• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PERAN KEPOLISIAN DALAM PENANGGULANGAN

1. Preventif

Berbicara tentang kebijakan non-penal (non-penal policy), maka berbicara

66

tentang tindakan-tindakan pencegahan untuk terjadinya kejahatan dan sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kejahatan. Faktor-faktor itu antara lain berpusat pada masalah-masalah sosial yang secara lansung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menyebabkan kejahatan.67

a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;

Melihat kenyataan ini, maka upaya-upaya dengan kebijakan non-penal menempati posisi yang sangat penting dalam menanggulangi serta menurunkan angka kejahatan yang terjadi di dalam masyarakat. Pencegahan terjadinya kejahatan sebenarnya merupakan salah satu tugas yang diamanatkan kepada polri dalam pasal 13 undang-undang No.2 Tahun 2002, yang menyatakan tugas pokok kepolisian Republik Indonesia adalah sebagai berikut :

b. Menegakkan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Fungsi preventif berbicara mengenai upaya kepolisian untuk mencegah bertemunya unsur niat (N) dan unsur kesempatan (K) sebagai rumusan terjadinya kejahatan (N+K). usaha ini dilakukan dengan melakukan kegiatan-kegiatan berupa mengatur, menjaga, mengawal, dan patrol serta penggelaran razia-razia. Usaha preventif ini dilakukan oleh fungsi samapta.68

67

Barda Nawawi Arief (1996), Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, hal 49

68

Mahmud Mulyadi (2008),Criminal Policy: Kebijakan Integral Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Medan: Pustaka Bangsa Press. Hal. 83

Dalam bertindak preventif, ada beberapa tindakan dari kepolisian untuk menanggulangi kejahatan yang terjadi di masyarakat, yaitu :

a. Patroli

Patroli merupakan peran eksternal kepolisian yang khusus dalam upaya pencegahan kejahatan. Patroli dapat diartikan sebagai suatu gerakan dari kepolisian yang sistematis dengan maksud tertentu yang dilakukan seseorang atau beberapa polisi di suatu tempat atau melewati tempat atau daerah tertentu.69 Tujuan khusus tugas patrol adalah sebagai berikut 70

1. Memberikan perlindungan terhadap serangan atas jiwa dan harta benda. Polisi tidak dapat mencegah seseorang untuk melakukan kejahatan, tetapi polisi dapat mengurangi hal-hal yang dapat mendorong terjadinya kejahatan. Berkurangnya kejahatan dapat dikurangi dengan keberadaan polisi secara visual di tengah-tengah masyarakat.

:

2. Mengadakan dialog dengan anggota masyarakat, baik secara formal maupun informal. Rasa tentram yang diakibatkan kehadiran para petugas polisi yang diketahui masyarakat menciptakan rasa aman diantara mereka.

3. Mencegah munculnya gangguan ketertiban sosial yang mungkin disebabkan kejahatan, perselisihan dilingkungan tetangga, dan gangguan-gangguan ketentraman yang membawa keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. 4. Memberikan pelayanan sosial pada masyarakat dengan cara mengidentifikasi

kondisi-kondisi dan situasi yang dapat memicu timbulnya kejahatan dan sesegera mungkin meminta organisasi-organisasi tertentu untuk member

69

Biro Hukum Polri (2006), Pedoman Pelatihan Perpolisian masyarakat, Jakarta, hal.50

perhatian, bantuan, simpati, dan nasihat menekankan aspek pelayanan perpolisian, yang pada gilirannya member kontribusi pada terciptanya hubungan yang baik antara polisi dan masyarakat dan ketaatan hukum secara sukarela.

5. Melakukan penjagaan terus menerus yang artinya para petugas hadir menjaga harta dan/atau orang dari kejahatan yang mungkin terjadi. Mencegah dan menghilangkan kesempatan yang merangsang timbulnya keinginan untuk melakukan kejahatan merupakan tujuan jangka pendek.

b. Bhabinkamtibmas

Didalam pencegahan penyalahgunaan narkotika peran kepolisian menjadi sangat besar. Untuk membantu kepolisian dalam melakukan pencegahan terhadap penyalahgunaan tersebut di perlukan bantuan dari BIMMAS POLRI (Bhabinkamtibmas) dalam pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat yang disiapkan secara khusus untuk melakukan pembinaan baik di desa maupun kelurahan daerah tertentu.

BIMMAS POLRI merupakan ujung tombak untuk terjalinya komunikasi antara kepolisian dengan masyarakat sehingga Bhabinkamtibmas dapat membimbing masyarakat bagi terciptanya lingkungan yang menguntungkan upaya penertiban dan penegakan hukum, upaya perlindungan dan pelayanan masyarakat. Peranan tersebut antara lain :

a. Sebagai Motivator

Bhabinkamtibmas dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kesadaran hukum dan keamanan lingkungan agar tidak menjadi korban

atau pelaku kejahatan penyalahgunaan narkoba. Selain itu Bhabinkamtibmas diharapkan mampu mendorong, mengarahkan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat di wilayah tugasnya untuk berperan serta mencegah timbulnya gangguan kamtibmas termasuk penyalahgunaan narkoba.

b. Sebagai Pembina Kader

Bhabinkamtibmas dapat membangun kemitraan dengan masyarakat yang berperan aktif dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas yang diemban oleh Bhabinkamtibmas. Mampu mengajak partisipasi masyarakat dalam menanggulangi munculnya kasus penyalahgunaan narkoba di wilayahnya.

c. Sebagai Fasilitator

Memfasilitaskan para kader dan para tokoh masyarakat serta menjadi mediator dalam hal menyelesaikan masalah-masalah penyalahgunaan narkoba yang timbul di wilayah tugasnya.71

Jadi tugas dari Bhabinkamtibmas mencakup keseluruhan fungsi kepolisian, antara lain tugas pokok kepolisian sebagai penganyom, pelindung, dan penegakan hukum dalam masyarakat. Dengan kata lain, Bhabinkamtibmas adalah lembaga di polsek yang bertugas membantu unit lainnya yaitu unit reskrim, unit intelijen, unit samapta, dan unit patrol. Tugas Bhabinkamtibmas sebagai pelayan,

71

www. peran polri dalam pencegahan penyalahgunaan peredaran gelap narkotika dan psikotropika.com di akses tanggal 9 November 2014

penganyom dan pelindung masyarakat sehingga Bhabinkamtibmas lebih dekat dengan masyarakat baik secara individu maupun kelompok.72

c. Kebijakan di Kawasan Rawan Kejahatan

Untuk mengklasifikasikan suatu daerah rawan kejahatan atau tidak dapat dilihat dari statistik kejahatan yang ada. Dengan melihat statistik kriminal maka akan diketahui perkembangan kejahatan kekerasan yang terjadi. Hasil analisa statistik ini akan diperhatikan oleh petugas kepolisian dengan menurunkan patroli ke daerah-daerah tersebut baik dengan pakaian dinas maupun pakaian tertutup (reserse dan intel).73

Daerah-daerah rawan kejahatan dengan kondisi sosial yang buruk tidak memastikan bahwa di daerah tersebut akan pasti terjadi kejahatan, namun kondisi itu meningkatkan kemungkinan terjadinya kejahatan. Dengan kebijakan daerah-daerah rawan maka polisi akan mampu menentukan sasaran mereka baik kelompok maupun tempat terdapat faktor rawan yang tinggi terhadap terjadinya tindak kejahatan.74

a. Mengidentifikasi kondisi dan situasi yang dapat digunakan oleh pelaku kejahatan untuk mendorong terjadinya kejahatan dalam masyarakat, bertukar

Langkah yang dilakukan kepolisian di daerah rawan kejahatan :

informasi dengan departemen-departemen pemerintah serta institusi-institusi yang terkait dalam rangka memecahkan masalah tersebut.

b. Berkomunikasi secara rutin dengan organisasi masyarakat dan anggota

72

Ibid

73Ibid., hal. 308

74

masyarakat yang menaruh perhatian besar pada keamanan dan ketertiban lingkungannya.75

Untuk dapat mengurangi statistik criminal yang tinggi di daerah rawan kejahatan menurut kepolisian harus berinteraksi dan selalu dalam hubungan yang dekat dengan masyarakat yang dilayaninya. Dan karena hubungan dekat dengan komunitas masyarakat menuntut intensitas pengenalan oleh kepolisian dengan masyarakat sangat terbatas maka yang biasanya terjadi adalah kepolisian hanya mampu mengenali tokoh-tokoh masyarakat saja, namun untuk dapat mengenali masyarakat luas hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi.76

Untuk daerah-daerah rawan strategi yang tepat adalah pendekatan Problem Oriented Policing (POP). Konsep POP ini berorientasi bahwa pemolisian tidak dilakukan untuk melakukan kejahatan, tetapi mencari dan melenyapkan sumber terjadinya kejahatan. Oleh karena itu aparat kepolisian harus mengetahui isu-isu mendasar masyarakat setempat, membangun hubungan dengan masyarakat, dan mempunyai informaasi untuk membantu memahami sifat dasar dari permasalahan pokok. Keberhasilan pendekatan ini bukan dari menekan angka kejahatan tetapi ukurannya adalah manakalah kejahatan itu tidak terjadi. Pendekatan ini akan berhasil bila kepolisian mengetahui permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Kemudian pihak kepolisian harus menjalin komunikasi dengan masyarakat supaya masalah-masalah sosial di tengah-tengah masyarakat tersebut tidak melahirkan kejahatan.77

75Ibid., hal. 52

76

Parsudi Suparlan (2004), Bunga Rampai Ilmu Kepolisian Indonesia, Jakarta: Yayasan Pengembangan Ilmu Kepolisian., hal.123

77

Mahmud Mulyadi., Op.cit., hal. 309

Didalam pencegahan penyalahgunaan peredaran narkotika upaya preventif merupakan pelaksanaan fungsi yang diarahkan kepada upaya pencegahan terjadinya penyalahgunaan narkotika tersebut. Program ini ditujukkan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar mengetahui seluk beluk narkoba, sehingga tidak tertarik untuk menyalahgunakannya. Program ini dilakukan di lingkungan pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi untuk :

1. Mencegah agar jumlah dan jenis yang tersedia hanya untuk dunia pengobatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Mencegah kebocoran pada jalur resmi.

3. Mencegah agar kondisi geografis Indonesia tidak dimanfaatkan sebagai jalur gelap dengan mengawasi pantai dan pintu-pintu masuk ke Indonesia.

4. Mencegah secara langsung peredaran gelap di dalam negri di samping mencegah agar Indonesia tidak dimanfaatkan sebagai mata rantai perdagangan gelap baik tingkat nasional, regional, maupun internasional.

2. Pre-emtif

Upaya pre-emptif yang dilakukan adalah beberapa kegiatan-kegiatan edukatif dengan sasaran menghilangkan faktor-faktor penyebab yang menjadi pendorong dan faktor peluang yang biasa disebut faktor korelatif riminogen dari kejahatan tersebut. sasaran yang hendak dicapai adalah terbinanya dan terciptanya suatu kondisi perilaku dan norma hidup bebas dari narkotika.

a) Faktor Supply (pemasok)

1. Memusnahkan produksi gelap dan kultivasi/penanaman gelap. 2. Pengawasan pasar gelap.

3. Penegakan hukum.

b) Faktor Demand (permintaan), disebabkan karena antara lain :

1. Adanya pola hidup konsumtif pada sekelompok masyarakat tertentu yang dimanfaatkan oleh oknum pencari keuntungan walaupun dihadapkan dengan berbagai resiko hukum yang akan dihadapi.

2. Efek penggunaan obat ini menimbulkan khayalan sehingga mendorong orang untuk mencobanya walaupun pada akhirnya dengan tidak disadari akan merusak beberapa organ tubuhnya akibat penggunaannya yang tidak terawasi.

Untuk mengatasi Demand, dilakukan dengan cara : a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat. b. Melakukan pencegahan.

c. Melakukan pembinaan terhadap keluarga. d. Melakukan pembinaan terhadap remaja. 3. Refresif

Secara refresif (penindakan), yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan narkotika dan psikotropika melalui jalur hukum dan berdasarkan hukum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat keamanan yang dibantu oleh masyarakat. Kalau masyarakat mengetahui hal tersebut harus segera melaporkan kepada pihak yang berwajib (kepolisian) dan tidak boleh main hakim sendiri.

Bentuk – bentuk kegiatan yang dilakukan Polri dalam usaha represif, adalah :

1. Memutuskan jalur peredaran gelap obat terlarang 2. Mengungkap jaringan sindikat nasional/internasional

3. Memusnahkan barang bukti narkotika dan psikotropika yang di sita

4. Mengungkap apa yang menjadi motivasi/latar belakang dari kejahatan penyalahgunaan obat terlarang tersebut

5. Melaksanakan kegiatan/ mekanisme ungkap kasus narkotika dan psikotropika mulai dari info, analisa info, sampai pelaksanaan kegiatan dan RPE

6. Pelaksanaan terapi dan Rehabilitasi sosial terhadap pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dalam lembaga tertentu sesuai dengan Pasal 54 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Upaya Refresif yang dilakukan dilaksanakan melalui operasi rutin POLRI sepanjang Tahun secara selektif prioritas operasi khusus kepolisian terbatas dan tergantung kebutuhan seperti:

•Operasi Pekat Toba

• Operasi Antik Toba

• Dll

4. Treatment dan Rehabilitasi

Treatment dan rehabilitasi merupakan usaha untuk menolong, merawat dan merehabilitasi korban penyalahgunaan obat terlarang dalam lembaga tertentu, sehingga diharapkan para korban dapat kembali kelingkungan masyarakat atau

dapat bekerja dan belajar dengan layak78. Rehabilitasi dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak kambuh kembali ketagihan narkotika dan psikotropika. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkotika dan psikotropika agar dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan para korban yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka sadar dan bertobat, supaya mereka tidak terjerumus kembali sebagai pencandu narkotika dan psikotropika.79

(1) Orang tua/ wali dari pecandu yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, lembaga rehabilitasi medis/rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan/perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Adapun kebijakan dilakukannya pengobatan dan rehabilitasi yang dilakukan kepolisian untuk kepentingan pengobatan dan/atau perawatan bagi pengguna narkotika yang terdapat dalam UU No. 35 Tahun 2009 yang menjadi dasar polri dalam memberikan pengobatan dan rehabilitasi, yang menyatakan bahwa ;

Pasal 54

Pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pasal 55

78

Buku Pedoman Pelaksana Tugas Bintara Polri Di Lapangan (2003), Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri

79

(2) Pecandu yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan/perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Dalam pasal 103 Undang-Undang No 35 Tahun 2009 ini, terdapat aturan

kewajiban pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan yakni:

(1) hakim yang memeriksa perkara pecandu narkotika dapat memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan, apabila pecandu narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika; atau

(2) Menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan, apabila pecandu narkotika tersebut tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika.

Adapun ketentuan untuk dapat dilakukannya pengobatan dan rehabilitasi berdasarkan surat edaran Mahkamah Agung RI NO. 07/2009 yaitu:

1. Terdakwa pada saat ditangkap oleh penyidik dalam kondisi tertangkap tangan. 2. Pada saat tertangkap tangan sesuai butir 1 diatas ditemukan barang bukti satu

kali pakai, Contoh :

* Heroin/putaw Maksimal 0,15 Gram * Kokain Maksimal 0,15 Gram * Morphin Maksimal 0,15 Gram

* Ekstacy Maksimal 1 Butir/Tablet * Shabu-shabu Maksimal 0,25 Gram

* Dan lain-lain termasuk dalam narkotika Gol I-III dan Psikotropika golongan III-IV.

3. Surat keterangan uji laboratorium, 4. Bukan residivis,

5. Perlu surat keterangan dokter jiwa/psikiater (pemerintah) yang ditunjuk oleh Hakim.

Hakim menjatuhkan pemidanaan berupa perintah untuk dilakukan tindakan berupa rehabilitasi atas diri terdakwa dan menunjuk secara tegas dan jelas tempat rehabilitasi yang terdekat dalam amar putusannya. Tempat-tempat rehabilitasi dimaksud adalah :

* Unit pelaksana teknis terapi dan rehabilitasi BNN di Lido Sukabumi, Jawabarat * RSKO, Cibubur Jakarta dan di Indonesia

* Panti rehabilitasi DEPSOS RI (SUMUT – Glugur rumbun sebelum pesantren darul arafah

* Rumah sakit jiwa di seluruh Indonesia ( RSJ Jln. Jamin Ginting)

* Tempat-tempat rujukan panti rehabilitasi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang sudah diakreditasi oleh Depkes dan Depsos dengan biaya sendiri) contoh : Rehabilitasi Gan sibolangit.

BIJAK KAPOLDA SUMUT untuk Pengobatan dan Rehabilitasi, yaitu : 1. Maklumat Kapolda Sumut Nomor : MAK/10/X/2009 TGL 15 OKT 2009

TENTANG Mekanisme terapi dan Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkoba Pada Panti rehabilitasi unit pelaksanaan teknis terapi dan rehabilitasi (UPTT & R0 LIDO Sukabumi.

2. Telegram Kapolda Sumut Nomor : T/12/I/2010 TGL 15 Januari 2010 TENTANG Bahwa anggota Polri terindikasi penyalahgunaan (korban) narkotika yang berkeinginan untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui terapi dan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, para Kasatwil / Kasatker dapat merujuk anggota untuk melaporkan diri atau

dilaporkan oleh keluarganya untuk mendapat perawatan terapi dan rehabilitasi, sehingga yang bersangkutan dianggap menjalani cuti berobat kepanti

rehabilitasi.80

B.Faktor Yang Menjadi Kendala Kepolisian dalam Mengungkap Peredaran

dan Penyalahgunaan Tindak Pidana Narkotika Di SAT. Narkoba Polres DeliSerdang

Sat Narkoba adalah merupakan pelaksana tugas pokok yang berada di dalam struktur pelaksana tugas di lingkungan Polres di bawah Kapolres, dan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di bawah kendali Wakapolres. Untuk tingkat Polda sat narkoba berada di bawah kapolda dan di bawah kendali wakapolda yang bertugas untuk melaksanakan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan narkoba, penyuluhan dan pembinaan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Dalam melaksanakan tugas, Ditresnarkoba menyelenggarakan fungsi : a. Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan narkoba

80

Sosialisasi Bahaya Narkotika dan HIV-AIDS Serta Upaya Hukum Polda SUMUT dalam Penanganannya Kepada Para Mahasiswa STIKES RS. HAJI MEDAN Hari Rabu, Tanggal 1 Pebruari 2012 Di Aula STIKES RS. HAJI MEDAN

b. Penganalisian kasus narkoba beserta penangananya dan pengkajian efektifitas pelaksanaan tugas Ditresnarkoba.

c. Pengawasan penyidikan tindak pidana narkoba di lingkungan polda.

d. Pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

e. Pengumpulan dan pengolahan data serta menyajikan informasi dan dokumentasi program kegiatan Ditresnarkoba.81

Dalam melakukan penyidikan tindak pidana narkoba banyak hambatan-hambatan yang ditemui kepolisian sebagai penyidik dalam mengungkap kasus-kasus tindak pidana. Hal ini juga di alami pada Sat Narkoba Polres Deli Serdang, berdasarkan keterangan yang di sampaikan oleh penyidik sat narkoba polres deli serdang kaur mintu bripka Hendri ketaren, adapun permasalah yang ada yaitu : 1.1.Faktor Internal

1. Personil

Dalam melakukan penyidikan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba hambatan dari segi personil yang ada pada Polres Deli Serdang adalah kurangnya pendidikan khusus tentang narkoba yang di terima oleh penyidik. Tidak hanya pendidikan khusus narkoba, jumlah anggota personil yang ada pun masih sangat minim dibanding dengan jumlah kasus dan tingkat peredaran narkoba yang semakin meluas di masyarakat. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus dikarenakan dalam melakukan penyidikan terhadap tindak pidana narkoba sangat terbatas dan tertutup.

2. Biaya penyelidikan dan penyidikan

81

Dalam hal biaya penyelidikan dan penyidikan merupakan hal yang penting untuk menunjang kinerja dari penyidik dan penyelidik. Biaya penyelidikan dan penyidikan Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) perbulannya dirasa sangat kurang mengingat peran kepolisian yang sangat besar dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan serta pencegahan penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Anggaran tersebut kurang, mengingat jumlah tindak pidana narkotika yang di salahgunakan meningkat. Hal ini menyebabkan banyaknya pengeluaran yang harus digunakan penyelidik maupun penyidik dalam mencari dan mengumpulkan informasi tentang peredaran dan penyalahgunaan narkotika.

3. Alat oprasional

Alat oprasional yang dimaksud adalah alat berupa kendaraan yang digunakan dalam melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap peredaran narkoba serta alat yang bisa digunakan penyidik dalam melakukan pelacakan dan tes laboratorium terhadap barang sitaan maupun terhadap tersangka.

Penyelidik dan penyidik Sat Narkoba Polres Deli Serdang sendiri dalam melakukan setiap tugas penyidikan terhadap peredaran narkoba di wilayah Polres Deli Serdang masih menggunakan kendaraan motor milik pribadi masing-masing anggota. Hal ini menyulitkan anggota untuk melakukan penyelidikan maupun penyidikan tindak pidana narkoba. Diperlukannya alat oprasional berupa kendaraan roda 2 ataupun roda 4 untuk mendukung setiap kegiatan oprasional yang dilakukan oleh kepolisian.

4. Belum memiliki alat khusus deteksi (IT)

Alat deteksi narkoba sangat di butuhkan untuk mempermudah penyidik dalam melakukan penyelidikan tindak pidana narkoba. Alat deteksi (IT) narkoba

dan Analisys Notebook digunakan untuk melakukan penyadapan handphone (HP) dari pelaku dan jaringannya. Belum adanya laboratorium criminal yang dimiliki di polres deli serdang yang dapat menghambat tugas penyidik dalam melakukan penyidikan tindak pidana narkoba.

Hal ini dikarenakan dalam melakukan penyidikan polisi belum bisa membuktikan dengan kasat mata jenis narkoba, disini penyidik harus mencoba sendiri narkoba yang di tangkap untuk membuktikan hasil tangkapan. Dengan harus mencoba hasil tangkapan dari hasil penyelidikan dapat mempengaruhi dan memberikan efek kerugian tersendiri bagi kepolisian. Karena dengan seperti itu yang awalnya mencoba untuk membuktikan narkoba yg di tangkap dapat menjerumuskan penyidik kepolisian itu sendiri.

1.2.Faktor eksternal

Daya beli Masyarakat terhadap narkoba masih sangat tinggi penggunaan dan peredaran tindak pidana narkoba. Tingginya pengguna narkoba mendorong banyanya peredaran produksi narkoba.Selain daripada itu masih adanya masyarakat yang menggantungkan hidup dengan menjual dan mengedarkan narkoba, di sebabkan besarnya keuntungan yang dapat diperoleh dari penjualan narkoba. Hal ini yang dapat menyulitkan penyidik dalam melakukan penyidikan dalam mengungkap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. dikarenakan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Hal lain yang menjadi kendala penyelidik dan penyidik adalah kurangnya informasi yang di berikan masyarakat, ketika masyarakat mengetahui adanya suatu tindak pidana narkotika masyarakat cendrung diam tidak memberikan informasi kepada pihak kepolisian yang menyulitkan kepolisian untuk mencari

informasi tentang adanya peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang ada di lingkungan masyarakat.82

82

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.KESIMPULAN

Instansi kepolisian sebagai pengayom dan pelindung masyarakat memiliki peran yang sangat besar terhadap kepolisian dalam menjaga serta memberantas segala bentuk tindak pidana. Dalam melakukan suatu penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana narkotika dan psikotropika secara sistematis diperlukan variasi dan meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan mengingat semakin maraknya peredaran dan penyalahgunaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan akan semakin banyaknya cara atau modus yang akan digunakan oleh pengedar narkotika dan psikotropika untuk menghindari diri dari kepolisian.

Minimnya kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh anggota polri mengenai narkotika dan psikotropika menyulitkan kepolisian dalam melakukan penyelidikan terhadap adanya indikasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Bukan hanya sebatas melakukan penyelidikan dan penyidikan kepolisian perlu melakukan Sosialisasi secara intensif tentang apa itu narkotika dan psikotropika kepada masyarakat diperlukan guna masyarakat sadar akan dampak dan bahayanya penggunaan narkotika dan psikotropika.

Disini di butuhkan kinerja Binmas Polri yang merupakan ujung tombak terjalinya komunikasi antara polri dengan masyarakat. Binmas dapat membimbing masyarakat bagi terciptanya lingkungan yang menguntungkan upaya penertiban dan penegakan hukum. Binmas Polri dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat

terhadap kesadaran hukum dan gangguan keamanan di lingkungan masyarakat

Dokumen terkait