• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLRI DAN TANTANGAN- Misi Polri yang berdasarkan

UNTUK MEMBENTUK TARUNA STIK-PTIK DI LEMBAGA AKPOL MENJADI PERWIRA POLISI YANG BERKARAKTER

B. POLRI DAN TANTANGAN- Misi Polri yang berdasarkan

NYA uraian visi Polri dijabarkan sebagai

Polri merupakan organisasi berikut:

kepolisian nasional yang dalam pe- 1. Memberikan perlindungan, laksanaan pemolisiannya diatur da- pengayoman dan pelayanan ke-lam UU no2 th 2002 (tentang Kepo- pada masyarakat (meliputi aspek lisian Negara Republik Indonesia). security, surety, safety dan peace),

Kepolisian Negara Republik Indone- sehingga masyarakat bebas dari sia bertujuan untuk mewujudkan gangguan fisik maupun psikis.

keamanan dalam negeri yang meli- 2. Membangun kemitraan dengan puti terpeliharanya keamanan dan masyarakat melalui upaya ketertiban masyarakat, tertib dan preemtif dan preventif untuk me-tegaknya hukum, terselenggaranya ningkatkan kesadaran dan ketaatan perlindungan, pengayoman, dan hukum masyarakat (law abiding pelayanan kepada masyarakat de- citizenship).

ngan menjunjung tinggi hak azasi 3. Menegakan hukum secara pro-manusia. Dan doktrin Polri adalah : fesional dan proporsional de-“Tata Tentrem Kerta Raharja”. Tanpa ngan menjunjung tinggi supremasi keteraturan, Ketaatan pada norma hukum dan hak azasi manusia menu-dan hukum tidak ada keamanan menu-dan ju kepada adanya kepastian hukum ketentraman, tanpa keamanan dan dan rasa keadilan.

ketentraman tidak mungkin rakyat 4. Memelihara keamanan dan ke-berkarya dan bekerja serta tanpa ker- tertiban masyarakat dengan ja dan karya tidak mungkin terwujud tetap memperhatikan norma-norma kesejahteraan. dan nilai-nilai yang berlaku dalam Adapun Visi Polri adalah: ter- bingkai integritas wilayah hukum wujudnya Polri yang mampu menja- negara kesatuan Republik Indonesia. di pelindung, pengayom dan pelayan 5. Mengelola sumberdaya manu-masyarakat, sebagai aparat penegak sia Polri secara profesional hukum yang profesional dan pro- dalam mencapai tujuan Polri yaitu porsional yang selalu menjunjung terwujudnya keamanan dalam negeri tinggi supremasi hukum dan HAM, sehingga dapat mendorong mening-pemelihara keamanan dan ketertiban katnya ngairah kerja guna mencapai masyarakat serta mewujudkan ke- kesejahteraan masyarakat.

amanan dalam negeri dalam suatu 6. Meningkatkan upaya kon-kehidupan nasional yang demokratis sulidasi kedalam Polri sebagai dan masyarakat yang sejahtera. Dan upaya menyamakan Visi dan Misi

Polri kedepan. ri yang meliputi terpeliharanya ke-7. Memelihara soliditas institusi amanan dan ketertiban masyarakat

Polri dari berbagai pengaruh tertib dan tegaknya hukum, terse-eksternal yang sangat merugikan lenggaranya perlindungan,

penga-organisasi. yoman, dan pelayanan kepada

8. Melanjutkan Operasi pemulihan masyarakat, serta terbinanya keten-keamanan dibeberapa wilayah traman masyarakat dengan menjun-konflik guna menjamin keutuhan jung tinggi hak azasi manusia (pasal Negara Kesatuan Republik Indone- 4).

sia.

9. Meningkatkan kesadaran hu- Tugas Pokok Polri

kum dan kesadaran berbangsa Adalah memeliharakeamanan dan dari masyarakat yang ber-Bhineka ketertiban masyarakat; menegakan

Tunggal ika. hukum; dan memberikan

perlin-Pasal penting dalam Undang- dungan pengayoman dan pelayanan undang No. 2/2002 tentang Kepoli- masyarakat (pasal 13).

sian Negara Republik Indonesia yang

menunjukkan fungsi, tujuan, tugas Peran Polri

pokok, peran Polri, adalah sebagai Kepolisian Negara Republik

Indone-berikut: sia merupakan alat negara yang

ber-peran dalam memelihara keamanan

Fungsi Kepolisian dan ketertiban masyarakat, mene-a. Pasal 2 : fungsi kepolisian adalah gakkan hukum serta memberikan salah satu fungsi pemerintahan nega- perlindungan, pengayoman, dan pe-ra dibidang pemelihape-raan keamanan layanan kepada masyarakat dalam dan ketertiban masyarakat, penegak- rangka terpeliharanya keamanan da-kan hukum, perlindungan, pengayo- lam negeri (pasal 5 (1) ). Dalam man dan pelayanan masyarakat melaksanakan peran tersebut Polri b. Pasal 3 (1) : Pengemban fungsi sebagai Kepolisian Nasional meru-kepolisian adalah Kepolisian Negara pakan satu kesatuan (pasal 5 (2) ). Republik Indonesia yang dibantu

oleh : Kepolisian khusus; penyidik Peraturan Kepolisian

pegawai negeri sipil; dan atau ben- Dalam menyelenggarakan tugasnya, tuk-bentuk pengamanan swakarsa. Polri berwenang mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup

Tujuan Polri kewenangan administrasi kepolisian

Perizinan Lembaga Kepolisian Nasional

Dalam rangka menyelenggarakan Dalam pasal 37 dinyatakan bahwa tugasnya, Polri berwenang : Lembaga Kepolisian Nasional yang a. Mengeluarkan surat izin dan atau disebut dengan Komisi Kepolisian surat keterangan yang diperlukan Nasional berkedudukan di bawah dan dalam rangka pelayanan masya- bertanggung jawab kepada Presi-rakat Pasal15 (1) k ). den.

b. Memberikan izin dan mengawasi

kegiatan keramaian umum dan Peradilan Umum

kegiatan masyarakat lainnya Di dalam ketentuan peralihan pasal (pasal 15 (2) a). 43 c : tindak pidana yang dilakukan c. Menyelenggarakan registrasi oleh anggota Polri yang belum identifikasi kendaraan bermotor diperiksa baik di tingkat penyidikan (pasal 15 (2) b). maupun pemeriksaan di pengadilan d. Memberikan surat ijin menge- militer berlaku ketentuan peraturan mudi (pasal 15 (2) c). perundang-undangan di lingkungan e. Memberikan izin dan melakukan peradilan umum.

pengawasan senjata api, bahan Wilayah administrasi Polri di-peledak dan senjata tajam (pasal atur secara berjenjang. Pada tingkat

15 (2) e). pusat (nasional) adalah Mabes

(mar-f. Memberikan izin operasioanl dan kas besar), pada tingkat propinsi ada-melakukan pengawasan terhadap lah Polda (kepolisian daerah, tingkat badan usaha di bidang jasa karesidenan adalah Polwil (kepoli-pengaman (pasal15 (2) f). sian wilayah), tingkat kabupaten atau

kotamadia adalah Polres (kepolisian

Sikap Politik resort, dan tingkat kecamatan adalah

Tertuang didalam pasal 28, Kepoli- Polsek (kepolisian sektor). Dalam sian Negara Republik Indonesia da- operasionalnya, Polri diatur dalam lam kehidupan Politik bersikap : struktur organisasi dan tata kerja. Netral dan tidak melibatkan diri pada Dalam era reformasi tantangan kegiatan politik praktis. Tidak meng- yang di hadapi Polri saat ini semakin gunakan hak memilih dan dipilih. komplek dan gangguan kriminalitas Dan dapat menduduki jabatan di luar yang semakin canggih, seiring de-kepolisian setelah mengundurkan ngan kemajuan ilmu dan teknologi. diri atau pensiun dari dinas kepo- yang dipersoalkan adalah dampak

(masyarakat). Roland Roberton kan berbagai masalah sosial yang (dalam Jurnal Litbang Polri No I terjadi, dengan menyesuaikan corak / 1 9 9 9 ) m e n g a t a k a n b a h w a masyarakat dan kebudayaannya. Dan :”globalization is concept refers both melakukan reformasi untuk

mem-to the compresation of the world and benahi kebudayaan organisasi serta

the inttensification of consiousnessof sistem pemolisiannya.

the world”. Dari hal tersebut bentuk Administrasi Polri sekarang ini ancaman yang dihadapi masa sepu- sangat dipengaruhi oleh pendekatan luh tahun yang akan datang adalah : yang birokratis yang menekankan 1. pola kriminalitas yang terorga- pada pengaturan semua kegiatan

ber-nisir. dasarkan prosedur dan peraturan

per-2. pola kriminalitas internasional undang-undangan (rules driven). yang terorganisir. Dan terasa lama, berbelit–belit dalam 3. pola kriminalitas yang menggu- menyelesaikan permasalahan

atau-nakan ilmu pengetahuan dan tek- pun dalam memberikan pelayanan. nologi (misalnya kejahatan kom- Birokrasi dalam organisasi Polri puter melalui internet, pemalsu- merupakan birokrasi Weberian, yang an kartu kredit, ATM dsb ). bercorak otoriter dan feodalistik. Dan 4. pola kriminalitas yang menggu- disiplin dalam organisasi Polri adalah nakan /memanfaatkan tingkah sistem paternalistik, di mana hierarki laku massa dalam melancarkan bawah tidak berani bertindak jika aksi-aksinya terutama dikota- tidak mendapat restu atau perintah kota besar. dari hierarki atas dan menganggap 5. pola kriminalitas dengan meng- atasan atau pimpinan sebagai pusat gunakan cara teror sebagai salah kekuasaan. Menurut Suparlan 1999: satu modus operandi, misalnya “ pranata yang otoriter dan bercorak penelpon gelap, isu/peledakan feodalistik berdasarkan kesetiaan bom pada tempat ibadah atau kepada atasan, bukan kesetiaan pada temapat yang banyak dikunjungi kerja dan produktivitas. Kondisi

se-orang . perti itu merupakan lahan yang subur

6. ancaman gerakan gangguan pe- untuk tumbuh dan berkembangnya ngacau keamanan maupun pola KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotis-kriminalitas lainnya. me), terutama pada Korupsi.

Selain itu Polri juga dituntut Bahasan birokrasi dalam tulisan untuk dapat memberikan pelayanan ini diartikan sebagai birokrasi peme-keamanan yang prima dan dapat rintah. Birokrasi pemerintah sering-memberikan solusi serta memecah- kali diartkan sebagai “official dom”

atau kerajaan pejabat. Suatu kerajaan dan menunjukan cara-cara official-yang raja-rajanya adalah para pejabat dom, di mana para pejabat birokrasi

dari suatu bentuk organisasi yang pemerintah adalah sentra dari penye-digolongkan modern (Toha, 2003, 2- lesaian urusan masyarakat. Dan 3). Para pejabat tersebut yang berada rakyat sangat tergantung pada para dalam area oficial mempunyai yuri- pejabat ini, bukannya pejabat tergan-diksi yang jelas dan pasti. Di dalam tung pada rakyat yang berdampak yuridiksi tersebut orang mempunyai pada pelayanan kepada rakyat tidak tugas dan tanggung jawab resmi diletakkan pada pada tugas yang (official duties) yang memperjelas utama, namun menjadi yang kese-batas-batas kewenangan peker- kian. Di samping itu juga berkem-jaannya, dan mereka bekerja dalam bang upaya menyenangkan hati atas-tatanan pola hierarki sebagai perwu- an dalam bentuk penghormatan dan judan dari tingkatan otoritas dan pengabdian, tetapi yang berlaku kekuasaannya. Mereka memperoleh umum sekarang ini adalah dalam gaji menurut keahliannya dan bentuk upeti. Dan hal itu menjadi kompetensinya. Dalam hubungan penting karena gajinya kecil, apabila komunikasinya didasarkan pada dinilai loyal atau baik oleh atasan dokumen tertulis (the files). maka akan mudah untuk mendapat Pejabat yang menduduki jabatan atau mempertahankan jabatan/posi-tertentu dalam birokrasi pemerintah sinnya. Karena pada posisi atau ja-mempunyai kekuasaan yang sangat batan tertentu (yang dianggap basah) menentukan, karena segala urusan memiliki kewenangan, fasilitas dan yang berkaitan dengan jabatan itu keistimewaan. Hal tersebut telah maka orang yang berada dalam jabat- merasuk dari level atas hingga bawah an tersebut yang menentukan. Jabat- atau telah menjadi kebudayaan da-an dalam hierarki tersebut disusun lam organisasi. Di luar hierarki para dalam tatanatn hirearki dari atas ke pejabat dan jabatan itu maka tidak bawah. Di mana hierarki yang lebih mempunyai daya (powerless). Hal atas mempunyai jabatan dan kewe- tersebut yang merupakan penyebab nangan yang lebih besar dari jabatan jauhnya dari masyarakat yang lemah yang berada dibawah. Dan semua ja- (powerless).

batan tersebut dilengkapi dengan se- Dari uraian tersebut pemolisian gala fasilitas yang mencerminkan ke- yang dilakukan saat ini masih bersifat kuasaan tersebut. konvensional yang menghambat

ke-Birokrasi dalam pemerintahan efektifan dalam pemolisiannya serta yang menganut birokrasi Weberian menimbulkan stereotip negatif dari

masyarakat terhadap Polri. Sistem C. IMPLEMENTASI ILMU

KE-manajemen Polri saat ini boleh di- POLISIAN DALAM

PENYE-katakan masih sentralistik. Yang do- L E N G G A R A A N T U G A S

minan adalah kebijakan yang dibuat POLRI

oleh pimpinan birokrasi yang bersifat Sejalan dengan pemikiran di atas lisan (diskresi birokrasi). Hal terse- dengan mengacu tugas Polri pasal 14 but tercermin dari tumbuh dan ber- UU no 2 th 2002 pasal 14 dalam men-kembang sistem yang dispotik dalam dukung reformasi Polri perlu meng-pemolisiannya baik pada tingkat implementasikan ilmu kepolisian. manajemen maupun tingkat opera- Dengan mengimplementasikan sional bahkan sampai tingkat petugas ilmu kepolisian dalam institusi Polri kepolisian di lapangan. Selain hal diharapkan dapat mencapai dan me-tersebut, juga tumbuh dan berkem- ningkatkan profesionalisme Polri. bang orientasi pada jabatan tertentu Dan adanya perubahan kebudayaan yang dianggap basah, sehingga yang organisasi dan pemolisiannya. Kebu-dikembangkan bukan kinerja tetapi dayaan Menurut Suparlan (1998) pelayanan kepada pejabat tertentu didefinisikan : “ Sebagai keseluruhan yang dianggap dapat memberikan pengetahuan manusia sebagai makh-jabatan yang diinginkan atau dapat luk sosial yang digunakannya untuk melindungi dan memantapkan jaba- memahami dan menginterprestasi-tannya. Model pemolisiannya masih kan lingkungan dan pengalamanya, lebih menekankan pada penegakan serta menjadi landasan bagi tingkah-hukum atau sebagai crime fighter, lakunya. Dengan demikian, kebuda-sedangkan untuk memelihara keter- yaan merupakan serangkaian aturan-aturan sosial, masih sebatas sebagai aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-pelengkap dan kurang diminati oleh rencana, dan strategi-strategi yang para petugas kepolisian. Ukuran terdiri atas serangkaian model-model keberhasilan pemolisiannya masih kognitif yang dipunyai oleh manusia, melihat, menilai dan mengedepankan dan digunakannya secara selektif da-pada keberhasilan menurunkan ang- lam menghadapi lingkungannya se-ka kejahatan (crime total), pengung- bagaimana terwujud dalam tingkah-kapan perkara kriminal (crime laku dan tindakan-tindakannya.

clereance). Setiap kebudayaan terdiri atas

unsur-unsur yang universal, yaitu: struktur sosial, sistem politik, sistem ekonomi dan teknologi, sistem agama, serta sistem bahasa dan komunikasi.

Unsur-unsur kebudayaan tersebut the values, norms, prespectives and

adalah: (1) Bahasa dan komunikasi; craft rules that inform their conduct –

(2) Ilmu Pengetahuan; (3) Teknologi; is neither monolitic, universal nor

(4) Ekonomi; (5) Organisasi Sosial; unchangging. There are defferences

(6) Agama; dan (7) Kesenian”. of outlook within police forces,

Kebudayaan organisasi merupa- according to such individual

varia-kan suatu perangkat nilai yang dianut bles as personality, generation, or

bersama dan bersipat dominan dan career trajectory and structured

koheren yang terungkap dalam ben- variations according to rank,

tuk simbolik (Peters & waterman, assignment and specialization”.

1982 : 103). Dan merupakan pola dari Kebudayaan organisasi kepolisian asumsi dasar bentukan, penemuan, digunakan oleh para anggota organi-atau pengembangan oleh sesuatu sasi tersebut untuk memahami bagai-kelompok dalam proses mengatasi mana petugas kepolisian melihat du-masalah-masalah eksternal dan inter- nia sosial dan peran mereka di dalam-nal. Pengertian tersebut menyiratkan nya, dan untuk menganalisa apa yang beberapa hal : Pertama, budaya orga- mereka lakukan.

nisasi berkaitan dengan nilai yang Perubahan kebudayaan organi-dianut oleh warga organisasi. Nilai- sasi Polri menuju Polri yang pro-nilai tersebut menginspirasi individu fesional setidaknya mencakup : Kode untuk menentukan tindakan dan etik Polri, Peraturan dan petunjuk-perilaku yang dapat diterima oleh or- petunjuk yang jelas di semua bidang ganisasi. Kedua, nilai yang memben- yang dijadikan pedoman dalam pe-tuk kebudayaan organisasi (landasan laksanaan pemolisian baik dari ting-dasar nilai budaya organisasi) sering- kat manajemen maupun individu pe-kali tidak tertulis, tapi merupakan tugas polisi. Dengan adanya kode hasil suatu kompromi bersama para etik Polri, peraturan-peraturan dan individu organisasi. Ketiga, adanya petunujuk-petunjuk yang jelas dan atribut sebagai bahasa komunikasi operasional. Yang berisi aturan-untuk mentransferkan nilai-nilai bu- aturan, norma-norma, moral, secara daya. Atribut yang digunakan organi- berjenjang yang mencakup kewajib-sasi mengandung pesan atau makna an yang harus dilakukan dan larangan yang dapat dipahami oleh anggota yang tidak boleh dilakukan serta pro-organisasi. duk yang harus dihasilkan oleh petu-Kebudayaan organisasi kepo- gas kepolisian dari pangkat terendah lisian menurut Robert Reiner : 2000 sampai tertinggi. Dan sangsinya bila adalah : “The culture of the police – melakukan pelanggaran atau

pe-nyimpangan. Tak kalah pentingnya dan misinya sebelum menjabat dan juga sistem kontrol sehingga dapat setelah menyelesaikan masa jabatan dijadikan pedoman/ acuan bagi para membuat pertanggungjawaban. petugas kepolisian dalam melak- Sistem uji kelayakan merupakan sanakan pemolisiannya baik di ting- syarat utama bagi para calon pejabat kat Markas Besar (Mabes) Kepoli- di kewilayahan (kapolri, kapolda, ka-sian Daerah (Polda), Kepolika-sian polwil, kapolres atau pejabat staf Resort (Polres) maupun Kepolisian tertentu di tingkat mabes Polri atau Sektor (Polsek). Polda), yang dilakukan oleh tim

inde-Standarisasi dan formalisasi tu- penden (yang bersifat ad hoc) dan gas kepolisian. Standarisasi dan for- bertanggung jawab serta bebas KKN. malisasi tugas yang mencakup selu- Bagi peserta uji kelayakan (fit and ruh bagian atau fungsi kepolisian propper test) diwajibkan membuat

untuk tingkat nasional dibuat oleh visi dan misinya serta implementasi-mabes Polri. Untuk tingkat Propinsi nya dalam pemolisiannya, upaya-dibuat oleh Polda yang mengacu dari upaya pemberdayaan sumber daya mabes Polri dan mencakup corak yang ada serta langkah-langkah me-masyarakat serta kebudayaannya ngeliminir atau mencegah terjadinya yang berguna untuk pedoman dalam penyimpangan/KKN. Bagi bagian pemolisiannya. Dan secara mendasar yang diberi kewenangan untuk me-dibuat oleh Polres sebagai bentuk nunjuk atau menentukan peserta uji aktualisasi pelaksanaan tugas pemo- kelayakan maupun tim penguji harus lisiannya. Standarisasi dan forma- empunyai standar dan syarat tertentu lisasi tugas tersebut mencakup hal- yang harus dimilkiinya agar dapat hal yang mendasar tentang uji bekerja secara efektif dan obyektif kelayakan (fit and propper test), serta bertanggung jawab penuh atas sistem penilaian kinerja, sistem penilaian dan keputusan yang dike-penghargaan dan penghukuman, luarkan. Di samping itu apabila kepemimpinan dan pendelegasian terjadi penyimpangan atau

pelang-wewenang. garan (KKN) bertanggung jawab dan

Uji kelayakan (fit and propper siap untuk menenima hukuman

se-test) bagi para pejabat dalam biro- suai ketentuan yang telah dibuat da-krasi Polri pada level tertentu (Kapol- lam standari dan formalisasi.

ri, Kapolda, Kapolres, maupun peja- Sistem penilaian kinerja di se-bat staf lainnya yang penting dalam mua bidang dengan berdasar produk-pembinaan personel maupun pemo- tivitas masing-masing bagian atau lisiannya) dilakukan berdasar, visi fungsi. Sistem Penilaian kinerja

disesuaikan dengan yang telah dibuat an wewenang. Kepemimpinan (baik dalam standardisasi dan formalisasi tingkat atas sampai tingkat kepala tugas Polri digunakan bagi setiap Unit) dapat melakukan tindakan- petugas kepolisian pada tingkatan- tindakan sebagai :

nya masing-masing yang dimaksud- · Top Management menjadi change kan untuk mendorong produktivitas agent. pemimpin secara terus

me-dalam pelaksanaan pemolisaian atau nerus memberikan motivasi dan tugas-tugas kepolisian lainnya. Bagi semangat terhadap perubahan bagian yang diberi kewenangan un- yang hendak dituju.

tuk menilai harus mempunyai stan- · Manajemen partisipatif. Meng-dar dan sayarat tertentu yang harus urangi hambatan komunikasi dimilkiinya agar dapat bekerja secara antar level jabatan, kalau perlu efektif dan objektif serta bertang- diadakan komunikasi direct line gung jawab penuh atas penilaian dan pada top.

keputusan yang dikeluarkan. Di sam- - Konsistensimenerapkan sistem

ping itu apabila terjadi penyimpang- reward and punishment yang

an atau pelanggaran (KKN) bertang- tegas. menekankan bahwa tidak gung jawab dan siap untuk menenima ada tempat bagi mereka yang hukuman sesuai ketentuan yang telah tidak berprestasi dan tidak ada dibuat dalam standarisasi dan waktu tersedia untuk meng-formalisasi tugas Polri. embangkan mereka yang butuh

Sistem penghargaan dan peng- dorongan. Setiap orang harus me-hukuman yang objektif, konsisten nolong dirinya sendiri, dan pasti-dan konsekuen. Sistem penghargaan kan bahwa setiap orang harus dan penghukuman sebagai wujud menjadi aset bagi organisasi Polri pertanggungjawaban dalam pelak- · Dekat dengan Bawahan dan ada-sanaan tugas kepolisian untuk mem- nya keteladanan

berikan penghargaan bagi yang ber- · Kemampuan Membuat Orang prestasi yang dapat memotifasi petu- Bertanggung Jawab

gas kepolisian lainnya serta dapat Kepemimpinan dalam organisasi menumbuhkembangkan produktivi- Polri diperlukan pemimpin yang tas. Dan bagi petugas kepolisian yang menguasai ilmu kepolisian yang melakukan penyimpangan dan pe- digunakan sebagai dasar pemolisi-langgaran harus bertanggung dan annya dan disamping itu bersifat dikenai hukuman sesuai dengan berani dalam menegakan kebenaran, ketentuan yang berlaku. jujur, transparan, bertanggung jawab Kepemimpinan dan pendelegasi- dan mampu memberi / menjadi

tela-dan bagi anak buahnya serta dapat mengimplementasikan pemolisian dipercaya. Dan keberhasilannya dini- komuniti (community policing) lai beradasrkan peningkatan atau dalam penyelenggaraan tugas Polri kemampuannya mendorong tercipta- melalui Polmas tidaklah mudah dan nya kreativitas dan produktivitas or- membutuhkan waktu serta pengka-ganisasi yang dipimpinnya. jian dan pengembangan secara

Polri juga perlu membangun konsisten dan dan berkesinambung-organisasi pembelajaran untuk me- an. Dan dalam melakukan pemoli-ningkatkan kemampuan sumber daya siannya melakukan tindakan-tindak-manusianya (SDM) baik melalui an yang harus dilakukan stidaknya pendidikan formal ataupun latihan antara lain : 1) mengamati fenomena guna meningkatkan tingkat profesio- di sekelilingnya dengan cermat (ob-nalitas serta untuk memacu motivasi servasi terhadap berbagai gejala atau berprestasi dengan sistem kompetisi peristiwa, menemukan data yang ber-yang fair (menghilangkan KKN/ manfaat bagi pemolisiannya, 2) korupsi, kolusi dan Nepotisme), yang Menganalisis gejala / peristiwa/ disarakan pada sistem reward and pu- fenomena yang terjadi secara kritis,

nishment. Dalam membangun pem- dialektis, komparatif, maupun

dialo-belajaran tersebut melalui tahapan- gis, 3) Melihat, meramalkan atau tahapan 1) Tingkatan terendah adalah memprediksi hubungan antara gejala ketidaktahuan, 2) Tingkatan kedua yang satu dengan yang lainnya secara adalah kepedulian, 3) Tingkatan ke- logis dan sistematis yang berguna tiga adalah pemahaman, 4) Tingkat- dalam menentukan strategi-strategi an keempat adalah komitmen, 5) pemolisiannya sebagai upaya pre-Tingkatan kelima adalah berperan, 6) ventif (crime prevention), 4) meme-Tingkatan tertinggi adalah refleksi. cahkan berbagai masalah sosial yang

Pemolisian yang dikembangkan terjadi dalam masyarakat dan mem-Polri adalah mengacu community po- berikan solusinya (problem solving

licing (pemolisian komuniti). Yang policing), 5) Mengembangkan

krea-berdasarkan Skep Kapolri no 737 tivitas dalam pemolisiannya sehing-tahun 2005 dikenal dengan Polmas. ga dapat diterima oleh masyarakat-Yaitu pemolisian yang mengede- nya dan berguna dalam kehidupan pankan kemitraan dan berupaya un- masyarakat. Khususnya yang ber-tuk menyelesaikan berbagai masalah kaitan dengan keamanan dan keter-sosial dalam masyarakat (Problem tiban yang dapat mendorong tumbuh

solving policing). Walaupun sudah dan berkembangnya kualitas hidup menjadi kebijakan Kapolri namun masyarakat. Dan yang tidak kalah