• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

2.1 Problematika Pembelajaran Agama Hindu Secara Daring

Problematika berasal dari bahasa Inggris “problematic” yang berarti masalah atau persoalan, persoalan tersebut ditimbulkan karena adanya suatu kejadian atau suatu keadaan Problematika berasal dari kata problem yang dapat diartikan permasalahan atau masalah. Adapun masalah itu sendiri adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai hasil yang maksimal Problematika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian masih menimbulkan masalah, hal-hal yang masih menimbulkan masalah. Berdasarkan pengertian tersebut problematika memiliki pengertian bahwa persoalan atau permasalahan yang ditimbulkan pada suatu keadaan yang belum bisa terselesaikan dan membutuhkan solusi yang tepat. (Wahyuningsih, 2021).

Problematika ini juga timbul dalam dunia pendidikan khusunya pada pembelajaran agama Hindu dalam penggunaan media daring. Berbagai problematika muncul selama pembelajaran mengunakan media daring. Problematika itu tidak hanya muncul pada siswa yang memiki keterbatasan pembelajaran secara daring, tetapi problematika juga dialami oleh para guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu. Hal ini disebabkan karena sistem dan cara mengkomunikasikan materi pembelajaran yang tiba-tiba berubah dari konvensional menjadi pembelajaran secara daring.

Kajian semacam ini sudah pernah dilakukan oleh Ketut Sudarsana, Pusparani, Selasih, Juliantari, & Wayan Renawati (2019) yang menemukan sejumlah peluang dan tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang kegiatan pendidikan.

Sementara itu, sebelumnya Juliantari, Sudarsana, Sutriyanti, Temon Astawa, Hendrawathy Putri,

& Saddhono (2018) juga pernah melakukan kajian terhadap pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan evaluasi melalui penggunaan game interaktif. Hasilnya menunjukkan keefektifan teknologi informasi tersebut dalam menunjang pembelajaran dan evaluasi asalkan digunakan secara tepat dan daya dukung memadai. Walaupun kajian tersebut tampak serupa dengan penelitian ini, situasi Covid-19 yang berdampak pada psikologi pebelajaran menyebabkannya menjadi berbeda. Di samping itu, subjek yang tersentuh oleh teknologi informasi ini pun berbeda, sehingga ada hal baru yang tentunya dapat mendukung kedua penelitian terdahulu tersebut (Astini, 2020).

Pembelajaran daring pada pembelajaran agama Hindu ada kelas berbasis daring yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah menengah tingkat pertama di Kabupaten Lombok Barat adalah sebagian besar menggunakan menggunakan whatshap dan google form, kedua apliasi ini dipilih karena menurut penuturan para guru agama Hindu adalah paling effektif dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran pada siswa secara daring.Namun dibalik keefektifan dua aplikasi yang digunakan tetapi masih menimbulkan berbagai macam prolematika dalam pengunaanya.

Adapun problamatika yang dihadapi dalam pembelajaran daring selama masa pandemi Covid 19 ini mewabah adalah diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru-guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu disekolah-sekolah tingkat menengah di Kabupaten Lombok Barat antara lain : sinyal yang kurang mendukung, sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran daring, pembuatan media pembelajaran, kontroling guru terhadap kemampuan akademik siswa yang terbatas, serta waktu pelaksanaan pembelajaran daring yang kurang efektif.

Faktor utama yang menjadi problamatika guru dalam melaksanakan pembelajaran agama Hindu secara daring adalah masalah sinyal. Sinyal merupakan komponen utama dalam melaksanakan pembelajaran daring, hal ini disebabkan karena pembelajaran daring yang menggunakan jaringan internet ini harus selalu berhubungan dengan sinyal salah satu provider yang ada. Faktor penyebab terkendala karena sinyal adalah karena letak geografis di Lombok Barat yang banyak terdapat bukit tinggi. Hal inilah yang menjadi penghalang dalam melaksanakan pembelajaran daring. Sinyal yang sering turun naik mengakibatkan terganggunya proses penyampaian komunikasi materi pembelajaran agama Hindu kepada siswa.

Kendala kedua yang dihadapi oleh para guru agama Hindu yang mengajar di sekolah-sekolah tingkat menengah yang berada di kabupaten Lombok Barat adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar secara daring. Apalagi tidak semua guru mampu mengoperasikan semua perangkat untuk menunjang proses belajar mengajar secara daring. Kemampuan yang terbatas dalam mengoperasikan berbagai aplikasi dalam sistem pembelajaran secara daring membuat terkendalanya proses belajar mengajar secara daring. Sehingga sebagian besar guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu menggunakan media sosial Whatsapp sebagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar secara daring

Kendala lain yang dihadapi dalam melaksanakan pendidikan secara daring selain sarana dan prasarana serta sinyal yang kuat dalam mendukung kegiatan pembelajaran, masalah lain yang ada adalah keterbatasan para guru agama hindu dalam pembuatan media pembelajaran.

Media pembelajaran yang sebelumnya dikomunikasikan secara langsung di depan kelas, semenjak pembelajaran daring berlangsung berubah menjadi penyampaian media pembelajaran

agama Hindu melalui aplikasi. Para guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu harus bisa membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Konten yang menarik tersebut harus dibuat oleh guru dalam bentuk e-book atau power poin yang menarik. Namun berdasarkan pengamatan e-book atau power poin yang dibuat oleh guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu tidak efektif dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran. Hal ini disebabkan karena materi dalam bentuk e-book atau power poin hanya di share saja oleh guru tanpa melalui proses penjelasan apa yang dimaksud dalam pembelajaran tersebut. Materi tersebut hanya dibaca saja oleh para siswa, bahkan ada siswa yang tidak mengetahui materi pembelajaran bahkan tugas yang diberikan oleh para guru tidak efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan oleh guru.

Masalah lain yang timbul selama pembelajaran daring dalam pembelajaran agama Hindu adalah guru yang mengajar pembelajaran agama Hindu tidak sepenuhnya dapat mengontrol kemampuan siswa dan kedisiplinan siswa dalam mengikuti pembelajaran agama Hindu. Apalagi guru lebih menggunakan media sosial whatshap dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran, dan ketika guru mengeshare materi tersebut tidak semua siswa online untuk secara langsung menerima materi dan penjelasan guru mengenai materi yang disampaikan. Selain itu penilain sikap guru terhadap siswa pun tidak dapat dilakukan oleh guru, hal ini disebabkan karena guru tidak bertemu secara langsung dengan siswa. Hal inilah yang menyebabkan kurangnya kontrol guru kepada siswa selama pembelajaran daring berlangsung.

Sementara itu problematika pembelajaran agama Hindu berbasis kelas daring juga dialami oleh para siswa. Dalam hal ini para siswa mengalami kendala dalam hal sinyal yang kurang menjangkau tempat tinggal para siswa. Sinyal dari seluruh provider yang ada lebih banyak tidak menjangkau tempat tinggal para siswa, penyebabnya adalah lokasi geografis tempat tinggal para siswa yang berada di atas bukit, di jurang yang akses menuju tempat itu sangat sulit.

Selain itu para siswa juga mengalami hambatan bahwa dalam penyiapan sarana dan prasana yang menunjang proses pembelajaran daring. Hal ini disebabkan karena keterbatasan ekonomi yang dimiliki oleh orang tua siswa dalam membeli sarana dan prasarana, banyak diantara para siswa yang tidak mempuyai smartphone sebagai sarana utama dalam pembelajaran daring yang menggunakan whatsapp group. Selain itu keterbatasan siswa dalam membeli kuota internet pun sangat sulit untuk para siswa ditengah kondisi perekonomian keluarga yang tidak stabil bahkan terdapat orang tua siswa yang kehilangan pekerjaan sehingga tidak mampu untuk membeli kuota.

Problamatika lain yang muncul selama pembelajaran daring adalah para siswa tidak mengerti mengenai pembelajaran yang disampaikan oleh guru melalui media whatshapp,dikarenakan siswa tidak mengikuti penjelasan guru secara langsung sehingga sebagaian besar materi yang disampaikan atau dikirim melalui whatshapp hanya dibaca saja

oleh para siswa. Hal ini disebabkan Karen apara siswa tidak semua memiliki smartphone. Jadi para siswa yang tidak memiliki smartphone.harus menunggu teman-temannya yang rumahnya berjauhan satu dengan yang lain.