BAB II : LANDASAN TEORITIS
4. Prinsip-Prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam
nilai tambah diantara beberapa jenis ibadah. Dengan demikian, Islam memandang amat tinggi terhadap usaha dan kerja yang halal dalam rangka memperoleh riski atau harta yang digunakan untuk amal kebaikan.113 Dengan demikian, etos kerja Islam pada hakikatnya merupakan bagian dari konsep Islam tentang manusia karena etos kerja adalah bagian dari proses eksistensi diri manusia dalam lapangan kehidupannya yang amat luas dan kompleks.114
4. Prinsip-Prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam
Sebagai agama yang menekankan arti penting amal dan kerja, Islam mengajarkan bahwa kerja itu harus dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip berikut :
1. Bahwa perkerjaan itu dilakukan berdasarkan pengetahuan sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam QS. Al-Isra [17] ayat 36 sebagaiberikut :
Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.115
2. Pekerjaan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian sebagaimana dapat dipahami dari ḥadīṡ Nabi Saw,
ُ ف اَنَ ثَّدَح َلاَق ٍناَنِس ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح
ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح َلاَق ِرِذْنُمْلا ُنْب ُميِهاَرْ بِإ ِنَِثَّدَح و ح ٌحْيَل
َ ب َلاَق َةَرْ يَرُه ِبَِأ ْنَع ٍراَسَي ِنْب ِءاَطَع ْنَع ٍ يِلَع ُنْب ُل َلاِه ِنَِثَّدَح َلاَق ِبَِأ ِنَِثَّدَح َلاَق ٍحْيَلُ ف
اَمَنْ ي
َسَو ِهْيَلَع َُّللَّا ىَّلَص ُِّبَِّنلا
ُلوُسَر ىَضَمَف ُةَعاَّسلا َتََم َلاَقَ ف ٌِّبِاَرْعَأ ُهَءاَج َمْوَقْلا ُثِ دَُيُ ٍسِلَْمج ِفي َمَّل
ْعَ ب َلاَقَو َلاَق اَم َهِرَكَف َلاَق اَم َعَِسَ ِمْوَقْلا ُضْعَ ب َلاَقَ ف ُثِ دَُيُ َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللَّا ىَّلَص َِّللَّا
َْلَ ْلَب ْمُهُض
َّتََح ْعَمْسَي
اَذِإَف َلاَق َِّللَّا َلوُسَر َيا َنََأ اَه َلاَق ِةَعاَّسلا ْنَع ُلِئاَّسلا ُهاَرُأ َنْيَأ َلاَق ُهَثيِدَح ىَضَق اَذِإ
113Ahmad Janan Asifuddin, Etos Kerja Islam …, , h. 7.
114Moh. Ali Azis, Dakwah Pemberdayaan Masyarakat (Yogyakarta : PT LKiS Pelangi
Aksara, 2015), h. 35.
47
َف ِهِلْهَأ ِْيرَغ َلىِإ ُرْمَْلأا َدِ سُو اَذِإ َلاَق اَهُ تَعاَضِإ َفْيَك َلاَق َةَعاَّسلا ْرِظَتْ ناَف ُةَناَمَْلأا ْتَعِ يُض
ِظَتْ نا
ْر
َةَعاَّسلا
.
116Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih. Dan telah diriwayatkan pula ḥadīṡ serupa dari jalan lain, yaitu Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku berkata, telah menceritakan kepadaku Hilal bin Ali dari Atho' bin Yasar dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi SAW berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: "Kapan datangnya hari kiamat?" Namun Nabi SAW tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; "beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, “dan ada pula sebagian yang mengatakan; "bahwa beliau tidak mendengar perkataannya”. Hingga akhirnya Nabi SAW menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata : "Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?" Orang itu berkata : "saya wahai Rasulullah!". Maka Nabi SAW bersabda: "Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi SAW menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat".
3. Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.”117 Dalam Islam, amal atau kerja itu juga harus
116Abī Abd Allah Muḥammad bin Ismail al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī ..., nomor ḥadīṡ 57. Jilid 1, h. 31.
48
dilakukan dalam bentuk ṣālih sehingga dikatakan amal ṣālih , yang secara harfiah berarti sesuai, yaitu sesuai dengan standar mutu.
4. Pekerjaan itu diawasi oleh Allah, Rasul dan masyarakat, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.”118
5. Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi itu digambarkan oleh sebuah ḥadīṡ sebagai orang yang tetap menaburkan benih sekalipun hari akan kiamat, sebagaimana dalam keumuman HR. Ahmad :
َلاَق ٍكِلاَم ِنْب ِسَنَأ ْنَع ٍماَشِه ْنَع َةَمَلَس ُنْب ُداََّحَ اَنَ ثَّدَح ٌعيِكَو اَنَ ثَّدَح
َُّللَّا ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َلاَق
َسَو ِهْيَلَع
اَهْسِرْغَ يْلَ ف ٌةَلْسَف ِهِدَي ِفيَو ُةَماَيِقْلا ْمُكِدَحَأ ىَلَع ْتَماَق ْنِإ َمَّل
.
119Artinya : Telah menceritakan kepada kami Wakī' telah menceritakan kepada kami Ḥammad bin Salamah dari Hisyam dari Anas bin Mālik berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya”.
6. Orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah ia kerjakan. Ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep imbalan bukan hanya berlaku untuk pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam Alqur’ān ditegaskan bahwa: “Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.”120 Dalam ḥadīṡ Nabi dikatakan :
118QS. At-Taubah [9] ayat 105
119Abū Abd Allah Aḥmad bin Muḥammad Ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, (Riyāḍ : Bait al-Afkār ad-Dauliyyah, 1998), Jilid III, h. 183, 184, 191.
49
ِراَضُم ُنْب ُناَديِس ِنَِثَّدَح
ٌقوُدَص َوُه ُّيِرْصَبلا ٍرَشْعَم وُبَأ اَنَ ثَّدَح ،ُّيِلِهاَبلا ٍدَّمَُمُ وُبَأ ٍب
َةَكْيَلُم ِبَِأ ِنْبا ِنَع ،ٍكِلاَم وُبَأ ِسَنْخَلأا ُنْب َِّللَّا ُدْيَ بُع ِنَِثَّدَح :َلاَق ،ُءاَّرَ بلا َديِزَي ُنْب ُفُسوُي
،
ْصَأ ْنِم اًرَفَ ن َّنَأ :ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع
ْوَأ ٌغيِدَل ْمِهيِف ،ٍءاَِبِ اوُّرَم َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِِبَِّنلا ِباَح
ْوَأ اًغيِدَل ًلاُجَر ِءاَلما ِفي َّنِإ ،ٍقاَر ْنِم ْمُكيِف ْلَه :َلاَقَ ف ،ِءاَلما ِلْهَأ ْنِم ٌلُجَر ْمَُلَ َضَرَعَ ف ،ٌميِلَس
َ ف ،ْمُهْ نِم ٌلُجَر َقَلَطْناَف ،اًميِلَس
َلىِإ ِءاَّشلِبا َءاَجَف ،َأَرَ بَ ف ،ٍءاَش ىَلَع ِباَتِكلا ِةَِتحاَفِب َأَرَق
َيا :اوُلاَقَ ف ،َةَنيِدَلما اوُمِدَق َّتََح ،اًرْجَأ َِّللَّا ِباَتِك ىَلَع َتْذَخَأ :اوُلاَقَو َكِلَذ اوُهِرَكَف ،ِهِباَحْصَأ
اًرْجَأ َِّللَّا ِباَتِك ىَلَع َذَخَأ ،َِّللَّا َلوُسَر
:َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َلاَقَ ف ،
«
اَم َّقَحَأ َّنِإ
َِّللَّا ُباَتِك اًرْجَأ ِهْيَلَع ُْتُْذَخَأ
»
121“Sesuatu yang paling berhak untuk kamu ambil imbalan atasnya adalah Kitab Allah.” Jadi, menerima imbalan atas jasa yang diberikan dalam kaitan dengan Kitab Allah; berupa mengajarkannya, menyebarkannya, dan melakukan pengkajian terhadapnya, tidaklah bertentangan dengan semangat keikhlasan dalam agama.
7. Berusaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya: jika tujuannya tinggi (seperti tujuan mencapai riḍā Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti, hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka), maka setingkat itu pulalah nilai kerjanya tersebut.122 Sabda Nabi Saw itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh
121Aḥmad bin Alī bin Hajar al-‘Asqalanī, Fatḥ al-Bārī (t.tp. : al-Maktabah as-Salafiyah, t.t.), jilid XII, h. 24.
122al-Sayyīd ‘Abd al-Raḥīm, Hidāyat al-Bārī ilā Tartīb al-Aḥadīṡ al-Bukhārī, 2 Jilid (Kairo : Maktabat Tijariyah Kubrā, 1353 H), Jilid. 1, h. 220-221; dan Ḥafīẓ Munżirī, Mukhtaṣar Ṣaḥīḥ Muslim, 2 Jilid (Kuwait : Wazarāt Awqāf wa Syu’ūn al-Islāmiyyah, 1388 H/1969 M), Juz 2, h. 47. (ḥadīṡ nomor 1080). Sebuah ḥadīṡ yang amat terkenal, “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya (ditujukan) kepada (riḍa) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (riḍa) Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya”.
50
seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya. Dan komitmen atau niat adalah suatu bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya. Oleh karena itu komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, atau, jika ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.
8. Ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan. Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) karena berpikir baginya bentuk wujud manusia maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.”123 Pandangan ini sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri: “Belumkah ia (manusia) diberitahu tentang apa yang ada dalam lembaranlembaran suci (Nabi (Musa)? Dan Nabi Ibrahim yang setia? Yaitu bahwa seseorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain. Dan bahwa tidaklah bagi manusia itu melainkan apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan bahwa kepada Tuhanmu lah tujuan yang penghabisan”.124 Itulah yang dimaksudkan dengan ungkapan bahwa, kerja adalah bentuk eksistensi manusia. Yaitu bahwa harga manusia, yakni apa yang dimilikinya tidak lain ialah amal perbuatan atau kerjanya itu. Manusia ada karena amalnya, dengan amalnya yang baik itu manusia mampu mencapai harkat yang setinggi-tingginya, yaitu bertemu Tuhan dengan penuh keridlaan. “Barang siapa benar-benar mengharap bertemu Tuhannya, maka hendaknya ia berbuat baik, dan hendaknya dalam
123Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta : Paramadina, 2012), h. 417.
51
beribadat kepada Tuhannya itu ia tidak melakukan syirik,”125 (yakni, mengalihkan tujuan pekerjaan selain kepada Allah, Sang Maha Benar, al-Haqq, yang menjadi sumber nilai terdalam pekerjaan manusia). Dalam ajaran Islam, beramal dengan semangat penuh pengabdian yang tulus untuk mencapai keridlaan Allah dan meningkatan taraf kesejahteraan hidup umat adalah fungsi manusia itu sendiri sebagai khalifat Allah fi al-Arḍ. Dalam beramal, zakat misalnya, bisa dimanfaatkan hasilnya untuk keperluan yang bersifat konsumtif, seperti menyantuni anak yatim, janda, orang yang sudah lanjut usia, cacat fisik atau mental dan sebagainya, secara teratur per bulan, atau sampai akhir hayatnya, atau sampai mereka mampu mandiri dalam mencukupi kebutuhan pokok hidupnya. Selain itu, hasil zakat bisa pula digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif, seperti pemberian bantuan keuangan sebagai modal usaha bagi fakir miskin yang mempunyai keterampilan tertentu dan mau berusaha serta bekerja keras. Hal ini untuk membebaskan mereka dari keterpurukan taraf hidupnya sehingga bisa mandiri. Hasil zakat bisa pula digunakan untuk mendirikan pabrik-pabrik dan proyek-proyek yang profitable dan hasilnya disalurkan untuk pos- pos yang berhak menerimanya. Pabrik-pabrik dan proyek lain yang dibiayai dengan hasil zakat dalam penerimaan tenaga kerja harus memberi prioritas kepada fakir miskin yang telah diseleksi dan telah diberikan pendidikan keterampilan yang sesuai dengan lapangan kerja yang telah tersedia.
9. Menangkap pesan dasar dari sebuah ḥadīṡ ṣaḥīḥ yang menuturkan sabda Rasulullah Saw yang berbunyi “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah SWT dari pada orang mukmin yang lemah, meskipun pada kedua-duanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah. Jika sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah berkata: “Andaikan aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu”. Sebaliknya berkatalah: “Ketentuan (qadar) Allah, dan apa pun yang