Perkembangan Tegas dan teratur. Bebas dan beraneka ragam,

gagasannya sesuai selera pengarangnya.

Di samping esai, dalam keseharian orang sering menyebut istilah artikel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artikel adalah karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya. Dari pengertian itu terkesan bahwa esai merupakan bagian dari artikel. Atau mungkin Anda justru menyimpulkan tidak ada perbedaan esai dan artikel? Baiklah, mari kita sepakati, bahwa artikel itu tidak lain adalah esai dalam bentuk formal, sedangkan yang informal kita sebut esai!

Adapun format penulisan esai secara sederhana dan umum dapat digambarkan sebagai berikut.

Pengantar/pendahuluan/pembuka:

latar belakang (dan tujuan) dikemas dalam bentuk yang menarik: pepatah, kutipan, cerita lucu, syair lagu, dan sebagainya agar pembaca tertarik.

Isi:

uraian permasalahan menurut pandangan pribadi penulisnya (dapat dilengkapi contoh-contoh, data, fakta, perbandingan, disertai kutipan, anekdot, dan sebagainya).

Penutup:

simpulan/saran/penegasan kembali

1. Bacalah dengan saksama penggalan esai (formal) berikut!

2. Analisislah esai tersebut dan temukan paragraf pembuka, isi, dan penutupnya. Tulis ide-ide pokok dari setiap bagian itu! Format berikut dapat Anda jadikan ajang menulis hasilnya!

Hasil Analisis Esai Berjudul ... Karangan ...

Aspek Analisis Letak Paragraf Ide Pokok

Paragraf pembuka Paragraf isi Paragraf penutup Simpulan/ringkasan

Angkat Keripik Nanas Jadi Makanan Khas Oleh Neli Triana

Kios etalase keripik nanas milik Muslimin (50) hampir dua kali terlewati ketika sambil berkendara roda dua kami bolak-balik mencarinya di Jalan Pekanbaru-Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Rasa penasaran ingin mencoba makanan khas Kampar yang tersohor di seluruh Provinsi Riau dan telah merambah negeri tetangga itulah yang menjadi motivasi kami menyusuri perjalanan sepanjang sekitar 30 kilometer.

Agak kaget ketika yang tampak hanyalah bangunan kecil berukuran lebar tiga meter dan panjang enam meter yang berfungsi sebagai toko sekaligus dapur pembuatan keripik nanas. Muslimin yang hanya mengenakan kaus singlet sibuk melayani pembeli maupun penyetor buah nanas segar. Tampak berkeringat dan sedikit lelah, tetapi bapak lima anak ini ramah menerima kedatangan tamunya.

Muslimin lalu berkisah tentang perjuangannya dari petani nanas biasa hingga menjadi pembuat keripik nanas yang kemudian menjadi komoditas andalan Kampar. Laki-laki paruh baya penduduk asli Kampar ini sejak tahun 1997 terjun sebagai petani nanas. Sebelumnya dia telah malang melintang di dunia pertanian dan selalu merasa tak mendapatkan hasil yang memuaskan.

Pada masa-masa ekonomi sulit, tepat setelah masa reformasi, ia terjun ke bidang pertanian nanas dengan alasan yang sama seperti alasan ratusan petani nanas lain di Desa Kualu Nanas, Kecamatan Kampar. Nanas telah dikenal di daerah ini sejak berpuluh tahun silam. Tanaman nanas ditemukan di lahan ratusan hektare yang tersebar mengitari permukiman.

Dulu, masyarakat membiarkan saja nanas tumbuh subur sebagai tanaman liar. Mereka memanfaatkannya hanya untuk konsumsi sendiri. Lama kelamaan buah kuning oranye bermahkota ini pun diminati orang dan mulai terjadi transaksi jual beli yang memicu tumbuhnya perkebunan nanas.

Celah peningkatan ekonomi itu bak pancingan yang segera disambut. Warga desa beramai-ramai membuka perkebunan nanas, bahkan perusahaan di bidang agrobisnis pun mengapling tanah membangun perkebunan, di samping juga menyerap hasil budidaya warga setempat.

Selain saat musim panen besar pada Juni-Juli dan pada akhir tahun, buah nanas hampir setiap hari dapat dipetik. Warga setempat cukup memajang buah nanasnya di pinggir Jalan Pekanbaru-Bangkinang. Pengguna jalan yang tertarik langsung berhenti dan membeli buah segar tersebut.

Akan tetapi, sejak tahun 1990-an, jumlah nanas di Kualu Nanas selalu berlebih dan ketika pasar tak lagi dapat menampung, buah-buah yang mengandung banyak air serta berasa manis asam segar itu terpaksa dibiarkan membusuk. Ini membuat Muslimin dan para petani lainnya prihatin. Namun, apa daya mereka tak memiliki kemampuan memasarkan nanas hingga jauh ke luar kota, provinsi, apalagi luar negeri.

“Nanas dari sini susah dibawa dalam perjalanan jarak jauh. Kandungan air dan gula amat banyak hingga cepat matang dan membusuk saat berada di ruang panas tertutup. Paling jauh, kami menjual nanas ke Pekanbaru atau daerah perbatasan Sumatra Barat,” kata Muslimin.

Menyadari susahnya mencari peluang pasar di luar Kampar, Muslimin membentuk Kelompok Tani Berkat Bersama. Kelompok ini kemudian menjadi satu-satunya kelompok tani yang mewadahi petani nanas. Itu pun hanya segelintir saja yang tertarik menjadi anggota.

Kelompok Tani Berkat Bersama pernah membuat terobosan distribusi penjualan nanas. Termasuk kesempatan kerja sama dengan perusahaan agrobisnis menyalurkan nanas ke beberapa provinsi lain di Sumatra. Menurut Muslimin, produk nanas Kualu Nanas memang kurang disukai di luar negeri karena terlalu manis dan berair.

Orang-orang Barat, demikian juga Muslimin, lebih menyukai nanas yang kesat berwarna kuning muda dan kental rasa asamnya. Karena itu, satu-satunya cara adalah menerobos pasar dalam negeri yang cocok dengan cita rasa nanas Kualu. Namun, keterbatasan teknologi pengepakan dan pengangkutan menghambat penyaluran hasil produksi. Produk alternatif

Keprihatinan ini sudah sering diungkapkan, baik kepada sesama petani maupun kepada pemerintah. Baru pada tahun 2000, Balai Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Kabupaten Kampar tergerak menjawab kegelisahan petani Kualu Nanas. BPTP Kampar mendatangi sejumlah petani dan menawarkan pelatihan pembuatan berbagai alternatif produk berbahan dasar nanas.

Tawaran alternatif itu hanya disambut oleh Kelompok Tani Berkat Bersama. Kelompok ini pun mengutus tujuh anggotanya, termasuk Muslimin, mengikuti pelatihan pembuatan keripik nanas selama enam bulan. Setengah tahun masa latihan terlewati mudah karena nanas sebagai bahan dasar telah tersedia, sedangkan alat pembuatan, bahan-bahan lain, serta modal lainnya dibantu penuh oleh BPTP.

Peserta pelatihan mulai bertumbangan saat mereka harus berhadapan dengan lika-liku dunia pemasaran. Satu setengah tahun kemudian, dari tujuh peserta hanya tersisa Muslimin. Mengenalkan makanan yang sama sekali baru merupakan cobaan terberat pada awal usaha Muslimin.

Sepanjang 2001 sampai menjelang tahun 2003, ia gigih memproduksi keripik nanas dan memasarkannya. ”BPTP masih mendampingi, tetapi saya sudah harus keluar modal sendiri serta menerapkan segala strategi, tanpa berhenti belajar tentang hal baru agar usaha berhasil. Hasil saat itu hanya cukup untuk ongkos hidup,” tutur suami dari Nur Syam ini. Setiap hari ia mengawali pagi dengan menyiapkan bahan-bahan berupa nanas yang telah dikupas kemudian mengiris tipis melintang sehingga menghasilkan potongan buah berbentuk bundar pipih dengan tebal sekitar tiga milimeter. Hasil irisan direndam beberapa jam dalam air garam dicampur soda kue untuk menghilangkan rasa pengar penyebab gatal. Irisan nanas lalu digoreng dalam alat khusus berbentuk silinder melintang berukuran diameter lebih kurang 40 sentimeter sepanjang hampir satu meter.

Dalam alat itu irisan nanas terendam minyak goreng dan akan dipanasi selama tiga jam nonstop secara tertutup agar dihasilkan keripik berwarna kuning keemasan yang renyah. Tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan, dan pembuatan secara higienis, keripik nanas Muslimin cukup percaya diri berkompetisi dengan jenis makanan ringan lain yang telah menjamur di Riau.

Muslimin ditemani anggota BPTP memberanikan diri menawarkan produk andalannya di Kota Pekanbaru yang juga pusat segala kegiatan perekonomian skala besar terjadi. Toko-toko swalayan, tempat-tempat makan terkenal, serta pusat-pusat jajanan di Pekanbaru dijajal. Laki-laki ini tak kenal lelah dan tahan malu memperkenalkan produknya dari pintu ke pintu. Ditolak mentah-mentah juga pernah dialaminya.

Selain dijadikan keripik, nanas dapat juga dijadikan sirop sari nanas seperti sari kelapa dan banyak lagi. Yang dibutuhkan hanya keyakinan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah. Pemerintah daerah setempat pun diharapkan lebih sensitif dalam mendorong semangat, mendampingi, dan menyuntikkan modal awal untuk pengembangan usaha mereka.

Kompas, 8 September 2006

Tugas 7.3

Tulislah sebuah esai dengan ketentuan:

1. tema, topik atau judul bebas asal aktual dan faktual 2. panjang karangan 300 – 500 kata

3. mencakup pembuka, isi, dan penutup, 4. berpola deduktif!

Kemampuan Bersastra

Membaca

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer.

Mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer 1. Puisi kontemporer

Sebenarnya, sengaja atau tidak, kegiatan berpuisi, terutama menulis, telah begitu akrab pada masyarakat pelajar. Perhatikan, para remaja begitu antusias menulis puisi ketika sedang memendam rasa (suka) kepada seseorang. Hampir setiap tempat, buku pelajaran, buku harian, tembok kamar tidur, kamar mandi, dan majalah dinding menjadi bukti bisu betapa menulis puisi begitu akrab pada remaja (pelajar). Bahkan banyak puisi yang diterakan, misalnya, di tembok-tembok (grafiti) dan meja-meja di kelas. Sayangnya

kegiatan berpuisi secara tertulis ini belum begitu diikuti keakraban membacakan puisi. Membaca puisi sering hanya menjadi ”pengisi acara” dengan peserta atau pelaku yang ”terpaksa” dalam menjalankannya.

Dalam kesempatan ini Anda akan diajak berlatih membacakan puisi-puisi kontemporer untuk kemudian bersama-sama mengidentifikasi tema dan ciri-ciri yang melekat pada puisi kontemporer. Apakah puisi kontemporer itu?

Puisi kontemporer adalah puisi yang diciptakan, dimunculkan, dan diterbitkan saat ini atau masa kini. Puisi kontemporer bukan puisi Melayu lama seperti pantun atau gurindam, meskipun pantun atau gurindam pada masa kemunculannya juga bersifat kontemporer. Pendek kata, jika saat ini Anda menulis puisi, maka puisi Anda tergolong kontemporer.

Perhatikan contoh berikut!

Puisi 1

Dendang Musim Jagung D. Zawawi Imron

Cintaku yang terbit dari kembang-kembang jagung subur oleh gaplek dan duri kenyataan

menunggu tangan tak kunjung salam. Sampai sekarang masih kusenang membelai-belai daunan pinang dan lalang-lalang yang atap kandang. Memang tidak percuma

kalau semalam bulan purnama bayang-bayangku yang tak sempurna

masih mampu melucuti tombakku yang dahaga. Ubi jalar merambat-rambat

ke seluruh pohon jiwaku

tak kenal kemarau tak kenal penghujan hingga meskipun miskin

aku tetap merasa kaya setelah menjilat jejak petani.

(Kumpulan Puisi Nenek Moyangku Airmata, 1985)

Puisi 2

Bahwa Aku Soni Farid Maulana

”Dirimu Hamlet di dunia yang lecet?’’ demikian kau bilang.

Tidak. Tidak. Dalam kabut waktu yang kelam aku bukan siapa pun. Bahwa aku masih tidur lelap di gerbong kereta tahun lalu. Bahwa kau sudah tiba di tempat yang kau tuju, jarak dan bahasa

Bahwa air mengalir ke hilir,

bahwa hidup terus bergulir, bahwa maut menggilir, bahwa malam melepas daun gugur,

bahwa angin menghempas daun jendela,

bahwa gagak keparat berkoak-koak di atas kepala, adalah detik jam berkarat di tubuh yang sekarat, dan aku bukan yang kau sangka dalam kisah itu bukan pula tersangka dalam kisah ini.

Aku adalah imbangan gelap bagi dirimu bagi keraguan cintamu kepadaku.

(Republika, 21 Januari 2007)

Puisi 3

Malam Biru Amir Ramdhani

Malamku biru senantiasa jendela hati membentang tawa sedang imaji mengelana

Tak lupa kupunguti tiap helai harapan yang jatuh dari pohon waktu

dan menanamkannya kembali di ubun-ubun malam

Beruntun kuwarnai malam dengan biru tak perlu hitam atau putih salju

Ada juga yang mengartikan kontemporer sebagai puisi yang absurd, puisi yang tidak masuk akal, puisi yang ”menyalahi” aturan, maupun puisi yang aneh. Perhatikan contoh di bawah ini!

Puisi 4

Solitude Sutardji Calzoum Bachri

yang paling mawar yang paling duri yang paling sayap yang paling bumi yang paling pisau yang paling risau yang paling nancap yang paling dekap samping yang paling Kau!

Puisi 5

Sepisaupi Sutardji Calzoum Bachri

Sepisau luka sepisau duri Sepikul dosa sepukau sepi Sepisau duka serisau diri Sepisau sepi sepisau nyanyi Sepisaupa sepisaupi

Sepisapanya sepikau sepi Sepisaupa sepisaupi Sepikul diri keranjang duri Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi

Sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi

(Kumpulan Puisi, O, Amuk, Kapak, 1981)

Dalam dokumen sma12bhsind PiawaiBerbahasa Agus (Halaman 151-159)