• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III POTRET DAN DINAMIKA BUDAYA KESEHATAN

3.10 Masa Kehamilan

3.10.2 Pola Perawatan Kehamilan

Pada masyarakat Etnik Sunda khususnya di Desa Panyusuhan sudah memiliki kesadaran cukup tinggi untuk memeriksakan kehamilannya ke Bidan Desa atau Puskesmas Pembantu yang ada di Desa Panyusuhan.Namun sayangnya, letak pelayanan Bidan Desa dan Pustu ini cukup jauh untuk dijangkau oleh masyarakat yang bertempat tinggal di kampung yang paling ujung.Ditambah lagi dengan keadaan jalan yang rusak, membuat mereka sedikit kesulitan dan enggan datang kepustu ataupun Bidan untuk memeriksakan kehamilannya.Biasanya pemeriksaan kehamilan oleh Bidan Desa ini dilakukan sebulan sekali bersamaan dengan dilakukannya kegiatan

Posyandu untuk anak-anak balita, yang tidak menutup kemungkinan juga dilakukan pemeriksaan di luar waktu-waktu tersebut.

Selain melakukan pemeriksaan kehamilan dengan bidan desa, masih banyak sekali hampir 80% masyarakat etnik Sunda khususnya di Desa Panyusuhan masih percaya kepada Bidan kampung atau juga lebih dikenal dengan istilah indung Berang/maparaji (dukun bayi dan ibu hamil) seperti perawatan urut badan ataupun perut yang dirasa tidak enak bahkan juga minta didoa-doakan/dijampe75 supaya nantinya anak yang didalam perut tidak kenapa-kenapa dan kelak kalau lahir nantinya bisa hidup selamat. Tidak diketahui persis berapa jumlah dukun, namun dari paparan beberapa informan jumlah

maparaji yang masih eksis di desa Panyusuhan ada sekitar 10

orang.Seperti yang diucapkan oleh salah seorang ibu yang pernah berobat pada maparaji DT (37 tahun),

“…Sewaktu ke maparaji kan kalo kitanya sakit perut katanya orang sini kena ganguan leluhur atau makhluk halus, ama maparaji suka diurut perutnya sambil dijampe kasih air putih suruh minum. Tapi kalo habis ngelahirin kan suka diurut si ibunya seluruh badan, kata maparaji biar perutnya gak kendor dan kadang kalo habis ngelahirin kan badanya pada kendor semua, sakit pegel, makanya suka diurut ma maparaji selama acara mahimun atau 40 harian sianak.”

Berdasarkan jumlah maparaji yang lebih banyak di Desa Panyusuhan dibandingkan dengan Bidan nakes dan juga perawat, dan melihat persebaran keberadaan maparaji yang cukup merata di beberapa wilayah Desa Panyusuhan ini, di Desa Panyusuhan hanya ada 2 bidan desa dan 1 mantri desa yang letak tempat tinggalnya paling ujung berdekatan dengan perbatasan dengan Desa tetangga, tampaknya inilah alasan ibu-ibu hamil memeriksakan kehamilannya lebih banyak ke bidan kampung/maparaji. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh LT (28 tahun),

75

Jampe adalah istilah pemberian doa-doa atau mantra-mantra yang bertujuan untuk menyembuhkan dan sebagai penangkal seseorang dari penyakit.

“…Kalo periksa ke bidan atau ke matri kan jauh emas, soalnya rumah bu bidan dan pustu ada diujung desa deket desa Mekarjaya, terus bidan yang satunya rumahnya di kampung Cibadak. Dari sini kan lumayan jauh. Kalo rumah

maparaji kan deket jadi bisa jalan kaki gak perlu naek

motor, soalnya juga maparajinya masih kerabat dari keluarga saya.”

Bidan kampung/indung berang dengan usia 65 tahun, dan juga memiliki bekal pengalaman serta kemampuannya serta lafal doa-doa/ngejampe yang banyak dalam membantu melahirkan dan sudah terbukti sejak dari zaman dulu, membuat masyarakat tetap menjadikan Indung berang/maparaji sebagai pilihan utama yang lebih diprioritaskan dalam melakukan pemeriksaan pada masa kehamilan hingga sampai kelahirannya, baik untuk mengetahui hamil atau tidaknya seorang ibu sampai untuk mengetahui letak posisi bayi dalam perutnya. Bahkan bidan kampung dianggap mampu mengetahui posisi bayi dalam perut hanya dengan memegang perut si ibu tanpa menggunakan alat apa pun. Mereka pun bisa melakukan pemijatan untuk mengembalikan atau merubah posisi bayi yang berada dalam perut ketika dirasa salah dan membahayakan atau menghambat pada proses persalinan nantinya. Serta mereka juga dipercaya oleh masyarakat panyusuhan dapat mengusir makhluk halus yang menggangu pada ibu yang sedang hamil ataupun sedang melahirkan.

Beberapa informan juga mengatakan bahwa pada masa kehamilan mereka lebih sering pergi ke maparaji dari pada ke Bidan nakes karena maparaji di anggap bisa melayani mereka kapan saja dan bisa dipanggil lebih cepat sampai, apalagi dari beberapa paraji merupakan masih memiliki garis kerabat dekat, sedangkan Bidan nakes jika dipanggil untuk memberikan pelayanan lebih lambat bahkan terkadang tidak bisa melayani karena sering keluar. Pelayanan yang diberikan oleh bidan kampung yaitu berupa pijat badan dapat dilakukan kapan saja mereka membutuhkan dan juga memberi tahu apakah kandungannya dalam kondisi baik-baik saja atau tidak serta cara paraji melayani pasiennya disertai memberikan doa-doa supaya kandungan dan ibunya selamat dan terhindar dari gangguan. Selain itu juga mereka lebih merasa puas memeriksakan kehamilannya kepada

bidan kampung karena pijat badan yang membuat tubuh mereka enak tersebut dianggap lebih menguntukan dibandingkan dengan memeriksakan kehamilannya ke bidan nakes yang hanya memberikan obat penambah darah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh AT (28 tahun),

“…Kalo orang sini lebih seringnya minta tolongnya masalah soal kehamilan ya lebih seringnya ke paraji pak, soalnya kan enak suka dipijet kan sering sakit pinggang pak kalo hamil mah, apalagi kalo kata orang tua kan kalo orang hamil perutnya tiba-tiba sakit katanya kena gangguan dari yang tak terlihat bisanya yang ngobatin ya cuman maparaji. Kadang juga kalo kebidan kan biasanya cuman diperiksa tensi darah ama dikasih obat doing pak, katanya buat nambah darah.”

Biaya juga menjadi alasan utama mereka untuk memeriksakan kehamilan ke bidan kampung.Bidan kampung/maparaji jarang memasang tarif biaya bagi ibu hamil yang ingin memeriksakan atapun ingin dipijat.Imbalan atas pemeriksaan itu terkadang juga diberikan pada saat setelah si ibu melahirkan dan sekaligus merupakan imbalan atas pertolongan persalinan, melalui ritual Mahinum (40 harian setelah bayi lahir). Hal ini seperti yang diungakapkan oleh AT (28 tahun),

“…Maparaji kalo kitanya minta tolong kayak waktu kita pas ngelahirin di bantumaparaji kan soalnya biayanya ringan pak. Maparaji gak menarif biayanya harus berapa, tergantung orangnya punya duit atau enggak, kadang juga bayarnya ngutang juga bisa ngasihnya kalo pas 40 harian siade bayi, ada juga y cuman dikasih beras, gula ama minyak goreng aj mau pak, lebih murah pokoknya dibandingin kalo minta tolong ama bu bidan kan ada tarifnya pak, terkadang kita juga merasa keberatan soalnya kan belum tentu kitanya pas punya uang, soalnya juga belum musim panen kan kitanya belum bisa jual padi pak kalo pun punya uang ya cuman cukup buat makan sehari-hari pak.”

Faktor jarak, transportasi, dan kondisi jalan pun menjadi alasan mereka memilih untuk jarang atau tidak memeriksakan kehamilan

mereka ke Bidan Desa, Puskesmas Kecamatan ataupun Rumah sakit di Kota. Jarak yag harus mereka tempuh untuk menjangkau Puskesmas kecamatan ataupun rumah sakit sekitar 1/2 hingga 2 jam. Jalanan yang rusak dan berlubang dengan didominasi jalanan yang masih tanah dan kontruksi jalan yang berlubang membuat kondisi jalan yang berdebu. Sepeda motor yang masih menjadi alat transportasi utama di desa ini, terkadang bisa berisiko untuk mengantarkan ibu hamil memeriksakan ke bidan nakes, di Puskesmas dan rumah sakit.

Gambar 3.20 Kondisi jalan Desa

Panyusuhan Sumber: Dokumentasi

Peneliti, Mei 2015

Selain itu juga, ada beberapa ibu hamil merasa tidak perlu rutin memeriksakan kehamilannya hingga ke rumah sakit. Menurut mereka, memeriksakan kehamilan ke rumah sakit itu akan mereka lakukan jika memang merasakan sangat sakit disertai keluarnya darah dari jalan lahir ataupun dirujuk oleh bidan desa karena dianggap memerlukan pemeriksakan lebih lanjut. Selama mereka merasa bahwa kehamilannya baik, ataupun jika sakit masih bisa ditangani oleh bidan kampung/ maparaji maka berkunjung ke bidan desa, pustu ataupun di Puskesmas induk di rasa tidak perlu.

Pengalaman diri sendiri di masa lampau atau pengalaman anggota keluarga lain ketika menjalani proses kehamilan menjadi refrensi tambahan yang membentuk perilaku ibu dalam masa kehamilan, khususnya dalam pemeriksaan kehamilan. Sebagai salah satu contoh, ada ibu hamil yang terdorong untuk memeriksakan kehamilannya kepada bidan ataupun bahkan memeriksakannya ke rumah sakit karena mempunyai pengalaman yang tidak baik pada saat

kehamilan pertamanya. Seperti yang diungkapkan oleh informan ET, 44 tahun,

“…Ibu ngaraos kandungan ibu kabidan kumargi sien ciga sepertos pangalaman kapungkur, sateu acan, pan kapungkur teu pernah di parios kabidan murangkalih abi tos lahiran mimiti ngantun ken, reneh murangkalih kadua sareng katilu kantos ka guguran saur maparaji leres murangkalih na tos ngantun ken di lebet patuangan sateu acan di juruken, janten abi ngaraos sien, upami angke ngantun ken deui, sanaos si bapa hoyong engal-engal di gaduh deui murangkalih.”

Terjemahan Asisten peneliti,

“…Ibu merasa harus memeriksakan kehamilan ibu ini ke Bu Bidan, Karena takut seperti pengalaman dulu, sebelumnya kan dulu tidak pernah periksa ke Bu bidan. Anak saya pas lahiran pertama meninggal.Hamil anak ke dua dan ke tiga sempet keguguran, kata maparaji memang bayinya sudah meninggal di dalam perut sebelum keluar.jadi ya saya merasa takut nanti meninggal lagi. Soalnya juga si bapak kepengen cepet-cepet memiliki momongan.”

Namun ada juga banyak ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya ke pada keduanya, ke bidan nakes dan juga bidan kampung/maparaji.Mereka menyatakan bahwa masing-masing memiliki keahlian atau hal-hal baik yang dapat membantu ibu dalam menjaga kesehatannya selama hamil, yang tidak dimiliki oleh lainnya.Maparaji dengan kemampuannya untuk memijat, memberikan jampe dengan doa-doanya, serta ramuan tradisional terhadap ibu hamil dan tidak mengenal waktu dalam memberikan pelayanan menjadi alasan utama para ibu hamil senang memeriksakan kehamilannya ke maparaji.Sementara bidan desa, melalui obat-obat medis yang mereka berikan dapat turut membantu menjaga kesehatan para ibu hamil yang tidak mereka dapatkan jika hanya memeriksakan kehamilannya pada maparaji. Hal ini seperti digambarkan oleh informan AA(30 tahun) berikut ini,

“…Upami marios sareng maparaji sasarina di jampe pasihan cai berang sareng di pasihan doa-doa sareng ramuan lanong tradisional tina dangdaunan sareng oge kadang di leles ngan upami mariosna ka bu bidan ukur diparios ngango alat kango terang detak jantung sareng dipasihan lanong wae janten benten upami mariosna…”

Terjemahan Asisten peneliti,

“…Kalau periksa sama maparaji biasanya dijampe kasih air putih yang diberi doa-doa dan ramuan obat tradisional dari daun-daunan dan juga kadang diurut, tapi kalau periksanya ke Bu Bidan cuman diperiksa pakai alat untuk mengetahui detak jantung dan diberi obat aja. Jadi berbeda kalau meriksanya...”

Gambar 3.21

Pemeriksaan ibu di pelayanan Posyandu pada Bidan Desa Sumber : Dokumentasi Peneliti, Mei 2015

Gambar 3.22

Perawatan ibu hamil diberi pijatan dan pemberian doa-doa pada Bidan kampung

Sumber: Dokumentasi Peneliti, Mei 201