MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK
B. Prinsip-Prinsip Dalam Sistim Peradilan Pidana Anak
Pasal 1 angka 1 Pasal 2 UU RI No.11/2012, menentukan pengertian yang dimaksud dengan Sistim Peradilan Pidana Anak (SPPA) adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. Ada tiga kategori anak yang berhadapan dengan hukum, yaitu: anak yang berkonflik dengan hukum atau anak sebagai pelaku tindak pidana; anak yang menjadi korban tindak pidana; dan anak sebagai saksi tindak pidana.
Prinsip-prinsip yang perlu diketahui dan dipahami dalam sistim peradilan pidana anak ditentukan di dalam Pasal 2 UU RI No.11/2012 Tentang Sistim Peradilan Pidana Anak. Sistem Peradilan Pidana Anak dilaksanakan berdasarkan asas:
1. Perlindungan.
2. Keadilan.
3. Nondiskriminasi.
4. Kepentingan terbaik bagi anak.
5. Penghargaan terhadap pendapat anak.
6. Kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak.
7. Pembinaan dan pembimbingan anak.
8. Proporsional.
9. Perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir.
10. Penghindaran pembalasan.
Prinsip perlindungan hukum menghendaki peraturan perundang-undangan yang ada diharapkan mampu sebagai alat untuk memberikan perlindungan berbagai kepentingan. Perlindungan hukum merupakan tindakan memberi pelayanan hak asasi
manusia yang diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati haknya yang diberikan oleh hukum.108
Perlindungan hukum memberikan pengayoman akan hak asasi manusia yang dirugikan orang lain agar mereka dapat menikmati hak-hak yang diberikan oleh hukum. Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan kekuasaan kepada negara untuk bertindak secara terukur dan seimbang.109
Perlindungan hukum tidak terlepas dari sistim hukum yang berlaku dalam suatu negara. Sistim hukum di Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945. Sektor hukum nasional bersumber pada Pancasila dan UUD Tahun 1945.
Perlindungan hukum dalam konstitusi ditemukan di alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, rumusan, “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia...”.
Kalimat “segenap bangsa Indonesia” menyangkut sila ke-3 Pancasila, persatuan seluruh bangsa Indonesia. Kata “melindungi” berarti perlindungan hukum bagi setiap warga negara Indonesia, tanpa membeda-bedakan suku, agama, jenis kelamin laki-laki atau perempuan, kaya, maupun miskin. Ini sebagai salah satu ciri dari negara hukum yaitu perlindungan terhadap hak asasi manusia. Melindungi segenap bangsa Indonesia pada hakikatnya menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara hukum.
108 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 54.
109 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hal. 53.
Perlindungan hukum terhadap anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.110 Konsep perlindungan hukum terhadap anak, merupakan konsep perlindungan khusus yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, antara lain adalah anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang berkonflik dengan hukum, dan anak sebagai korban kekerasan baik fisik dan/atau mental.111
Prinsip keadilan merupakan jantungnya hukum. Prinsip keadilan dalam sistim peradilan pidana anak sangat lah penting, tanpa nilai-nilai dan rasa keadilan, maka hukum perlindungan anak dalam peradilan tidak berguna. Tentu, untuk menegakkan prinsip keadilan ini harus dilakukan secara berhati-hati, dengan pemahaman yang mendalam tentang apa yang disebut adil dan tidak adil, karena keadilan itu terdiri dari distributive justice, comutative justice, legal justice.
Aristoteles telah membagi keadilan ini ke dalam tiga jenis keadilan, yaitu distributif (distributive justice), keadilan komutatif (comutative justice), dan keadilan hukum (legal justice). Jika keadilan distributif dan keadilan komutatif tidak juga bisa
110 Pasal 1 angka 2 UU RI No.35/2014 Tentang Perubahan atas UU RI No.23/2002 Tentang Perlindungan Anak.
111 Pasal 1 angka 15 UU RI No.35/2014 Tentang Perubahan atas UU RI No.23/2002 Tentang Perlindungan Anak, menentukan, perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.
menimbulkan apa yang disebut adil bagi mereka, maka diperlukan keadilan korektif (corrective justice) dengan mengajukan tuntutan di hadapan hakim pengadilan untuk memperoleh keadilan hukum (legal justice).112
Equality proporsional (distributive justice) memberi setiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan prestasinya, dan sebagainya.113 Jika prinsip keadilan komutatif (comutative justice) adalah equality before the law principle, maka prinsip distributive justice mengenai equality adalah korelasi dengan prinsip etika / moral, dan prinsip manfaat (utilitas).
Prinsip distributive justice ini tidak melihat keadilan sebagai equality before the law principle, tapi dalam konteks tanggung jawab moral dan utility, sehingga harus ada produk keadilan yang tidak sama rata, tapi proporsional. Oleh karena itu, hakim pengadilan harus menjunjung tinggi prinsip-prinsip moral dalam memidana seseorang, bukan hanya melihat keadilan equality before the law, tapi yang paling sulit adalah menerapkan keadilan equality proporsional (distributive justice).
Prinsip nondiskriminasi dalam sistim peradilan pidana anak adalah tidak dibenarkan memperlakukan anak yang berhadapan dengan hukum dengan perlakuan yang berbeda didasarkan pada suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, serta kondisi fisik dan/atau mental.
112 Aristoteles, The Nicomachean Ethics, (New York: Oxford University Press Inc, 2009), hal.
111.
113 Carl Joachim Friedrich, Terjemahan: Raisul Muttaqien, Filsafat Hukum Perspektif Historis, (Bandung: Nusa Media, 2010), hal. 25.
Memperlakukan anak yang berhadapan dengan hukum dengan perlakuan yang berbeda memang harus diakui sebagai esensi dari nilai-nilai hukum pidana itu sendiri.
Tapi, yang dilarang dalam pembedaan ini adalah didasarkan atas suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, serta kondisi fisik dan/atau mental.
Membedakan hukuman antara pelaku anak dan korban anak adalah wajar, misalnya pelaku anak dihukum dengan tindakan (maatregel) di LPKS milik pemerintah, sedangkan korban anak diberi tindakan (maatregel) dengan cara perawatannya di lembaga lain, atau diserahkan kepada orang tuanya dengan konsekuensi tertentu seperti ganti rugi dari pelaku ke korban, dan lain-lain.
Prinsip kepentingan terbaik bagi anak adalah segala pengambilan keputusan harus selalu mempertimbangkan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak.
Oleh sebab itu, setiap anak yang berhadapan dengan hukum, seperti pelaku anak dan korban anak tidak harus dipaksakan untuk diberi hukuman atau pembalasan. Harus pula diperhatikan kualifikasi perbuatannya, berat atau ringan, residivis atau tidak, disengaja atau lalai, dan lain-lain, sehingga dengan itu, kepentingan terbaik untuk anak dapat diputuskan.
Situasi dan kondisi anak yang berhadapan dengan hukum haruslah melihatnya sebagai orang yang sakit, butuh perawatan dan pemulihan, serta dihubungkan dengan masa depannya dan masa depan bangsa. Dengan demikian, hakim pengadilan tidak boleh hanya mementingkan kepentingan terbaik salah satu subjek anak ketika korban
anak dan pelaku anak dalam satu perkara secara bersamaan sama-sama berstatus anak di bawah umur.
Penghargaan terhadap pendapat anak adalah prinsip penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan, terutama jika menyangkut hal yang memengaruhi kehidupan anak.
Seperti, halnya anak yang berhadapan dengan hukum, mengatakan penyesalannya dan memintaa maaf tidak akan mengulangi perbuatan kriminal, maka pendapat anak tersebut yang memilih alternatif sesuai keinginannya harus dipertimbangkan hakim.
Kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak adalah prinsip hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua. Oleh karenanya, tanggung jawab terhadap anak, bukan hanya sebagai tanggung jawab dirinya sendiri atau orang tuanya, melainkan semua stakeholders juga turut bertanggung jawab meliputi, negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tuanya.
Prinsip pembinaan meliputi segala kegiatan untuk meningkatkan kualitas, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani anak, baik di dalam maupun di luar proses peradilan pidana. Prinsip pembimbingan anak adalah pemberian tuntunan untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani klien pemasyarakatan.
Prinsip proporsional adalah segala perlakuan terhadap anak harus memperhatikan batas-batas keperluan, umur, dan kondisi anak. Sehingga apa yang telah disinggung mengenai equality proporsional (distributive justice) dapat memberi perhatian dan keputusan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum secara proporsional sesuai dengan kepentingan terbaik dari masing-masing pelaku anak maupun korban anak.
Prinsip perampasan kemerdekaan merupakan upaya terakhir. Prinsip ini dalam sistim peradilan pidana pada dasarnya memandang bahwa hak-hak anak tidak dapat dirampas kemerdekaannya secara paksa, dengan mengedepankan primum remedium, kecuali terpaksa guna kepentingan penyelesaian perkara sebagai jalan terakhir (ultimum remedium).
Penghindaran pembalasan adalah prinsip menjauhkan upaya pembalasan dalam proses peradilan pidana. Dengan kata lain, restorative justice harus menjadi alternatif, baik di dalam pengadilan maupun di luar pengadilan. Retributive justice atau konsep pembalasan terhadap pelaku kejahatan merupakan konsep yang salah jika diterapkan kepada anak yang berhadapan dengan hukum, baik ia sebagai pelaku, korban, maupun sebagai saksi.
C. Ketentuan Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Sebagai Korban dan