• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Pada penelitian ini akan digunakan mencit Duoble Distsch Webster, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram, sehat, belum pernah digunakan untuk penelitian lain. Jumlah hewan coba perkelompok diperoleh berdasarkan rumus Federer (1963), sebagai berikut:

Keterangan : n = besar sampel

t = jumlah kelompok hewan coba

Maka, besar sampel yang diperlukan adalah:

(t-1)(n-1)≥ 15

(t-1)(n-1) ≥ 15 (2-1)(n-1) ≥ 15

(n-1) ≥ 15 n ≥ 16

Pemilihan sampel dan pengelompokannya dilakukan menggunakan metode randomisasi sederhana (simple random sampling). Berdasarkan rumus Federer, sampel yang diperlukan sebanyak minimal 16 ekor hewan coba pada tiap kelompok. Dengan penambahan perkiraan drop out, maka tiap kelompok diperlukan hewan coba sebanyak 17 ekor mencit. Jadi jumlah hewan coba yang dibutuhkan untuk penelitian ini berjumlah 34 ekor yang memenuhi kriteria inklusi yang akan di beri nomor dan dibagi menjadi 2 kelompok. Untuk kelompok drop out, mencit yang mati selama masa penelitian akan dikeluarkan dari kelompok sampel penelitian.

4.2.1 Kriteria Inklusi

1. Mencit galur Duoble Distsch Webster, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram.

2. Mencit sehat.

4.2.2 Kriteria Eksklusi

1. Mencit dengan luka bakar derajat I 2. Mencit dengan luka bakar derajat III 4.3 Pemeliharaan dan Persiapan Hewan Coba

Sebelum penelitian dilakukan, adaptasi hewan coba dilakukan selama 24 jam dengan diet standar yaitu makan dan minum ad libitum. Hewan coba dipelihara selama masa penelitian.

4.3.1 Cara Kerja

4.3.1.a. Pembuatan Luka Bakar Derajat II

Cukur bagian punggung mencit. Lakukan anastesi pada daerah punggung dengan dosis 0,2 cc Lidokain. Kulit dilukai dengan cara menetesi kulit mencit dengan air yang bersuhu 100o celcius dengan menggunakan spuit 5 cc selama 7 detik. Setelah 7 detik, kita sedot kembali air dengan menggunakan spiut. Agar

luka berbentuk lingkaran, kita batasi dengan besi atau logam yang berbentuk lingkaran dengan diameter 2 centimeter.

4.3.1.b. Prosedur Penanganan Luka Bakar Derajat II

Penanganan dilakukan sebanyak dua kali sehari yang selalu dibersihkan sebelum mengaplikasikan madu dan Bee Pollen ke mencit. Sebelum dilakukan pengolesan madu dan Beepollen, peneliti terlebih dahulu melakukan pengamatan terhadap luka bakar mencit untuk melihat perbaikan luka pada mencit setiap harinya. Setelah dilakukan pengamatan, peneliti mengukur diameter luka pada mencit untuk melihat apakah terjadi perbaikan diameter luka bakar. Pengukuran dilakukan dengan mengukur jarak yang terjauh dari satu sisi ke sisi luka bakar dengan menggunakan penggaris dalam satuan sentimeter. Pengukuran dilakukan hanya satu kali dalam sehari. Setelah dilakukan pengukuran diameter luka, lalu dilakukan pengolesan madu dan Beepollen. Olesi madu pada kelompok dengan pemberian madu (K1) dan Bee Pollen pada kelompok dengan pemberian Beepollen (K2) ke punggung mencit yang mengalami luka bakar hingga seluruh luka tertutupi. Pengamatan, pengukuran dan juga pengolesan madu dan Beepollen dilakukan setiap hari selama 14 hari dalam satuan sentimeter.

4.4 Defenisi Operasional

Judul Penelitian: Perbandingan efektivitas madu dan bee pollen dalam perbaikan luka bakar pada mencit berdasarkan diameter luka bakar.

1. Diameter Luka Bakar

a) Diameter merupakan jarak terjauh yang dibentuk oleh luka bakar b) Cara Ukur : two dimentional assesment (perhitungan panjang x

lebar)

c) Alat Ukur : penggaris/ mistar

d) Hasil Ukur : nilai dengan saruan sentimeter e) Skala Pengukuran : rasio

2. Perbaikan Luka Bakar

a) Perbaikan luka bakar merupakan pengecilan diameter luka bakar b) Cara Ukur : two dimentional assesment (perhitungan panjang x

lebar)

c) Alat Ukur : penggaris/ mistar

d) Hasil Ukur : nilai dengan saruan sentimeter e) Skala Pengukuran : rasio

4.5 Analisis Data

Data akan dianalisis dengan ANOVA jika data parametrik terdistribusi normal. Jika data tidak terdistribusi normal, maka data yang diambil non parametrik dan diuji dengan Mann-Whitney U.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Medan yang berada di Jalan Bioteknologi No. 1, Kampus Universitas Sumatera Utara, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru, Medan . Lokasi ini dipilih dengan mempertimbangkan kelengkapan sarana dan fasilitas pendukung yang baik untuk menunjang keberhasilan dari penelitian ini.

5.1.2. Karakteristik Sampel dan Analisa Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah 18 ekor mencit jantan galur Double Distsch Webster.

Berdasarkan Tabel 5.1, dapat dilihat bahwa pada kelompok pemberian Madu terjadi perbaikan diameter luka bakar yang progresif pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9. Hal ini terlihat jelas karena pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9 mengalami penyembuhan total pada hari ke 14. Pada mencit 2, 3, 5, dan 8 juga terjadi perbaikan diameter luka bakar, namun perbaikan diameter luka bakar tidak sebaik pada mencit 1, 4, 6, 7, dan 9, terutama pada mencit 3 dimana diameter luka bakar pada mencit 3 setelah 14 hari pengolesan madu masih 1,4 sentimeter.

Tabel 5.2 Tabel Perbaikan Diameter Luka Bakar pada Kelompok Beepollen selama 14 Hari dalam satuan Sentimeter

Berdasarkan Tabel 5.2, dapat dilihat bahwa pada kelompok pemberian Beepollen terjadi perbaikan diameter luka bakar yang progresif pada mencit 1, 3, 5, 6, dan 9. Hal ini terlihat jelas karena pada mencit 1, 3, 5, 6, dan 9 mengalami penyembuhan total pada hari ke 14. Pada mencit 2, 4, 7, dan 8 juga terjadi

perbaikan diameter luka bakar, namun perbaikan diameter luka bakar tidak sebaik pada mencit 1, 3,5, 6, dan 9.

Tabel 5.3. Rerata Diameter Luka pada Kelompok Madu dan Beepollen dalam Sentimeter

Kelompok Pemberian N Rerata Diameter

Standar Deviasi

Madu 9 0,311 0,4833

Beepollen 9 0,333 0,4213

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5.3 di atas, kelompok dengan rerata diameter terkecil adalah kelompok dengan pemberian Madu, yaitu 0,311±0,4833 sentimeter. Sedangkan kelompok dengan rerata diameter terbesar adalah kelompok dengan pemberian Beepollen, yaitu 0,333±0,4213 sentimeter.

A. Uji Normalitas Data

Pada penelitian ini, uji normalitas data yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk. Data dinyatakan terdistribusi normal jika p value > 0,05 dan dinyatakan tidak terdistribusi normal jika p value < 0,05. Hasil uji normalitas data dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut.

Tabel 5.4. Normalitas Diameter Perbaikan Luka dengan Uji Shapiro-Wilk Kelompok Pemberian Statistik Df Sig.

Madu 0,732 9 0,003

Beepollen 0,772 9 0,010

Berdasarkan Tabel 5.4, diperoleh nilai signifikansi untuk kelompok Madu sebesar 0,003 dan 0,010 untuk kelompok Beepollen. Karena nilai signifikansi kedua kelompok <0,05, maka dikatakan bahwa data berdistribusi tidak normal.

B. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah varian dari beberapa populasi adalah sama (homogen). Jika nilai signifikansi <0,05, maka dikatakan bahwa varian dari kelompok populasi data adalah tidak sama. Demikian juga sebaliknya.

Tabel 5.5. Uji Homogenitas Diameter Perbaikan Luka pada Kelompok Pemberian

Levene Statistic df1 df2 Sig.

0,000 1 16 1,000

Berdasarkan hasil uji homogenitas pada tabel diatas, diperoleh p value sebesar 1,000, yang nilainya >0,05. Maka diketahui bahwa kelompok populasi data pada penelitian ini memiliki varian yang sama (homogen).

C. Uji Komparabilitas

Uji komparabilitas bertujuan untuk membandingkan rerata diameter luka pada kelompok pemberian madu dan Beepollen. Analisis Komparatif yang digunakan adalah uji untuk data non parametrik, yaitu Mann-Whitney U.

Tabel 5.6. Uji Komparabilitas Data dengan menggunakan Uji Hipotesis Mann-Whitney U

Kelompok Pemberian Hari 14 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,884

Setelah dilakukan uji hipotesis nonparametrik dengan metode Mann-Whitney U dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5 %,) diperoleh nilai p adalah 0,884 (p>0,05), yang berarti tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar.

5.2 Pembahasan

Penelitian ini merupakan penelitian true experimental design dengan tujuan untuk membandingkan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar berdasarkan diameter luka bakar.

Berdasarkan nilai uji statistik pada Tabel 5.3, dapat dilihat bahwa rerata diameter luka pada kelompok madu lebih kecil dibandingkan rerata kelompok beepollen (0,311< 0,333). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, Noori S. Al-Waili dkk, dimana dikatakan bahwa madu dapat mempercepat waktu penyembuhan luka bakar dangkal maupun luka bakar dalam.25

Hal ini mungkin dikarenakan pada penelitian sebelumnya, madu telah terbukti secara signifikan (p<0,001) pada uji prospektif, randomisasi, uji klinis, lebih cepat dalam menyembuhkan luka bakar superfisial. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 52 pasien luka bakar yang diobati dengan madu, 91% luka sembuh dengan steril dalam waktu 7 hari. Molan P.C menemukan bahwa granulasi jaringan yang sehat lebih cepat pada pasien yang diobati dengan madu (mean 7,4 hari). Dalam waktu 7 hari, 84% luka yang diobati dengan madu menunjukkan proses epitelisasi yang memuaskan, dan sembuh 100% dalam waktu 21 hari.14

Perbaikan diameter luka pada kelompok madu pada tabel 5.3 juga dapat disebabkan oleh karena Madu memiliki kandungan gula dan juga osmolaritas yang tinggi, yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.26 Madu juga dapat mengurangi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri pada luka bakar dengan cepat, mengurangi bau, mempercepat pelepasan jaringan nekrosis, mempercepat granulasi dan reepitelisasi dengan bekas luka yang minimal.27tanpa menyebabkan resistensi.25

Pada kelompok pemberian beepollen berdasarkan Tabel 5.3 didapati rerata diameter luka 0,333, yang nilainya lebih besar dari kelompok pemberian madu, namun tidak begitu jauh berbeda dengan kelompok pemberian madu.

Hal ini dapat disebabkan karena beepollen juga merupakan produk perlebahan yang komposisinya tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan komposisi madu.

Peneliti tidak menemukan penelitian-penelitian sebelumnya yang secara khusus mencari perbandingan efektivitas antara madu dan beepollen dalam perbaikan diameter luka bakar.

Namun, pada penelitian sebelumnya oleh Vassev, dkk, menyatakan bahwa beepollen juga memiliki efek anti inflamasi yang tinggi yang dapat mencegah aktivitas dari siklooksigenase dan lipoksigenase, yaitu suatu enzim yang bertanggung jawab untuk mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin sehingga dapat meminimalisir ataupun menghilangkan rasa nyeri setelah hewan coba terkena luka bakar. Beepollen juga memiliki efek antibiotik yang tinggi yang terdapat pada flavonoid dan asam phenolic, yang dapat memperpendek waktu penyembuhan luka28.

Dikatakan oleh Harbone, J.B, flavonoid merupakan senyawa fenol yang dikenal mempunyai potensi sebagai antioksidan serta antiiinflamasi. Selain itu, flavonoid juga dapat menyebabkanrusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri sehingga mempercepat proses penyembuhan luka29.

Dari hasil penelitian ternyata diperoleh bahwa tidak ada perbedaan efektivitas yang signifikan pada madu dan beepollen dalam perbaikan luka bakar, sehingga hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal. Maka dapat disimpulkan bahwa madu dan beepollen memiliki efektifitas yang sama dalam perbaikan luka bakar. Bagaimanapun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang madu dan beepollen yang berkaitan dengan perbaikan diameter luka bakar.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perbandingan efektivitas Madu dan Beepollen dalam perbaikan luka bakar pada mencit berdasarkan diameter luka bakar, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Madu adalah 0,311 centimeter.

2. Rerata diameter perbaikan luka bakar pada kelompok pemberian Bee Pollen adalah 0,333 centimeter.

3. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata waktu perbaikan diameter luka bakar pada kedua kelompok karena diperoleh nilai p=0,884.

6.2. Saran

Beberapa hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain:

1. Diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbandingan efektivitas Madu dan Bee Pollen dalam perbaikan diameter luka bakar pada mencit dengan menggunakan sampel yang lebih banyak pada hewan coba.

2. Madu dan Bee Pollen dapat digunakan sebagai terapi alternatif dalam perbaikan luka bakar tanpa menyebabkan resistensi serta untuk menghindari efek samping.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arisanty I.P. Konsep Dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2014. p.1-13.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002. p.1912

6. Muthoharoh, L. Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Luka Bakar Ringan di Perumahan Bagasasi Cikarang. [Skripsi]. Program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2005

7. Pujisriyani, Aditya Wardana. Epidemiology of Burn Injuries in Cipto Mangunkusumo Hospital from 2009 to 2010.[ Internet]. Tersedia dari:

www.JPRJournal.com

8. Guyton A.C, John E.Hall. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008.

9. Kartini, M. Efek Penggunaan Madu dalam Manajemen Luka Bakar. Jurnal Kesehatan. Vol 2 No.2. 20 hlm. 2009

10. Gheldof, N., X.H. Wang and Engeseth, N.J. Identification of antioxidant components of honey from variuosfloral sources. J. Agricult. Food Chem.

50:5 870-5 877. 2002

11. Jull A.B, Rodgers, N. Walker. Honey as a Tropical Treatment for Wounds [Internet]. The Cochrane Library 2009. Tersedia dari:

http://thecochranelybrary.com

12. Vidianka, R. Potency of Honey in Treatment of Burn Wounds. J Majority 2015.

13. Rio Y, D. Aziz. Perbandingan Efek Antibakteri Madu Asli Sikabu dengan Madu Lubuk Minturun terhadap Eschericia Coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. [Internet]. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012. tersedia dari Medical Value [Internet]. International Jurnal of Clinical Practice. 2007.

tersedia dari: http://www.researchgate.net

17. Perdanakusuma DS. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka.

Plastic Surgery Department, Airlangga University School of Medicine.

2007

18. Mescher AL. Histologi Dasar Junqueira: Teks dan Atlas. Edisi 12. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012

19. Rohmawati, N. Efek Penyembuhan Luka Bakar dalam Sediaan Gel Ekstrak Etanol 70% Daun Lidah Buaya (Aloe vera L.) pada Kulit Punggung Kelinci New Zealand. [Skripsi]. Fakultas Farmasi Universitas Muhhamadiyah Surakarta. 2008

20. Al Fady, MF., Madu dan Luka Diabetik. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

2015

21. Bruno G. Bee Pollen, Propolis & Royal Jelly. Dean of Academy, Huntington College of Health Science. 2005.[Internet]. Tersedia dari:

www.hchs.edu

22. Campos, M.,Stefan B, Ligia B. Pollen Composition and Standardisation of analytical methods. Jurnal of apicultural Research and Bee World 47(2):158-163 (2008).

23. Luthfi M. Perbandingan Efektivitas Aspirin, Propolis, dan Bee Pollen sebagai Antiplatelet Berdasarkan Waktu Perdarahan pada Mencit. [Skripsi].

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2015

24. Szczesna T. Long- Chain Fatty Acids Composition of Honeybee-Collected Pollen. Jurnal of Apicultural Science. 50(2), p.65-79. 2006.

25. Al Waili, Noori S., Khelod Salom, Ahmad Al Ghamdi. Honey for Wound Healing, Ulcers, and Burns: Data Supporting Its Use in Clinical Practice.

The Scientific World Journal. 11, p.766-787. 2011

26. Sell, Scott A., Patricia S.Wolfe, Andrew J. Spence, Isaac A. Rodrigues, Jennifer M. McCool, Rebecca L. Petrella, et al., a Premilinary Study on the Potential of Manuka Honey and Platelet-Rich Plasma in Wound Healing.

Hindawi Publishing Corporation. International Jurnal of Biomaterials.14 pages. 2012.

27. Lusby, PE., Coombes, JM.Wilikinson. Honey: A Potent agent for Wound Healing?. Wound Care. Vol 29 (6). 2002.

28. Vassev, KK., Pawel O, Justyna K, Lukasz M, Krystyna O., Bee Pollen:

Chemical Composition and Therapeutic Application. Hindawi Publishing Corporation. 6 pg. 2015.

29. Harbone, J.B., Metode Fitokimia : Penentuan cara Modern Menganalisis Tumbuhan. InstitutTeknologi Bandung. Vol 2, p.84-85.1987.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Romanti Dahlia Tamba

Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 31 Mei 1995

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Jalan Perguruan Tinggi Swadaya Gang Rela No.

20 Medan Riwayat Pendidikan :

1. SD Negeri 060791 Medan (2001-2007) 2. SMP Negeri 23 Medan (2007-2010)

3. SMA Swasta Katolik Trisakti Medan (2010-2013) 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Medan (2013- sekarang)

HASIL UJI STATISTIK

Test of Homogeneity of Variance

Levene Statistic df1 df2 Sig.

hari14 Based on Mean ,000 1 16 1,000

Based on Median ,011 1 16 ,918

Based on Median and with

adjusted df ,011 1 15,707 ,919

Based on trimmed mean ,012 1 16 ,916

Mann-Whitney Test

Ranks

kelompok N Mean Rank Sum of Ranks

hari14 madu 9 9,33 84,00

beepollen 9 9,67 87,00

Total 18

Test Statisticsa

hari14

Mann-Whitney U 39,000

Wilcoxon W 84,000

Z -,146

Asymp. Sig. (2-tailed) ,884 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,931b a. Grouping Variable: kelompok

b. Not corrected for ties.

Dokumen terkait