BAB II. PROBLEMATIKA PENCATATAN PERKAWINAN
C. Problematika Pencatatan Perkawinan Warga Negara
2. Problematika Warga Negara Indonesia Keturunan
Keberadaan agama Konghucu adalah sebagai agama ini telah menjadi bahasan bagi umat agama Konghucu yang ada di Indonesia. Pembahasan atas bantahan kebenarannya disini adalah Surat Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan kepada Menteri Agama RI Nomor: BD/BA.01.2/453/2002 tentang Kajian Konghucu. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya problematika pengakuan agama Konghucu tersebut dapat dilihat dari isi Surat Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan kepada Menteri Agama RI Nomor: BD/BA.01.2/453/2002 tentang Kajian Konghucu antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan, Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama
Dalam laporan penelitian studi tentang Aplikasi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan, Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama, dan Penjelasannya, antara lain dinyatakan bahwa masih belum jelasnya status Konghucu disebabkan masih simpang siurnya penafsiran terhadap undang-undang tersebut, khususnya pada Penjelasan Pasal 1 yang berbunyi: Agama yang dipeluk oleh Penduduk Indonesia ialah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu (Confusius) ini (alinea l). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah
61
Wawancara dengan Bapak Rudi, SE., Sekretaris Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Medan, tanggal 22 Nopember 2009, di Medan.
perkembangan agama-agama di Indonesia. Karena 6 macam agama ini adalah agama yang dipeluk oleh hampir seluruh penduduk Indonesia, maka mereka mendapat jaminan seperti yang dinyatakan oleh Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 mereka juga mendapat bantuan dan perlindungan, ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, seperti: Yahudi, Zarazustrian, Shinto, Thaoisme dilarang di Indonesia. Mereka juga memperoleh jaminan Pasal 29 ayat (2) dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak mengganggu ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lainnya ini (alinea 3).
Bagi umat Konghucu, undang-undang tersebut dijadikan sebagai dasar yuridis formal bahwa Konghucu diakui Negara sebagai agama. Sedangkan bagi pemerintah, Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tersebut bukan merupakan pengakuan Negara terhadap eksistensi sesuatu agama, tetapi merupakan peraturan mengenai tindak pidana terhadap penyalahgunaan dan/atau penodaan agama.
Bagi umat Konghucu, undang-undang tersebut dijadikan sebagai dasar yuridis formal bahwa Konghucu diakui Negara sebagai agama. Karena pada jaman dahulu di sebuah negeri ada peraturan bahwa orang yang melintas perbatasan dengan menunggang kuda akan dikenai biaya masuk. Lalu ada seorang yang bernama Kongsun Lung karena tidak mau membayar biaya masuk lalu berdebat dengan penjaga perbatasan dan mengatakan bahwa “saya naik kuda putih dan kuda putih bukanlah kuda“. Kini di Indonesia, telah dilakukan sebuah penelitian oleh Ketua Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan yang
mengembangkan dalil “Agama yang dipeluk tapi bukan agama“ (ini pasti teori filosofis yang rumit sekali dan setara dengan dalil ”kuda putih bukan kuda”).62
Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 telah menyatakan agama yang dipeluk oleh Penduduk Indonesia ialah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu (Confusius), berarti Konghucu adalah salah satu agama yang dipeluk penduduk Indonesia.
Kemudian pada alinea ke 2 disebutkan bahwa karena 6 macam agama ini adalah agama yang dipeluk oleh hampir seluruh penduduk Indonesia. Ini lebih jelas lagi bahwa disebutkan ada 6 macam agama.
Sanggahan kedua, dalam isi Undang-Undang PPNS Nomor 1 Tahun l965, baik secara tersirat maupun tersurat jelas dikatakan bahwa Konghucu adalah agama yang dipeluk penduduk Indonesia. Agama itu bukan aliran kepercayaan dan lagi bukankah undang-undang ini juga suatu bentuk produk hukum yang sah (yuridis formal). Jadi kalimat bagi umat Konghucu, undang-undang tersebut dijadikan sebagai dasar yuridis formal bahwa Konghucu diakui Negara sebagai agama.
Umat agama Konghucu adalah konsistensi pemerintah dalam mengakui produk hukum yang mereka buat sendiri. Ini demi terjaminnya kepastian hukum karena negara Indonesia adalah negara hukum
Balitbang menyebutkan: Sedangkan bagi pemerintah, Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tersebut bukan merupakan pengakuan Negara terhadap
62
eksistensi sesuatu agama, tetapi merupakan peraturan mengenai tindak pidana terhadap penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Sehingga ada kesan Pemerintah plin-plan seperti halnya Ketua Balitbang Depag yang mengeluarkan dalil ‘Agama yang dipeluk tapi bukan agama”.63
Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dalam produk jaman Presiden Ir. Soekarno dan beliau diganti, tidak ada penyangkalan terhadap eksistensi agama Konghucu.
Kalimat Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tersebut bukan merupakan pengakuan Negara terhadap eksistensi sesuatu agama. Padahal yang membuat adalah Pemerintah RI, bukan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), atau badan-badan lain bisa menghasilkan produk hukum dengan mengatasnamakan Undang-Undang PNPS. Jadi jelas bahwa undang-undang ini adalah produk pemerintah dan disana disebutkan bahwa "agama yang dipeluk oleh Penduduk Indonesia ialah... Konghucu”, dipertegas denqan kalimat ”hal ini dapat dibuktikan.... Kalimat-kalimat ini mengakui eksistensi (keberadaan) dari agama Konghucu di Indonesia sehingga bisa dipeluk oleh penduduknya. Jika agama ini tidak eksis berarti tidak mungkin ada yang memeluknya. Bantahan dari umat Konghucu (termasuk dari MATAKIN) juga merupakan bukti nyata bahwa agama Konghucu dan pemeluknya itu memang ada (eksis). Sehingga sangat tidak beralasan kalau Balitbang Depag mengingkari keberadaan Konghucu adalah agama.
63
b. Presiden RI dalam Sidang Kabinet tanggal 27 Januari 1979
Presiden Republik Indonesia dalam sidang kabinet tanggal 27 Januari 1979 mengintruksikan:
1) Aliran Konghucu bukanlah agama
2) Aliran Konghucu dapat terus dipeluk oleh penganutnya apabila tidak bertentangan dengan Pancasila dan tidak bertentangan dengan usaha-usaha Pemerintah dalam mempersatukan bangsa.
Ketentuan Instruksi Presiden di atas telah bertentangan dengan Undang- Undang Nomor 1/PNPS/1965.
c. Keputusan Presiden Nomor: 6 Tahun 2000 tentanq Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tanun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina.
Lahirnya Keputusan Presiden ini menimbulkan pandangan dan pendapat khususnya warga keturunan Tionghoa melalui MATAKIN bahwa dengan lahirnya Keputusan Presiden tersebut, Konghucu diakui sebagai agama dan berdasarkan Undang-Undang Hak Azasi Manusia, mereka menuntut pengembalian hak-hak sipil umat Konghucu yaitu:
1) Pelaksanaan perkawinan secara Konghucu
2) Pencantuman agama Konghucu pada kolom agama di KTP
3) Pemberian pelajaran agama Konghucu di sekolah-sekolah bagi murid-murid yang beragama Konghucu.
Bagi pemerintah, lahirnya Keputusan Presiden tersebut tidak dapat dijadikan pedoman atau dasar yuridis formal bahwa Konghucu diakui sebagai agama, sebab Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, yang dicabut tersebut sedikitpun tidak menyinggung keberadaan Konghucu sebagai agama, tetapi isi atau substansi Instruksi Presiden tersebut menyatakan bahwa, perayaan/pesta agama dan adat istiadat Tionghoa untuk tidak dilakukan menyolok di depan umum. Dengan lahirnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, maka perayaan/pesta agama dan adat istiadat Tionghoa sudah tidak ada pembatasan lagi dalam arti bisa dilakukan secara terbuka. Demikian pula penetapan Imlek sebagai Hari Libur Nasional bukan berarti pengakuan Konghuchu sebagai agama, karena penetapan suatu hari libur tidak selalu berhubungan dengan hari besar keagamaan.
Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, memang tidak menyinggung keberadaan Konghucu sebagai agama.
Kemudian adanya tuntutan umat agama Konghucu pencantuman Agama Konghucu dalam KTP karena Undang-Undang PPNS Nomor 1 Tahun l965 tidak pernah dicabut, artinya undang-undang itu tetap berlaku.
Bantahan sebelumnya yang diuraikan di atas (secara logika) mementahkan semua kesimpulan Balitbang Depag yang menyebutkan Konghucu bukan agama (kecuali Balitbang mengeluarkan bantahan baru atau tetap bersikeras mematerikan dalil agama yang dipeluk bukan agama). Jadi selama Undang-
Undang Nomor Nomor 1/PNPS/1965 belum dicabut, maka agama Konghucu sebagai salah satu dari 6 agama (yang eksistensinya) di Indonesia diakui dalam undang-undang tersebut, berhak untuk mendapatkan pelayanan yang sama dengan 5 agama yang lain (sesuai Undang-Undang Dasar l945). 64
Perbedaan penafsiran Keputusan Presiden ini telah diduga sebelumnya, sehingga Departemen Agama mengeluarkan Surat Edaran Nomor SJ/B.VII/HN.00/220/2000 tanggal 24 Januari 2000 yang isinya menyatakan bahwa lahirnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 jangan sampai dipersepsikan atau dianggap sebagai pengakuan pemerintah terhadap agama Konghucu.
Surat Edaran Nomor SJ/B.VII/J-IM.00/220/2000 tanggal 24 Januari 2000 yang isinya menyatakan bahwa lahirnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 jangan sampai dipersepsikan atau dianggap sebagai pengakuan pemerintah terhadap agama Konghucu. Ini benar karena pengakuan Konghucu sebagai agama tidak berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, melainkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan undang-undang ini tidak pernah dicabut.
Terlihat dari uraian di atas, masih terdapat perbedaan penafsiran peraturan perundangan yang berkaitan dengan Konghucu, sehingga diperlukan sikap tegas pemerintah mengenai hal ini misalnya dengan menindaklanjuti Perintah Presiden dalam Sidang Kabinet tanggal 27 Januani 1979 yang menyatakan aliran Konghucu
64
bukanlah agama, dan aliran Konghucu dapat terus dipeluk oleh penganutnya apabila tidak bertentangan dengan Pancasila dan tidak bertentangan dengan usaha-usaha Pemerintah dalam mempersatukan bangsa.Sehingga Perintah Perintah dalam Sidang Kabinet tanggal 27 Januari 1979 tersebut telah bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan, Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama, yang telah secara tegas mencatumkan adanya 6 agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Di samping itu untuk bidang pendidikan atau mata pelajaran di sekolah, maka Departemen Pendidikan Nasional mengakui keberadaan agama Konghucu dengan Surat Edaran Nomor 52883/A5.1/HK/2008 tanggal 5 September 2008 tentang Penyampaian Salinan Praturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 48 Tahun 2008, yang ditujukan kepada Ketua Komisi X DPR RI, dan instansi terkait dengan pendidikan, menyatakan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 48 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Agama Konghucu, dengan hormat bersama ini kami sampaikan salinan peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Jadi telah ada pengakuan dari Pemerintah dalam bidang pendidikan untuk dimasukkan mata pelajaran agama Khonghuzu sebagai kurikulum di sekolah.