• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 2. Berat nata de coco dan viabilitas A. xylinum yang dihasilkan dari 1% (b/v) A. xylinum terenkapsulasi setelah fermentasi selama 12 hari

Alginat (%)* log CFU/g Berat nata de coco

(g/100 ml) 2 7.04 ± 0.04 b 81.70 ± 12.28 a 3 6.95 ± 0.05 ab 73.57 ± 4.46 a 4 6.87 ± 0.11 a 72.46 ± 7.73 a Kontrol - 82.13 ± 9.94 a

*Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05) menggunakan uji BNT **Sumber: data primer diolah (2016)

Acetobacter xylinum terenkapsulasi diuji viabilitas dan kemampuannya untuk memproduksi nata de coco. A. xylinum terenkapsulasi diinokulasi pada medium air kelapa dan hasilnya dibandingkan dengan A. xylinum cair (tanpa proses enkapsulasi). Tabel 2 menunjukkan viabilitas A. xylinum terenkapsulasi dengan 2% alginat berbeda nyata dengan viabilitas dengan 4% alginat, tetapi tidak berbeda nyata viabilitas dengan 3% alginat. Enkapsulasi menggunakan alginat dengan metode ekstrusi tidak menyebabkan kerusakan sel bakteri sehingga viabilitasnya tinggi (Serna-Cock dan Vallejo-Castillo, 2013).

Berat nata de coco yang dihasilkan sedikit menurun dengan meningkatnya konsentrasi alginat, tetapi berat nata de coco yang dihasilkan tidak berbeda nyata. Ini disebabkan karena viabilitas A. xylinum terenkapsulasi dengan 2% alginat lebih tinggi daripada 3% dan 4% alginat. Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan 2% alginat menghasilkan viabilitas Lactobacillus casei terenkapsulasi lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan 4% alginat (Mandal et al., 2006).Berat nata de coco yang dihasilkan dari A. xylinum terenkapsulasi tidak berbeda nyata dengan berat nata de coco yang dihasilkan dari A. xylinum cair (tanpa proses enkapsulasi) karena viabilitas A. xylinum terenkapsulasi tinggi (6,89-7,04 log cfu/g) tidak jauh berbeda dengan viabilitas starter cair (7,00 log cfu/ml). Hal ini mengindikasikan bahwa enkapsulasi A. xylinum tidak berpengaruh terhadap berat nata de coco yang dihasilkan. Potensi kelebihan penggunaan starter A. xylinum terenkapsulasi dibandingkan starter cair adalah bead dapat digunakan lagi untuk fermentasi selanjutnya karena masih mengandung A. xylinum setelah proses fermentasi (Nugroho dan Aji, 2015), umur simpan lebih lama dan menghemat penggunaan tempat dalam selama penyimpanan dan transportasi.

KESIMPULAN

 Alginat merupakan bahan yang mampu melindungi A. xylinum dalam proses enkapsulasi

 Konsentrasi alginat 2% menghasilkan viabilitas A. xylinum tertinggi dibandingkan dengan konsentrasi alginat 3 dan 4%

A. xylinum terenkapsulasi tidak berpengaruh nyata terhadap berat nata de coco yang dihasilkan dibandingkan dengan menggunakan kultur cair A. xylinum

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Laboratorium Bioprocess Technology, Food Engineering and Bioprocess Technology, Asian Institute of Technology, Thailand yang telah membantu penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Afreen, S.S., Lokeshappa, B. 2014. Production of bacterial cellulose from Acetobacter xylinum using fruits wastes as substrate. The International Journal of Science and Technoledge, 2(8), 57.

Corcoran, B. M., Ross, R. P., Fitzgerald, G. F., Stanton, C. 2004. Comparative survival of probiotic lactobacilli spray-dried in the presence of prebiotic substances. Journal of Applied Microbiology, 96(5), 1024–1039.

Cuadros, T. R., Skurtys, O., & Aguilera, J. M. 2012. Mechanical properties of calcium alginate fibers produced with a microfluidic device. Carbohydrate polymers, 89(4), 1198-1206.

172

Draget, K. I., Smidsrod, O., Skjak-Braek, G. 2005. Alginates from algae. Biopolymers

Hamad, A., Handayani, N. A. 2014. Pengaruh umur starter Acetobacter xylinum terhadap produksi nata de coco. Techno Jurnal Ilmu Teknik, 15(1)

Kongruang, S. 2008. Bacterial cellulose production by Acetobacter xylinum strains from agricultural waste products. Applied Biochemistry and Biotechnology, 148(1-3), 245–256

Krasaekoopt, W., Bhandari, B., Deeth, H. 2003. Evaluation of encapsulation techniques of probiotics for yoghurt. International Dairy Journal, 13(1), 3–13.

Lestari, P., Elfrida, N., Suryani, A., Suryadi, Y., & others. 2014. Study on the production of bacterial cellulose from Acetobacter xylinum using agro-waste. Jordan J Biol Sci, 7, 75–80

Mandal, S., Puniya, A. K., & Singh, K. (2006). Effect of alginate concentrations on survival of microencapsulated Lactobacillus casei NCDC-298. International Dairy Journal, 16(10), 1190-1195.

Mohammad, S. M., Rahman, N. A., Khalil, M. S., Abdullah, S. R. S. 2014. An overview of biocellulose production using Acetobacter xylinum culture. Advances in Biological Research, 8(6), 307–313.

Müller, M., Solenthaler, B., Keiser, R., & Gross, M. 2005, July. Particle-based fluid-fluid interaction. In Proceedings of the 2005 ACM SIGGRAPH/Eurographics symposium on Computer animation (pp. 237-244). ACM.

Nugroho, DA, Aji, P. 2015. Characterization of Nata de Coco Produced by Fermentation of Immobilized Acetobacter xylinum. Agriculture and Agricultural Science Procedia 3: 278

– 282

Parija, S. C. 2014. Textbook of microbiology & immunology. Elsevier Health Sciences.

Sengupta, A. K. 2007. Ion exchange and solvent extraction: a series of advances (Vol. 18). CRc Press Serna-Cock, L., Vallejo-Castillo, V. 2013. Probiotic encapsulation. African Journal of Microbiology

Research, 7(40), 4743-4753.

Shen, X., Shamshina, J. L., Berton, P., Gurau, G., Rogers, R. D. 2016. Hydrogels based on cellulose and chitin: fabrication, properties, and applications. Green Chemistry, 18(1), 53-75. Sun-Waterhouse, D., Wadhwa, S. S., & Waterhouse, G. I. 2013. Spray-drying microencapsulation of

polyphenol bioactives: a comparative study using different natural fibre polymers as encapsulants. Food and Bioprocess Technology, 6(9), 2376-2388.

Zhang, L., Liu, C., Li, D., Zhao, Y., Zhang, X., Zeng, X., Yang, Z., Li, S., 2013. Antioxidant activity of an exopolysaccharide isolated from Lactobacillus plantarum C88. International journal of biological macromolecules, 54, 270-275.

173

PREFERENSI PETANI TERHADAP CABAI RAWIT EKSISTING DI GORONTALO

FARMERS PREFERENCES OF EXISTING CAYENNE PEPPER IN GORONTALO

Muhammad Yusuf Antu1, Nanang Buri1, Ari Widya Handayani1 dan Hertina Artanti2 1

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo 2

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu

Jl. Muh. Van Gobel No.270 Iloheluma Kec. Tilong Kabila, Kab. Bone Bolango, Gorontalo 96183 Email : [email protected]

ABSTRAK

Preferensi petani terhadap cabai rawit berbeda-beda, karena terkait permintaan pasar dan konsumen. Hal tersebut menjadi pertimbangan petani untuk melakukan kontinuitas budidaya, khususnya penggunaan varietas cabai rawit. Oleh karena itu tujuan dari kajian adalah untuk mengetahui tingkat preferensi petani terhadap cabai rawit yang eksisting di Bongomeme Gorontalo. Kajian dilaksanakan pada Juni sampai Desember 2015 di Gorontalo. Kajian menggunakan metode survey dengan melibatkan 25 orang petani sebagai responden. Analisis preferensi petani terhadap varietas cabai rawit diukur menggunakan analisis komponen utama atau Principal Component Analysis (PCA), dengan variabel preferensi meliputi warna, ukuran, harga, penampilan, umur panen, proses budidaya, dan memperoleh benih. Varietas yang diukur tingkat preferensinya adalah varietas cabai rawit lokal Malita FM, varietas cabai rawit hibrida Dewata dan Sret. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik petani khususnya pengalaman dan usia sangat menentukan tingkat preferensi. Selanjutnya hasil analisis bahwa petani memiliki preferensi yang kuat terhadap varietas cabai rawit Dewata dibanding dengan varietas Malita FM dan Sret. Varietas dewata berada pada posisi mendekati ketiga variabel utama preferensi yang meliputi (1) preferensi visual, harga, dan proses budidaya, (2) memperoleh benih, dan (3) umur panen, sehingga varietas tersebut dijadikan varietas rekomendasi.

Kata kunci : Cabai rawit, preferensi, petani

ABSTRACT

Preferences farmers on different cayenne pepper, due to market demand and consumer related. This is a consideration farmer to make the cultivation continuityin particular the use of varieties of cayenne pepper. Therefore the aim of the study was to assess the preference farmers to the existing cayenne pepper in Bongomeme Gorontalo. Studies carried out in June and December 2015 in Gorontalo. Studies using survey involving 25 farmers as respondents. Analysis of farmers preferences to varieties of cayenne pepper is measured using principal component analysis or Principal Component Analysis (PCA), with preference variables including color, size, price, appearance, harvesting, cultivation process, and obtain seeds. Varieties were measured thelevel of preferences include varieties of Dewata, Malita FM, and Sret. The results showed that the characteristics of the farmers, especially the experience and age will determine the preferences. Results of the analysis of the preferences of farmers have a strong preference for varieties of cayenne pepper Dewata compared with Malita FM and Sret. Varieties Dewata are in no position away from the three main variable preferences that include (1) a visual preference, price, and the cultivation process, (2) obtaining the seed, and (3) harvesting, so that these varieties are used varieties of recommendation.

Keywords : Cayenne pepper, preferences, farmers

PENDAHULUAN

Salah satu komoditas hortikultura sebagai penyumbang inflasi adalah cabai rawit, karena pada waktu-waktu tertentu khususnya pada musim hujan, produksi cabai rawit kurang baik. Hal ini yang menjadi penyebab rendahnya produksi pada bulan tertentu disbanding dengan kebutuhan atau konsumsi, sehingga berdampak pada kenaikan harga. Selain itu menurunnya harga disebabkan panen raya hanya pada musim tertentu. Menurut Sutardi (2014) cabai rawit dan cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,02% - 0,03% dan 0,08% - 0,1%. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia yang suka cabai rawit segar, sehingga menyebabkan harga menjadi tinggi. Disisi lain secara nasional produk cabai rawit tidak bisa masuk industri di Indonesia karena kualitasnya rendah. Kualitas rendah ini tidak lepas dari soal pemupukan dan pestisida.

174

Tingginya permintaan akan cabai rawit khususnya di Gorontalo menjadi pendorong bagi petani untuk mengusahakan atau berbudidaya cabai rawit sesuai dengan keinginan dan preferensi konsumen dipasaran. Hal ini sejalan dengan pernyataan Lim et al. (2013), dalam merencanakan sebuah produk harus berorientasi pada konsumen dan pasar. Permintaan pasar yang menjadi dasar petani untuk menentukan varietas yang akan dibudidayakan yaitu cabai rawit yang sangat pedas, seperti halnya cabai rawit lokal yang terkesan sangat pedas. Selain itu preferensi lainnya adalah cabai rawit yang dapat menjangkau pasar, karena daya simpannya yang lama pada suhu ruang serta harga yang optimal.

Menurut Fachrista et al, (2012), preferensi merupakan minat dan keinginan yang ditunjukkan oleh konsumen atau petani terhadap kombinasi atribut –atribut suatu produk yang baru maupun lama yang paling disukai. Sedangkan menurut Sanjur (1982),preferensi konsumen adalah derajat kesukaan atau tidak suka seseorang terhadap suatu produk, selain itu preferensi yang dilakukan masyarakat terhadap suatu produk lebih dikenal dengan sebutan preferensi konsumen. Selai itu terkait preferensi, dimana tekanan konsumen dapat secara implisit terdapat dalam permintaan varietas tanaman yang hasilnya tinggi, mutu prima, aman dikonsumsi yang akan berdampak pada akselerasi diseminasi (Adiyoga, 2011).

Berdasarkan permasalahan, kegiatan kajian dilakukan sebagai upaya untuk mengungkapkan preferensi petani terhadap cabai rawit yang dibutuhkan konsumen dan pasar. Sehingga upaya tersebut akan menjadi langkah selanjutnya petani untuk merencanakan penerapan dan kontinuitas budidaya, khususnya penggunaan varietas cabai rawit eksisting. Oleh karena itu yang menjadi tujuan dari kajian adalah untuk mengetahui tingkat preferensi petani terhadap cabai rawit yang eksisting di Bongomeme Gorontalo.

METODOLOGI

Kajian dilaksanakan pada Juni sampai Desember 2015 di Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Lokasi tersebut merupakan wilayah kawasan pengembangan hortikultura provinsi Gorontalo. Kajian menggunakan metode survey dengan melibatkan 25 orang petani sebagai responden. Analisis data dilakukan melalui wawancara dengan petani dan menggunakan kuesioner. Preferensi petani terhadap varietas cabai rawit diukur menggunakan analisis komponen utama atau Principal Component Analysis (PCA) pada perangkat lunak MINITAB ver. 16. Variabel preferensi meliputi warna, ukuran, harga,penampilan, umur panen, proses budidaya, dan memperoleh benih.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani dan Deskripsi varietas cabai rawit

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa preferensi terhadap varietas cabai rawit tidak dihubungkan dengan tingkat jenis kelamin petani, karena petani baik perempuan maupun laki-laki dapat menilai dan mengukur tingkat kesukaannya terhadap cabai rawit, baik yang dibudidayakan maupun yang dikonsumsinya. Selain itu terkait dengan pengalaman dalam berusahatani cabai rawit rata-rata + 6 bulan. Pengalaman petani berhubungan dengan usia petani, karena semakin lama petani dalam berusahatani, maka semakin meningkat pula pengalaman dalam budidaya yang menjadi usahanya. Pengalaman usaha tani berpengaruh terhadap daya respon, tanggapan, penerimaan petani terhadap suatu informasi teknologi yang disampaikan kepada petani (Novia, 2011). Menurut Hendarini (2011) preferensi dipengaruhi oleh umur, dimana preferensi anak-anak akan sangat berbeda dengan orang dewasa, kemudian pereferensi juga dipengaruhi oleh waktu dan kondisi produk yang disediakan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2, bahwa deskripsi varietas yang menjadi informasi produk merupakan suatu atribut untuk dipertimbangkan petani untuk mengetahui potensi hasil cabai rawit dan umur panennya, karena atribut tersebut salah satu yang akan menjadi dasar petani untuk melakukan budidaya. Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa sesuai deskripsi, varietas Sret produksinya lebih tinggi dibanding dengan varietas cabai rawit Dewata dan Malita FM, namun pada kenyataannya sesuai preferensi petani lebih memilih cabai rawit Dewata karena faktor umur panen, sedangkan untuk cabai rawit Malita FM lebih unggul pada tingkat kepedasannya. Menurut Basuki et al, (2014) petani enggan mengadopsi varietas apabila belum mengetahui secara jelas informasi keunggulan suatu varietas, sehingga perlu adanya bukti-bukti baik penampilan dan preferensi harga.

175