IRS 1.014 Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa pada triwulan III
2. Posisi Devisa Neto Triwulanan
Analisis exposure valuta asing secara triwulan merupakan analisa kasar berdasarkan nilai aset dan kewajiban valas pada neraca dan rekening administratif pada laporan komitmen dan kontijensi. Analisis ini digunakan untuk mengetahui posisi devisa neto sesuai perubahan nilai tukar rupiah dalam rentang waktu yang lebih sempit. Gambar 28 berikut menunjukkan secara ringkas posisi exposure BRI per triwulan untuk tahun 2008.
Berdasarkan Gambar 28 dapat dilihat bahwa selama tahun 2008, aset dan kewajiban valas selalu mengalami peningkatan.. Sementara itu, volume exposure memiliki tren yang menurun pada triwulan II serta pada triwulan III dan IV mengalami peningkatan yang cukup signifikan akibat peningkatan aset valas yang disertai dengan penurunan kewajiban valas pada neraca. Berikut ini adalah analisis posisi exposure valas per triwulan untuk periode tahun 2008.
Gambar 28. Posisi Exposure BRI per Triwulan 2008 (Laporan Keuangan BRI Triwulan 1,2,3 dan 4 tahun 2008, diolah)
Maret Juni Septem ber Desemb er Aset valas 18.814.450 19.425.673 22.734.933 24.510.572 Kewajiban valas 16.684.524 18.801.196 21.171.466 21.270.190 Exposure 2.129.926 624.477 1.563.467 3.240.382 0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000 30.000.000 jutaan rupiah
a. Posisi PDN per Maret 2008
Nilai tukar rupiah terhadap US dollar mengalami apresiasi dari Rp 9.906,4 per 1 USD menjadi Rp 9.684,9 per 1 USD selama triwulan I 2008. Tabel 23 berikut menunjukkan posisi exposure valas BRI berdasarkan neraca dan rekening administratif per Maret 2008
Tabel 23. Posisi PDN per Maret 2008 (jutaan rupiah)
Uraian Jumlah Neraca Aset valas 18.671.213 Kewajiban valas 11.671.126 Exposure 7.000.087 Rekening Administratif Tagihan administratif 143.237 Kewajiban administratif 5.013.398 Exposure (4.870.161) Exposure total 2.129.926 Modal 19.595.242 Rasio PDN 10,87% Overbought/long Pendapatan Valas 187.825
Berdasarkan Tabel 23 dapat diketahui bahwa exposure valas BRI akibat perubahan nilai tukar per Maret 2008 untuk neraca
adalah sebesar Rp 7.000.087 juta dan exposure total sebesar Rp 2.129.926 juta sehingga BRI berada pada posisi overbought dengan pendapatan valas sebesar Rp 187.825 juta. Dengan kondisi nilai rupiah yang terapresiasi, posisi long berpotensi memberikan kerugian bagi BRI. Dengan rasio exposure sebesar 10,87 persen dan apresiasi rupiah sebesar 2 persen maka BRI akan mengalami kerugian sebesar 0,22 persen dari modal atau sebesar Rp 43.109,5 juta.
b. Posisi PDN per Juni 2008
Nilai tukar rupiah terhadap US dollar mengalami depresiasi dari Rp 9.684,9 per 1 USD menjadi Rp 9.795,7 per 1 USD Selama triwulan II 2008. Tabel 24 berikut menunjukkan posisi exposure valas BRI berdasarkan neraca dan rekening administratif per Juni 2008.
Tabel 24. Posisi PDN per Juni 2008 (jutaan rupiah)
Uraian Jumlah Neraca Aset valas 19.275.198 Kewajiban valas 13.130.691 Exposure 6.144.507 Rekening Administratif Tagihan administratif 150.475 Kewajiban administratif 5.670.505 Exposure (5.520.030) Exposure total 624.477 Modal 18.117.748 Rasio PDN 3,45% Overbought/long Pendapatan Valas 365.316
Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa posisi exposure total pada triwulan II 2008 sebesar Rp 624.477 juta dengan rasio PDN sebesar 3,45 persen dan pendapatan valas sebesar Rp 365.316 juta. Nilai exposure tersebut mengalami penurunan sebesar 70,7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya karena peningkatan volume kewajiban valas lebih besar daripada peningkatan aset valas yaitu sebesar 12,5 persen sedangkan aset valas hanya sebesar 3
persen. Meskipun nilai exposure mengalami penurunan, posisi PDN BRI masih berada pada posisi long dan pendapatan valas mengalami peningkatan sebesar 94,5 persen. Mempertahankan posisi long dalam kondisi rupiah yang terdepresiasi berpotensi memberikan keuntungan bagi BRI. Dengan rasio exposure sebesar 3,45 persen dan depresiasi rupiah sebesar 1 persen maka BRI akan mengalami keuntungan sebesar 0,03 persen dari modal atau sebesar Rp 6.244,77 juta.
c. Posisi PDN per September 2008
Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dari Rp 9.795,7 per 1 USD pada akhir Juni 2008 menjadi Rp 9.840,7 per 1 USD pada akhir September 2008. Tabel 25 berikut menunjukkan posisi exposure valas BRI berdasarkan neraca dan rekening administratif per September 2008.
Tabel 25. Posisi PDN per September 2008 (jutaan rupiah)
Uraian Jumlah Neraca Aset valas 22.574.052 Kewajiban valas 17.259.756 Exposure 5.314.296 Rekening Administratif Tagihan administratif 160.881 Kewajiban administratif 3.911.710 Exposure (3.750.829) Exposure total 1.563.467 Modal 18.786.451 Rasio PDN 8,32% Overbought/long Pendapatan Valas 510.704
Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa posisi exposure total pada triwulan III 2008 sebesar Rp 1.563.467 juta dengan pendapatan valas sebesar Rp 510.704 juta. Nilai exposure tersebut mengalami peningkatan sebesar 150 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan kewajiban valas secara keseluruhan untuk neraca dan rekening administratif lebih kecil daripada aset valas yaitu sebesar 12,6
persen sedangkan peningkatan aset valas sebesar 17 persen. Peningkatan kewajiban valas dipicu oleh depresiasi nilai rupiah sehingga banyak nasabah yang menempatkan dananya dalam bentuk valas terutama giro dan deposito berjangka. Nilai exposure tersebut menjadikan PDN BRI tetap berada pada posisi long dengan pendapatan valas yang mengalami peningkatan sebesar 40 persen. Dengan rasio PDN sebesar 8,32 persen dan depresiasi rupiah sebesar 0,5 persen maka BRI akan mendapat keuntungan sebesar 0,042 persen dari modal atau sebesar Rp 7.817,34 juta.
d. Posisi PDN per Desember 2008
Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dari Rp 9.840,7 per 1 USD pada akhir September 2008 menjadi Rp 11.825 per 1 USD pada akhir Desember 2008. Posisi exposure valas BRI berdasarkan neraca dan rekening administratif per Desember 2008 dapat dilihat pada Tabel 26 berikut.
Tabel 26. Posisi PDN per Desember 2008 (jutaan rupiah)
Uraian Jumlah Neraca Aset valas 24.354.383 Kewajiban valas 14.121.352 Exposure 10.233.031 Rekening Administratif Tagihan administratif 156.189 Kewajiban administratif 7.148.838 Exposure (6.992.649) Exposure total 3.240.193 Modal 19.187.674 Rasio PDN 16,87% Overbought/long Pendapatan Valas 707.197
Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai exposure BRI per Desember 2008 sebesar Rp 3.240.193 juta dengan pendapatan valas sebesar Rp 707.197 juta. Nilai exposure ini mengalami peningkatan sebesar 107 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh penurunan volume kewajiban valas untuk neraca terutama untuk komponen giro dan simpanan
berjangka sebesar 18 persen dan peningkatan aset valas sebesar 8 persen. Kondisi ini menyebabkan PDN BRI tetap pada posisi long yang berpotensi memberikan keuntungan karena tren nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi. Penurunan kewajiban valas menyebabkan peningkatan pendapatan valas sebesar 38,5 persen. Dengan rasio PDN sebesar 16,87 persen dan depresiasi nilai rupiah sebesar 20 persen maka BRI akan mengalami keuntungan sebesar 3,37 persen dari modal atau sebesar Rp 648.038,6 juta.
4.3.4 Dampak Posisi Gap
Berdasarkan analisis gap untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2007 dan 2008 diperoleh posisi gap negatif untuk periode sensitivitas sampai dengan satu bulan dengan nilai nominal yang sangat signifikan. Besaran negatif gap ini memperlihatkan bahwa di BRI terdapat mismatch antara aset dan liabilitas dimana tidak semua sensitive liability digunakan untuk membiayai sensitive asset.
Rasio gap sebesar 0,3 untuk kedua periode menunjukkan bahwa interest bearing liabilities lebih besar daripada interest earning asset. Dengan asumsi bahwa perubahan suku bunga bearing liabilities bergerak dalam arah dan besar yang sama dengan suku bunga earning assets, dimana kenaikan suku bunga pada posisi negatif gap akan menyebabkan kenaikan biaya bunga atas dana lebih besar daripada kenaikan yield aset sehingga hanya sebagian kecil dari beban bunga yang dapat di roll over oleh peningkatan pendapatan bunga dan akibatnya bank akan mengalami kerugian. Sebaliknya apabila dalam kondisi negatif ini suku bunga turun, dengan asumsi pergerakan suku bunga dalam arah dan besar yang sama maka penurunan biaya dana akan lebih besar daripada penurunan aset yield sehingga spreadnya masih akan positif. Dengan penurunan beban bunga atas kewajiban ini bank memperoleh keuntungan. Apabila asumsi yang mendasari pergerakan suku bunga bearing liabilities dan earning asset terpatahkan, dalam arti suku bunga aset produktif bergerak dalam arah dan besar yang tidak sama dengan suku bunga kewajiban yang
mendatangkan beban bunga maka perubahan yang terjadi pada Net Interest Income (NII) akan berbeda. Penurunan suku bunga aset dan peningkatan suku bunga kewajiban akan menyebabkan NII semakin jatuh, sedangkan kenaikan suku bunga aset dan disertai penurunan suku bunga kewajiban akan mendorong NII untuk naik.
Negatif gap terbentuk karena adanya ekspektasi bahwa selama periode sensitivitas tersebut akan terjadi penurunan suku bunga baik suku bunga aset maupun kewajiban. Penurunan tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya bunga BRI karena dalam kurun waktu tersebut BRI mempunyai lebih banyak kewajiban yang akan direprice. Penurunan beban bunga tersebut diharapkan dalam jumlah yang signifikan unuk mengcover penurunan pendapatan bunga.
Berdasarkan incremental funding gap untuk periode Desember 2007 dan 2008 tersebut terlihat bahwa BRI akan menghadapi risiko terbesar pada periode sampai dengan satu bulan apabila ternyata dalam kurun waktu tersebut terjadi kenaikan suku bunga. Negatif gap yang besar tersebut dapat menyebabkan kerugian yang besar pula, sedangkan bila dalam kurun waktu di atas satu tahun terjadi penurunan suku bunga maka aset-aset dan kewajiban dengan jangka waktu di atas satu tahun akan mendatangkan potensial loss yang besar sehingga harus direstrukturisasi untuk disesuaikan dengan arah pergerakan suku bunga. Dampak posisi gap yang terbentuk pada periode Desember 2007 dan 2008 adalah sebagai berikut: