Prinsip Inkorporasi (Doctrine of Place

Dalam dokumen ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM TESIS. Oleh ZULKARNAIN /MKn (Halaman 77-117)

BAB II ATURAN HUKUM PELAKSANAAN JUAL BELI KAPAL

D. Sumber Hukum Perdata Internasional

2. Sumber Hukum Kontrak Internasional yang berasal

3.1 Nasionalitas Badan Hukum

3.2.1 Prinsip Inkorporasi (Doctrine of Place

Menurut doktrin ini , suatu badan hukum tunduk pada hukum dimana badan hukum itu telah didirikan ( diciptakan) atau dibentuk. Doktrin ini dianggap telah memenuhi kebutuhan praktek oleh karenanya telah diikuti secara luas. Malahan Nederland yang sebelumnya menganut doktrin siege reel karena kebutuhan praktis dewasa ini telah beralih menerapkan doktrin inkorporasi.

Lebih lanjut dapat dikemukakan alasan-alasan tentang dianutnya doktrin inkorporasi sebagai berikut :

87 HMN Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1991, hal 91

88 Sudargo Gautama, Op cit, hal 211-216

78

1. Bahwa sesuai dengan logika hukum jika suatu badan hukum juga tunduk pada hukum dimana formalitas-formalitas untuk pendiriannya dilangsungkan sehingga suatu badan hukum tertentu hanya akan mendapat status dari suatu sistem hukum tertentu saja. Dengan demikian dikemudian hari inilah yang akan menjadi status personilnya.

2. Bahwa doktrin ini memberi kepastian hukum karena inkorporasi ini mudah ditentukan dengan jalan meneliti anggaran dasar, dokumen-dokumen pembentukan, pendaftaran-pendaftaran dalam register tertentu dan lain-lain.

3. Doktrin inkorporasi inipun akan menimbulkan kesukaran, jika suatu badan hukum berpindah tempat kedudukannya, karena hal-hal yang berkaitan dengan status badan hukum tidak akan berubah atau terganggu dengan dinyatakan dalam pasal 1 yang berbunyi :

“ La personalite juridique, acquise par une sosiete, une association ou une foundation en vertu de la loi de I’ Etat contractant on les formalites ont ete remplies et ou se trauve le s i e g e s t a t u t a i r e. Reconneu de plain droit dans les autres Etats contractant, pourvu qu,elle comporte, outré la capasite d,ester en justice, au moins la capasite d,ester en justice, au moins la capasite de posseder des biens et de passer des contract et d’autres actes juridiques. La personnalite juridique, acquise sans formalite d’enregistrement ou de publicate sera, sous la meme condition , reconnue de plein droit, si la societe, I’association ou la foundationsa ete constitutiee selon la loi qui la regit”

( Status badan hukum yang telah diperoleh oleh suatu perseroan dagang, perkumpulan atau yayasan menurut hukum dari tempat dimana telah dilangsungkan formalitas-formalitas mengenai pendiriannya, seperti pendaftaran atau pengumuman dan dimana terdapat tempat kedudukan statutairnya diakui penuh oleh negara-negara lain yang menandatangani perjanjian ini. Termasuk didalamnya kemampuan untuk bertindak sebagai pihak dalam hukum, sekurang-kurangnya kemampuan untuk mempunyai harta dan mengadakan kontrak-kontrak serta lain-lain tindakan hukum. Jika

89 Sudargo Gautama, Op cit, hal 216-217

79

dalam Negara pendirian tidak diberlakukan formalitas-formalitas tentang pendaftaran atau pengumuman untuk pembentukan badan hukum, maka pengakuan serupa diberikan pula kepada perseroan-perseroan dagang, perkumpulan dan yayasan yang telah didirikan menurut hukum yang berlaku baginya itu )90

3.2.2. Prinsip Tempat Kedudukan Manajemen yang Efektif

Prinsip ini merupakan lawan dari prinsip inkorporasi, pada prinsipnya menurut doktrin ini bahwa suatu badan hukum akan tunduk pada hukum dimana ia memiliki tempat kedudukan manajemen yang efektif, sehingga dengan demikian persoalan status personel dari suatu badan hukum akan tergantung dari dimana ia miliki kantor pusatnya secara efektif. Prinsip ini diikuti secara luas oleh negara-negara Civil Law, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa doktrin ini memiliki pengikut yang besar.91

3.2.3. Peraturan-Peraturan Yang Berkaitan Dengan Jual Beli Kapal

Dalam pelaksanaan perjanjian jual beli kapal berbendera berbendera asing tunduk pada ketentuan dalam perjanjian jual beli antar negara harus memperhatikan aturan-aturan hukum yang terkandung dalam :

a. Algemene Bepalingen van Wetgeving ( AB )

b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata ).

c. Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ( KUHDagang ) d. Ketentuan Perundang-Undangan ( hukum tertulis)

90 Sudargo Gautama, Op cit, hal 232-233

91 Ahmad M Ramli,, Op cit, hal 10

81 A. Pengertian Umum Tentang Kapal Beberapa pengertian tentang kapal yaitu :

1. Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu , yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda , termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air , serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. 92

2. Kapal Indonesia adalah kapal yang memiliki kebangsaan Indonesia sesuai dengan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.93

3. Kapal Asing adalah kapal yang berbendera selain bendera Indonesia dan tidak dicatat dalam daftar kapal Indonesia. 94

4. Pejabat Pendaftar dan Pencatat Baliknama Kapal adalah pejabat pemerintah yang berwenang menyelenggarakan pendaftaran kapal Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.95

Beberapa istilah yang ada di dalam perkapalan antara lain :

1. Surat Ukur Kapal atau Certificate of Tonnage and Measurement

92 Lihat Pasal 1 angka 36 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran

93 Lihat Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan

94 Lihat pasal 1 angka 39 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran

95 Lihat Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan

82

Merupakan suatu yang diberikan setelah diadakan pengukuran terhadap kapal oleh juru ukur atau instansi yang berwenang ( Dirjend Perhubungan Laut ), yang merupakan sertifikat pengesahan dan ukuran-ukuran dan tonase kapal menurut ketentuan yang berlaku.

Surat ukur kapal tidak berlaku lagi apabila kapal berganti nama, tidak berubah konstruksi, kapal tenggelam, terbakar, musnah dan sejenisnya,

2. Surat Tanda Pendaftaran Kapal

Surat tanda pendaftaran kapal merupakan dokumen yang menyatakan bahwa kapal telah dicatat dalam register kapal yaitu setelah memperoleh surat ukur, dimana tujuan dari pendaftaran kapal ini adalah untuk memperoleh bukti kebangsaan kapal atau status hukum kapal.

Dasar hukum dilakukan pendaftaran kapal yaitu : a. Pasal 314 KUHD

b. Peraturan Pendaftaran kapal Stbl. 1933 No.48

c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran d. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2002 tentang Perkapalan

e. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.26 Tahun 2006 tentang Penyederhanaan Sistem dan Prosedur Pengadaan Kapal dan Penggunaan /Penggantian Bendera Kapal.

f. Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS 1982) yang diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985.96

96 http://maritimeindonesia-mls.blogspot.com/2011/11/status-hukum-kapal.html#!/2011/11/status-hukum-kapal.html diakses pada tanggal 25 Mei 2012 pukul 09.OO WIB

83 3. Kebangsaan Kapal

Maksud dan tujuannya pendaftaran kapal ialah untuk mendapatkan tanda kebangsaan dan surat laut atau surat pas kapal. Terhadap kapal yang belum didaftarkan dalam register kapal tidak mungkin mendapatkan suatu bukti kebangsaan. Tanda bukti kebangsaan atau pas kapal itu merupakan hal penting karena dengan mengibarkan bendera kebangsaan dapat diketahui kebangsaan dari kapal yang bersangkutan.

Manfaat dari bukti kebangsaan kapal adalah :

a. Sebagai kekuatan hukum di dalam negara Indonesia artinya bahwa kapal sudah didaftarkan dalam register kapal, bahwa kapal itu bukan kapal asing melainkan kapal Indonesia yang tunduk pada hukum negara Indonesia.

b. Sebagai kekuatan hukum diluar negara Indonesia, meliputi: bahwa pada saat kapal berada di wilayah teritorial negara lain, diatas kapal itu tetap merupakan wilayah kedaulatan negara republik Indonesia.

Bentuk-bentuk Bukti Kebangsaan :

a. Surat Laut : diberikan kepada kapal yang besarnya 175 (GT.175) atau lebih.

b. Pas tahunan untuk kapal-kapal yang berlayar diperairan laut dengan tonase kotor 7 (GT.7) dan sampai dengan tonase kotor kurang dari 175 (<GT.7)\

c. Pas Kecil ( Pas Biru ) : Diberikan kepada kapal-kapal yang berlayar diperairan laut dengan tonase kotor kurang dari 7 ( <GT. 7)

d. Pas perairan daratan untuk kapal-kapal yang berlayar diperairan daratan. 97

97 Lihat Pasal 41 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan

84 Dasar hukum kebangsaan kapal yaitu :

a. Pasal 311 KUHD.

b. Undang-Undang no.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

c. Peraturan Pemerintah no.51 Tahun Tahun 2002 tentang Perkapalan d. Stbl 1924 no.78 tentang Penetapan Surat Laut dan Pas Kapal.

e. Stbl 1935 no.492 tentang Ordonasi Surat Laut dan Pas Kapal.

f. Stbl 1935 no.564 tentang Peraturan Surat Laut dan Pas Kapal.

g. Keputusan Menteri Perhubungan no. KM.46 Tahun 1996 tentang Sertifikasi Kelaiklautan Kapal Ikan.

h. Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS 1982) yang diratifikasi dengan Undang-Undang no. 17 Tahun 198598

4. Sertifikat Kapal Bendera Kemudahan ( Flag of Convinience)

Bendera kemudahan itu adalah kapal yang menggunakan bendera kebangsaan negara yang tidak sama dengan kebangsaan pemilik kapal tersebut.

Contoh sebuah kapal yang menggunakan bendera kemudahan itu adalah bila pemilik kapal adalah warga negara Indonesia akan tetapi kapalnya di daftarkan di Panama, jadi register kapal tersebut mempunyai register Panama.

Banyak kapal mencari bendera kemudahan itu dikarenakan :

• Pemilik kapal sengaja menghindari pajak nasional

• Menghindari peraturan-peraturan keselamatan pelayaran

• Menghindari adanya standar pelatihan dan sertifikasi untuk para pelaut.

• Menghindari peranan organisasi pelaut dalam melindungi tenaga kerja pelaut

• Membayar upah pelaut dibawah standar ITF ( International Transport workers Federation )

Ada beberapa negara yang dapat memberikan bendera kemudahan kapal antara lain : Antigua dan Barbura, Aruba, Bahamas, Belize, Bermuda, Cambidia, Canary Island, Caymand Island, Cook Island Cyprus, German International, Ship Register (GIS), Honduras, Lebanon, Liberya, Luxemburg, Malta, Marshall Island, Mauritius, Netderland Antilles, Panama, St. Vincent, Sri Langka, Tuvalu, Vanuatu, Burma, Barbados.

98 http://maritimeindonesia-mls.blogspot.com/2011/11/status-hukum-kapal.html#!/2011/11/status-hukum-kapal.html diakses pada tanggal 25 Mei 2012 pukul 09.OO WIB

85

5. Sertifikat Garis Muat Kapal ( Load Line Certificate )

Sertifikat garis muat kapal atau load line certificate adalah suatu sertifikat yang diterbitkan oleh pemerintah negara kebangsaan kapal , berdasarkan perjanjian Internasional (konvensi) tentang garis muat dan lambung Timbul ( free board ) yang memberikan pembatasan garis muat untuk tiap-tiap mengangkut lebih dari 12 orang . syarat –syarat untuk dapat diberikan Sertifikat Kapal penumpang ( Passenger Ship Safety Certificate) harus memenuhi yaitu :

a. Mengenai konstruksi kapal

b. Mengenai radio telegraphy dan/atau radio telaphony c. Mengenai garis muat kapal

d. Mengenai akomodasi bagi penumpang e. Mengenai alat-alat penolong kapal.

7. Sertifikat hapus tikus kapal ( Dreating Certificate )

Sertifikat hapus tikus kapal ( dreating certificate ) adalah sertifikat yang diberikan kepada sebuah kapal oleh Departemen Kesehatan yaitu : kesehatan pelabuhan ( port health ) setelah kapal yang bersangkutan di semprot dengan uap campuran belerang (cyanida) dan telah diteliti tidak terdapat tikus di kapal atau relatif sudah sangat sedikit.

8. Surat – surat Kapal Yang Lain

Kapal yang datang dari laut dengan membawa muatan dan/atau penumpang, nakhoda sudah membuat dan menyiapkan dokumen kapal yang lain seperti :

• Passengers list adalah daftar nama penumpang

86

• Harbour report ( warta kapal ) yang berisikan suatu keterangan mengenai kapal, mauatn, air tawar, bahan bakar penumpang, ada tidaknya senjata api dikapal, tempat berlabuh dan tempat sandar.

• International Declaration of Health adalah suatu pernyataan bahwa kapal sehat, tidak tersangka dan tidak terjangkit suatu penyakit menular.

• Daftar/ sijil awak kapal adalah buku yang beriksi daftar nama dan jabatan anak kapal / mereka yang melakukan tugas diatas kapal yang harus diketahui dan disahkan oleh syahbandar. 99

B. Tinjauan Umum Tentang Status Kapal

1. Status Hukum Kapal Sebagai Benda Tetap

Kapal merupakan benda yang dapat dijadikan obyek jaminan hutang. Menurut ketentuan pasal 314 ayat 1 dan pasal 314 ayat 3 KUHDagang, hipotik dapat dibebankan pada kapal-kapal yang dibukukan dalam register kapal dan memiliki bobot isi kotor minimal 20 M³. Dengan demikian kapal dengan kondisi seperti ini dikategorikan sebagai benda tetap dan jika dijaminkan, lembaga yang digunakan adalah Hipotik. Sedangkan untuk kapal-kapal yang tidak terdaftar menggunakan lembaga jaminan gadai atau fidusia, karena merupakan benda bergerak.100

Yang termasuk dalam jaminan hipotik adalah kapal termasuk dengan segala alat perlengkapannya karena merupakan satu kesatuan dengan benda pokoknya.

Undang-undang nomor 17 tahun 2008, tentang Pelayaran, di dalam pasal 60-64 diatur mengenai hipotik kapal, namun peraturan pelaksananya belum dibuat sehingga masih mengacu pada PP no 51 tahun 2002 pasal 33-36. Mengenai Hipotik Kapal ini awalnya diatur dalam KUHPerdata dan KUHDagang . Pada asasnya berdasarkan

99 http :// Pelayaran.net/tag/jual-beli-kapal/ , diakses pada tanggal 31 Januari 2012 pukul 21.00 WIB

100 www.scribd.com/doc/74772206/File, diakses pada tanggal 25 Mei 2012 pukul 09 WIB

87

ketentuan Pasal 510 KUH Perdata, kapal-kapal, perahu-perahu, perahu tambang, gilingan-gilingan dan tempat-tempat pemandian yang dipasang di perahu atau yang berdiri, terlepas dari benda-benda sejenis itu merupakan benda bergerak.

Pengecualian bagi kapal-kapal yang terdaftar, statusnya bukanlah benda bergerak akan tetapi dapat dikategorikan menjadi benda tetap.

2. Kapal Bekas Asing Yang Dapat Dijadikan Sebagai Objek Transaksi

Kapal yang berasal dari luar negeri yang ingin didaftarkan menjadi kapal berbendera Indonesia dibatasi oleh pemerintah hanya berlaku terhadap kapal yang berukuran kotor 20 M3/ GT 7 atau lebih dan dimiliki oleh warga negera Indonesia atau badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.101

Dari ketentuan tersebut terhadap kapal yang berasal dari luar negeri yang berukuran kotor kurang dari 20 M3 /GT 7 atau yang tidak dapat diikat dengan hipotik kapal tidak diizinkan untuk didaftarkan menjadi kapal berkebangsaan Indonesia. Hal ini juga untuk melindungi pengusaha yang bergerak pembuatan kapal berukuran GT 7 kebawah yang ada di Indonesia dapat berkembang dalam rangka menumbuh kembangkan perusahaan pelayaran nasional Indonesia.

101 Pasal 2 ayat (1 dan 2 ) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 26 tahun 2006.

88

Ketentuan ini tidak hanya berlaku terhadap bekas kapal asing yang dibeli oleh pengusaha nasional akan tetapi juga berlaku terhadap kapal kapal baru yang pembangunannya dilakukan di luar negeri.

Dalam hal pengadaan kapal yang berasal dari luar negeri maupun kapal baru yang dibangun diluar negeri tidak diperlukan izin akan tetapi harus memenuhi persyaratan baku yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti ; telah terpenuhinya persyaratan keselamatan kapal dan pecegahan pencemaran dari kapal serta memiliki dokumen yang sah dan masih berlaku dari negara asal kapal.102

C. Pelaksanaan Jual Beli Kapal Berbendera Asing di Batam

Hal yang paling penting diperhatikan oleh para pihak di dalam membuat perjanjian termasuk dalam perjanjian jual beli kapal adalah syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata, yang pada intinya mengatur tentang :

1. Kesepakatan para pihak;

2. Kecapakan;

3. Objek tertentu 4. Sebab yang halal

Perjanjian jual beli kapal berbedera asing yang transaksinya dilakukan di Batam, harus mengikuti ketentuan yang diatur berdasarkan ketentuan hukum Perdata Internasional Indonesia, hal ini disebabkan karena adanya unsur asing

102 Lihat pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 26 tahun 2006.

89

yang dilibatkan didalam perjanjian, dimana antara para pihak mempunyai ketentuan atau sistem hukum yang berlainan. Harus memperhatikan Choice of Law ataupun ketentuan forum yang menjadi pilihan bagi para pihak dalam menyelasaikan perkara seandainya terjadinya wanprestasi dari salah satu pihak yang mengikatkan diri.

Dalam perjanjian jual beli kapal berbendera asing di Batam, para pihak bebas mengadakan suatu perjanjian, sesuai dengan asas Asas Pacta Sunt Servanda (perjanjian merupakan undang-undang bagi yang membuatnya), dan asas kebebasan berkontrak dalam pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Para pihak bebas memuat kontrak dan mengatur sendiri klausula perjanjian diantara mereka, sepanjang mernenuhi ketentuan sebagai berikut :

a. Memenuhi syarat sebagai suatu kontrak b. Tidak dilarang oleh undang-undang c. Sesuai dengan kebiasaan yang berlaku

d. Sepanjang kontrak tersebut dilaksanakan dengan iktikad baik 103

Perjanjian jual beli kapal bekas berbendera asing dalam proses pelaksanaannya sangat erat kaitannya dengan ketentuan-ketentuan pendaftaran kapal karena setelah terjadinya proses peralihan hak sudah merupakan suatu keharusan bagi pemilik baru untuk melakukan pendaftaran kapal tersebut guna untuk menetapkan status hukum terhadap kapal.

103 Munir Fuady, Hukum Kontrak, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal 30

90

Pengadaan kapal untuk didaftarkan sebagai berbendera kebangsaan Indonesia dapat dilakukan dengan cara memasukkan kapal dari luar negeri baik kapal bangunan baru maupun kapal bekas berbendera asing.104 Pengadaan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak diperlukan izin namun wajib memenuhi persyaratan keselamatan kapal dan pencegahan pencemaran dari kapal, serta wajib memiliki dokumen kapal yang sah dan masih berlaku dari negara bendera asal kapal.105

Kapal yang dapat didaftar sebagai kapal berbendera Indonesia adalah Kapal dengan ukuran 20 M3 /tonase 7 (GT 7 ) atau lebih, dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.106

Pemilik kapal bekas berbendera asing yang akan diganti bendera dan akan didaftarkan sebagai kapal berbendera Indonesia harus memberitahukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut dengan melampirkan :

a. Bukti pembayaran (Bill of Sale) yang dilegalisasi oleh notaris atau oleh pejabat pemerintah yang berwenang dari negara bendera asal berada;

b. Berita acara serah terima kapal ( Protocol of Delivery and Acceptance) c. Surat keterangan penghapusan (Deletion Certificate ) yang diterbitkan

oleh negara bendera asal kapal;

d. Surat dan sertifikat yang diterbitkan oleh negara bendera asal kapal;

dan

e. Gambar rancang umum bangunan kapal (General Arrangement/ GA)107

104 Lihat pasal 1 ayat (1) Peraturan menteri Perhubungan Nomor: KM. 26 tahun 2006

105 Lihat pasal 1 ayat (2) Peraturan menteri Perhubungan Nomor: KM. 26 tahun 2006

106Lock cit

107 Lihat Pasal 7 ayat (1) Peraturan menteri Perhubungan Nomor: KM. 26 tahun 2006

91

Kalau diperhatikan ketentuan diatas, dalam huruf (a) bahwa “yang dilegalisasi oleh notaris atau oleh pejabat pemerintah yang berwenang dari negara bendera asal berada” ini ditujukan terhadap kapal asing yang dibeli oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia yang dilakukan di luar yurisdiksi Indonesia kemudian di daftarkan untuk menjadi kapal berbendera Indonesia.

Ketentuan ini tidak berlaku terhadap kapal bekas asing yang transaksinya dilakukan di wilayah hukum Indonesia khususnya Batam karena untuk proses kontrak jual belinya dilakukan dihadapan notaris yang ada dalam wilayah kerja Batam.

Terhadap jual beli yang dilakukan oleh badan hukum, harus mendapatkan surat persetujuan tetulis dari Dewan Komisaris dan Direksi, baik persetujuan biasa ataupun yang dituangkan dalam Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang nantinya dapat dijadikannya dasar untuk dilakukannya kontrak jual beli dan pendaftaran kapal. Tanpa adanya persetujuan berarti pembelian terhadap kapal tersebut dilakukan secara pribadi tanpa melibatkan perusahaan. Dampak dari tidak adanya persetujuan tersebut akan sangat berpengaruh dalam penetapan pajak yang akan dikenakan terhadap perjanjian jual beli yang dibuat oleh para pihak.

Hal ini dapat kita lihat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan berbunyi :

Pasal 24

1. Pendaftaran hak milik atas kapal harus dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut :

92 a. Bukti kepemilikan

b. Identitas pemilik; dan c. Surat Ukur

2. Kapal yang dibeli atau diperoleh dari luar negeri dan sudah terdaftar di negara asal, selain dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilengkapi pula dengan surat keterangan penghapusan dari daftar kapal yang diterbitkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan. 108

Kalau diperhatikan ketentuan dari pasal 24 ayat (1 dan 2) Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2002, bahwa terhadap kapal berbendera asing yang transaksinya dilakukan di wilayah hukum Indonesia di wajibkan untuk melakukan pencabutan/ penghapusan kebenderaan kapal tersebut dimana kapal tersebut terdaftar sebelumnya. Kewajiban pencabutan kebenderaan kapal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik kapal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku menurut bendera asal kapal tersebut di daftarkan serta harus di legalisasi oleh notaris atau pejabat pemerintah yang berwenang di negara bendera asal kapal.109

Kewenangan untuk melakukan kontrak jual beli kapal bekas asing yang dilakukan dalam wilayah hukum Indonesia tidak ada diatur secara rinci dalam UU Nomor 17 tahun 2008, Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2002 ataupun dalam Peraturan Menteri perhubungan KM. 26 tahun 2006, hal ini hanya sesuai dengan penalaran menurut hukum saja.

Walaupun tidak ada ketentuan undang-undang yang mengharuskan diadakannya perjanjian atau kontrak jual beli kapal di depan notaris, akan tetapi

108Pasal 24 ayat (1 dan 2), Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2002 tentang Perkapalan.

109 ibid

93

merujuk kepada ketentuan pasal 7 huruf (a) Peraturan Menteri Perhubungan nomor : KM. 26 tahun 2006, untuk pendaftaran kapal dengan melampirkan bukti Pembayaran (Bill of Sale) yang dilegalisasi oleh notaris atau pejabat pemerintah yang berwenang dari negara asal kapal. Disini terlihat bahwa proses jual beli yang dilakukan di luar negeri dilakukan dihadapan notaris atau dihadapan pejabat pemerintah yang berwenang di negara bendera asal kapal, maka untuk transaksi jual beli yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia dapat juga melibatkan notaris sebagai pejabat publik.

Akta jual beli yang dibuat dihadapan notaris oleh para pihak dapat dijadikan sebagai alat bukti kepemilikan bekas kapal berbendera asing tersebut untuk dapat didaftarkan sebagai dasar untuk diterbitkannya akte pendaftaran dan groose akte kapal sebagai penganti bukti pembayaran ( Bill of sale) , Berita Acara serah terima kapal ( Protocol of Delivery and Acceptance ), untuk kepemilikan yang baru selain persyaratan sebagaimana yang terdapat dalam pasal 7 huruf( b, c, d dan e) Peraturan Menteri Perhubungan nomor : KM. 26 tahun 2006.110

Perjanjian jual-beli kapal yang dilakukan di daerah Batam (Kepulauan Riau) dalam prakteknya banyak dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1. Perjanjian jual belinya dibuat dihadapan notaris selaku pejabat yang berwenang membuat akta autentik .

110Lihat pasal 7 huruf (b,c,d dan e) Peraturan Menteri Perhubungan nomor : KM.26 tahun 2006.

94 2. Dibuat dengan akta dibawah tangan. 111

Dalam prakteknya hanya sedikit yang melakukannya perjanjian dibawah tangan mengingat akibat-akibat hukum yang ditimbulkannya masih dapat disangkal oleh para pihak yang ada dalam perjanjian dan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah sangat kenal sekali dan mempunyai hubungan bisnis yang sudah lama sehingga masing-masing pihak sudah mengenai akan karakter masing-masing.112

Persyaratan yang utama di dalam pendaftaran kapal terletak pada : bukti pembayaran ( Bill of sale) , Berita Acara serah terima kapal ( Protocol of Delivery and Acceptance ), Surat keterangan penghapusan (Deletion Certificate ) serta Surat dan Sertifikat yang diterbitkan oleh negara bendera asal kapal. Karena dengan

Persyaratan yang utama di dalam pendaftaran kapal terletak pada : bukti pembayaran ( Bill of sale) , Berita Acara serah terima kapal ( Protocol of Delivery and Acceptance ), Surat keterangan penghapusan (Deletion Certificate ) serta Surat dan Sertifikat yang diterbitkan oleh negara bendera asal kapal. Karena dengan

Dalam dokumen ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN JUAL BELI KAPAL BERBENDERA ASING DI BATAM TESIS. Oleh ZULKARNAIN /MKn (Halaman 77-117)