Populasi merupakan kelompok tertentu dari sesuatu yang dipilih oleh peneliti yang hasil studinya atau penelitiannya dapat digeneralisasikan terhadap kelompok tersebut. Populasi adalah keseluruhan dari bentuk subyek penelitian. Menurut Sugiyono “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/ subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”(2014: 148). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa di SMAN 2 Batusangkar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel. 1 Populasi penelitian Siswa di SMAN 2 Batusangkar
No Kelas Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 X 120 siswa 141 siswa 261 siswa
2 XI 108 siswa 129 siswa 237 siswa
3 XII 96 siswa 117 siswa 213 siswa
Total 324 siswa 387 siswa 711 siswa
2. Sampel Penelitian
Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Burhan Bungin mendefinisikan “Sample adalah wakil semua unit strata dan sebagainya yang ada didalam populasi”(2011: 112). Jadi dapat disimpulkan bahwa sample merupakan wakil dari jumblah populasi yang ada.
Arikunto(2005) dalam Riduwan menyatakan bahwa “apabila subjek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil seluruhnya sebagai sampel, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi, jika lebih dari 100 maka sampel dapat diambil 10-15 % atau 20-25 % atau lebih” (2012: 95). Dari Pendapat di atas penulis mengambil jumlah sample sebanyak 10% dari total keseluruhan populasi yaitu berjumlah 711. Jadi jumlah sample yang akan penulis teliti sebanyak 71 siswa yang akan dibagi dari masing-masing kelas X, XII, dan kelas XII. Maka sampel didapatkan sebagai berikut:
Tabel. 2 Sampel penelitian
No Kelas Jumlah
1 X 23 siswa
2 XI 24 siswa
3 XII 24 siswa
Total 71 siswa
Pemilihan sampel ini peneliti menggunakan teknik simple random sampling, yang mana pengambilan sample tanpa memperhatikan strata dan diambil secara acak. Menurut Sugiyono “teknik simple random sampling pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu dan populasi dianggap homogen”(2010: 82). Berdasarkan penjelasan di atas, dari 711 siswa dari jumlah populasi maka diambil secara random dari jumlah sample yaitu 71 siswa yang di ambil secara acak di sekolah berdasarkan kesamaan ciri-ciri yang ada yaitu sudah pernah mendapatkan layanan yang akan diteliti.
D. Pengembangan Instrumen 1. Validitas
Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaitu valid dan reliabel. Validitas artinya sah, menurut Sugiyono “Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid”(2010: 121). Berdasarkan pendapat ini dapat dipahami bahwa suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan sesuai mengukur apa yang seharusya diukur.
Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Selanjutnya Sugiyono menjelaskan bahwa “valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur”(2010: 121).
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan mengukur apa yang seharusnya diukur. Hasil dari pengukuran itu menggambarkan aspek atau segi yang akan diukur serta dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Terdapat tiga jenis uji validitas, yaitu:
a. Validitas Konstruk (Construct Validity)
Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara. Untuk menguji validitas konstruk dapat digunakan pendapat dari ahli. Jadi, setelah dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli Bimbingan Konseling.
b. Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi merupakan kejituan dari instrument ditinjau dari isi instrument tersebut. Jadi untuk menguji apakah isi (pernyataan) skala benar-benar sesuai dengan komponen dari prokrastinasi akademik.
Untuk itu, menentukan validitas isi suatu skala adalah dengan jalan meminta penilaian ahli
c. Validitas Item
Penyusunan skala, dimulai dengan menyusun item yang tidak memperlihatkan kualitas yang baik atau tidak valid. Item yang tidak valid harus disingkirkan atau direvisi terlebih dahulu sebelum dapat dijadikan bagian dari skala (Arikunto, 2011: 130).
Dapat dipahami bahwa validitas ini merupakan pengujian yang bertujuan untuk melihat kesesuaian dengan antara isi dari instrumen tersebut dengan apa yang akan di ukur oleh peneliti tersebut. Pengujian validitas isi dapat di lakukan dengan meminta pertimbangan ahli yang mana hasilnya sebagai berikut ini:
Pada bagian ini didapatkan hasil berupa aspek-aspek yang akan di ukur berdasarkan teori yang ada yaitu suatu objek sikap yang dilihat dari tiga aspek sikap yaitu”Aspek affect (perasaan yang timbul), behaviour (perilaku yang mengikuti perasaan), dan cognition (penilaian)”(Sarwono S.W, 2010:
201).
Tabel. 3
Kisi-kisi sikap siswa terhadap layanan BK
Variabel Sub variabel Indikator
Sikap
a. Kesukaan siswa terhadap komponen
kegiatan/proses layanan orientasi, penempatan dan penyaluran, informasi, konten, konseling individual
b. Kesenangan siswa menjalani kegiatan/proses layanan orientasi, penempatan dan penyaluran,
c. Partisipasi siswa mengikuti layanan orientasi, penempatan dan penyaluran, informasi, konten, konseling individual
d. Kedisiplinan mengikuti layanan orientasi, penempatan dan penyaluran, informasi, konten,
a. Penilaian siswa terhadap manfaat yang didapat dalam mengikuti layanan orientasi, penempatan dan penyaluran, informasi, konten, konseling individual
b. Penilaian siswa terhadap proses kegiatan layanan
orientasi, penempatan dan penyaluran, informasi, konten, konseling individual
Pada bagian validitas isi disini peneliti meminta pertimbangan kepada ahli yaitu Bapak Dr. Irman, S.Ag.,M.Pd yang mana hasil didapatkan sebagai berikut: 15 Saya asik mengobrol dengan teman
sebangku saat guru BK langkah-langkah belajar yang baik dikelas
17 Pelaksanaan layanan konten yang diberikan guru BK tidak ada manfaat yang dapat saya ambil
Pemberian langkah-langkah yang diberikan guru BK saat menjelaskan materi, tidak ada manfaat yang dapat saya ambil 21 Saya tidak hadir saat kegiatan
ekstrakurikuler yang saya jalani berlangsung
Saya masa bodoh terhadap
ekstrakurikuler yang
direkomendasikan guru BK kepada saya
25. Ketika saya melakukan konseling, saya sangat senang karena masalah saya terbantu
Ketika saya mengikuti konseling individual, saya merasa senang
2. Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu angket yang merupakan indikator dari variabel. Suatu angket dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu, reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya (Sarwono, 2006: 219).
Uji reliabilitas suatu intrumen penelitian dalam hal ini yaitu dengan menggunakan program SPSS 21 dengan teknik Alpha Cronbach.
Syofyan Siregar menyatakan bahwa “instrumen dapat dikatakan reliabel bila memiliki koefisisen reliabilitas >0.6, menggunakan Alpha Cronbach”.
(Eldira Putri Naswarsih, Skripsi Sarjana, 2015, p. 48 ) Adapun hasil uji reliabilitas sikap siswa dengan menggunakan program SPSS 21, yaitu:
Tabel.6
Hasil uji Reliabilitas skala sikap siswa Cronbach's Alpha N of Items
,822 30
Berdasarkan tabel di atas dapat dipahami bahwa hasil perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS 21 adalah 0,822. Hal ini berarti bahwa instrumen tersebut reliabel dan terpercaya sebagai alat pengumpul data penelitian.