• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi dan Permasalahan

Dalam dokumen Renstra TIRBR BPPT (Halaman 36-43)

BAB I PENDAHULUAN

1.2. Potensi dan Permasalahan

1.2. Potensi dan Permasalahan

Identifikasi potensi dan permasalahan Kedeputian TIRBR dilakukan untuk menganalisis permasalahan, tantangan, peluang, kelemahan dan potensi yang akan dihadapi dalam rangka melaksanakan penugasan yang diamanatkan RPJMN 2015-2019. 1.2.1. Potensi

Potensi Kedeputian TIRBR yang meliputi sumberdaya manusia, fasilitas sarana dan prasarana setelah reorganisasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 27 1) Kedeputian TIRBR mempunyai sumber daya manusia (SDM) per 31 Desember 2017 secara keseluruhan berjumlah 615 orang dengan komposisi berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 1.2. Untuk tingkat Sumber daya manusia berdasarkan tingkat pendikikan, TIRBR mempunya SDM dengan tingkat S0 berjumlah 91 orang, tingkat S1 sejumlah 290 orang, S2 dan S3 masing masing 181 dan 53 orang.

Tabel 1. 2 Distribusi Jumlah SDM TIRBR berdasarkan Tingkat Pendidikan pada masing-masing Unit Kerja per 31 Desember 2017

No. UNIT KERJA S3 S2 S1 S0 JUMLAH

1 PTIPK 9 12 31 5 57 2 PTIP 5 13 23 4 45 3 PTSPT 3 22 16 1 42 4 PTRIM 10 21 12 43 5 B2TKS 10 28 69 25 132 6 B2TA3 2 15 40 10 67 7 BTH 3 24 35 20 82 8 BTIPDP 3 7 16 14 40 9 BTTMP 8 22 27 8 65 10 BTMEPPO 17 21 4 42 JUMLAH 53 181 290 91 615

Dalam mengelola program/kegiatan, Kedeputian TIRBR membina Pejabat Fungsional (Perekayasa, Peneliti, Teknisi Litkayasa, Analisis Kepegawaian, Perencana dan fungsional lainnya). Distribusi SDM TIRBR berdasarkan Jabatan Fungsional dapat dilihat pada Tabel 1.3. Jumlah fngsional umum yang berada di Kedeputian TIRBR masih cukup tinggi yaitu 104 orang yang berarti pada kisaran 16,9%.

BAB I Pendahuluan

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 28

Tabel 1. 3 Distribusi Jumlah SDM TIRBR berdasarkan Tingkat Pendidikan pada masing-masing Unit Kerja per 31 Desember 2017

No Unit Kerja Pere kayas a Penel iti Litkay asa A. Kepega waian Arsip aris P. Hu mas JFU Jumlah 1 PTIPK 47 1 3 1 5 57 2 PTIP 38 1 1 5 45 3 PTSPT 38 2 1 1 42 4 PTRIM 33 4 1 1 4 43 5 B2TKS 59 17 12 2 1 4 37 132 6 B2TA3 44 2 12 - 1 8 67 7 BTH 53 13 1 15 82 8 BTIPDP 22 1 2 1 1 13 40 9 BTTMP 36 7 11 1 10 65 10 BTMEPPO 30 5 1 6 42 JUMLAH 400 34 60 3 8 6 104 615

2) Kedeputian TIRBR memiliki infrastruktur (laboratorium, workshop, pilot plant).

Infrastruktur kedeputian TIRBR dalam menunjang kegiatannya yang berada di bawah Unit Pusat adalah Laboratoria Delphi, Hankam, Proses serta fasilitas Desain dan Komputasi (Desain Institut Indonesia). Selanjutnya didukung pula oleh fasilitas labo-ratoria yang dikelola 6 (enam) Unit Pelaksana Teknis yang berada di Kawasan Puspiptek – Serpong, di Surabaya, dan di Yogyakarta sebagai berikut: Balai Besar Tek-nologi Kekuatan Struktur, Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, Aeroakustika, Balai Teknologi Hidrodinamika, Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi, Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai, serta Balai Teknologi Mesin Perkakas Produksi dan Otomasi.

3) Kegiatan kedeputian TIRBR menggunakan Sistem Tata Kerja Kerekayasaan (STKK) secara menyeluruh yang bercirikan kerja tim (team work), terstruktur (well structured)dan terdokumentasi (well documented) yang dilandasi dengan implementasi Sistem Inovasi.

4) Kedeputian TIRBR memiliki jaringan (networking) yang luas Kemitraan Kedeputian TIRBR dalam kegiatan industri dan swasta serta masyarakat tercermin dari kegiatan

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 29

kerjasama/MoU pengkajian dan penerapan teknologi industri antara Kedeputian Bidang TIRBR dengan Pemerintah Pusat dan Daerah, Swasta, BUMN, Industri, Universitas dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian/LPNK maupun jenis layanan teknologi .

1.2.2. Permasalahan

Identifikasi permasalahan di kedeputian TIRBR berdasarkan pelaksanaan Peraturan Presiden Republik IndonesiaNomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) ditemukan beberapa aspek strategis dan permasalahan utama antara lain :

 Bidang Teknologi Industri Hankam: kelemahan yang terlihat adalah masih kurangnya produk alpalhankam yang dapat diserap oleh TNI sebagai pengguna, yang kebanyakan belum memenuhi opsreq TNI sehingga tidak dapat dilakukan proses pengadaan di dalam negeri. Hal ini disebabkan karena lemahnya penguasaan teknologi pada proses pengembangan produk alpalhankam dan kompetensi SDM, di samping belum lengkapnya sarana prasarana laboratoria yang mendukung kegiatan pengembangan tersebut, secara umum hasil teknologi produk alpalhankam industri nasional masih dalam tingkat technology readyness level (TRL) yang masih rendah .

Kelemahan tersebut dapat merupakan potensi bagi TIRBR untuk dapat berkontribusi dalam memecahkan permasalahan nasional terutama didukung oleh terbitnya UU no 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan yang memberikan peluang besar pada kemandirian industri pertahanan. Pada Perpres no 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, pemerintah menepati komitmentnya terhadap isi UU no 16 tahun2012 tersebut dengan memberikan dukungan anggaran pengembangan terhadap program prioritas industri pertahanan yang jumlahnya 7 produk strategis seperti Pengembangan Jet Tempur KFx-IFx, Pembangunan Kapal selam, Industri propelan, pengembangan roket nasional, pengembangan Rudal nasional, pengembangan radar nasional, pengembangan tank sedang dan berat seperti tertuang dalam lampiran perpres tsb diatas. Di sisi lain dari anggaran belanja pengadaan alpalhankam, pemerintah menyediakan alokasi dana cukup besar untuk pengadaan produk alpalhankam dalam negeri (PDN). Alokasi PDN inilah yang mendorong percepatan pengembangan produk alpalhankam prioritas agar pada kurun 5 tahun ini dapat diproduksi dan memenuhi opsreq user TNI.

BAB I Pendahuluan

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 30

 Bidang Teknologi Industri Transportasi: perkembangan wilayah dan peningkatan interaksi antar kota-kota di Jawa dan Sumatera dan Indonesia pada umumnya sebagai turunan kegiatan ekonomi mengakibatkan makin tingginya volume lalu lintas pada jalan-jalan primer (provinsi dan nasional). Tingginya beban jalur Pantura Jawa yang ditandai dengan banyaknya titik-titik kemacetan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi yang pada gilirannya akan memperlemah daya saing produk. Rendahnya tingkat penggunaan jalur rel untuk angkutan barang merupakan bukti belum optimalnya pemanfaatan prasarana transportasi. Pemanfaatan jalur rel diperkirakan akan mengurangi biaya transport (utamanya jarak jauh – Surabaya – Semarang – Cierebon – Jakarta) dan mengurangi beban jaringan jalan seperti Pantura.

Kereta api merupakan moda transportasi primadona yang akan terus bertambah menjadi tulang punggung sistem transportasi nasional yang aman, selamat, nyaman, tepat waktu dan efisien. Namun demikian, permasalahan utama dalam transportasi darat khususnya kereta api adalah keselamatan. Hasil laporan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa hampir 66% kecelakaan kereta api disebabkan oleh peralatan sarana maupun prasarana yang merupakan produk teknologi. Untuk itu sesuai dengan tupoksi BPPT pada umumnya dan Kedeputian TIRBR pada khususnya, pengkajian dan penerapan produk teknologi keselamatan kereta apidilakukan guna mendapatkan layanan transportasi yang aman dan nyaman.

 Bidang Teknologi Industri Permesinan, Neraca ekspor-impor sector industri pada tahun 2016 menunjukkan defisit yang cukup besar seperti terlihat pada Tabel 1.4.

Tabel 1. 4 Neraca Ekspor-Impor industri mesin dan peralatan listrik Tahun 2016

2016

No Sektor Ekspor Impor

1 Mesin dan perlengkapan 2,986,831 17,532,241 2 Peralatan Listrik 4,572,011 6,655,399

Sumber: Kemenperin, 2018.

Neraca impor yang ditunjukkan pada Tabel 1.3 menunjukkan defisit yang besar. Hal ini merupakan tantangan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan dan

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 31

meningkatkan daya saing industri nasional. Upaya merebut pangsa pasar industri permesinan perlu didukung oleh kesiapan teknologi & SDM, penyiapan industri serta dukungan jasa keuangan dalam membiayai seluruh aktifitas industri terkait.

Beberapa produk industri permesinan seperti turbin uap, motor listrik, pompa, smelter, mesin perkakas CNC, motor bakar (engine), kendaraan angkutan masih memerlukan dukungan kesiapan desain & engineering produk tersebut.Beberapa industri DN sudah memiliki kemampuan produksi tetapi penguasaan teknologi produksi untuk produk dengan kompleksitas dan presisi tinggi masih perlu ditingkatkan.Untuk itu, program di bidang teknologi permesinan ditujukan/difokuskan pada inovasi design & engineering, peningkatan kemampuan/penguasaan teknologi produksi dan dukungan/layanan dalam meningkatkan kemampuan industri permesinan dalam negeri.

 Bidang Teknologi Rekayasa Industri MARITIM. Untuk mewujudkan Indoneisa sebagai poros maritim dunia, peningkatan kesiapan industri perkapalan dan pelabuhan perlu dilakukan. Saat ini, Industri perkapalan nasional pada tingkatan global belum mampu bersaing karena tidak adanya standard dalam pembuatan kapal baru, kandungan komponen impor yang mencapai 70% dan fasilitas peralatan galangan untuk perawatan kapal yang obsolete. Biaya pembuatan kapal yang mahal di Indonesia membuat perusahaan pelayaran nasional lebih memilih untuk memesan kapal baru atau membeli kapal bekas dari luar negeri. Kebijakan pemerintah telah diupayakan melalui Pemberlakuan Inpres 5 Tahun 2005, yang dikenal dengan pemberlakuan asas cabotage. Regulasi lainnya adalah PP 69 th 2015, yang diikuti dengan Kepmen KEU no. 93 Th. 2015 yang di antaranya mengatur perihal tax allowance untuk impor komponen bangunan kapal. Namun semua kebijakan tersebut belum dapat berjalan secara optimal. Selanjutnya, Bappenas merencanakan pembangunan sektor kepelabuhanan sebagai dukungan untuk mempersiapkan pembangunan pelabuhan internasional yang berkapasitas besar dan modern untuk ekspor berbagai komoditas dan berfungsi juga sebagai International Seaport-Hub. Perencanaan lainnya adalah Peningkatan kedalaman perairan pelabuhan hub minimal – 12 m, Peningkatan kedalaman perairan pelabuhan feeder minimal – 7 m, Peningkatan fasilitas dan peralatan pelabuhan utama (hub dan feeder Tol Laut), Revitalisasi pelabuhan pelayaran rakyat di Indonesia. Berdasarkan

BAB I Pendahuluan

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 32

kondisi tersebut diatas, Kedeputian TIRBR memfokuskan program pengkajian teknologi maritimnya pada Inovasi dan layanan Teknologi Infrastruktur Kepelabuhanan dan Industri Perkapalan melalui penyediaan desain standard kapal 100 TEU’s serta desain infrastruktur pelabuhan untuk Mendukung program Poros Maritim.

Renstra Deputi TIRBR 2015-2019 Revisi 4 33

Dalam dokumen Renstra TIRBR BPPT (Halaman 36-43)

Dokumen terkait