• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR PENDIDIKAN INKLUSI A. Hakikat Pendidikan

5. Prinsip-Prinsip Pendidikan Inklusi

Dalam tataran praktis pembelajaran, inklusi merupakan suatu perubahan yang dapat menguntungkan tidak hanya anak berkebutuhan khusus akan tetapi juga anak pada umumnya di dalam kelas. Prinsip paling mendasar dalam pendidikan inklusi adalah bagaimana agar peserta didik dapat belajar bersama, belajar untuk dapat hidup bersama. Johnsen dan Miriam Skojen menjabarkan dalam tiga prinsip, yaitu (1) bahwa setiap anak termasuk dalam komunitas setempat dan dalam suatu kelas atau kelompok, (2) bahwa hari sekolah diatur penuh dengan tugas-tugas pembelajaran kooperatif dengan perbedaan pendidikan dan fleksibilitas dalam memilih dengan sepuas hati, dan (3) guru bekerjs bersama dan mendapat pengetahuan pendidikan umum, khusus dan teknik belajar individu serta keperluan-keperluan pelatihan dan bagaimana mengapresiasikan keanekaragaman dan perbedaan individu dalam pengorganisasian kelas.35

35 Johnson dan Miriam, Menuju Inklusi Buku No.1; Pendidikan Kebutuhan Khusus;

Sebuah Pengantar, diterjemahkan oleh Susi Septaviana Rakhmawati dari Education-Special Needs Education An Introduction, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, hal. 37-40.

Sementara itu, Mulyono mengidentifikasikan prinsip pendidikan inklusi ke dalam sembilan elemen dasar yang memungkinkan pendidikan inklusi dapat dilaksanakan.36

a. Sikap guru yang positif terhadap kebinekaan

Elemen paling penting dalam pendidikan inklusi adalah sikap guru terhadap siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus. Sikap guru tidak hanya berpengaruh terhadap classroom setting tetapi juga dalam pemilihan strategi pembelajaran.

Sikap positif guru terhadap keragaman kebutuhan siswa dapat ditingkatkan dengan cara memberikan informasi yang akurat tentang siswa dan cara penanganannya.

b. Interaksi Promotif

Penyelenggaraan pendidikan inklusi menurut adanya interaksi promotif antara siswa. Yang dimaksud interaksi promotif adalah upaya untuk saling menolong dan saling memberi motivasi dalam belajar.

Interaksi promotif hanya dimungkinkan jika terdapat rasa saling menghargai dan saling memberikan urunan dalam meraih keberhasilan belajar bersama. Interaksi promotif pada hakekatnya sama dengan interaksi transpersonal, yaitu interaksi yang didasarkan atas rasa saling menghormati, tidak hanya terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Interaksi promotif hanya dimungkinkan jika guru menciptakan suasana belajar kooperatif, Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam suasana belajar kooperatif, siswa cenderung memperoleh prestasi belajar matematika lebih tinggi dari pada dalam suasana belajar kompetitif.

Dalam pendidikan inklusi, suasana belajar kooperatif harus dominan sedangkan suasana belajar kompetitif hanya untuk bersenang-senang atau untuk materi belajar yang membosankan. Hasil penelitian Johnson &

Johnson, menunjukkan bahwa suasana belajar kompetitif dapat menimbulkan perasaan rendah diri bagi siswa yang memiliki kemampuan kurang.

Lebih lanjut hasil penelitian Mulyono menunjukkan bahwa para guru pada umumnya lebih menyukai pembelajaran kompetitif dan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam penyelenggaraan pembelajaran kooperatif. Padahal, pembelajaran kompetitif dalam kelompok heterogen dapat menghancurkan rasa harga diri siswa yang berkekurangan dan merasa bosan merupakan elemen yang merusak untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Kompetisi bukan tidak bermanfaat tetapi hanya untuk kelompok yang homogen yang

36 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta:

Rineka Cipta, 1999.

memungkinkan semua anggota berkompetisi memiliki peluang yang relatif sama untuk menang dan kalah. Menguatkan pembahasan ini, sekali lagi hasil penelitian Mulyono menunjukkan bahwa interaksi kompetitif yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah kompetisi antar siswa yang mempunyai kemampuan seimbang, kompetisi dengan standar nilai minimum, dan yang terbaik adalah kompetisi dengan diri sendiri.

c. Pencapaian kompetensi akademik dan sosial

Pendidikan inklusi tidak hanya menekankan pencapaian tujuan dalam bentuk kompetensi akademik tetapi juga kompetensi sosial. Oleh sebab itu, perencanaan pembelajaran harus melibatkan tidak hanya pencapaian tujuan akademik (academic objectives) tetapi juga tujuan keterampilan bekerjasama (collaborative skills objectives). Tujuan keterampilan bekerjasama mencakup keterampilan memimpin, memahami perasaan orang lain, menghargai pikiran orang lain, dan tenggang rasa.

d. Pembelajaran adaptif

Ciri khas dari pendidikan inklusi adalah tersedianya program pembelajaran yang adaptif atau program pembelajaran individual (individualized instructional programs). Program pembelajaran adaptif tidak hanya ditujukan kepada peserta didik dengan problema belajar tetapi juga untuk peserta didik yang dikaruniai keunggulan. Penyusunan program pembelajaran adaptif menuntut keterlibatan tidak hanya guru kelas atau guru bidang studi tetapi juga guru pendamping, orang tua, guru BK, dan ahli-ahli lain yang terkait.

e. Konsultasi kolaboratif

Konsultasi kolaboratif (collaborative consultation) adalah saling tukar informasi antar profesional dari semua disiplin yang terkait untuk memperoleh keputusan legal dan instruksional yang berhubungan dengan siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus. Yang dimaksud dengan profesional dalam hal ini adalah guru pendamping khusus, guru kelas, atau guru bidang studi, konselor, psikolog, dan atau ahli-ahli lain yang terkait. Beberapa ahli telah mengembangkan model konsultasi kolaboratif untuk melakukan tindakan pencegahan dan rehabilitasi siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus di kelas reguler.

Berdasarkan model yang mereka buat guru pendamping khusus dan guru reguler bersama anggota tim lainnya melakukan diskusi untuk menentukan sifat dan ukuran-ukuran yang dipergunakan untuk menentukan masalah siswa, memilih dan merekomendasikan tindakan, merencanakan dan mengimplementasikan program pembelajaran, dan melakukan evaluasi hasil intervensi serta melakukan perencanaan ulang jika diperlukan.

f. Hidup dan belajar dalam masyarakat

Dalam pendidikan inklusi kelas harus merupakan bentuk mini dari suatu kehidupan masyarakat yang diidealkan. Di dalam kelas diciptakan

suasana yang silih asah, silih asih, dan silih asuh. Dengan kata lain, suasana belajar yang kooperatif harus diciptakan sehingga di antara siswa terjalin hubungan yang saling menghargai. Semua siswa tidak peduli betapapun perbedaannya, harus dipandang sebagai individu unik yang memiliki potensi kemanusiaan yang harus dikembangkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan.

g. Hubungan kemitraan antara sekolah dan keluarga

Keluarga merupakan fondasi tempat anak-anak belajar dan berkembang . Begitu pula dengan sekolah, juga tempat anak belajar dan berkembang. Keduanya memiliki fungsi yang sama. Perbedaannya, pendidikan dalam keluarga tidak terprogram dan terukur sedangkan di sekolah pendidikan lebih banyak dilakukan secara terprogram dan terukur atau yang biasa disebut dengan pembelajaran. Karena kedua lembaga tersebut hakekatnya mempunyai fungsi yang sama, maka keduanya harus menjalin hubungan kemitraan yang erat dalam upaya memberdayakan semua potensi kemanusiaan siswa agar dapat berkembang optimal dan terintegrasi. Keluarga memiliki informasi yang lebih akurat mengenai keunikan, kekuatan, dan minat anak, sedangkan sekolah memiliki informasi yang lebih akurat mengenai prestasi akademik siswa. Informasi mengenai anak yang dimiliki oleh keluarga merupakan landasan penting bagi penyelenggaraan pendidikan inklusi.

h. Belajar dan berfikir independen

Dalam pendidikan inklusi guru mendorong agar siswa mencapai perkembangan kognitif taraf tinggi dan kreatif agar mampu berpikir independen. Berkenaan dengan semakin majunya ilmu dan teknologi, pendidikan inklusi sangat menekankan agar siswa memiliki keterampilan belajar dan berpikir. Guru hendaknya juga mengetahui bahwa hasil-hasil penelitian mengenai anak-anak kesulitan belajar (students with learning difficulties) menunjukkan bahwa mereka umumnya pasif dalam belajar, kurang mampu melakukan kontrol diri, cenderung bergantung (dependent), dan kurang memiliki strategi untuk belajar. Sehubungan dengan karakteristik siswa berkesulitan belajar semacam itu maka guru perlu memiliki kemampuan untuk memberikan dorongan atau motivasi dengan menerapkan berbagai teknik, terutama yang berkenaan dengan manajemen perilaku atau memodifikasi perilaku.

i. Belajar sepanjang hayat

Pendidikan inklusi memandang pendidikan di sekolah sebagai bagian dari perjalanan panjang hidup seorang manusia; dan manusia belajar sepanjang hidupnya (lifelong learning). Belajar sepanjang hayat memiliki makna yang melampaui sekedar menguasai berbagai kompetensi yang menjadi tuntutan kurikulum dan upaya untuk naik kelas. Belajar sepanjang hayat pada hakekatnya adalah belajar untuk menyelesaikan berbagai

masalah kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan inklusi menekankan pada pengalaman belajar yang bermanfaat bagi kelangsungan proses belajar peserta didik dalam kehidupan masyarakat.