N A H , ternyata konsep Jail House itu oleh Tara dikembangkan menjadi private party yang tak kalah serunya. Bahkan, lebih gokil, vulgar, dan amburadul.
Kok tahu? Ya, iyalah. Seminggu setelah pertemuan pada acara Sashimi Jail House itu, Tara mengundang saya ngupi-ngupi di salah satu kafe di Senayan City, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sore itu Tara membawa empat modelnya yang masing-masing menenteng satu buah tas besar.
"Mereka mau show ntar malem di daerah Pondok Indah," jelas Tara.
"Show krisis?" pancing saya.
"Ya, iyalah. Kalo show baju ketutup sih, bukan kelas gue kali," timpal Tara dengan logat "keriting"-nya.
Di Jakarta, untuk urusan fashion show yang digelar sejumlah tempat hiburan malam, rata-rata memang menjual tema sensualitas. Apalagi kalau tempat hiburan itu—entah kafe, lounge,
resto, karaoke atau kelab—terkenal dengan brand triple X. Golnya? Memberikan entertainment yang berbeda buat member-guest dan menjaring costumer
baru.
So...
Ada beberapa skenario yang muncul sore itu. Pertama, Tara mengajak saya datang ke acaranya nanti malam. Kedua, Tara melontarkan ide untuk membuat private party dengan tema Sashimi Jail House, sekaligus sharing-idea.
Skenario kedua, jelas lebih menarik buat saya. Lingerie show, half-naked dancing, topless fashion hampir setiap hari jadi pemandangan biasa
di sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta.
Private party? Dalam seminggu, belum tentu saya bisa dapat satu undangan.
"Enak banget jadi elo, dapet undangan terus. Ajak-ajak napa," tukas Nino, karib saya, waktu saya bercerita soal undangan private party dari Tara.
"Bisa diatur. Yang penting, elu bayar, Jo!" Hari H itu datang juga. Tara mengirim SMS ke ponsel saya untuk re-confirm. U re i n v i t e d . Sashimi J a i l House 8 L e l a n g Cewe. P r i v a t e P a r t y . F r i d a y , 1 7 November Z006. 9pm u n t i l d r o p . Only Rp. 500 r i b u 4 f r e e - f l o w J l . BD Kav. 1 5 , Kemang U t a r a, J a k s e 1. Kira-kira seperti itu isi undangannya.
Saya pun membalas SMS-nya, sekadar mem-beritahu bahwa saya akan hadir dalam private party
itu.
Malamnya, mendekati pukul sembilan, mobil saya mendekati lokasi sebagaimana yang tertera dalam SMS. Dari luar, rumah itu dikelilingi pagar tembok yang ditumbuhi tanaman rambat. Puluhan mobil tetlihat parkir berjajar. Saya melirik Nino yang duduk di belakang kemudi. "Pukul berapa sih? Kok udah rame banget, ya?" tanya saya.
Nino melirik ke jam tangan metal yang melingkari tangan kirinya. "Sembilan kurang seperempat," Jawabnya sambil celingukan mencari tempat parkir yang kosong.
Setelah memarkir mobil, berdua kami memasuki rumah besar itu. Suasana di dalam rumah sudah mulai ramai. Tara sebagai tuan rumah, sibuk beramah tamah dengan puluhan tamu laki-laki. Ia didampingi lima model cantik yang bertindak sebagai host. Tampang kece, body
oke, baju terusan bertali yang menampakkan bagian punggung dengan belahan V.
Rumah besar itu ternyata cukup mewah. Di dalamnya ada bar tersendiri, ruang tamu besar, kolam renang, dan garden terrace. Untuk tempat pesta, rasa-rasanya lebih dari memadai.
Tak disangka, di antara puluhan tamu undangan itu, saya bertemu dengan Jody—sebut saja begitu—bos yang punya puluhan gerai bakery di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Saya nggak kaget karena Jody memang terkenal sebagai biang pesta, dari yang private sampai yang terbuka untuk umum seperti di kelab-kelab hiburan malam. Selain itu, saya juga melihat setidaknya dua wajah
3 0 4
pengusaha muda yang namanya sudah tak asing di bidang bisnis property.
Suguhan Sashimi Jail House malam itu agak berbeda dengan yang saya lihat sebelumnya. Perbedaannya lebih pada menu ceweknya. Tak tanggung-tanggung, Tara menampilkan lima
Sashimi Girl yang diusung di atas tandu berbentuk mirip kerangkeng penjara.
"Lima cewek? Nggak salah nih?" bisik saya ke telinga Tara.
Uniknya, masing-masing mengenakan baju seksi yang berbeda-beda. Dari warna, model sampai standar ke-krisisan alias kevulgaran. Tapi yang pasti, kelima Sashimi Girl itu membiarkan bagian perut terbuka karena di bagian itulah, irisan daging sushi ditebat secara acak.
Yang mengagetkan kemunculan gadis sashimi ketiga yang berdandan tak ubahnya "putri laut". Ia menutup bagian dadanya dengan mie jepang— kira-kira seperti bihun—yang di atasnya ada beberapa irisan sushi. Sementara di sekitar bikini area, ia menutup bagian V-nya dengan sebuah kerang ukuran besar yang di dalamnya juga berisi irisan sushi. Ya, kira-kira sebagai pengganti under-wear.
Dandanan Sashimi Girl nomor tiga ini ternyata mendapat respon yang luar biasa dari undangan. Puluhan tamu laki-laki yang datang terlihat begitu antusias.
Ajang untuk berinteraksi dengan Sashimi Girl
pun tidak disia-siakan. Beberapa laki-laki dengan bersemangat menyomot irisan sushi di tubuh
Sashimi Girl langsung dengan mulut. Maklum, aturan mainnya: siapa saja yang mau makan daging sushi harus menggunakan mulut. Tidak boleh pakai tangan, apalagi sumpit.
Gratis? Ya, nggak lah. Untuk satu iris sushi, tiap tamu mesti memberikan tip sebesar Rp. 100 ribu. Harga itu berlaku untuk irisan sushi yang ada di daerah perut. Sementara untuk sushi yang bertebaran di bagian dada dan bikini area, satu irisan bertarif Rp. 200 ribu.
"Lumayan mahal ya, Jo?" sindir Nino. "Eit, siapa dulu sashimi girl-nya. Model bo' bukan cewek asal comot lho," bela Tara tak mau kalah.
Toh, nggak ada kata mahal buat sebagain tamu undangan yang berpesta malam itu. Kelima
Sashimi Girl Jail House yang berputar-putar
mengelilingi ruang tamu, garden terrace sampai berpose di pinggir kolam renang itu, rata-rata kecipratan tip dalam jumlah besar.
Tapi, teteeep..., sashimi girl nomor tiga yang bergaya a la putri laut, meraup uang paling banyak. Daging sushi yang menghias di tubuhnya, terutama di bagian perut dan dadanya, hanya tersisa beberapa irisan saja.
"See...dagangan gue laris manis kan," tukas Tara dengan senyum lebar.
Dagangan? Yup. Buat Tara, pesta yang ia bikin malam itu memang berkonotasi bisnis. Segala bentuk hiburan bahkan sampai urusan makan + minum saja, Tara mengambil keuntungan. Sebagai EO yang biasa bergerak di bidang acara "syur-syur", ia paham dengan pangsa pasar yang dibidik. Ia tinggal memanfaatkan jaringan dan komunitas yang ia miliki. Dan tentunya, membuat pesta dengan tema yang extra-ordinary atau super-extreme
sekalian. Yang pasti, sarat dengan hiburan bernilai unik, aneh, dan lain dari pada yang lain.
Pertunjukan kelima cewek Sashimi Jail House itu baru jadi ajang pemanasan. Segala jenis minuman yang diracik dua orang bartender, kapan
pun bisa ditenggak. Lagu-lagu berirama classic disco, garage, R'nB sampai progesif yang dimain-kan seorang DJ makin menyemarakdimain-kan suasana.