2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000
Produksi Nasional vs Volume Pendistribusian PPI
PT. PPI NASIONAL Kedistributoran Farmasi untuk Cairan Infus (Widatra, Otsuka, MJB dan Satoria)
Tahun PPI Kimia Farma TD Distributor Lainnya Keterangan
2015 N/A 25% 75%
2016 N/A 28% 72%
2017 0,50% 30% 69%
2018 1% 31% 66% PPI ditunjuk sebagai Distributor MJB dan Satoria, Operasional
Cabang PPI menjadi 20 Cabang, ikut menggarap pasar JKN
2019 2% 35% 63% PPI ditunjuk sebagai Distributor MJB, Satoria dan Widatra,
Operasional Cabang PPI menjadi 23 Cabang.
PPI Sebagai Sub-Distributor Produk Farmasi, belum menggarap pasar JKN (BPJS Kesehatan)
Operasional Cabang PPI sebanyak 15 Cabang
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 34
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
Terkait aturan Permentan yang diberlakukan oleh Kementerian Pertanian, yang mengatur mengenai pendistribusian Pupuk Subsidi di seluruh Indonesia, total jumlah pendistribusian mengalami perubahan terutama di tahun 2018 dan 2019 yang diatur dalam Permentan Nomor 47/Permentan/SR.310/11/2018 atas aturan tersebut, terdapat perubahan alokasi Pupuk Subsidi di Indonesia.
Tabel 2.8 Alokasi Pupuk Subsidi Tahun 2015-2019
TAHUN TOTAL WILAYAH ALOKASI (TON)
PABRIKAN KABUPATEN KECAMATAN KIOS PERMENTAN SPJB
2015 5 106 611 1.229 9.550.000 268.405
2016 4 87 551 1.067 9.550.000 257.500
2017 4 98 648 1.223 9.550.000 237.909
2018 5 100 673 1.221 9.550.000 246.798
2019 5 112 789 1.240 8.874.000 241.961
Pada tahun 2015, 2016, dan 2017 alokasi Pupuk Subsidi di Seluruh Indonesia di angka 9.550.000 ton Pupuk Subsidi, yang diatur dalam Permentan Nomor 69/Permentan/SR.310/12/2016. di tahun 2015 Alokasi Pupuk Subsidi yang diberlakukan PIHC melalui Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) kepada PT PT PPI senilai 268.405 Ton, di tahun 2016 sejumlah 257.500 ton, dan tahun 2017 sejumlah 237.909 ton, pada tahun 2018 sejumlah 246.798 ton dengan Market share 2,58%, Pada Tahun 2019 terdapat perubahan dalam peraturan Permentan yang mengubah jumlah alokasi Pupuk Subsidi di seluruh Indonesia dengan nilai total 8.874.000, untuk PT PT PPI mendapat alokasi sejumlah 241.961 ton dengan market share 2,82%.
Selain perubahan alokasi, juga terdapat perubahan wilayah Coverage Kedistributoran PT PT PPI untuk pupuk Subsidi, hal tersebut berkaitan dengan kesiapan perusahaan dalam mendistribusikan Pupuk Subsidi diwilayah Indonesia, tren dari tahun 2015 ke tahun 2020 cenderung fluktuatif dengan kondisi akhir cenderung meningkat dengan kedistributoran di 1.231 kios pupuk subsidi, 104 Kabupaten, 713 Kecamatan, dengan total Kerjasama dengan 5 Pabrikan Pupuk Subsidi di tahun 2020 (PKT, Pusri, PKG, Kujang, dan PIM).
dalam bentuk tonase
2015 2016 2017 2018 2019
PT. PPI 240.227 201.420 231.142 281.837 250.511 NASIONAL 9.550.000 9.550.000 9.550.000 9.550.000 8.874.000
% 2,5% 2,1% 2,4% 3,0% 2,8%
Market Share Pupuk Subsidi Tahun 2015 - 2019
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 35
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
b. Pupuk Non Subsidi
Pupuk Non Subsidi merupakan salah satu produk unggulan dalam pengembangan, dalam penjualannya, pupuk non subsidi dilakukan bersamaan dengan penjualan pupuk Subsidi, hal tersebut dengan kata lain, meningkatnya penjualan atau kedistributoran pupuk Subsidi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penjualan Pupuk non Subsidi.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari total quantity distribusi PPI pada tahun 2015 sebanyak 19.357 ton mendapat market share sebesar 0,28% namun pada tahun 2016 seiring dengan penurunan produksi pupuk non subsidi nasional market share PPI menurun menjadi 0,07%. Pada tahun 2017 quantity distribusi PPI meningkat dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebanyak 7.159 ton dengan market share sebesar 0,09%. Sedangkan pada tahun 2018 quantity distribusi PPI menurun menjadi 6.482 ton dengan market share sebesar 0,08% dibandingkan dengan produksi nasional sebanyak 8.083.100 ton dimana jumlah produksi ini merupakan yang tertinggi selama tahun 2015 sampai tahun 2019. Namun demikian pada tahun 2019 market share PPI meningkat jauh dari tahun 2018 yaitu sebesar 0,34% dengan jumlah distribusi sebanyak 20.577 ton.
Growth Penjualan pupuk non subsidi tergambar dalam Realisasi Revenue PT PT PPI dalam menjual Pupuk Non Subsidi dari tahun 2015 – 2019 sebagai berikut :
Grafik 2.12 Pencapaian Penjualan Pupuk Non Subsidi
dalam bentuk tonase
2015 2016 2017 2018 2019
Nasional 6.895.200 6.510.600 7.927.500 8.083.100 6.134.500 PT PPI 19.357 4.254 7.159 6.482 20.577
% 0,28% 0,07% 0,09% 0,08% 0,34%
Market Share Pupuk Non Subsidi Tahun 2015 - 2019
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 36
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
Total Pencapaian penjualan di tahun 2018 untuk Pupuk Non Subsidi sejumlah Rp 41.553.159.717,-, bertumbuh 263% di tahun 2019 menjadi Rp 109.096.617.327,- dengan laba kotor Rp 4.558.097.790,- dengan growth laba sebesar 181%.
Pertumbuhan yang signifikan tersebut dikarenakan adanya penambahan kedistributoran Pupuk Non Subsidi di beberapa daerah yaitu di wilayah Provinsi Jawa Timur dan Bali untuk seluruh wilayahnya. Sedangkan untuk tahun 2020 terjadi perubahan, PT PT PPI menjadi Distributor Utama untuk wilayah Jawa Timur 3 (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang, Situbondo, Probolinggo, dan Pasuruan) dan Sulawesi Utara seluruh Kabupaten.
3. Bahan Kimia Berbahaya
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 44/M-DAG/PER/9/2009 tentang Pengadaan, Distribusi dan Pengawasan Bahan
Berbahaya bahwa PT PPI ditunjuk sebagai satu-satunya importir terdaftar Bahan Berbahaya dimana seluruh quota impor dikuasai PT PPI. Kompetitor PT PPI dalam hal ini merupakan barang illegal yang beredar dipasaran (data tidak tersedia).
4. Pestisida
Indonesia adalah salah satu pasar pertanian utama di benua Asia karena adanya lahan subur dan kondisi cuaca yang cocok. Peningkatan hasil panen untuk mencapai ketahanan pangan, menjadikan factor yang mendorong kebutuhan akan bahan kimia (pestisida) bagi petani untuk meningkatkan kesuburan tanahnya.
Tabel 2.9 Market Share Pestisida
Dalam Rupiah
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2015, PT PPI memiliki pangsa pasar sebesar 0,64% dan terus menurun hingga 0,33% pada tahun 2019 beberapa faktor yang menyebabkan penurunan total penjualan produk pertanian (Pestisida) adalah sebagai berikut :
a. El nino atau perubahan cuaca pada saat ini yang menjadikan kebutuhan petani akan pestisida menurun.
b. Penurunan gangguan Hama di lokasi pertanian dan perkebunan, hal tersebut berdampak pada penggunaan Pestisida oleh Petani yang juga berkurang.
c. Adanya Isu Lingkungan terkait tingginya Limbah hasil Industri Kimia di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang dalam hal ini RRT adalah sebagai negara Exportir bahan baku (Pentoat) dalam pembuatan Pestisida ke PT PPI, akibatnya terjadi shortage bahan baku Pentoat imbas dari sulitnya perizinan import Pentoat dan berkurangnya total Produksi Pentoat oleh perusahaan kimia di RRT.
2015 2016 2017 2018 2019
PPI 62.237.408.609 58.328.891.323 51.538.735.794 48.270.080.478 40.571.534.294 Nasional 9.684.090.000.000 9.960.268.032.000 10.615.113.400.320 11.970.917.016.994 12.331.388.682.677
% 0,64% 0,59% 0,49% 0,40% 0,33%
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 37
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
5. Bahan Pokok
Grafik 2.10 Market Share Bahan Pokok
Dalam Rupiah
Dari tabel diatas dapat dilihat fluktuasi pangsa pasar bahan pokok berdasarkan 3 (tiga) jenis produk yaitu beras, tepung terigu dan gula pasir. Fluktuasi nya pangsa pasar juga terjadi disebabkan naik turunnya konsumsi penduduk per kapita sebagaimana terlihat pada grafik berikut :
Grafik 2.12 Konsumsi Bahan Pokok Per Kapita
Bahwa tingkat konsumsi beras per kapita pada tahun 2015 sebanyak 84,9 Kg per kapita/tahun meningkat sebanyak 2,2% pada tahun 2016 menjadi 86,8 Kg per kapita/tahun, namun tingkat konsumsi beras tersebut relative menurun pada tahun 2017 sebanyak 6% dengan jumlah konsumsi sebesar 81,6 kg per kapita/tahun dan terus menurun hingga tahun 2019 dimana tingkat konsumsi sebanyak 78 kg per kapita/tahun.
Selanjutnya tingkat konsumsi tepung terigu meningkat sebesar 9,5% dari 2,1 kg per kapita/tahun pada 2015 menjadi 2,3 kg per kapita/tahun. Kemudian semakin meningkat pada tahun 2017 sebesar 13% menjadi 2,6 kg per kapita/tahun. Sedangkan pada tahun 2018 dan 2019 terjadi peningkatan dan sedikit penurunan namun tidak signifikan.
Konsumsi gula pasir per kapita/tahun meningkat sebesar 10,3% pada tahun 2016 dari 6,8kg per kapita/per tahun menjadi 7,5kg per kapita/tahun. Namun relatif terus menurun hingga pada tahun 2019 penurunan mencapai 6,5 kg konsumsi gula pasir per kapita/tahun.
2015 2016 2017 2018 2019
Beras (Kg) 84.9 86.8 81.6 80.7 78
Tepung Terigu (Kg) 2.1 2.3 2.6 2.7 2.6
Gula Pasir (Kg) 6.8 7.5 7.0 6.8 6.5
10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0