Jumlah Responden
4.3.7. Preferensi Konsumen terhadap Kombinasi Atribut dan Level Atribut Berdasarkan Nilai Maximum Utility Rule Atribut Berdasarkan Nilai Maximum Utility Rule
Nilai pada Maximum Utility Rule digunakan untuk melihat kombinasi dan level atribut paling disukai oleh konsumen bawang putih. Nilai ini dapat dilihat dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS 22 berdasarkan Maximum Utility Rule.
Tabel 13. Kombinasi paling disukai Responden (Maximum Utility Rule)
Pada Tabel 13 dapat di ketahui Nilai Maximum Utility Rule. Nilai Maximum Utility Rule menggambarkan pilihan paling disukai oleh responden dari 16 (enam belas) kombinasi yang ditawarkan pada saat penelitian. Nilai utility tertinggi menggambarkan kombinasi yang paling disukai responden dimana kombinasi no 8 lebih tinggi dari no 9 serta kombinasi lainnya dan nilai utility terendah menggambarkan kombinasi yang paling tidak disukai responden terhadap atribut bawang putih segar.
62
Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh (Gudono, 2015) yang menyatakan bahwa Maximum Utility Rule disebut juga sebagai first choise rule yang menganggap responden akan memilih produk yang memiliki utility tertinggi (maksimum)atau ordinal utylitas yang menunjukkan peringkat tertinggi, temuan ini akan tepat digunakan jika pembelian yang dilakukan oleh konsumen tergolong
“high involment purchase” artinya konsumen serius mempertimbangkan berbagai atribut dengan sub atribut produk yang akan dibeli.
Berdasarkan Tabel 13, kombinasi atribut paling disukai pilihan responden ordinal utility peringkat tertinggi adalah kombinasi nomor delapan yaitu bawang putih segar dengan komposisi level atribut ukuran umbi kecil, beraroma tidak tajam, harganya < Rp. 20.000,- /kg ,warna bawang putih gelap dengan kelembaban/kekeringan lembab. Kombinasi yang paling tidak disukai adalah kombinasi nomor empat yaitu bawang putih segar dengan komposisi level atribut ukuran umbi sedang, aromanya tidak tajam, harga berkisar > Rp.40000,- /kg dengan warna putih cerah, kelembaban/kekeringan l e m b a b.
Hal ini juga sesuai dengan rumus utilitas analisis konjoin Menurut Surjandari (2009), preferensi keseluruhan konsumen terhadap bawang putih segar di Kota Medan yaitu sebesar penjumlahan:
Y = X1 + X2 + X3 + X4 + X5 + constant
Total Utility = 0,243+0,214+0,105+0,064+0,164+2,690 Total Utility = 3,480
Dimana
Y : total utility
X1 : nilai utility atribut ukuran X2 : nilai utility atribut aroma X3 : nilai utility atribut harga X4 : nilai utility atribut warna
X5 : nilai utility atribut kelembaban/kekeringan Constant : nilai constant dalam analisi
63
Sehingga dapat dikatakan bahwa kombinasi dari level-level atribut tertinggi diatas dapat menghasilkan preferensi yang tertinggi pula yang dapat memberikan utilitas tertinggi bagi konsumen terhadap bawang putih segar di Kota Medan.
Hasil temuan ini secara teori mungkin masih memunculkan pertanyaan, mengapa hasil kombinasi yang menjadi preferensi responden pada atribut keempat yang muncul adalah kategori level atribut lembab,warna putih cerah ,tidak tajam dan ukuran sedang bukan kategori level atribut baik.
Realita yang ditemukan di daerah penelitian bahwa ditingkat konsumen bawang putih segar pilihan responden masih dominan terhadap level atribut harga yang murah. Sehingga level atribut harga yang murah masih menjadi tolak ukur yang dianggap penting bagi para calon konsumen untuk memutuskan membeli dan mengkonsumsi bawang putih segar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendapatan konsumen yang tinggi belum tentu mempunyai korelasi terhadap pilihan atribut harga dengan kategori level atribut harga mahal untuk membeli dan mengkonsumsi bawang putih segar.
Dari nilai total utility untuk kombinasi nomor 8 sebesar 3.480 dapat diketahui nilai rata rata jumlah konsumen yang menyukai model komposisi kombinasi tersebut yaitu sebesar 62% (62 responden) yang menyukai komposisi kombinasi nomor delapan.
Hasil penelitian ini akan menjadi dasar yang tepat bagi produsen/ pedagang untuk mengatur strategi dalam pemasaran bawang putih segar, dan bagi pemerintah sendiri hal ini dapat menjadi salah satu masukan dalam merancang strategi pasar, membuat kebijakan ekspor bawang putih , mengatur musim tanam, dan mengatur pola distribusi bawang putih lokal. Serta merangsang petani lokal khususnya di Sumatera Utara untuk meningkatkan produksi dan kualitas bawang putihnya.
64
Untuk metode penelitian data kualitatif preferensi konsumen, penggunaan analisis konjoin akan lebih tepat karena analisis konjoin akan mengakomodir lebih detail setiap keinginan konsumen terhadap suatu produk dan jasa. Analisis konjoin juga mampu untuk menganalisis penciptaan nilai bagi konsumen, membantu dalam keputusan memilih harga yang dianggap optimal dan membangun kebijakan strategi dalam pemasaran.
4.3.8. Tingkat Kepentingan Konsumen Terhadap Atribut Bawang Putih Tingkat Kepentingan atau nilai importance value adalah tingkat kepentingan faktor atau atribut yang merupakan nilai rata-rata responden terhadap suatu faktor tertentu dari semua stimuli yang dinilai.Tingkat kepentingan atribut merupakan tingkat preferensi atau kesukaan maupun minat konsumen terhadap atribut yang telah ditentukan.
Tabel 14. Tingkat Kepentingan (Importance values)
Importance Values
Ukuran 30.529
Aroma 14.640
Harga 39.631
Warna 10.424
Kelembaban 4.776
(Sumber: Data diolah,2021)
Berdasarkan Tabel 14 dapat dilihat bahwa tingkat kepentingan atribut tertinggi yang menjadi perhatian konsumen dalam membeli bawang putih adalah tingkat harga bawang putih (39.631%), dikuti oleh ukuran bawang putih (30.529%) dan aroma bawang putih (14.640%) serta atribut warna bawang putih (10.424%) kemudian yang paling rendah adalah kelembaban yaitu ( 4.776% )
Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan utama konsumen dalam membeli dan mengkonsumi bawang putih adalah tingkat harga dan ukuran,
65
aroma,warna. Sedangkan atribut yang tidak selalu dipertimbangkan adalah kelembaban.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh preferensi konsumen terhadap bawang putih dengan nilai kegunaan (utility estimate) yang bernilai positif terbesar menunjukkan atribut yang paling penting yaitu pada atribut harga dengan level atribut baik (0,423), diikuti atribut ukuran (0,243), aroma (0,214) ,kelembaban (0,164) serta warna (0,104). Artinya konsumen lebih mengutamakan atribut harga bawang putih dibandingkan atribut lainnya.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini merupakan preferensi konsumen yang dapat digunakan untuk merancang strategi pemasaran, merancang harga, memprediksi penjualan juga dapat mengetahui karakteristik pasar konsumen (segmentasi preferensi) bawang putih segar dan pola produk pilihan konsumen bawang putih akan bawang putih sesuai atribut pilihan konsumen. Dimana strategi pemasaran produk bawang putih bisa dilakukan dengan pilihan konsumen tersebut dimana untuk harga yang paling banyak dipilih kosumen berada pada kisaran Rp20000 – Rp 40000 dengan strategi promosi harga dapat memikat konsumen untuk memilih produk bawang putih sesuai harga yang paling diinginkan ,dan dengan proses packaging yang bagus dan rapi sehingga dapat merubah pilihan konsumen untuk membeli produk bawang putih sesuai keinginan konsumen. Karena preferensi konsumen adalah karekteristik atau sikap yang merupakan perwujudan dari suatu respon afektif, kognitif, perasaan, dan mental yang konsisten terhadap ciri objek tertentu. Sikap menempatkan individu dalam suatu kerangka pikiran untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, untuk bergerak menuju atau meninggalkan sesuatu.
Sikap sukar diubah, karena setiap individu mempunyai pola sikap tersendiri sehingga diperlukan adaptasi yang rumit dalam banyak hal.penelitian ini dapat
66
dipertimbangkan untuk pemasaran bawang putih yg lebnih efektif dengan melihat pilihan atribut pilihan konsumen agar konsumen dapat memilih pilihan bawang putih sesuia kriteria keinginannya
67
BAB V