BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Posisi dan peran Gender
Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan dalam melakukan analisis posisi dan peran perempuan.
Pengungkapan masalah kaum perempuan dengan menggunakan analisis gender sering menghadapi perlawanan dan penolakan oleh mereka yang melakukan kritik terhadap sistem sosial yang dominan seperti kapitalisme, Untuk itu perlu diidentifikasikan timbulnya perlawanan tersebut. Pertama, karena mempertanyakan status kaum perempuan pada dasarnya adalah mempersoalkan sistem dan struktur yang telah mapan, bahkan mempertanyakan posisi kaum perempuan pada dasarnya berarti menggoncang struktur dan sistem status quo ketidakadilan tertua dalam masyarakat. Kedua, banyak terjadi kesalahpahaman tentang mengapa masalah kaum perempuan harus dipertanyakan. Kesulitan lain, dengan mendiskusikan soal gender berarti membahas hubungan kekuasaan yang sifatnya sangat pribadi, yakni menyangkut dan melibatkan individu kita
masing-masing serta menggugat privilege yang kita miliki dan sedang kita nikmati selama ini. Oleh karena itu, pemahaman atas konsep gender sesungguhnya merupakan isu mendasar dalam rangka menjelaskan masalah hubungan antara kaum perempuan dan laki-laki, atau masalah hubungan kemanusiaan kita.
Persoalan lain, kata gender merupakan kata dan konsep asing sehingga usaha menguraikan konsep gender dalam konteks Indonesia sangatlah rumit dilakukan. Kata gender dipinjam dari bahasa Inggris.
Kalau dilihat dalam kamus, tidak secara jelas dibedakan pengertian kata sex dan gender. Sementara itu, belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara singkat dan jelas mengenai konsep gender dan mengapa konsep tersebut penting guna memahami sistem ketidakadilan sosial (Fakih, 1996:7).
Secara garis besar, teori-teori gender dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok pertama.
1. Teori nature
Teori nature menyatakan bahwa perbedaan peran laki-laki dan perempuan di tentukan oleh faktor biologis. Anatomi laki-laki dan perempuan, dengan sederet perbedaannya dengan perempuan, menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin tersebut.
Laki-laki menjalankan peran-peran utama dalam masyarakat karena secara umum dianggap lebih potensial dan lebih produktif. (Marhumah, 2011:5)
Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Wanita mempunyai buah dada yang lebih besar. Suara wanita lebih halus, wanita melahirkan anak, dan sebagainya, kata orang, wanita juga berbeda secara psikologis. Laki-laki lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif, wanita sebaliknya lebih emosional, lebih pasif, lebih submisif. (Budiman, 1981:1).
Di sisi lain, organ reproduksi perempuan beserta fungsi yang diasosiasikan kepadanya, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui, dianggap membatasi ruang dan gerak perempuan. Batasan ini tidak berlaku bagi laki-laki. Perbedaan inilah yang melahirkan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.
2. Teori nurture
Teori nurture lebih melihat bahwa perbedaan karakter dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan lebih ditentukan oleh faktor sosial budaya. Perspektif ini menyimpulkan bahwa pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tidak ditentukan oleh faktor biologis, tetapi dikonstruksikan oleh budaya, yakni relasi kuasa (power relation) yang secara turun-menurun dipertahankan oleh laki-laki. Bahwa perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan, sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, dan perkasa.
Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang.
Oleh karena itu terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat,
bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan. Dinyatakan bahwa yang bersifat biologis yang tidak dapat diubah lagi, sehingga perbedaan- perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan.
Sebaliknya, melalui dialektika, konstruksi sosial gender yang tersosialisasikan secara evolusional dan perlahan–lahan mempengaruhi jenis biologis masing-masing jenis kelamin. Misalnya, karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif maka kaum laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan fisik serta ideology kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya.
Karena proses sosialisasi dan konstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu, seperti kaum perempuan lemah lembut dan kaum laki-laki kuat perkasa, dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan. Namun, dengan menggunakan pedoman bahwa setiap sifat biasanya melekat pada jenis kelamin tertentu dan
sepanjang sifat-sifat tersebut bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah konstruksi masyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat. (Fakih, 1996: 10)
Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut, selanjutnya Mill menyatakan bahwa sifat-sifat wanita mencakup suatu kekurangmampuan untuk berfikir abstrak dibandingkan dengan laki-laki (Ollenburger, 1996: 23). Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang nyata. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni:
a. marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi,
b. subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, c. streotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih
panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi dan peran gender.
Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.
Tidak ada satupun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting, lebih essensial dari yang lain. Misalnya, marginalisasi ekonomi kaum
perempuan justru terjadi karena streotipe tertentu atas kaum perempuan dan itu menyumbang kepada subordinasi, kekerasan kepada kaum perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideology dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik (violence) adalah masalah paling mendasar yang harus dipecahkan terlebih dahulu (Fakih, 1996:13).