• Tidak ada hasil yang ditemukan

Poligami Sebagai Suatu Masalah Sosial

Dalam dokumen REPRESENTASI POLIGAMI DALAM pdf 1 (Halaman 23-33)

Para ulama klasik dari kalangan mufassir (penafsir) maupun fakih (ahli hukum) berpendapat, berdasarkan (QS an-Nisa [4]: 03) pria muslim dapat menikahi empat perempuan. Tafsir ini telah mendominasi nalar seluruh umat Islam. Tetapi, ulama seperti Muhammad Abduh (1849-1905) tidak sepakat dengan penafsiran itu. Baginya diperbolehkannya poligami karena keadaan memaksa pada awal Islam muncul dan berkembang. Pertama, saat itu jumlah pria sedikit dibandingkan dengan jumlah wanita akibat mati dalam peperangan antara suku dan kabilah. Maka sebagai bentuk perlindungan, para pria menikahi wanita lebih dari satu. Kedua, saat itu Islam masih sedikit sekali pemeluknya. Dengan poligami, wanita yang dinikahi diharapkan masuk Islam dan memengaruhi

sanak-keluarganya. Ketiga, dengan poligami terjalin ikatan pernikahan antarsuku yang mencegah peperangan dan konflik.

Beliau juga menjelaskan tiga alasan haramnya poligami. Pertama, syarat poligami adalah berbuat adil. Syarat ini sangat sulit dipenuhi dan hampir mustahil, sebab Allah sudah jelas mengatakan dalam QS.4:129 bahwa lelaki tidak akan mungkin berbuat adil. Kedua, buruknya perlakuan para suami yang berpoligami terhadap para istrinya, karena mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban untuk memberi nafkah lahir dan batin secara baik dan adil. Ketiga, dampak psikologis anak-anak dari hasil pernikahan poligami. Mereka tumbuh dalam kebencian dan pertengkaran sebab ibu mereka bertengkar baik dengan suami atau dengan istri yang lain.

Abduh menjelaskan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang dapat berbuat adil sementara yang lain tidak, dan perbuatan yang satu ini tak dapat dijadikan patokan sebab ini kekhususan dari akhlak Nabi kepada istri-istrinya. ‘Abduh membolehkan poligami hanya kalau istri itu mandul. Fatwa dan tafsiran Abduh tentang poligami membuat hanya dialah satu-satunya ulama di dunia Islam yang secara tegas mengharamkan poligami. Nabi Muhammad adalah manusia percontohan dalam segala praktek kehidupan termasuk berpoligami. Ada beberapa catatan penting dalam praktek poligami rasulullah saw yang dapat kita tiru dan kita teladani jika ingin merasakan rahmat berpoligami:

1. Adil dalam lingkup ekonomis: Rasulullah saw menyimpankan persediaan pangan untuk seluruh istrinya selama setahun penuh. Istri rasulullah tidak pernah kekurangan pangan walaupun beliau sering menderita lapar.

2. Adil dalam lingkup biologis: Rasulullah saw memiliki kekuatan jima’ yang setara dengan empat puluh laki-laki. Beliau mampu menyenangkan para istri secara biologis secara merata.

3. Adil dalam lingkup dakwah dan sosial: Rasulullah saw mendelegasikan para istrinya untuk menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan wanita dalam ibadah, akhalaq dan mu’amalah (pemberdayaan perempuan). Banyak suku yang tunduk dan berIslam karena Rasulullah menikahi salah seorang wanita terhormat dari kalangan sebuah suku.

4. Adil dalam lingkup ke-wanitaan: Rasulullah saw tidak pernah membandingkan pelayanan dan rupa seorang istrinya di hadapan istri yang lain. Beliau minta izin istri-istrinya jika ingin berada lebih lama dengan Aisyah binti Abu Bakr. Betapa rasulullah saw menjaga perasaan seorang wanita dengan sangat teliti.

5. Adil dalam lingkup keturunan: Rasulullah saw tidak pernah menelantarkan anakanak yang lahir dari pernikahan beliau ataupun anak-anak yatim yang dibawa oleh para istri Rasulullah saw yang memang para janda.20

Dr Najmân Yâsîn dalam kajian mutakhirnya tentang perempuan pada abad pertama Hijriah (abad ketujuh Masehi) menjelaskan memang budaya Arab pra-Islam mengenal institusi pernikahan tak beradab (nikâh al-jâhili) di mana lelaki dan perempuan mempraktikkan poliandri dan poligami.

20

Abu Faqih, Menerjemahkan Legalitas Poligami dalam Kehidupan Bermasyarakat. Sumber

Pertama, pernikahan sehari, yaitu pernikahan hanya berlangsung sehari saja. Kedua, pernikahan istibdâ’ yaitu suami menyuruh istri digauli lelaki lain dan suaminya tidak akan menyentuhnya sehingga jelas apakah istrinya hamil oleh lelaki itu atau tidak. Jika hamil oleh lelaki itu, maka jika lelaki itu bila suka boleh menikahinya. Jika tidak, perempuan itu kembali lagi kepada suaminya. Pernikahan ini dilakukan hanya untuk mendapat keturunan. Ketiga, pernikahan poliandri jenis pertama, yaitu perempuan mempunyai suami lebih dari satu (antara dua hingga sembilan orang). Setelah hamil, istri akan menentukan siapa suami dan bapak anak itu. Keempat, pernikahan poliandri jenis kedua, yaitu semua lelaki boleh menggauli seorang wanita berapa pun jumlah lelaki itu. Setelah hamil, lelaki yang pernah menggaulinya berkumpul dan si anak ditaruh di sebuah tempat lalu akan berjalan mengarah ke salah seorang di antara mereka, dan itulah bapaknya. Kelima pernikahan-warisan, artinya anak lelaki mendapat warisan dari bapaknya yaitu menikahi ibu kandungnya sendiri setelah bapaknya meninggal.

Keenam, pernikahan-paceklik, suami menyuruh istrinya untuk menikah lagi

dengan orang kaya agar mendapat uang dan makanan. Pernikahan ini dilakukan karena kemiskinan yang membelenggu, setelah kaya perempuan itu pulang ke suaminya. Ketujuh, pernikahan-tukar guling, yaitu suami-istri mengadakan saling tukar pasangan. Praktik pernikahan Arab pra-Islam ini ada yang berlangsung hingga masa Nabi, bahkan hingga masa Khulafâ al-Rashidîn21

Dalam struktur masyarakat Muslim, praktek poligami tidak bisa dianggap sebagai sebuah kelaziman sosial. Banyak data menunjukkan bahwa poligami,

.

21

lihat Najmân Yâsîn, al-Islâm Wa al-Jins Fî al-Qarn al-Awwal al-Hijri, Beirut: Dâr ‘Atiyyah, 1997, h. 24-28

disamping terbatas dilakukan oleh kalangan kelas menengah, juga hanya dilakukan oleh sebagian kecil dari warga kelas menengah tersebut (the progressive middle class). Data sejarah tentang kasus poligami di Turki Abad XVII menunjukkan bahwa dari dua ribu warga kelas menengah, hanya dua puluh saja yang melakukan poligami.22

Peringkat (rating) praktek poligami pantas saja rendah, karena terkendala tidak hanya oleh tantangan jaminan kesejahteraan materi bagi para istri, tetapi juga dari hambatan persepsi sosial yang negatif terhadap praktek tersebut. Seperti halnya masyarakat modern, masyarakat Muslim waktu itu juga beranggapan bahwa poligami adalah tindakan yang bisa mengancam lestarinya kesepakatan suami dan istri untuk berasosiasi dalam institusi keluarga.

23

Rendahnya persentase praktek poligami tersebut menunjukkan tingginya komitmen kaum lelaki untuk menerapkan konsep poligami dalam Islam. Islam mensyaratkan terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu sebelum mereka melakukannya. Persentase tersebut juga mengindikasikan kuatnya resistensi kelompok perempuan, yang secara kodrati memandang poligami sebagai sikap keberpihakan kepada kaum lelaki. Dua indikasi tersebut sangat niscaya terjadi saat itu. Masyarakat Muslim adalah masyarakat ekumenikal, dimana agama sangat berperan penting dalam proses pembentukan perilaku dan tindakan penganutnya. Karena itu, tindakan mereka selalu memiliki argumentasi keagamaan, termasuk dalam kasus poligami.

24

22

Leila Ahmed, Gender in Islam (London: Yale University Press, 1992), 107.

23

Ibid.

24

Sementara itu di di indonesia sendiri praktek pernikahan poligami sudah diatur di dalam Undang – Undang. UU RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan membolehkan poligami dengan syarat atas izin istri pertama. UU ini diperkuat dengan keluarnya UU RI No 7/1989 tentang Pengadilan Agama, khususnya Pasal 49 yang mengatakan pengadilan agama menangani masalah perkawinan (seperti mengurusi poligami) dan lainnya. Kompilasi Hukum Islam semakin memperjelas kebolehan poligami di Indonesia. Keadaan ini tentu tidak menguntungkan perempuan Muslim Indonesia. Karena itu saatnya sekarang dibuat UU antipoligami untuk melindungi perempuan Muslim Indonesia. Kalaupun harapan ini tak kesampaian. Sudah saatnya perempuan tegas di hadapan teks yang dipelintir mereka yang berkepentingan dengan poligami.

Film Ayat-Ayat Cinta yang muncul dengan mengusung tema poligami tentu saja memiliki sebuah sudut pandang tersendiri dalam menggambarkan kehidupan poligami berdasarkan realita sosial. Dengan setting film yang mengusung tema Islami maka sejarah hukum pernikahan dalam Islam dijadikan acuan untuk melihat bagaimana pengaplikasian hukum Islam dalam pernikahan poligami yang digambarkan dalam film Ayat-Ayat Cinta. Dalam realitas sosial pun poligami dalam hukum pernikahan masih menjadi suatu pembahasan yang pelik.

1.5.3 Islam dan Gender

Dewasa ini agama, dalam hal ini Islam mendapat ujian baru, karena agama sering dianggap biang masalah, bahkan dijadikan kambing hitam atas terjadinya

pelanggengan ketidakadilan gender. Hal yang sangat menggangu misalnya tentang penggambaran bahwa Tuhan seolah-olah adalah laki-laki, penggambaran semacam ini terjadi dalam hampir semua agama. Pelanggengan ketidakadilan gender secara luas dalam agama bersumber dari pemahaman, penafsiran dan pemikirankeagamaan yang tidak mustahil dipnegaruhi oleh tradisi dan kultur patriarki, ideologi kapitalisme maupun pandangan-pandangan lain. Dalam konteks ini, perlu kiranya kita mempertajam persoalan dengan cara melakukan telaah kasus dalam Islam berkenaan dengan prinsip ideal Islam dalam memposisikan perempuan.25

Pada dasarnya Islam hadir di muka bumi dengan misi pokok untuk membebaskan manusia dari semua bekenggu yang menghimpitnya dalam bentuk diskriminasi atas dasar perbedaan jenis kelamin, suku, bangsa, warna kulit dan anarki sosial karena adanya pola relasi kekuasaan yang tidak seimbang. Dalam Islam, semua manusia di hadapan Allah dinilai sama dan sejajar.26 Misi utama Islam adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki, ketimpangan dan ketidakadilan. Di dalam Islam, ada beberapa isu kontroversial berkaitan dengan relasi gender, antara lain; asal usul penciptaan perempuan, konsep kewarisan, nilai persaksian, pernikahan poligami, hak-hal reproduksi, hak talak perempuan serta peran publik perempuan.27

25

Fakih, Mansour. Analisis Gender & Transformasi Sosial. (Yogyakarta, PUSTAKA PELAJAR, 2007) Hal.128-129

26

Ridwan, M.Ag. Kekerasan Berbasis Gender, (Purwokerto, Pusat Studi Gender STAIN, 2006 ) hal. 109

27

Nasarudin Umar, Bias Gender Dalam Penafsiran Al Qur’an, Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Tafsir, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2002, Hal 1. Dalam Ibid. hal 110.

Beberapa isu kontroversial diatas, hingga sekarang menjadi perdebatan akademik di kalangan umat Islam dengan perspektif dan argumentasi yang berbeda-beda. Perbincangan mengenai wacana gender menjadi isu yang sensitif di kalangan umat Islam oleh karena wacana ini berhimpitan dengan persoalan tafsiran agama yang diyakini sebagai kebenaran mutlak.28 Di samping itu secara konseptual kehadiran wacana gender masih banyak disikapi oleh sebagian umat Islam dengan perasaan ’curiga’ karena cenderung merubah tatanan sosial dan tafsir keagamaan yang sudah dianggap mapan atau bahkan dianggap sebagai doktrin agama itu sendiri.29

Pembahasan tentang tema perempuan tidak hanya terbatas pada lingkup wacana, tetapi sudah merambah ke wilayah implementasi. Hampir setiap negara Islam, misalnya, sudah memiliki kementerian yang melakukan berbagai program pemberdayaan perempuan. Di Indonesia, misalnya, terdapat ”Kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan”, sedangkan di Bangladesh terdapat ”Ministry of Women’s Affairs” atau ”Ministry of Social Welfare and Women’s Affair30

28

Ridwan, M.Ag. Kekerasan Berbasis Gender, (Purwokerto, Pusat Studi Gender STAIN, 2006 ) hal. 110

. Bermacam upaya pemberdayaan perempuan pun dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen sosial termasuk kalangan ’ulama’. Kalangan ulama yang sejak era klasik sudah membahas tema perempuan seperti tertuang dalam berbagai ilmu keislaman, memang memegang posisi sentral di lingkungan masyarakat Muslim. Mereka yang disebut sebagai kelompok pemimpin informal (native

29

Ibid. hal 110.

30

Naila Kabeer, “ The Quest for National Identity: Women, Islam and the State in Bangladesh,” dalam Deniz Kandiyoti (ed.) Women, Islam and the state (Philadelphia: Temple University Press, 1991), 128, 130.

leaders), tidak hanya mampu melakukan persuasi opini kepada pengikutnya, tetapi juga mampu mentransmisikan berbagai gagasan baru sampai ke eselon sosial terbawah (the lowest social echelon). Tidak sedikit dari kalangan mereka yang berpandangan sangat progressive tentang prinsip kesetaraan gender.

Sebagai pemegang otoritas keagamaan (the guardians of shari’ah), para ulama memang berkewajiban mensosialisasikan sikap Islam terhadap kaum perempuan. Mereka harus berani mengkritik pendapat para fuqaha’ (jurists) yang cenderung diskriminatif terhadap perempuan. Pengkajian terhadap pemikiran hukum para fuqaha’ memang menunjukkan terjadinya bias gender dalam berbagai keputusan hukum yang mereka berlakukan kepada lelaki dan perempuan. Suami tidak hanya menerima otoritas untuk mengatur urusan keagamaan istrinya, tetapi juga memperoleh hak untuk mendominasi kehidupan keseharian istri tersebut. Paradigma maskulinitas yang mendasari berbagai keputusan hukum para fuqaha’

ini menjadi sebab utama terbentuknya sikap diskriminatif komunitas Muslim terhadap kaum wanitanya. Kehidupan komunitas Muslim memang dikendalikan oleh institusi hukum (fiqh). Pengendalian seperti tersebut terjadi, karena agama dalam hal ini Islam selalu diidentikkan dengan fiqh.

Pengidentikkan semacam itu menyebabkan aktualisasi ajaran Islam non-fiqh yang tidak bias gender tidak mampu mengubah sikap diskriminatif komunitas Muslim terhadap kaum perempuan31

31

Untuk mengetahui bias hukum Islam terhadap perempuan, baca Najla Hamadeh, “Islamic Family Legislation : The Authoritarian Discourse of Silence “ dalam Mai Yamani, Feminism and Islam : Legal and Literary Perspectives (New York: New York University Press, 1986)

. Dalam pandangan Islam, lelaki dan perempuan memiliki kapasitas hak dan kewajiban yang sama untuk bisa menjadi seorang hamba yang baik. Prinsip kesetaraan ini bisa dilihat, misalnya,

dalam tradisi sufi yang menyatakan bahwa derajat manusia sempurna tidak menjadi wilayah kaum lelaki saja, karena perempuan juga memiliki kapasitas untuk mengakses derajat tersebut32

Al-Quran sendiri menegaskan bahwa lelaki dan perempuan memiliki kapasitas yang sama, baik kapasitas moral, spiritual, maupun intelektual. Demikian pula Al-Quran tidak membedakan kapasitas lelaki dan perempuan dalam mengaktualisasikan ajaran Islam. Keduanya memiliki kemampuan yang sama untuk bisa menjadi manusia yang baik

.

33

Prinsip kesetaraan tersebut dimaksudkan untuk membentuk hubungan harmonis antara lelaki dan perempuan. Realisasi prinsip kesetaraan ini di antaranya tercermin dalam konsep perkawinan. Perkawinan dalam Islam didasarkan pada akad kontrak antara dua orang yang sepakat (consenting

partners) untuk membangun kebersamaan hidup

.

34

. Sekalipun akad kontrak tersebut merefleksikan prinsip kesetaraan, Islam ternyata lebih memberikan kepedulian pada kaum perempuan35

Pada akhirnya prinsip kesetaraan tersebut menjadi sebab terbukanya peluang bagi perempuan menjadi patner lelaki dalam mengarungi kehidupan mereka. Sejarah Islam mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah

. Kepedulian lebih ini dilakukan, karena perempuan secara kodrati lebih rentan untuk kehilangan hak-haknya dalam persekutuan keluarga.

32

Javad Nurbakhsh, sufi Women, Leonard Lewishon (ter.) (London : Khaniqahi-Nimatullahi Publications, 1990), 11 33 Ibid., 4; 1. 34 Al-Quran, 4: 4; 4 : 24. 35 Ibid., 2: 238; 4: 34.

memperlakukan istrinya sebagai teman dalam urusan rumah tangga saja, tetapi memerankan mereka sebagai partner dalam mengatasi berbagai tantangan hidup.

Film Ayat-Ayat Cinta merupakan film dengan latar belakang Islam. Dalam film ini sangat kental dengan pembahasan tentang Islam. Penggambaran Islam yang ditampilkan disini patut untuk dilihat dan dicermati apakah dikonstruksi dari sudut pandang akar kebudayaan Islam yang masih asli atau Islam yang telah dipengaruhi oleh tradisi dan kultur patriarki.

Dalam dokumen REPRESENTASI POLIGAMI DALAM pdf 1 (Halaman 23-33)

Dokumen terkait