TINJAUAN PUSTAKA
V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
5.4. Potensi Perikanan dan Kelautan
5.4.1. Potensi dan Karakteristik Sub Sektor Perikanan
Kota Padang memiliki potensi perikanan yang besar, baik pada usaha perikanan laut maupun perairan umum. Potensi ini dinyatakan dalam kontribusi yang dihasilkan bagi perekonomian daerah. Hal ini ditandai dengan tingginya produksi dan nilai yang dihasilkan bagi peningkatan ekonomi daerah. Rincian nilai produksi menurut jenis usaha perikanan di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel 19 sebagai berikut:
Tabel 19. Nilai Produksi menurut Jenis Usaha Perikanan di Sumatera Barat
No. Kabupaten/Kota Total
Sektor Perikanan Penangkapan Laut Budidaya Laut Penangkapan Perairan Umum 1 Kab. Kep.Mentawai 238.177.565 238.177.565 748.630 -
2 Kab. Pesisir Selatan 463.938.325 458.980.350 129.320 4.957.975
3 Kab. Padang Pariaman 563.032.548 559.652.548 - 3.380.000
4 Kab. Pasaman Barat 1.233.810.200 1.233.810.200 - -
5 Kota Padang 255.011.970 251.201.500 574.475 3.810.470
6 Kota Pariaman 144.035.880 144.035.880 - -
Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat, 2010
Usaha perikanan tangkap laut di Kota Padang memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian daerah. Kontribusi ini sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 19 menunjukkan usaha penangkapan di laut memberikan nilai sebesar Rp 251.201.500.000. Nilai ini setara 86 persen dari total nilai produksi sektor perikanan di Kota Padang selama tahun 2010 sebesar Rp 293,31 milyar.
Salah satu potensi perairan wilayah Kota Padang yang telah dimanfaatkan adalah sumberdaya perikanan. Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kota
Padang (2010) potensi perikanan daerah ini terdiri dari kelompok sumberdaya sebagai berikut;
Ikan Pelagis Besar seperti; tuna, albakora, setuhuk, ikan pedang, layaran, cakalang, tongkol dan tenggiri dengan potensi lestari 159.652 ton.
Ikan Pelagis Kecil meliputi; ikan-ikan yang hidup di daerah permukaan laut yang berukuran relatif kecil seperti ikan kembung, bentong, layang, selar, lemuru dan lain sebagainya dengan potensi lestari 288.924 ton. Sumber daya ikan pelagis ini relatif telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan dengan alat tangkap yang sederhana.
Ikan Demersal, adalah jemis ikan yang hidup di perairan dalam, meliputi; ikan kerapu, bambangan, bawal dan lainnya. Potensi lestari jenis ikan Demersal ini sebesar 1.085 ton.
Ikan Karang yang terdapat di sekitar terumbu karang, dimanfaatkan untuk dikonsumsi dan sebagai ikan hias.
Udang, dengan daerah penangkapan sekitar perairan pantai Kota Padang dan perairan Kepulauan Mentawai.
Kota Padang memiliki potensi pengembangan yang besar pada bidang perikanan, hal ini ditandai dengan adanya faktor penunjang baik perikanan tangkap laut maupun perikanan budidaya laut. Faktor penunjang tersebut dijabarkan dalam Tabel 20 dan Tabel 21.
Tabel 20. Potensi Perikanan Tangkap Laut
No. Lokasi Potensi Potensi Sarana Pelabuhan
1 Laut Kota Padang Ikan Pelagis, Demersal, Sarana Pelabuhan Perikanan, PPI Muaro Anai, TPI Gaung, TPI Pasie Nan Tigo
2 Pesisir Kota Padang Ikan Karang, Ikan Hias Batang Arau, Purus
3 ZEE Tuna (Bigeye, Yellowfin) PPS Bungus
Sumber: DKP Padang, 2010
Wilayah desa pantai yang terdapat di Kota Padang memiliki keuntungan alamiah karena terletak pada kawasan geografis yang sangat sesuai dengan aktivitas perikanan laut. Selain itu, lokasi ini juga didukung oleh faktor kawasan pusat pengembangan perikanan karena berada di Ibukota Provinsi. Aktivitas perikanan laut telah turun temurun menjadi bagian yang integral bagi masyarakat
pesisir ini dimana telah menjadi karakteristik utama masyarakatnya. Potensi budidaya perikanan laut disajikan pada Tabel 21 berikut:
Tabel 21. Potensi Budidaya Laut
No. Lokasi Potensi Pemanfaatan Keuntungan Jenis budidaya
1 Bungus Teluk Kabung
Budidaya laut Terlindung dari hempasan gelombang, Bebas Pencemaran, Kedalaman air lebih 5 meter pada saat surut, Terhindar dari pengaruh air tawar
Marine fin fish, Echinodermata (Marine teat fish)
Rumput laut (Sea weed), 2 Sungai Pisang Budidaya laut
3 Pulau
Pesumpahan Budidaya laut 4 Teluk Buo Budidaya laut
Sumber: DKP Padang, 2010
Kondisi biofisik lokasi di beberapa kawasan pesisir dan pantai Kota Padang memperlihatkan adanya peluang yang cukup potensial untuk pengembangan usaha budidaya perikanan, terutama budidaya kepiting bakau dan kerapu. Adapun kecamatan yang memenuhi persyaratan lokasi secara umum untuk budidaya laut adalah Kecamatan Teluk Kabung di daerah Teluk Buo dan Sungai Pisang.
Karakteristik wilayah Kota Padang dengan sebagian besar kecamatan berada di pesisir menyebabkan komposisi penduduk menyebar di sepanjang garis pantai. Total sebelas kecamatan yang ada di Kota Padang, tercatat ada enam kecamatan yang berada di pesisir pantai dengan komposisi penduduk seperti yang disajikan pada Tabel 22. Komposisi penduduk ini secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap pengembangan usaha perikanan.
Tabel 22. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Wilayah Pesisir di Kota Padang
No. Kecamatan Jumlah
Penduduk Luas (km 2 ) Kepadatan Penduduk (jiwa/Km2) 1 Koto Tangah 141.638 232,25 610 2 Padang Barat 56.980 7,00 8140 3 Padang Utara 69.479 8.08 8599 4 Lubuk Begalung 93.203 30,91 3015 5 Padang Selatan 57.342 10,03 5717 6 Bungus T. Kabung 22.640 100,78 220 Jumlah 420.906 382,12 4376,83 Sumber: DKP Padang, 2010
Koto Tangah merupakan kecamatan pesisir dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 141.638 jiwa. Posisi kedua jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Lubuk Begalung sebanyak 93.203 jiwa. Bungus Teluk Kabung dengan luas wilayah kedua terluas setelah Koto Tangah hanya dihuni oleh 22.640 jiwa, hal ini disebabkan oleh topografi wilayahnya berupa pebukitan sehingga kepadatan penduduk daerah ini kecil. Peta kecamatan pesisir Kota Padang ditampilkan pada Gambar 12 sebagai berikut:
Gambar 12. Peta Kecamatan Pesisir Kota Padang
Kota Padang memiliki enam kecamatan pesisir yang terbentang dari utara hingga selatan. Bagian barat kecamatan pesisir ini berhadapan dengan Samudera Hindia (Lautan Indonesia). Faktor posisi dan kondisi daerah ini menyebabkan adanya keterkaitan yang kuat dengan kebiasaan dan aktivitas masyarakat setempat. Keterkaitan ini berupa sistem mata pencaharian, kebudayaan/tradisi setempat serta berbagai aktivitas sosial lainnya. Aktivitas perikanan sebagian besar menjadi pola kehidupan masyarakat kecamatan pesisir Kota Padang. Kecamatan pesisir itu antara lain Kecamatan Koto Tangah, Padang Utara, Padang Barat, Lubuk Begalung, Padang Selatan dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung.
Nelayan dapat dikelompokan menjadi nelayan penuh dan nelayan sambilan. Nelayan penuh adalah nelayan yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melaut sehingga status pekerjaannya sebagai nelayan merupakan pekerjaan pokok. Nelayan sambilan adalah nelayan yang sebagian waktu kerjanya digunakan untuk melaut sehingga status pekerjaannya sebagai nelayan merupakan pekerjaan sampingan (DKP Padang, 2010). Kota Padang memiliki jumlah nelayan yang cukup banyak, baik sebagai nelayan penuh maupun sambilan. Perkembangan jumlah nelayan di Kota Padang ditampilkan pada Tabel 23 di bawah ini:
Tabel 23. Jumlah Nelayan Laut Menurut Kecamatan
No. Kecamatan Penuh Sambilan Jumlah
1 Bungus Teluk Kabung 1.554 138 1.692
2 Lubuk Kilangan - - - 3 Lubuk Begalung 971 104 1.025 4 Padang Selatan 882 89 971 5 Padang Timur - - - 6 Padang Barat 382 29 411 7 Padang Utara 635 47 682 8 Nanggalo 26 7 33 9 Kuranji - - - 10 Pauh - - - 11 Koto Tangah 1.912 122 2.034 Padang 2010 6.362 536 6.898 2009 5.919 518 6.434 2008 4.631 714 5.345 2007 5.544 355 5.899 2006 5.879 351 6.230 2005 5.774 490 6.264 Sumber: DKP Padang, 2010
Melalui data jumlah nelayan laut Kota Padang tahun 2010 terlihat bahwa jumlah nelayan terbesar di Kota Padang terdapat di daerah Kota Tangah sebanyak 2.034 orang, kemudian posisi kedua Kecamatan Bungus Teluk Kabung 1.692 orang. Sedangkan tiga kecamatan tidak memiliki tenaga kerja nelayan karena lokasinya yang tidak memiliki perairan pantai yaitu Kecamatan Lubuk Kilangan, Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Pauh.
Teknologi penangkapan ikan di Kota Padang terdiri dari berbagai macam alat tangkap dan berbagai macam armada tangkap mulai dari yang bersifat tradisional seperti pancing, colok, sampai yang menggunakan teknologi mesin bagan ukuran besar dan tonda. Masing-masing alat tangkap memiliki kapasitas yang berbeda-beda sehigga hasil tangkapannya juga berbeda-beda dan juga dipengaruhi oleh wilayah operasi penangkapan yang berbeda. Alat tangkap yang bersifat tradisional umumnya operasi penangkapannya masih dalam skala kecil.
Usaha penangkapan ikan oleh nelayan di Kota Padang sebagian besar sudah menggunakan sarana atau armada penangkapan menggunakan mesin, namun di beberapa tempat masih ada yang menggunakan alat tangkap tanpa motor. Berdasarkan jenis armada yang digunakan, nelayan Kota Padang dibedakan atas nelayan yang menggunakan perahu tanpa motor (PTM), menggunakan motor tempel (MT) dan kelompok nelayan yang menggunakan kapal motor (KM). Data rinci jumlah armada tangkap yang ada di enam kecamatan pesisir di Kota Padang dijabarkan pada Tabel 24 sebagai berikut: Tabel 24. Jumlah Perahu dan Kapal Menurut Kecamatan
No. Kecamatan Perahu Tanpa Motor (PTM) Motor Tempel (MT) Kapal Motor (KM) Jumlah Total 1 Bungus TL. Kabung 18 246 53 317 2 Lubuk Kilangan - - - - 3 Lubuk Begalung 26 111 48 185 4 Padang Selatan 5 144 187 336 5 Padang Timur - - - - 6 Padang Barat 15 176 - 191 7 Padang Utara 17 209 - 226 8 Nanggalo - - - - 9 Kuranji - - - - 10 Pauh - - - - 11 Koto Tangah 15 270 77 362 Padang 2010 96 1.156 365 1.617 2009 103 1.095 352 1.550 2008 279 1.124 317 1.720 2007 264 829 448 1.541 2006 154 645 476 1.284 2005 363 532 550 1.445
Tabel 24 menunjukkan bahwa persentase usaha nelayan dengan menggunakan perahu tanpa motor tahun 2010 sebanyak 22,57 persen dan motor tempel 71,49 persen, sementara jumlah nelayan yang menggunakan Kapal Motor sebesar 5,94 persen. Hal ini memperlihatkan aktivitas kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan sudah memasuki jalur I, II dan wilayah ZEEI. Perkembangan armada dari tahun ke tahun terlihat adanya tren kenaikan jumlah motor tempel, sementara Perahu Tanpa Motor (PTM) dan Kapal Motor (KM) cenderung mengalami penurunan. Hasil analisis data primer di lapangan mengungkapkan bahwa usaha penangkapan oleh nelayan yang sudah jauh dari pantai juga disebabkan karena sumberdaya ikan sejauh 4 mil dari pantai sudah mengalami degradasi, sehingga produksi penangkapan ikan di kawasan ini sangat minim. Perkembangan produksi dan nilai perikanan tangkap Kota Padang ditampilkan pada Gambar 13.
Gambar 13. Perkembangan Produksi dan Nilai Perikanan Kota Padang Sumber: DKP Kota Padang, 2011
Perkembangan produksi dan nilai perikanan tangkap Kota Padang sebagaimana yang ditampilkan pada Gambar 13 menunjukkan tren positif. Kontribusi terbesar sektor perikanan di Kota Padang adalah berasal dari produksi jenis ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang dan tongkol. Ketiga spesies pelagis ini menyumbang 66,33 persen dari total nilai kontribusi seluruh jenis ikan di Kota Padang tahun 2010. Tuna merupakan penyumbang kontribusi terbesar Kota Padang yakni mencapai Rp 70.063.200.000,00. Hal ini dikarenakan selain
12.336,30 13.329,50 13.740,76 15.686,09 16.473,18 18.098,10 138.578 115.580 176.961 185.790 207.303 251.202 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000 20.000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Nila i (ju ta r u p ia h ) Pro d u k si (To n ) Produksi Nilai
produksi yang cukup besar, tuna juga merupakan produk ekspor untuk tujuan Jepang, Singapura dan Amerika (DKP Kota Padang, 2011).