HASIL PENELITIAN
6.1 Populasi Ular Yang Ditemukan Di Desa Singapadu
Ular tali (Dendrelaphis pictus) paling banyak ditemukan dalam penelitian ini. Ular tali dapat ditemukan diseluruh wilayah Desa Singapadu, baik pada siang hari maupun malam hari. Pada siang hari, ular tali aktif berburu kodok, katak dan kadal, bergerak cepat diatas permukaan tanah dan terkadang ditemukan memanjat pohon (McKay, 2006). Ular tali beristirahat pada malam hari di ranting-ranting pohon yang tinggi dan di atas semak-semak. Ular tali ditemukan di semua habitat di lingkungan Desa Singapadu, lebih mudah ditemukan pada malam hari dipinggiran sungai pada ranting pohon. Ular tali dapat berpindah-pindah dari satu habitat ke habitat lainnya melalui darat, sungai (berenang) dan memanjat tumbuh-tumbuhan yang merambat, sehingga penyebarannya luas. Ular tali bertubuh kecil dan ramping ini dengan gerakan yang sangat cepat dapat berburu dan menghindari bahaya. Diperkirakan ular ini memiliki sedikit predator, survai pendahuluan menemukan bahwa ular tali tidak disukai untuk dimakan oleh ular weling (ular kanibal). Ular weling memuntahkan kembali ular tali yang sempat dimakan. Masyarakat lokal khususnya petani sering berdampingan dengan ular tali, mereka mengenal ular tali sebagai ular yang tidak berbisa dan tidak berbahaya. Ular tali memiliki bisa lemah yang digunakan untuk membunuh katak, kodok, cecak dan kadal (Marlon, 2014).
Ular cincin emas (Boiga dendrophila) adalah ular dengan persentase terbanyak ke dua ditemukan setelah ular tali. Pohon-pohon besar yang rimbun dan celah-celah bebatuan atau lubang-lubang akar tumbuhan di area pinggiran sungai merupakan habitat yang baik bagi ular cincin emas untuk bersembunyi dan berkembangbiak. Ular cincin emas kemungkinan berasal dari Rimba Reptile Park. Menurut informasi dari warga setempat dan salah satu petugas keamanan di area Reptile Park mengatakan bahwa Reptile Park pernah memiliki koleksi ular cincin emas dan berkembang dengan baik, kemungkinan anak-anak ular hasil breeding ini keluar melalui celah kecil pada kandang (Artanegara, Kom.pri. 2013). Ular cincin emas bukan ular asli Bali, namun penyebaranya di Indonesia dapat ditemukan di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sunda kecil dan Sulawesi (Marlon, 2014). Dalam penelitian ini, B. dendrophila pertama kali ditemukan dan diketahui keberadaannya di Bali, khususnya di wilayah Desa Singapadu.
Ular cincin emas paling banyak dijumpai di Desa Singapadu pada malam hari. Ular ini merupakan ular nokturnal, berburu disepanjang aliran sungai, saluran irigasi pertanian dan di tengah-tengah sawah. Ular cincin emas adalah ular yang memangsa berbagai jenis binatang termasuk kodok, kadal, burung, ayam, tikus dan hewan pengerat lainnya. Ular ini membunuh mangsanya dengan melilit dan menyuntikkan bisa hemotoksin. Pada umumnya bisa ular cincin emas tidak berbahaya bagi manusia, efek gigitannya adalah pembengkakan di area gigitan, berwarna merah-kebiruan dan akan sembuh setelah empat sampai enam hari (tergantung daya tahan tubuh seseorang). Untuk orang yang memiliki alergi terhadap kandungan protein tertentu, gigitan ular cincin emas akan memberikan
57
dampak nekrosis yang buruk, tetapi belum pernah dilaporkan sampai membunuh manusia (Lumsden et al., 2004).
Ular cincin emas baik digunakan sebagai biologi kontrol di area pertanian, selain tidak berbahaya, ular ini aktif berburu pada malam hari, saat petani telah selesai beraktifitas. Ular cincin emas bersifat arboreal, pada siang hari ular ini dapat ditemukan beristirahat di atas pohon yang tertutupi oleh daun-daun lebat sehingga tubuhnya tidak langsung terpapar sinar matahari. Ular cincin emas terkadang memasuki area pemukiman untuk berburu tikus, masyarakat sering membunuh ular ini karena takut jika digigit. Masyarakat sering mengira ular cincin emas memiliki bisa mematikan dan gigitannya berakibat fatal karena ukuran tubuh yang besar dengan warna yang cerah.
Tiga spesies ular yang ditemukan dalam penelitian di Desa Singapadu memiliki persentase terendah yaitu 1%. Ular yang pertama adalah Ular tikus (Coelognathus radiata) yang hanya ditemukan di area lembaga konservasi Bali Bird Park, di pinggir kandang Alas Bali. Habitat Ular tikus adalah di area persawahan, hutan basah ataupun hutan kering dan terkadang memasuki area pemukiman (McKay, 2006). Ular ini masuk ke area Bali Bird Park kemungkinan disebabkan oleh tikus-tikus sawah yang menjadi makanan utamanya, mencari makanan sisa satwa di Bali Bird Park akibat sawah di sekitar lembaga koservasi yang padinya telah di panen. Ular tikus akan mengikuti jejak tikus dan ikut masuk ke area lembaga konservasi. Ular ini merupakan hewan diurnal dengan mangsa utama tikus, kadal, dan burung. Ular tikus berburu di atas permukaan tanah dengan memasuki celah-celah lubang tanah dan akar pepohonan untuk
menemukan tikus dan kadal. Ular ini melata perlahan diatas tanah tanpa bersuara dan warna tubuh coklat muda dengan pola hitam memberikan peyamaran yang baik di atas permukaan tanah sehingga tikus, kadal, dan burung tidak menyadari kedatangan ular ini.
Ular siput (Pareas carinatus) sedikit ditemukan dalam penelitian ini, dan hanya ditemukan di habitat sungai Banjar Dinas Apuan. Ular siput merupakan ular nokturnal, bergerak dengan cara memanjat satu ranting ke ranting lainnya untuk berburu siput dan jarang ditemukan diatas permukaan tanah. Ukuran tubuhnya yang kecil, warnanya coklat seperti warna ranting dan kemampuannya dalam bersembunyi mengakibatkan ular ini susah untuk ditemukan. Ular siput ditemukan pada tempat yang lembab, seperti halnya siput yang hidup di tempat lembab (Cox et al., 1998). Pada saat penelitian curah hujan sangat rendah, sehingga jarang dijumpai siput-siput kecil yang merupakan mangsa utama ular siput (Marlon, 2014), hal ini kemungkinan menjadi alasan sedikitnya ular siput yang ditemukan di Desa Singapadu. Selain itu, jumlah telur yang dihasilkan ular siput tiap tahun lebih sedikit dibandingkan jenis ular lainnya yaitu 3 – 8 butir telur (McKay,2006).
Ular dengan persentase terendah lainnya yang ditemukan adalah ular kawat (Ramphotyphlops braminus). Ular kawat memiliki ukuran sangat kecil dengan bentuk menyerupai cacing tanah, nokturnal dan hidup dibawah bebatuan, daun kering, batang pohon yang membusuk dan terkadang dibawah pot-pot tanaman di area pemukiman. Ular kawat jarang ditemukan diatas permukaan tanah, sehingga metode tracking kurang tepat untuk mengumpulkan ular ini. Ular
59
kawat memangsa hewan invertebrata kecil dan telur-telur invertebrata kecil yang terdapat di celah bebatuan dan celah akar tumbuhan (Komosawa and Ota, 1996). Di Desa Singapadu khususnya Banjar Dinas Kebon, ular ini ditemukan diatas permukaan tanah habitat sawah setelah hujan reda. Kelembaban yang tinggi dengan suhu yang rendah menjaga tubuh ular ini tetap basah selama berburu diatas permukaan tanah ataupun berpindah tempat. Ular kawat dapat melakukan partenogenesis, sehingga apabila metode yang digunakan untuk mengumpulkan ular ini tepat, maka ular ini akan ditemukan di berbagai macam habitat dengan kemungkinan jumlah individu yang lebih banyak. Penyebaran ular kawat selain di Indonesia, dapat ditemukan di India, Singapura, Philipina, Taiwan, Florida, Hawai, Texas, Ohio, dan Netherland Antilles (Wallach, 2008).