Berbicara populasi, sampel dan informan tidak dapat dipisahkan dengan subjek penelitian. Dimana subjek penelitian merupakan sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai variabel-variabel yang diteliti (Azwar, 2004). Variabel sendiri merupakan konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Konsep dapat diubah menjadi variabel dengan jalan memusatkan pada aspek tertentu dan variabel itu sendiri (Nazir, 2003).
Sedangkan Subjek penelitan, pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian. Apabila subjek penelitiannya terbatas dan masih dalam jangkauan sumber daya, maka dapat dilakukan studi populasi, yaitu mempelajari seluruh subjek secara langsung. Sebaliknya, apabila subjek penelitian sangat banyak dan berada di luar jangkauan sumber daya peneliti, atau apabila batasan populasinya tidak mudah untuk mendefinisikan, maka dapat dilakukan penelitian sampel (Azwar, 2004). Dalam penelitian kuantitatif orang yang memberikan respon maka disebut responden, sedangkan dalam penelitian
Pengantar Penelitian Pendidikan | 41 kualitatif karena peneliti ingin menggali informasi sedalam-dalamnya maka disebut informan.
Untuk mempermudah mengidentifikasi sumber data Suharsimi Arikunto (2002:107) mengklasifikasikannya menjadi 3P, yaitu:
P = Person, sumber data berupa orang (jika menggunakan wawancara memberi jawaban lisan atau tulisan jika menggunakan angket)
P = Place, sumber data berupa tempat (diam; ruangan, wujud benda, warna dan lain-lain, bergerak;
aktivitas, kinerja,laju kendaraan, ritme nyanyian, gerak tari dll)
P = Paper, sumber data berupa simbol (huruf, angka, gambar atau simbol-simbol lain) (Arikunto, 2002).
A. Populasi
Populasi adalah keselurahan subjek penelitian.
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2002).
Masalah populasi menjadi sangat penting dalam penelitian survei. Dimana penelitian survai bertujuan memproleh deskripsi objektif mengenai keadaan populasi.
Oleh karenanya, batasan dan karakteristik populasi harus jelas dan tegas sehingga kesimpulan penelitian jelas pula target generalisasinya (Azwar, 2004).
Keterbatasan sumberdaya, seringkali memaksa peneliti mengambil sebagian saja dari anggota populasi.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 42 Sebagian anggota populasi ini disebut sampel. Apapun kesimpulan hasil studi terhadap sampel akan digeneralisasikan atau diberlakukan pada seluru populasi.
Jadi, agar kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maka sampel haruslah mencerminkan karakteristik dan keadaan populasinya (Azwar, 2004).
B. Sampel
Jika peneliti hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitiannya disebut penelitian sampel.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002).
Gambar 3: Bentuk hubungan populasi dan sampel Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel (contoh) yang benar-benar dapat berfungsi sebagai contoh, atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebebnarnya.
Dengan kata lain sampel harus representatif (Arikunto, 2002). Sehingga dalam menentukan sampel penelitian, peneliti perlu mempertimbangkan cara-cara berikut:
1. Sampel random, atau sampel acak, sampel campur
POPULASI
sampel
Pengantar Penelitian Pendidikan | 43 Metode ini berusaha memberikan kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian. Dalam teknis pengacakannya dapat dilakukan pengundian, maupun dengan menggunakan tabel bilangan random maupun bantuan software komputer (SPSS). Tujuannya, untuk melepaskan peneliti dari pengistimewaan seseorang atau kelompok.
Suharsimi (2002:112), jika populasi penelitian kurang dari 100, dianjurkan untuk mengambil semua, artinya merupakan penelitian populasi.
Dan jika subjeknya besar, maka dapat diambil 10-15% atau 20-25%.
2. Sampel berstrata atau stratified sampel
Apabila peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas tingkatan-tingkatan atau strata, maka pengambilan sampel tidak boleh dilakukan secara random. Setiap strata harus diwakili sampelnya. Misal; strata ekonomi, strata umur, strata kelas, dan sebagainya.
3. Sampel wilayah atau area probability sampling Sampel wilaya adalah teknik sampling yang dilakukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi.
Misalnya; kita akan meneliti keberhasilan sekolah di 27 propinsi, maka kita mengambil sampel dari
Pengantar Penelitian Pendidikan | 44 27 propinsi tersebut, sebab masing-masing daerah berbeda keadaannya.
4. Sampel proporsi atau proporsional sampel, atau sampel imbangan
Teknik sampel proporsi atau seimbang bertujuan guna menyempurnakan pengembalian sampel strata dan wilayah. Ada kalanya jumlah subjek dalam satu wilayah tidak sama jumlahnya. Oleh karenanya, untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap strata atau wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masing-masing strata atau wilayah.
Contoh: jumlah populasi 1000 siswa,sampel diambil adalah 10%, sehingga jumlah sampel total adalah 10%x1000= 100 mahasiswa. Mahasiswa Tingkat satu (TK I) = 500, Tingkat II (TK II) = 200, Tingkat III (TK III) = 150 dan Tingkat IV (TK IV)
= 150.
Perhitungan sampelnya;
TK I = 500/1000 x 100 = ½ x 100 = 50 Mahasiswa
TKII = 200/1000 x 100 = 1/5 x 100 = 20 Mahasiwa
TK III = 150/1000 x 100 =15/100 x 100 = 15 mahasiswa
Pengantar Penelitian Pendidikan | 45
TK IV = 150/1000 x 100 =15/100 x 100 = 15 mahasiswa
5. Sampel bertujuan atau purposive sample
Sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu.
6. Sampel kuota atau quota sample
Teknik ini tidak mendasarkan diri pada strata atau daerah, tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. Dalam mengumpulkan data,peneliti menghubungi subjek yang memenuhi persyaratan ciri-ciri populasi, tanpa menghiraukan dari mana asal subjek tersebut.
Yang terpenting disini adalah jumlah (quotum) yang telah ditetapkan.
7. Sampel kelompok atau cluster sample
Di masyarakat kita jumpai kelompok-kelompok,bukan merupakan kelas atau strata.
Misalnya; kelompok PNS, Anggota BRI, Mahasiswa PTAI dan lain-lain.
8. Sampel kembar atau doubele sample
Sambel kembar adalah dua buah sampel yang sekaligus diambil oleh
Peneliti degan tujuan melengkapi jumlah apabila ada data yang tidak masuk dari sampel pertama, atau untuk mengadakan pengecekan tidak masuk
Pengantar Penelitian Pendidikan | 46 sampel pertama, atau untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran data dari sampel pertama. Biasanya sampel pertama jumlahnya sangat besar sedangkan sampel kedua yang untuk mengecek, jumlahnya tidak begitu besar (Arikunto, 2002).
C. Informan
Menurut Webster’s New Collegiat Dictionary, seorang informan adalah “seorang pembicara asli yang berbicara dengan mengulang kata-kata, frasa, dan kalimat dalam bahasa atau dialeknya sebagai model imitasi dan sumber informasi”. Informan diminta oleh peneliti untuk berbicara dalam bahasa atau dialeknya sendiri. Informan juga memberi model untuk dicontoh peneliti. Akhirnya, Informan merupakan sumber informasi, atau secara harfiah informan menjadi guru bagi peneliti (Spradly, 1979).
Membahas informan dan Responden, tidak sedikit orang salah dalam memahaminya atau memaknainya.
Seorang responden adalah siapa saja yang menjawab daftar pertanyaan penelitian atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh seorang peneliti.
Seakan-akan responden dan informan memiliki kesamaan yaitu sama-sama tampak memberi informasi mengenai kebudayaan mereka. Salah satu perbedaan terpenting diantara keduanya adalah terkait dengan
Pengantar Penelitian Pendidikan | 47 bahasa yang digunakan dalam memformulasikan pertanyaan. Dimana penelitian survei dengan responden hampir selalu menggunakan bahasa ilmuwan sosial.
Sedangkan penelitian etnografis, tergantung sepenuhnya pada bahasa informan. Pertanyaan muncul dari budaya informan (Spradly, 1979).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 48