• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

4.4. Potensi Flora dan Fauna 1 Flora

Flora Taman Nasional Tesso Nilo merupakan perwakilan ekosistem transisi dataran rendah dan tinggi dengan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Diantaranya terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku dalam setiap hektarnya. Berbagai jenis flora yang dilindungi dan terancam punah terdapat juga di taman nasional ini, seperti Kayu bata (Irvingia malayana), Kempas (Koompasia malaccensis), Jelutung (Dyera costulata), Kulim (Scorodocorpus borneensis), Tembesu (Fagraea fragrans), Gaharu (Aquilaria malaccensis), Ramin (Gonystylus bancanus), Keranji (Dialium spp.), Meranti (Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus spp.), dan beberapa jenis Durian (Durio

spp.).

Disamping tumbuhan di atas, di taman nasional ini juga terdapat tidak kurang 82 jenis tumbuhan obat. Patalo/pasak bumi (Eurycoma longifolia) adalah salah satu tumbuhan obat yang populer sebagai obat kuat, biasanya akarnya dicampur dengan janin kijang yang diambil dari kandungan induknya kemudian direndam dalam alkohol. Patalo bumi ini juga biasa digunakan untuk obat malaria. Jenis tumbuhan obat lainnya diantanya, Kunyit bolai (Zingiber purpureum), Jarangau (Acorus calamus), Lengkuas putih (Alpina galanga), Akar bulu (Argyreia capitata), Sundik langit (Amorphopalus sp.), dan Akar kayu kuning (Lepionurus sylvestris) yang merupakan obat penyakit kuning.

4.4.1 Fauna

Faunanya terdiri dari 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, 3 jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, 18 jenis amfibia dan berbagai jenis serangga. Beberapa jenis satwa yang termasuk unggulan diantaranya Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), Macan dahan (Neofelis nebulosa), Beruang madu (Helarcos malayanus), Rusa (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus javanicus), Babi hutan (Sus spp.), Tapir (Tapirus indicus), dan Bajing (Callosciurus spp.), Owa (Hylobates agilis), Lutung simpai (Presbytis femoralis), dan Beruk (Macaca nemestrina).

Beberapa jenis burung, yaitu: Beo sumatera (Gracula religiosa), Kipas

(Rhipidura albicollis), Elang ular (Spilornis cheela), Alap-alap capung

(Microchierax fringillarius), Kuau (Argusianus argus), Udang pungung merah (Ceyx rufidorsa), Julang jambul hitam (Aceros corrugatus), Kangkareng hitam

(Anorrhinus malayanus), Rangkok badak (Buceros rhinoceros), Ayam hutan

(Gallus gallus), dan Betet ekor panjang (Psittacula longicauda).

Sedangkan untuk reptil dan amfibi, yaitu Ular kawat/ular hitam (Ramphotyphlops braminus), Ular kopi (Elaphe flavolineata), Ular picung air (Xenochrophis trianguligerus), Ular cabe kecil (Maticora intestinalis), Ular kobra (Ophiphagus hannah), Sanca sawah (Python reticulatus), Ular gendang/phyton darah sumatera (Python curtus), dan Buaya sinyulong (Tomistoma schlegeleii). Katak serasah berbintik (Leptobrachium hendricksoni), Kodok buduk sungai

(Bufo asper), Kodok buduk (B. melanostictus), Katak lekat (Kalophrynus

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kondisi Habitat

Hutan Tesso Nilo merupakan salah satu hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Sumatera saat ini dan merupakan daerah aliran Sungai Kampar. Hutan Tesso Nilo memiliki beberapa anak sungai dan sungai besar yang bermuara ke Sungai Kampar. Habitat yang terdapat di areal penelitian adalah habitat eks areal HPH PT. Inhutani IV. Taman Nasional Tesso Nilo dinyatakan sebagai hutan yang terkaya keanekaragaman hayati di dunia dengan ditemukannya 218 species tumbuhan Vascular di petakan 200 meter persegi oleh Center For Biodiversity Management dari Australia pada tahun 2001 (LIPI 2003 dalam Dephut 2008).

Penelitian dilakukan di areal kawasan TNTN didasarkan pada pengamatan dari tujuh Jalur yang dibuat petak contoh berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit PT. Inti Indosawit Subur Ukui Riau. Dari hasil penelitian didapatkan data tumbuhan yang dapat diidentifikasi sebanyak 111 jenis dari 43 famili. Berdasarkan familinya, Dipterocarpaceae memiliki jumlah jenis terbanyak yaitu 25 jenis. Fabaceae sebanyak 8 jenis. Burceraceae dan Anarcadinaceae 6 jenis. Jenis-jenis tumbuhan yang teridentifikasi ditunjukkan dalam Gambar 4 dan secara lebih rinci ditunjukkan pada Lampiran 1.

5.1.1. Jalur I

Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan, diperoleh jenis-jenis yang dominan di kawasan ini. Pada tingkat pertumbuhan semai, didominasi oleh Nasi-nasi (Anisophyllea disticha) dengan INP sebesar 20,12%. Tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Tapak-tapak (Sindora wallichii) dengan INP sebesar 22,50%. Meranti bunga (Shorea platycarpa) mendominasi pada tingkat pertumbuhan tiang dengan INP sebesar 47,09%. Tingkat pertumbuhan pohon didominasi oleh jenis Kelat (Gonystylus forbesii) dengan INP sebesar 44,84%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur I ditunjukkan pada Tabel 2 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 3-6.

Tabel 2. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada Jalur I

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Nasi-nasi Anisophyllea disticha Rhizophoraceae 20.12

Meranti Sepat Shorea macrantha Dipterocarpaceae 18.63

Asem Triomma malaccensis Burceraceae 17.27

Pancang Tapak-tapak Sindora wallichii Fabaceae 22.50

Kayu hitam Diospyros transitoria Ebenaceae 17.50

Asem Triomma malaccensis Burceraceae 15.00

Tiang Meranti bunga Shorea platycarpa Dipterocarpaceae 47.09

Kedondong Ailanthus integrifolia Simaroubaceae 24.71

Tapak-tapak Sindora wallichii Fabaceae 17.76

Kelat Gonystylus forbesii Thymeliaceae 16.73

Pohon Kelat Gonystylus forbesii Thymeliaceae 44.84

Daru-daru Cantleya corniculata Icacinaceae 22.86

Kompas Santiria spp. Burceraceae 20.58

 

5.1.2. Jalur II

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Meranti

bunga (Shorea platycarpa) dengan INP sebesar 26,20%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Jejambu (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 22,50 %. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Arang- arang (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 43,17%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pohon didominasi oleh Meranti kunyit (Shorea conica) dengan INP sebesar 32,25%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur II ditunjukkan pada Tabel 3 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 7-11.

Tabel 3. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada Jalur II

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Meranti bunga Shorea platycarpa Dipterocarpaceae 26.20

Bengku P. xanthochymum Sapotaceae 25.40

Babi kurus Alangium ridleyi Alangiaceae 23.57

Pancang Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 31.57

Meranti sepat Shorea macrantha Dipterocarpaceae 21.76

Meranti rambai Shorea conica Dipterocarpaceae 15.88

Pisang mawe Dillenia sumatrana Dilleniaceae 15.88

Tiang Arang-arang Eugenia sp. Myrtaceae 43.17

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 33.14

Bengku P. xanthochymum Sapotaceae 29.03

Pohon Meranti kunyit Shorea conica Dipterocarpaceae 32.25

Kulim S. bracteatus Moraceae 29.43

Balam Payena lanceolata Sapotaceae 21.80

5.1.3. Jalur III

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Kelat (Gonystylus forbesii) dengan INP sebesar 39,51%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Kelat (Gonystylus forbesii) dengan INP sebesar 40,48%. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Medang (Diospyros curranii) dengan INP sebesar 51,18%. Vegetasi tingkat pertumbuhan

pohon didominasi oleh Medang keladi (Talauma gigantifolia) dengan INP sebesar 44,84%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur III ditunjukkan pada Tabel 4 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 12-15.

Tabel 4. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada Jalur III

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Kelat Gonystylus forbesii Thymeliaceae 39.51

Medang Diospyros curranii Ebenaceae 20.34

Medang keladi Talauma gigantifolia Magnoliaceae 19.78

Pancang Kelat Gonystylus forbesii Thymeliaceae 40.48

Kopi-kopi C. castanocarpus Euphorbiaceae 39.93

Medang Diospyros curranii Ebenaceae 30.68

Tiang Medang Diospyros curranii Ebenaceae 51.18

Petaling gajah H. longifolium Flacourtiaceae 41.28

Kopi-kopi C. castanocarpus Euphorbiaceae 32.11

Pohon Medang keladi Talauma gigantifolia Magnoliaceae 44.84

Balam Payena lanceolata Sapotaceae 35.13

Durian hutan Durio spp. Bombacaceae 29.81

5.1.4. Jalur IV

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Kelat (Gonystylus forbesii) dengan INP sebesar 84,81%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Jejambu (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 38,11%. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Arang-arang (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 80,97%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pohon didominasi oleh Benau (Mangifera spp.) dengan INP sebesar 27,46%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur IV ditunukkan pada Tabel 5 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 12-16.

Tabel 5. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada Jalur IV

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Kelat Gonystylus forbesii Thymeliaceae 84.81

Balam Payena lanceolata Sapotaceae 26.27

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 19.42

Babi kurus Alangium ridleyi Alangiaceae 17.10

Pancang Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 38.11

Balam Payena lanceolata Sapotaceae 35.41

Garam-garam T. feotidissima Combretaceae 25.81

Tiang Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 80.97

Mahang Macaranga spp. Euphorbiaceae 42.51

Balam Payena lanceolata Sapotaceae 30.31

Pohon Benau Mangifera spp. Anacardiacea 27.46

Meranti sbrg Shorea acuminata Dipterocarpaceae 23.03

Daru-daru Cantleya corniculata Icacinaceae 22.96

5.1.5. Jalur V

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Sendok- sendok (Endospermum diadenum) dengan INP sebesar 40,13%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Sendok-sendok (Endospermum diadenum) dengan INP sebesar 33,43%. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Sendok-sendok (Endospermum diadenum) dengan INP sebesar 72,38%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pohon didominasi oleh Meranti sepat (Shorea macrantha) dengan INP sebesar 37,37%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur V ditunjukkan pada Tabel 6 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 15-16.

Tabel 6. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada jalur V

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Sendok-sendok E. diadenum Euphorbiaceae 40.13

Asam kumbang Adinandra dumosa Theaceae 32.31

Daru-daru Cantleya corniculata Icacinaceae 18.94

Pancang Sendok-sendok E. diadenum Euphorbiaceae 33.44

Gerunggang Cratoxylon spp. Hypericaceae 27.55

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 25.23

Meranti bunga Shorea platycarpa Dipterocarpaceae 25.23

Tiang Sendok-sendok E. diadenum Euphorbiaceae 72.38

Meranti bunga Shorea platycarpa Dipterocarpaceae 32.94

Rengas Gluta renghas Anacardiacea 31.95

Jejambu Eugenia spp. Myrtaceae 29.96

Pohon Meranti sepat Shorea macrantha Dipterocarpaceae 37.37

Meranti Shorea spp. Dipterocarpaceae 33.07

Kompas Santiria spp. Burceraceae 28.86

5.1.6. Jalur VI

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Kulim

(Scorodocarpus bracteatus) dengan INP sebesar 74,66%. Vegetasi tingkat

pertumbuhan pancang didominasi oleh Jejambu (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 56,14%. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Bintangur

(Colopyhllum soulattri) dengan INP sebesar 79,58%. Vegetasi tingkat

pertumbuhan pohon didominasi oleh Resak (Vatica sp.) dengan INP sebesar 61,31%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada Jalur VI ditunjukkan pada Tabel 7 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 17-18.

Tabel 7. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada Jalur VI

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Kulim S. bracteatus Moraceae 74.66

Jengkol P. labatum Fabaceae 31.25

Gerunggang Cratoxylon spp. Hypericaceae 24.11

Pancang Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 56.14

Gerunggang Cratoxylon spp. Hypericaceae 48.92

Rengas Gluta rengas Anacardiacea 23.66

Bintangur Calophyllum soulattri Guttaceae 22.02

Tiang Bintangur Calophyllum soulattri Guttaceae 79.58

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 70.32

Ariung D. verruscosus Dipterocarpaceae 50.65

Pohon Resak Vatica spp. Dipterocarpaceae 61.31

Mersawa Anisoptera curtisii Dipterocarpaceae 56.31

Petaling gajah H. longifolium Flacourtiaceae 29.49

5.1.7. Jalur VII

Berdasarkan data hasil analisis vegetasi, jenis-jenis yang dominan di kawasan ini untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai didominasi oleh Meranti bunga (Shorea platycarpa) dengan INP sebesar 48,08%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Jejambu (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 57,98%. Vegetasi tingkat pertumbuhan tiang yang mendominasi adalah Jejambu (Eugenia sp.) dengan INP sebesar 80,61%. Vegetasi tingkat pertumbuhan pohon didominasi oleh Resak (Vatica sp.) dengan INP sebesar 57,15%. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi pada jalur VII ditunjukkan pada Tabel 8 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 7-11.

Tabel 8. Rekapitulasi jenis-jenis yang mendominasi pada jalur VII

Tingkat Pertumbuhan Nama Lokal Nama Ilmiah Famili INP (%)

Semai Gerunggang Cratoxylon spp. Hypericaceae 48.08

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 43.08

Putat Barringtonia spp. Lecythidaceae 25.77

Pancang Jejambu Eugenia spp. Myrtaceae 57.98

Gerunggang Cratoxylon spp. Hypericaceae 47.98

Kulim Scorodocarpus

bracteatus

Moraceae 18.21

Tiang Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 80.61

Kompas Santiria spp. Burceraceae 53.26

Mahang Macaranga spp. Euphorbiaceae 37.92

Bintangur Calophyllum soulattri Guttaceae 37.29

Pohon Resak Vatica spp. Dipterocarpaceae 57.15

Bintangur Calophyllum soulattri Guttaceae 40.53

Jejambu Eugenia sp. Myrtaceae 38.57

5.2. Keanekaragaman Jenis Mamalia Besar

Ada 4 tipe informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data keanekaragaman jenis, yaitu jenis, jumlah jenis, jumlah individu tiap jenis, lokasi yang ditempati oleh individu-individu yang terpisah (Krebs 1989). Jumlah jenis mamalia besar ditemukan di TNTN secara langsung (melalui perjumpaan) dan tidak langsung (melalui suara, jejak kaki, sarang, kotoran yang ditinggalkan serta bekas makan mamalia besar) sebanyak 14 jenis dari 11 famili, yaitu Cercopithecidae (3 jenis) dan Hylobatidae (2 jenis) yang temasuk ke dalam ordo Primata. Suidae (1 jenis), Cervidae (1 Jenis), Tragulidae (2 jenis) yang termasuk ke dalam ordo Artiodactyla. Viverridae (1 jenis), Felidae (1 jenis), dan Ursidae (1 jenis) termasuk ke dalam ordo Carnivora. Tapiridae (1 jenis) termasuk ke dalam ordo Perissodactiyla. Elephantidae (1 jenis) termasuk kedalam ordo Proboscidea. Jenis mamalia besar yang ditemukan di areal penelitian TNTN berdasarkan pengamatan langsung ditunjukan pada Tabel 9.

Tabel 9. Jenis mamalia besar yang ditemukan di lokasi penelitian TNTN berdasarkan pengamatan langsung

Jumlah individi setiap jalur

Nama lokal Nama ilmiah

I II III IV V VI VII

Jumlah Jalur

Babi hutan Sus scrofa 1 0 2 0 3 3 0 4

Owa ungko Hylobates agilis 3 1 3 1 7 4 1 7

Monyet ekor panjang Macaca fasicularis 0 7 0 0 13 0 0 2

Lutung budeng Trachypithecus auratus 15 2 37 3 44 4 7 7

Lutung simpai Presbytis malalophos 0 0 0 0 9 0 0 1

Siamang Hylobates syndactylus 0 0 1 0 0 1 0 2

Pelanduk Tragulus napu 1 0 1 0 1 0 0 3

Kancil Tragulus javanicus 1 0 0 0 0 0 0 1

Rusa sambar Cervus unicolor 0 0 1 0 0 0 0 1

Musang akar Arctogalidia trivirgata 0 0 0 0 0 1 0 1

Tapir Tapirus indicus 0 0 0 0 0 0 1 1

Total 21 10 45 4 74 13 9 176

Keterangan: Total merupakan jumlah spesies yang ditemukan setiap jalur pengamatan

Umumnya jumlah individu yang ditemukan berdasarkan perjumpaan langsung, Hal ini dapat disebabkan jenis mamalia besar yang terdapat di TNTN telah beradaptasi dengan baik dengan kondisi habitat hutan sekunder yang telah terganggu oleh berbagai aktivitas masyarakat, seperti penebangan liar, perburuan satwaliar, dan perambahan hutan.

Keanekaragaman jenis mamalia besar dapat dikelompokkan ke dalam 3 tingkat trofik (pemilihan terhadap jenis makanannya), yaitu herbivora (makanan utama berupa tumbuhan bawah, daun serta buah), karnivora (makanan utama berupa daging), omnivora (memakan tumbuhan dan buah). Berdasarkan hal tersebut, terdapat 3 jenis yang merupakan satwa omnivora (Monyet ekor panjang, Babi hutan, dan Beruang madu), 2 jenis yang termasuk satwa karnivora (Musang akar dan Harimau sumatera) dan 9 jenis satwa herbivora (Lutung budeng, Lutung

simpai, Owa ungko, Rusa sambar, Pelanduk, Kancil, dan Tapir). Jumlah jenis satwa berdasarkan tingkat trofik ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5 Jumlah jenis mamalia besar berdasarkan tingkat trofik.

Berdasarkan pengelompokkan jenis mamalia besar, menurut tingkat trofik diketahui keseimbangan ekosistem pada mamalia besar masih tergolong baik. Hal ini diketahui berdasarkan jumlah jenis herbivora yang lebih banyak dari omnivora dan karnivora yang membentuk piramida. Apabila jumlah jenis karnivora lebih banyak dari jenis herbivora, maka jejaring makanan dalam ekosistem akan menjadi tidak seimbang. Noerdjito et al. (2005) keseimbangan ekosistem telah diatur secara alami melalui mekanisme rangkaian penyedian dan keseimbangan jejaring makanan.

5.2.1. Keanekargaman jenis mamalia besar (Indeks Shannon-Wiener)

Tingkat keanekaragaman ini dapat ditujukan oleh nilai indeks Diversitas Shannon. Di setiap areal lokasi penelitian, tingkat keanekaragaman jenis tergolong rendah karena nilai indeks Shannon Wiener berkisar kurang dari 1,5. Margalef (1972) dalam Maguran (1988) menyatakan bahwa tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi di tunjukan dengan nilai Indeks Shannon lebih dari 3,5. Tingkat keanekargaman yang rendah ditunjukan oleh nilai Indeks Shannon kurang dari 1,5 dan jika nilai indeks Shannon antara 1,5 sampai 3,5 maka tingkat keanekaragaman jenisnya tergolong sedang.

Tingkat keanekargaman jenis mamalia tertinggi di Jalur VI dengan nilai indeks Shannon Wiener sebesar 1,46. Tingkat keanekaragaman terendah terdapat di Jalur IV dengan nilai indeks Shannon Wiener sebesar 0,56. Nilai indeks keanekaragaman jenis pada setiap Jalur ditunjukkan pada Gambar 6. Secara lebih rinci, nilai indeks keanekargaman jenis ditunjukkan pada Lampiran 22.

Gambar 6 Nilai indeks Shannon Wiener di setiap Jalur.

Keanekaragaman jenis mamalia besar hampir merata pada setiap Jalur, karena habitat penelitian TNTN memiliki habitat yang hampir sama. Selain itu Zorenko dan Leontyeva (2003) menyatakan bahwa faktor luasan mempengaruhi nilai indeks yang dimiliki. Soerianegara dan Indrawan (2002) menambahkan bahwa ukuran contoh yang semakin besar menyebabkan jumlah jenis yang ditemukan bertambah.

Keanekaragaman tiap jenis rata-rata terbanyak pada setiap lokasi adalah ordo primata. Hal ini disebabkan karena sebagian besar primata hidup berkelompok di dalam habitat hutan hujan dataran rendah kawasan TNTN, kecuali Owa ungko dan Siamang yang hidup soliter dan tidak pernah lebih dari dua individu. Berikut merupakan Gambar Owa ungko dan Lutung budeng yang teramati pada saat penelitian.

(a) (b)

Gambar 7 Jenis mamalia besar dari ordo primata yang ditemukan (a) Owa ungko (Hylobates agilis), (b) Lutung budeng (Trachypithecus auratus).

5.2.2. Kekayaan jenis mamalia

Tingkat kekayaan jenis merupakan salah satu ukuran keanekaragaman yang dapat digunakan untuk mempelajari tingkatan suksesi. Tingkat keanekaragaman ini diukur berdasarkan jumlah jenis atau dapat ditentukan langsung dengan melihat jumlah jenisnya. Jumlah jenis mamalia besar beserta jumlah individunya yang ditemukan dalam suatu kawasan akan berpengaruh terhadap nilai indeks kekayaan jenis Margalef. Toth dan Kiss (1999) menyatakan bahwa peningkatan jumlah jenis akan menyebabkan indeks nilai Margalef semakin tinggi. Dikatakan lebih lanjut bahwa bila jumlah individu setiap jenis yang meningkat akan menyebabkan nilai indeks Margalef yang semakin menurun.

Berdasarkan hasil pengamatan mamalia besar selama penelitian di lapangan, tingkat kekayaan jenis tertinggi terdapat pada Jalur VI jumlah yang ditemukan sebanyak 5 jenis dengan nilai indeks sebesar 1,56. Jenis yang ditemukan diantaranya Babi hutan, Lutung budeng, Musang akar, Owa ungko, dan Siamang. Sedangkan untuk indeks kekayaan jenis terendah adalah Jalur IV jumlah yang ditemukan sebanyak 2 jenis dengan nilai indeks sebesar 0,72. Jenis yang ditemukan diantaranya Owa ungko dan Lutung budeng. Nilai indeks kekayaan jenis pada setiap Jalur ditunjukkan pada Gambar 8 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 27.

Gambar 8 Indeks kekayaan jenis di setiap Jalur.

Selama penelitian di Jalur VI ditemukan satu jenis mamalia besar yang tidak ditemukan pada lokasi lain yaitu Musang akar. Musang akar ditemukan secara langsung pada saat pagi hari dengan kondisi cuaca yang mendung. Sebagian besar satwa ini beraktivitas pada malam hari dan bersifat arboreal. Selain itu mamalia besar lainnya yang jarang ditemukan adalah Siamang, satwa ini hidup soliter dan banyak beraktivitas diatas pohon dan bergerak bebas pada kanopi pohon dan tidur di percabangan pohon yang besar.

5.2.3. Kemerataan jenis mamalia besar

Untuk mengetahui tingkat kemerataan kelimpahan individu antar suatu jenis mamalia digunakan nilai indeks kemerataan. Selain itu nilai indeks ini juga dapat digunakan sebagai indikator gejala dominansi diantara tiap jenis dalam komunitas. Pada saat setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama-sama berlimpah akan menyebabkan nilai indeks kemerataan yang maksimum. Sebaliknya bila kelimpahan individu pada masing-masing jenis berbeda jauh, maka akan menyebabkan nilai indeks kemerataan semakin menurun. Nilai indeks kemerataan terendah yaitu di Jalur III dengan nilai indeks sebesar 0,42 dan nilai kemerataan tertinggi yaitu di Jalur VI dengan nilai indeks sebesar 0,91.

Semakin tinggi nilai indeks kemerataan, mengindikasikan bahwa dalam suatu komunitas tidak terdapat jenis yang dominan (Kurnia et al. 2005). Hal ini

mengindikasikan bahwa tidak terdapat jenis yang mendominasi pada komunitas mamalia besar pada Jalur VI. Berdasarkan data hasil penelitian, tingkat kemerataan jenis mamalia di setiap Jalur berkisar antara nilai 0,42-0,91. Nilai indeks kemerataan jenis pada setiap Jalur penelitian ditunjukkan pada Gambar 9 dan secara lengkap ditunjukkan pada Lampiran 28.

Gambar 9 Indeks kemerataan jenis di setiap Jalur.

Pada keseluruhan habitat, didapatkan nilai indeks kemerataan jenis sebesar 0,59. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat jenis-jenis yang dominan dalam kawasan TNTN, yang diketahui dengan melimpahnya jumlah individu dan menyebar pada daerah perbatasan TNTN. Owa ungko dan Lutung budeng menyebar pada setiap daerah perbatasan TNTN dengan kebun kelapa sawit. Hal ini didukung karena kedua satwa ini memiliki ekologi yang sama yaitu ditemukan pada hutan dataran rendah.

5.2.4. Kesamaan komunitas jenis mamalia

Suatu komunitas terdiri dari banyak jenis yang memiliki perubahan populasi dan interaksi satu dengan lainnya. Terdapat beberapa Jalur yang memiliki komunitas yang sama, tetapi ada juga yang tidak sama. Komunitas yang sama dilihat dengan adanya jenis yang sama pada kedua habitat yang diperbandingkan. Soendjoto dan Gunawan (2003) menyatakan bahwa kehadiran suatu jenis merupakan faktor penting dalam penilaian habitat dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan habitat.

Kesamaan komunitas dilakukan dengan membandingkan jenis mamalia besar antar Jalur. Berdasarkan indeks kesamaan komunitas, maka keberadaan mamalia besar di areal perbatasan TNTN dengan kebun kelapa sawit PT. Inti Indosawit Subur Ukui memiliki kesamaan komunitas yang cukup tinggi. Jalur yang memiliki kesamaan komunitas tinggi, diantaranya: Jalur I dan VII, Jalur VI dan VII, sedangkan kesamaan komunitas yang rendah yaitu Jalur IV dan V. Jalur yang memiliki nilai kesamaan komunitas yang lebih tinggi disebabkan adanya kemiripan kompisisi jenis yang lebih besar dibandingkan dengan Jalur lainnya. Nilai indeks kesamaan komunitas mamalia besar ditunjukkan pada Tabel 10. Tabel 10. Indeks kesamaan komunitas antar jalur

x/y I II III IV V VI VII

I - 0.38 0.33 0.29 0.60 0.67 0.71 II - 0.33 0.50 0.44 0.38 0.50 III - 0.25 0.60 0.70 0.63 IV - 0.20 0.29 0.40 V - 0.45 0.56 VI - 0.71 VII -

Tingginya kesamaan komunitas mamalia besar juga dipengaruhi dengan kondisi lingkungan yang mendukung kemampuan beradaptasi. Apabila jenis mamalia besar di TNTN dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda, baik disebabkan dengan adanya gangguan ataupun perubahan iklim akan menyebabkan komunitas mamalia besar tetap lestari. Terdapat 5 jenis mamalia besar yang sama, yaitu Lutung budeng, Owa ungko, Tapir, Beruang madu, Babi hutan, dengan perbedaan jumlah jenis sebanyak 2 di Jalur VI (7 jenis di Jalur I, 7 jenis di Jalur VII, 5 jenis di Jalur VI).

5.3. Sebaran Mamalia Besar di Areal TNTN

Sebaran yang dimaksud adalah sebaran spasial yaitu sebaran menurut ruang dalam skala yang kecil. Sebaran spasial adalah sebaran individu dan kelompok dalam populasi jenis satwaliar terutama mamalia besar di habitatnya. Pola penyebaran ini merupakan strategi individu dalam mempertahankan kelangsungan

hidupnya (Alikodra, 1990). Sebaran populasi jenis mamalia besar di areal studi seperti ditunjukan pada Tabel 11.

Tabel 11. Sebaran jenis mamalia besar dia areal TNTN

Parameter No. Nama Lokal

X ID µ2 Pola Sebaran

1 Babi hutan 1,29 1,48 8.89 Acak

2 Owa ungko 2,86 1,68 10.10 Acak

3 Monyet ekor panjang 2,86 9.38 56.30 Mengelompok

4 Lutung budeng 16,00 18.92 113.50 Mengelompok

5 Lutung simpai 1,29 9.00 54.00 Mengelompok

6 Siamang 0,29 0.83 5.00 Acak

7 Pelanduk 0,43 0.67 4.00 Acak

8 Kancil 0,14 1.00 6.00 Acak

9 Rusa sambar 0,14 1.00 6.00 Acak

10 Musang akar 0,14 1.00 6.00 Acak

11 Tapir 0,14 1.00 6.00 Acak

Mamalia besar yang ditemukan secara langsung pada areal TNTN memiliki 2 pola sebaran, yaitu mengelompok dan acak. Jenis mamalia besar yang memiliki sebaran mengelompok merupakan ordo primata yang memiliki sifat suka bergerombol seperti Monyet ekor panjang, Lutung budeng, dan Lutung simpai. Selain itu jenis mamalia besar dari ordo primata seperti Owa ungko dan Siamang memiliki pola sebaran acak, karena kedua primata ini memiliki sifat soliter. Mamalia besar yang memiliki sebaran acak seperti Babi hutan, Pelanduk, Kancil, Rusa sambar, Musang akar dan Tapir merupakan satwa yang peka terhadap keberadaan di habitatnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan jenis tersebut di

Dokumen terkait