• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBELAJARAN DAN INTERAKSI MURID-MURID KBQT DENGAN

C. Wawancara dengan Pendamping

2. Praktik Pendampingan

a. Konsep Pak Din: Mbombong, aktif-produktif, dan Moco Kahanan

Menurut Pak Din, KBQT merupakan tempat belajar yang membebaskan, dan terpusat pada pembelajar. Bukan school-centered, institutional-centered, atau bahkan bukan state-centered. Di sekolah ini, semuanya dikembalikan ke hakikat manusia, menjadi “sekolahnya manusia”. Dalam hal ini, tugas sekolah melalui pendamping adalah me-mbombong atau menyemangati. Istilahnya, nyuwuk boboting manah. Praktik mbombong oleh pendamping ini berbeda dengan membimbing. Pembimbing selalu sudah mempunyai klaim kebenaran ketika berhadapan dengan anak yang dibimbing. Di KBQT, justru sebaliknya. Anak-lah yang menjadi subjek, dan pembimbing (pendamping) tidak memiliki klaim kebenaran di hadapan anak. Dengan demikian, pendamping menjadi mitra bagi anak untuk mencari pengetahuan, bukan sebagai pengajar, apalagi sebagai sumber pengetahuan. Karena itu, di KBQT pendamping memang tidak diperkenankan mengajar. ”[Pendamping] membimbing saja ora oleh, apalagi mulang. Dadi, [pendamping] mulang ora entuk!51” tegas Pak Din. Tugas pendamping atau guru adalah menyemangati, atau mbombong.

Dengan konsep demikian, maka anak ditumbuhkan untuk memiliki pemikiran kritis.

“Mestinya yang paling baik itu anak yang selalu kritis. Berpikir kritis! [Kalau] kita lontarkan banyak gagasan, kok selalu diikuti, berarti ini keliru dan harus segera dkurangi. Kalau anak menggunakan argumentasinya, dan tidak selalu mengikuti, wuaa ... itu bagus. Makanya dibalik konsepnya” (wawancara, Bahruddin, 14 Januari 2017).

Dengan kata lain, sikap anak (dan pendamping) dibalik, dari sikap pasif-konsumtif seperti sekolah reguler pada umumnya, menjadi aktif-produktif. Gagasan apapun harus ditulis, dibedah, didiskusikan. Anak-anak diajak menjadi kritis terhadap lingkungan sekitar, lalu mendiskusikannya. Anak dituntut untuk produktif, yaitu menghasilkan karya. Karya ini pun juga didorong untuk menjadi karya yang kritis.

Dalam hal itu, peran internet sebagai pembawa informasi dan media komunikasi menjadi penting. Internet memiliki peluang untuk menggeser sekolah dari posisinya sebagai sumber pengetahuan. Jika pengetahuan sudah bisa didapat dari internet, maka sekolah—terutama KBQT—lebih memfokuskan diri untuk memfasilitasi anak bertemu orang, berdiskusi, dan berinteraksi. “Makanya sekolah-sekolah itu juga harus dihidupkan diskusinya,” tambah Pak Din.

Berkaitan dengan literasi informasi, maka Pak Din menganggap literasi adalah analisis. Moco kahanan, membaca keadaan. Bukan berhenti di formal-simbol belaka. Dengan cara menganalisis atau “membaca dunia” yang Pak Din terapkan, maka anak akan menyadari kebutuhannya untuk kreatif dan produktif. Anak akan dengan sendirinya memilih, memilah, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang mereka dapatkan dari mana saja (termasuk internet) untuk berkarya. Anak yang demikian tidak akan sempat membuka situs-situs porno di internet atau ikut hanyut menyebarkan berita bohong di media sosial.

“Kalau anak hanya menjadi konsumen, tong sampah informasi, nanti larinya pasti ke pornografi, hal-hal yang kurang baik, dan sebagainya. Tapi kalau didasari kebutuhan untuk berporoduksi, maka kalau berinternet maka pasti akan mendukung edukasi. Bahkan misalnya ada anak yang buka situs musik terus, atau main game terus, nah itu nanti pada akhirnya ke produktivitas. Karena anak sudah disibukkan untuk produktif,” (wawancara, Bahruddin, 14 Januari 2017).

Tantangan bagi pendamping adalah bagaimana mbombong anak agar menjadi aktif, mampu menganalisis, dan produktif. Sedangkan untuk mengajak anak menyadari kebutuhannya agar kreatif, maka harus dikaitkan dengan kesenangan anak. “Jika anak melakukan sesuatu sesuai dengan kesenangannya, maka akan jauh lebih menarik dan berguna ketimbang gadget,” kata Pak Din.

b. Praktik oleh Pendamping

Arahan Pak Din di atas kemudian didiskusikan oleh para pendamping dan direalisasikan sesuai dengan kemampuan pendamping dan kondisi murid-murid. Dalam berinteraksi dengan murid, Bu Dewi mendorong agar mereka berani bertanya dan berani berpendapat. Ia memosisikan diri sebagai orang dewasa yang menemani murid-murid untuk belajar, sembari ikut belajar. Dalam mendampingi murid, Bu Dewi juga lebih menggunakan buku-buku daripada internet. Hal ini karena ia merasa tidak betah membaca tulisan melalui layar monitor.

“Dulu saya sering menggunakan internet, tapi mata saya sakit, nggak betah. Sekarang saya menggunakan buku. Memang saya nggak betah bener dengan radiasinya itu lo. Lima menit saja nyerocos52. Pakai HP saja nyerocos,” (wawancara, Maryam, 21 Desember 2016).

Karena itu, murid-murid kerap menempatkan Bu Dewi sebagai kawan untuk berdiskusi mengenai pengetahuan yang tidak terdapat di internet. Mereka lebih sering mendiskusikan pembangunan karakter, pandangan-pandangan, dan filsafat. Dalam perbincangan tersebut, Bu Dewi selalu menyelipkan bagaimana agar anak dapat mengenali dirinya dan mengembangkan potensinya.

“Saya lebih membedah tentang anak itu dimensi manusianya itu sendiri. Bahwa ada knowledge, ada akal, ada jiwa, ada fiqih ... Di sini menjadi satu kesatuan

yang nggak bisa dipisahkan. Dan semua ada kapasitasnya masing-masing. Kalau ada yang heng satu kan sakit, kalau di sini ada yang tidak penuh kan mungkin kita akan hampa. Nggak nyamanlah. Jiwa pun jika kurang nutrisi jadi hampa. Tubuh kurang nutrisi juga sakit,” (wawancara, Maryam, 21 Desember 2016).

Berkaitan dengan literasi informasi, Bu Dewi membebaskan anak untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Ia yakin bahwa jika anak sudah mengalami kedewasaan dan “nikmatnya ilmu”, maka hal yang parno-parno itu [maksud Ibu Dewi adalah konten porno] akan disikapi dengan lebih bijak pada waktunya. Namun, sekolah dan pendamping juga harus tegas. Tidak hanya satu-dua kali sekolah meminta orang tua/wali untuk menjemput anaknya di KBQT. Bukan untuk dikeluarkan, tetapi agar anak memperbaiki diri dulu di rumah. Setelah berubah, maka boleh melanjutkan belajar di KBQT.

Tidak beda dengan Bu Dewi, Bu Ely juga menekankan agar anak tidak hanya sibuk membaca yang ada di buku dan media saja. Tetapi, membaca semuanya. Membaca dunia. “Anak jangan hanya baca di buku, tapi baca temannya juga,” kata Bu Ely.

Dalam praktiknya, Bu Ely merasa bahwa jika dilihat seakan-akan peran serta pendamping dalam menemani anak berinteraksi dengan internet adalah di posisi akhir. Biasanya, teman-teman si anak yang bersama-sama mengawasi di RK atau saat mengakses media apapun. Jika ada anak yang terlalu lama main game atau sering membuka situs porno, maka teman-temannyalah yang menjadi benteng pertama. Menurutnya, keterbukaan dan budaya untuk berdiskusi dan menganalisis menyebabkan peristiwa penyalahgunaan internet menjadi hampir tidak pernah terjadi.

“Itu [anak yang mengakses situs porno atau terlalu banyak main game] adalah hal yang alamiah. Wajar di usia mereka kalau cenderung seperti itu. Tetapi kalau ketahuan dan dilihat sudah loss control, baru kami bertindak. Pada dasarnya [pendamping] tidak membatasi ruang gerak, dan berpikir positif. Tidak menanamkan kecurigaan atas diri anak. Biarlah mereka melanglang buana mencari ilmu dan membuat karya. Nanti apapun yang mereka lakukan, mereka

akan report. Bahkan main game pun report. Jadi, anak-anak bebas mengakses semua hal, tidak terbatas ruang dan waktu. Tapi kalau mengakses yang seperti itu [situs porno], pasti terlihat. Kawan-kawannya yang malah komplain. Nanti yang lain justru akan mengkritisi, dan yang satu itu [kebiasaan mengakses situs porno] nanti akan mati,” (Nurhayati, 16 Januari 2017).

Bagi Bu Ely, belajar berpikiran positif dan tidak menanamkan kecurigaan atas anak merupakan hal yang penting. Walaupun pernah merasa terjebak juga (misalnya ketika ada anak yang menyalahgunakan kepercayaan), tetapi itu justru menjadi pembelajaran yang luar bisa, baik bagi pendamping maupun bagi anak.

Literasi informasi di KBQT, menurut Bu Ely, dibangun dengan cara setiap anak menemukan informasi akan diobrolkan dan didiskusikan. Hal ini bisa berawal dari apa saja, bahkan dari gosip. Selain itu, Bu Ely juga menanamkan agar anak tidak OT atau omong thok (hanya bicara tanpa dasar dan tanpa tindakan). Jangan sampai apa yang diungkapkan anak seakan berbobot tetapi isinya keropos. Praktiknya adalah ketika menerima atau menyampaikan informasi, maka terlebih dulu dikupas, dibedah, dan dibahas, sehingga informasi yang didapat sudah matang dan bukan hoax. Di sisi lain, kebiasaan untuk tidak OT ini juga mendorong anak berpikir secara kontekstual, termasuk mengaitkannya dengan konteks sekitar.

Tidak berbeda dengan Bu Ely, Bu Heni mengungkapkan bahwa metode pembelajaran yang paling penting adalah melalui diskusi.

“Metode pembelajaran yang utama di KBQT adalah menggunakan diskusi. Jadi dengan ngobrol. Mereka juga dapat minta tema apa, lalu kita diskusi bersama. Misalnya saja kemarin di Folia mereka minta diskusi mengenai astronomi. Di El Farabi, saya baru dua kali mengajak diskusi. Pertama tentang gaya belajar, dan kedua tentang multiple intelligence. Karena anak-anak baru, maka mereka masih belum bisa menentukan besok ingin materi apa. Nanti kalau sudah lama di sini, justru mereka yang aktif meminta diskusi apa gitu,” (wawancara, Kartika, 23 Januari 2017).

Hal yang tidak jauh beda diungkapkan oleh Fina ketika mendampingi kelas Hikari dan anak-anak baru (yang kemudian menjadi El Farabi). Menurut Fina, obrolan dan diskusi menjadi sesuatu yang sangat penting dan selalu dilakukan ketika menerima informasi baru. Obrolan menjadi pemantik penggalian informasi lebih lanjut, dan informasi disusun atas obrolan. Pengetahuan yang didapatkan pun menjadi pengetahuan yang merupakan hasil diskusi dan pemikiran semua yang terlibat dalam diskusi.

Penulis : Jadi, setiap mendapat informasi selalu menjadi sesuatu yang diobrolkan, jadi bahan obrolan dan diskusi?

Fina : Iya. Mengkonfirmasinya di dunia nyata. Menganalisis. Kadang-kadang anak lihat di internet, terus komen, dan ikut rame, dan anak-anak ketawa doang. Karena anak-anak cuma ikut rame doang.

Penulis : Mereka berarti secara otomatis ketika mendapat informasi berarti menganalisisnya ya? Ada nggak, anak yang tidak ikut menganalisis?

Fina : Anak-anak baru itu, yang kecil-kecil. Mereka memang masih perlu ditemani. Anak-anak yang kelas besar sudah belajar berpikir.

Penulis : Apakah berarti mereka belajar seperti itu dari interaksi ya? Fina : Iya. Interaksi, obrolan, diskusi.

Penulis : Kalau pendampoing sendiri, apakah pernah mengarahkan? Fina : Pendamping sendiri jarang mengarahkan sih sebenarnya. Kalau

mereka tanya mengapa, baru kita jawab, bagaimana kalau gini, bagaimana kalau gitu. Mereka lebih cenderung mencari sendiri. Memang lebih ditekankan begitu. Informasi untuk memancing (wawancara, Afidatussofa, 21 Desember 2016).

Bagian final dari setiap diskusi—menurut Ibu Ely—adalah aplikasinya. Bukan hanya konsep atau rencana, tetapi hasil. Walaupun hasil tidak bisa didapatkan hanya dengan mengambil jalan pintas atau mengabaikan proses.

“Final dari diskusi adalah di aplikasinya. Kalau belum pernah praktik, ya [kita] percaya ga percaya. Pokoknya, finalnya adalah di aplikasinya. Contoh kasus misalnya kritik pada kelas lain. Perlu untuk menanyakan, ‘Nah, coba ditarik ke kelas kita sendiri, apakah kita sudah lebih baik?’ Misalnya lagi tentang belajar

disiplin besok masuk jam berapa. Bukan hanya rencana, tapi ditaati atau tidak. Nanti [diskusinya] jadi panjang. Sampai ke kebiasaan tidur, kegiatan yang tidak perlu, minat, dan sebagainya,” (wawancara, Nurhayati, 16 Januari 2017).

Menurut Bu Ely, daur belajar yang ia amati dari murid menjadi sebagai berikut: dari informasi, lalu dikaitkan dengan pengalaman, kemudian direfleksikan, didefinisikan teori dan definisinya, baru kemudian diaplikasikan. Dari aplikasi tersebut, maka bisa dievaluasi dan didiskusikan lagi. Demikian terus menerus. Hal ini sangat sesuai dengan kelas Bu Heni dengan adanya beberapa anak yang “membutuhkan perhatian lebih”.

“Pembelajaran mengalir, terutama untuk mengimbangi anak-anak yang spesial. Sedangkan untuk informasi kebanyakan anak-anak mengambil dari internet. Anak pun pernah menanyakan mengenai berita yang didapat dari internet. Lalu kita obrolkan bersama,” (wawancara, Kartika, 23 Januari 2017).

Untuk memancing agar anak tetap tertarik mengikuti kelas dan berdiskusi adalah dengan menumbuhkan rasa “haus” dan penasaran. Salah satu teknik yang dipakai Bu Ely adalah dengan menyampaikan sepenggal topik pengetahuan di akhir sesi, lalu di-pending untuk dilanjutkan di pertemuan yang akan datang. Misalnya saja tiba-tiba Bu Ely menceritakan mengenai dampak agama dari kloning makhluk hidup: banyak yang memprotes, menganggapnya melanggar agama, etika, dan sebagainya. Tetapi di sisi ilmu pengetahuan, juga ada pencapaian dan manfaatnya. Lalu, anak diajak untuk berpikir dan rasa ingin tahunya dirangsang. Kemudian, Bu Ely menyudahi sesi hari itu untuk dilanjutkan ke pertemuan yang akan datang. Dengan demikian, anak-anak akan terdorong mencari informasi mengenai topik tersebut, serta kebelet mendiskusikannya.

Namun, tidak dipungkiri bahwa ada beberapa anak yang karena pengetahuannya sudah banyak, maka akan sulit merasa “haus”. Misalnya saja Yuli (bukan nama sebenarnya). Menurut Bu Ely, Yuli luar biasa. Ilmu, cara berpikir, dan

keterampilannya sudah jauh di atas anak seusianya. Bahkan Yuli pernah mengusulkan agar Bu Ely dirotasi ke kelas lain, agar kelas lain juga mendapatkan ilmu seperti dirinya. Dari kacamata Bu Ely, hal ini berarti Yuli sudah berkurang rasa “haus”-nya dalam mencari hal baru, dan ini bukanlah hal yang baik. Strategi yang dilakukan Bu Ely adalah memberinya tantangan untuk menganalisis sesuatu dari bidang yang belum dikuasai Yuli. Misalnya dari sisi filsafat. Bu Ely menceritakan bahwa filsafat adalah induknya ilmu dan terkait dengan semua pengetahuan. Akhirnya minat belajar Yuli tumbuh lagi, dan saat ini ia juga rajin mencari informasi dan berusaha memahami filsafat.

Walaupun di depan murid-murid para pendamping kerap terlihat seakan-akan “tidak ngapa-ngapain”, tetapi Bu Ely mengaku bahwa ia kerap membuat semacam strategi belajar bersama para pendamping lainnya. Misalnya saja mendiskusikan kebutuhan masing-masing anak dampingannya, lalu mencari jalan keluar bagaimana memfasilitasi anak agar mendapatkan yang ia perlukan. Akan tetapi, para pendamping tidak pernah menyuruh anak secara langsung. Pendamping akan sharing bahwa jika si anak membutuhkan belajar—misalnya mengenai fisika—maka si anak bisa bertemu dengan, misalnya, Pak Ahmad (pendamping yang kerap mendampingi Tawasi, tetapi juga memiliki latar belakang pendidikan Fisika). Di belakang itu, pendamping sudah berbicara dengan Pak Ahmad. Akhirnya, setiap anak memiliki kebebasan untuk mengakses pendamping mana saja untuk dijadikan narasumber. Para pendamping diam-diam sudah membagi tugas di antara mereka.

Untuk mendampingi anak belajar mengenal dirinya, biasanya Bu Ely dan para pendamping induk lainnya kerap memulai obrolan mengenai kepribadian atau pengembangan diri. Tetapi hal tersebut nantinya dikaitkan intelektualitas, seperti kebutuhan atas ilmu pengetahuan tertentu. Sedangkan untuk memberi masukan atau kritik

terhadap murid tertentu, Bu Ely lebih sering mengangkatnya menjadi topik diskusi, tanpa pengetahuan anak yang bersangkutan. Dengan demikian, anak-anak lain lebih aware dan jika murid yang bersangkutan melakukan hal yang sama lagi, maka teman-temannya akan mengingatkan. Misalnya, ketika Bu Ely merasa ada salah satu muridnya pendiam di kelas dan pasif dalam berdiskusi, maka Bu Ely mengajak anak-anak membuat kesepakatan bahwa mulai saat itu setiap anak wajib bicara dalam diskusi. Di situ Bu Ely juga sekaligus melatih agar anak-anak yang terlalu mendominasi diskusi belajar untuk mengontrol diri dan memberi kesempatan orang lain.

Dalam mendampingi anak, para pendamping di KBQT tidak pernah menganggap bahwa minat dan kemampuan anak sama. Pencapaian tiap anak pun berbeda. Apa yang dipelajari oleh satu anak pasti berbeda dengan anak yang lain. Oleh karena itu sistem ranking ataupun gelar “terpandai” atau “terbodoh” tidak pernah ada di KBQT. Bahkan sistem penilaian kuantitatif sudah ditinggalkan sejak tahun-tahun awal Qaryah Thayyibah berdiri. Berkaitan dengan bagaimana mengomunikasikan hasil belajar ke orang tua/wali, para pendamping induk menjalin hubungan erat dengan orang tua/wali murid. Penyampaian laporan belajar dilakukan secara lisan karena lebih bersifat deskriptif dan tak jarang naratif. Laporan tertulis atau buku report dibuat sendiri oleh masing-masing anak, berisi kegiatan tiap hari, materi, hasil belajar, karya, dan catatan-catatan lainnya.

Dalam mem-mbombong anak, menurut Bu Ely pendamping memang harus mengerti apa yang ia lakukan dan apa mengenal siapa yang didampingi. Proses pengenalan anak masing-masing secara pribadi inilah yang tidak didapatkan di sekolah reguler. Dalam mbombong pun harus disertai dengan dorongan agar anak meningkatkan kualitas karyanya. Untuk anak yang tidak berhasil, misalnya karya hanya selesai di tahap

perencanaan saja, maka pendamping akan mengapresiasi, tetapi juga menunggu kapan karya itu jadi. Dengan kata lain, dalam mbombong ada kritik tetapi sekaligus kepercayaan antara pendamping dan murid.