BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan
2.4.1. Prinsip – Prinsip Pendidikan Kesehatan
d. Untuk menjaga kualitas pemeriksaan labolatorium, dibentuklah KPP (Kelompok Puskesmas Pelaksana) terdiri dari 1 (satu) PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) dan beberapa PS (Puskesmas Satelit). Untuk daerah dengan geografis sulit dapat dibentuk PPM (Puskesmas Pelaksana mandiri).
e. Ketersediaan OAT bagi semua penderita TBC yang ditemukan.
f. Pengawasan kualitas OAT dilaksanakan secara berkala dan terus menerus.
g. Keteraturan menelan obat sehari – hari diawasi oleh pengawas oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Keteraturan pengobatan tetap merupakan tanggung jawab petugas kesehatan.
h. Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan teratur, lengkap dan benar.
2.4. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan
2.4.1. Prinsip Prinsip Pendidikan Kesehatan
Semua petugas kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan itu penting untuk menunjang program program kesehatan lain, tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan. Program program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan, meskipun ada tetapi kurang efektif. Argumentasi yang dikemukakan untuk hal ini adalah karena pendidikan kesehatan itu tidak segera dan tidak jelas memperlihatkan hasilnya. Dengan perkataan lain pendidikan kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat, yang dapat dengan mudah dilihat atau diukur, karena
pendidikan adalah behavior investment jangka panjang. Hasil investment pendidikan kesehatan baru dapat dilihat beberapa tahun kemudian. Dalam waktu yang pendek (immediate impact) pendidikan kesehatan hanya menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan masyarakat, sedangkan peningkatan pengetahuan saja, belum berpengaruh langsung terhadap indikator kesehatan.
Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku, sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh kepada meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran (outcome) pendidikan kesehatan. Hal ini berbeda dengan program kesehatan yang lain, terutama program pengobatan yang dapat langsung memberikan hasil (immediate impact) terhadap penurunan kesakitan.
Menurut H.L. Blum di Amerika Serikat, sebagai salah satu negara yang sudah maju. Belum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan, dan berturut turut disusul oleh perilaku, memberikan andil nomor dua, dan keturunan mempunyai andil yang paling kecil
terhadap suatu kesehatan (Notoatmodjo,2002).
Bagaimana proporsi pengaruh faktor faktor tersebut terhadap status kesehatan dinegara negara berkembang terutama di Indonesia, belum ada penelitiannya. Bila dilakukan penelitian, mungkin perilaku mempunyai kontribusi yang lebih besar. Meskipun variabel ekonomi di sini belum mewakili seluruh variabel lingkungan, tetapi paling tidak pengaruh perilaku lebih besar daripada variabel lain.
xxxvii
Selanjutnya Green dan Marshall (2005) menjelaskan bahwa perilaku itu dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yakni : faktor faktor predisposisi (predisposing factors), faktor faktor yang mendukung (enabling factor) dan faktor faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factor). Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan sebagai faktor usaha intervensi perilaku harus diarahkan kepada ketiga faktor pokok tersebut.
Faktor predisposisi adalah faktor yang dapat mempermudah atau mempredisposisikan terjadinya perilaku pada diri seseorang atau masyarakat. Beberapa komponen yang termasuk faktor predisposisi yang berhubungan langsung dengan perilaku, antara lain pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai nilai, dan menyadari kemampuan dan keperluan seseorang atau masyarakat terhadap apa yang dilakukannya. Hal ini berkaitan dengan motivasi dari individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu tindakan , (Green dan Marshall, 2005).
Sebagai contoh perilaku masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya akan lebih baik, jika masyarakat tahu apa manfaat periksa kesehatan tahu siapa dan dimana periksa kesehatan tersebut dilakukan. Demikian pula, perilaku tersebut akan dipermudah jika masyarakat yang bersangkutan mempunyai sikap yang positif terhadap periksa kesehatan. Kepercayaan, tradisi, sistem, nilai di masyarakat setempat juga dapat mempermudah (positif) atau mempersulit (negatit) perilaku seseorang, (Notoatmodjo, 2005).
Pada umumnya, faktor enabling memudahkan penampilan seseorang atau masyarakat untuk melakukan suatu tindakan. Faktor ini meliputi sumber sumber daya
pelayanan kesehatan dan masyarakat yaitu ketersediaan, kemudahan, dan kesanggupan. Termasuk juga keadaan fasilitas orang untuk bertindak seperti ketersediaan transportasi atau ketersediaan program kesehatan. Faktor enabling juga meliputi keterampilan orang, organisasi, atau masyarakat untuk melaksanakan perubahan perilaku, (Green dan. Marshall, 2005).
Faktor enabling menjadi target langsung dari organisasi masyarakat atau perkembangan organisasi dan intervensi training dalam suatu program dan terdiri dari somber daya dan keahlian baru yang diperlukan untuk melakukan tindakan kesehatan dan tindakan kemasyarakatan yang diperlukan untuk mengubah lingkungan. Sumber daya meliputi organisasi, individu dan kemudahan dari fasilitas
pelayanan kesehatan, sekolah dan klinik. Keahlian kesehatan perorangan seperti pendidikan kesehatan sekolah, merupakan tindakan kesehatan khusus. Keahlian dalam rnempengaruhi masyarakat, digunakan untuk tindakan sosial dan perubahan masyarakat dalam melakukan tindakan kesehatan, (Green dan Marshall, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2005), faktor enabling adalah faktor pemungkin atau pendukung seperti fasilitas, sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
Faktor reinforcing adalah konsekuensi dari determinan perilaku, dengan adanya umpan balik (feedback) dan dukungan sosial. Faktor reinforcing meliputi dukungan sosial, pengaruh dan informasi serta feedback oleh tenaga kesehatan. Dalam pengembangan program kesehatan, sumber daya yang mendukung sangat tergantung pada tujuan dan jenis
xxxix
program. Dalam program kesehatan kerja, sumber daya manusia adalah pekerja, supervisor, pemimpin; dan anggota keluarganya dapat
menjadi penguat program. Dalam perencanaan perawatan pasien, sebagai penguat (reinforcement) adalah perawat pasien, dan anggota keluarganya, (Green dan Marshall 2005).
Reinforcing dapat positif atau negatif, tergantung dari sikap dan perilaku orang di dalam lingkungannya (Green dan Marshall, 2005).
Pendapat Blum dan Green dapat dimodifikasi sebagai berikut :
Keturunan Pelayanan Status Lingkungan Kesehatan Kesehatan Perilaku Predisposing Factors (pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, Enabling Factors (ketersediaan sumber sumber/fasilitas) Reinforcing Factors
(sikap dan perilaku
Pemeberdayaan Pada Masyarakat Pemasaran Sosial Pengembangan Organisasi Komunikasi Dinamika Training Pengembangan organisasi Pendidikan Kesehatan
Sumber : Notoadmodio (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Gambar 2.1.: Skema Modifikasi Teori Blum dan Green
Dari skema tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku, sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai nilai kesehatan. Dengan perkataan lain pendidikan kesehatan adalah suatau usaha untuk menyediakan kondisi
psikologis dari sasaran, agar mereka berperilaku sesuai dengan tuntutan nilai nilai kesehatan (Notoatmodjo. S, 2003).