• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Ekonomi Islam

2. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

48Veithzal Rivai dan Andi Buchari, Islamic Economic, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal 11.

49Asyari, Ekonomi Islam, (Bukittinggi:STAIN Syaech M Djamil Djambek, 2003), hal 3

49

Berdasarkan dari definisi di atas terdapat berbagai prinsip yang harus di pegang teguh dalam menjalankan ekonomi Islam yang terdiri dari:50

a. Tauhid

Tauhid merupakan fondasi ajaran Islam, dengan tauhid manusia menyaksikan bahwa “Tiada sesuatupun yang layak disembah melainkan Allah”, dan “tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain dari pada Allah” karena Allah adalah pencipta alam semesta isinya dan sekaligus pemilik, termasuk pemilik manusia dan seluruh sumberdaya yang ada.

Dalam Islam segala sesuatu tidak ada diciptakan dengan sia-sia, semua memiliki tujuan. Manusia diciptakan untuk beribadah kepadaNya, karena itu segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan alam semesta maupun bermu’amalah haruslah dibingkai dengan hubungan kepada Allah. Sebab, manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan bisnis.

Karena hal itu lah segala aktivitas yang ada hubungannya dengan alam (sumber daya) dan manusia dibingkai dalam kerangka hubungan dengan Allah. Karena kepada-Nya lah kita akan mempertanggungkan semua perbuatan kita, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan bisnis.

50Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013), hal 25.

50 b. ‘Adl

Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan salah satu sifat-Nya adalah adil. Dan tidak membedakan perlakuan terhadap makhluk-Nya. Allah juga memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Islam mendefinisikan adil sebagai “tidak menzhalimi dan tidak dizhalimi”. Dalam hal ini seperti pelaku ekonomi tidak diperbolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam.

Keadilan juga harus diwujudkan dalam mengalokasikan sejumlah hasil kegiatan ekonomi bagi orang yang tidak mampu memasuki pasar, sehingga hasil ekonomi dapat didistribusikan melalui zakat, infak dan hibah.51

Tanpa keadilanpun manusia akan terklasifikasi dalam berbagai golongan, sebab golongan yang satu akan menzalimi golongan yang lain, sehingga tejadi perkelahian antara manusia atas manusia.

c. Nubuwwah

Allah mengutus Rasulullah sebagai panduan bagi umat manusia serta untuk menyampaikan petunjuk dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup yang baik dan benar.

Sehingga Rasulullah menjadi suritauladan bagi umat manusia sehingga mendapatkan keselamatan di dunia maupun akhirat.

51Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 5.

51

Adapun sifat-sifat Rasulullah SAW yang patut dicontoh bagi para pelaku ekonomi dan bisnis Islam adalah sebagai berikut:52

1) Shiddiq

Sifat shiddiq (benar, jujur) harus menjadi visi setiap Muslim, karenakita berasal dari Yang Maha Benar, maka kehidupan duniapun harus dijalani dengan benar.

Dalam ekonomi dan bisnis munculah konsep turunan yang efektifitas yaitu mencapai tujuan yang tepat dan benar serta efisiensi yaitu melakukan kegiatan dengan benar sehingga tidak terjadi kemubaziran. Sebab mubazir merupakan salah satu sifat yang tidak baik.

2) Amanah

Amanah (tanggung jawab, dapat dipercaya) merupakan misi setiap Muslim. Tanggung jawab ini di dasarkan atas kebebasan untuk memilih keyakinan dan berakhir dengan keputusan yang paling tegas yang perlu diambil.

3) Fathonah

52Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 5.

52

Sifat fathonah (kecerdikan, kebijaksanaan, intelektual) sifat ini merupakan strategi hidup bagi setiap Muslim. Implikasi ekonomi dan bisnis dari sifat ini adalah bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan ilmu, kecerdasan dan pengoptimalan segala potensi akal yang ada untuk mencapai tujuan. Para pelaku bisnis harus cerdik agar usahanya efektif dan efisien.

4) Tabligh

Tabligh (komunikasi, keterbukaan, pemasaran) merupakan teknik hidup seorang Muslim karena setiap Muslim memegang tanggungjawab dakwah, yakni menyeru, mengajak dan memberitahu.

Dengan adanya sifat ini pada diri ekonom Muslim membuat para pelaku bisnis akan tangguh dan lihai dalam hal memasarkan barang dan produknya. Sebab sifat tabligh merupakan prinsip-prinsip komunikasi antar personal maupun massal, disaat memasarkan, menjual ataupun mngiklankan bisnis.

d. Khilafah

Allah berfirman bahwasannya manusia diciptakan untuk menjadi Khalifah di bumi, maksudnya yaitu manusia sebagai pemimpin dan pemakmur bumi. Karena itu pada dasarnya manusia adalah pemimpin. Fungsi manusia sebgai

53

khalifah yaitu agar dapat menjaga keteraturan interaksi (mu’amalah) antar kelompok termasuk dalam bidang ekonomi agar kekacuan dan keributan dapat dihindarkan atau dikurangi.

e. Ma’ad

Ma’ad berarti kembali, sebab semua manusia akan kembali kepada Allah. Dan hidup manusia tidak hanya di dunia melainkan juga berlanjut hingga terus ke akhirat. Sesuai dengan firman allah yang terdapat dalam QS Luqman ayat 33;







Artinya :Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dantakutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. Luqman: 33)

Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada manusia, untuk melaksnakan segala perintah dan menjauhi semua laranganNya serta menciptakan langit dan bumi dan segala kepentingan manusia.

54

Dari kelima teori yang telah diuraikan diatas menjadi dasar inspirasi untuk menyusun teori-teori ekonomi Islam. Dari kelima nilai tersebut kita dapat menurunkan tiga prinsip yang menjadi ciri sistem ekonomi Islam. Prinsip tersebut diantaranya berupa:

1) Multitype Ownership (kepemilikan Multi Jenis)

Konsep ini terlahir dari nilai tauhid dan nilai adil.

Dalam sistem kapitalis, prinsip umum kepemilikan yang berlaku adalah kepemilikan swasta, sedangkan sistem sosial berupa kepemilikan negara, adapun dalam Islam berlaku kepemilikan multijenis, yakni mengakui bermacam-macam bentuk kepemilikan, baik swasta, negara maupun campuran.

Dilihat dari segi tauhidnya pemilik langit, bumi dan seisinya adalah, sedangkan manusia diberi amanah untuk mengelolanya.

2) Freedom to Act (Kebebasan untuk Bergerak/Usaha)

Nilai nubuwwah apabila digabungkan dengan nilai keadilan dan nilai khilafah akan melahirkan konsep freedom to actpada setiap Muslim, khususnya bagi pelaku bisnis dan ekonomi. Agar tidak terjadinya distorsi (proses penzhaliman) dalam pasar, dan distorsi ini dapat dikurangi dengan adanya nilai keadilan.

Negara bertindak sebagai wasit yang mengawasi interaksi pelaku-pelaku ekonomi dan bisnis untuk menjamin

55

tidak dilanggarnya syariah sehingga tercipta ekonomi yang sehat.53

3) Sosial justice (Keadilan Sosial)

Gabungan dari nilai khilafah dan ma’ad melahirkan prinsip keadilan sosial. Dalam Islam, pemerintah bertanggungjawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan menciptakan keseimbangan sosial antara yang kaya dan miskin.

Semua sistem ekonomi mempunyai tujuan yang sama, yaitu menciptakan sistem ekonomi yang adil. Dan ekonomi islam merupakan jawaban atau jalan keluar untuk mewujudkan keadialan masyarakat.

Dokumen terkait