Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonom
PMA PMDN Industri Perdagangan, Hotel dan
II. TINJAUAN PUSTAKA
2. Produktivitas Tenagakerja (PDRB)
Produktivitas Tenaga Kerja merupakan gambaran tingkat kemampuan tenaga kerja dalam menghasilkan barang dan jasa. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor: PER.16MEN/XI/2010 Tentang Perencanaan Tenaga Kerja Makro, produktivitas tenaga kerja merupakan rasio antara nilai Produk Domestik Bruto (PDB) dengan jumlah penduduk yang bekerja yang digunakan baik individu maupun kelompok, dalam satuan waktu tertentu yang merupakan besaran kontribusi penduduk yang bekerja dalam pembentukan nilai tambah suatu produk dari proses kegiatan ekonomi pada suatu lapangan usaha secara nasional dan regional. Jumlah tenagakerja yang diminta dapat ditentukan oleh seberapa tingkat produktivitas dari tenagakerja itu sendiri
Produktivitas tenagakerja yang tinggi secara langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi berarti terjadi peningkatan akan barang dan jasa yang diproduksi oleh perekonomian dimana dalam aktivitasnya membutuhkan tenaga kerja. Menurut (Simanjuntak,1998) Kenaikan permintaan barang dan jasa oleh masyarakat membuat permintaan akan tenaga kerja oleh unit usaha atau perusahaan semakin meningkat (derived demand), dalam hal ini terjadi peningkatan dalam penyerapan tenagakerja dan
memberikan kesempatan kerja baru. Oleh karena itu, kenaikkan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja tergantung dari kenaikkan permintaan masyarakat akan barang yang di produksi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut secara langsung juga akan mendorong tumbuhnya kesempatan kerja secara luas. Tumbuhnya kesempatan kerja secara luas dan dalam jumlah yang banyak merupakan salah satu tujuan utama pembangunan nasional.
3. Kapital (Investasi)
Investasi merupakan salah satu faktor penting sebagai modal dasar untuk aktivitas pembangunan. Menurut (DEPNAKERTRANS, 2010) Penyebab terjadinya masalah pengangguran di Indonesia antara lain adalah masih rendahnya investasi akibat keterbatasan fasilitas antara lain seperti pengurusan perijinan, jaminan kepastian hukum, dan keamanan. Dalam hal ini Investasi merupakan salah satu faktor penting guna mempengaruhi permintaan tenagakerja dan menyerap tenagakerja baru. Selain itu, invetasi memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional khususnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Investasi merupakan salah satu komponen dari pembentukan pendapatan nasional atau PDB (Y= C + I + G + NX), sehingga pertumbuhan investasi akan berdampak pada pertumbuhan pendapatan nasional dan peningkatan kesempatan kerja.
Pada sektor industri ataupun sektor perdagangan, hotel dan restoran, bila diasumsikan faktor-faktor produksi yang lain konstan, maka semakin besar modal yang ditanamkan akan semakin besar permintaan akan tenagakerja. Fasilitas modal yang pada umumnya disebut sebagai penanaman modal atau investasi dapat berasal dari 2 sumber, diantaranya menurut (Salvatore, 1997):
a. Investasi Asing (PMA)
Investasi asing atau biasa disebut Penanaman Modal Asing (PMA) adalah salah suatu bentuk penghimpunan modal guna menunjang proses pembangunan ekonomi yang bersumber dari luar negeri. Biasanya, PMA terdiri atas:
1) Investasi portofolio (portofolio investment), yakni investasi yang melibatkan hanya aset-aset finansial saja, seperti obligasi dan saham, yang didenominasikan atau ternilai dalam mata uang nasional. Kegiatan- kegiatan investasi portofolio atau finansial ini biasanya berlangsung melalui lembaga-lembaga keuangan seperti bank, perusahaan dana investasi, yayasan pensiun, dan sebagainya
2) Investasi asing langsung (Foreign Direct Investment), merupakan PMA yang meliputi investasi ke dalam aset-aset secara nyata berupa pembangunan pabrik-pabrik, pengadaan berbagai macam barang modal, pembelian tanah untuk keperluan produksi, dan sebagainya.
b. Investasi Dalam Negeri (PMDN)
Investasi Dalam Negeri atau biasa dikenal dengan istilah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah suatu bentuk upaya dalam rangka menambah modal guna menunjang pembangunan nasional maupun wilayah melalui investor dalam negeri. Modal yang diperoleh dari dalam negeri ini dapat berasal dari pihak swasta ataupun dari pemerintah. Undang-undang yang mengatur PMDN di Indonesia pertama kali ditetapkan berdasarkan UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri yang kemudian disempurnakan oleh UU No. 12 Tahun 1970 juga mengenai Penanaman Modal
Dalam Negeri. Baik PMA maupun PMDN keduanya merupakan faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja.
2.3. Teori Permintaan Tenagakerja
Permintaan adalah suatu hubungan antara harga dan kuantitas. Sehubungan dengan tenaga kerja, permintaan adalah hubungan antara tingkat upah (harga tenaga kerja) dan kuantitas (jumlah) tenagakerja yang dikehendaki oleh produsen yang menggunakan tenagakerja tersebut untuk dipekerjakan dalam jangka waktu tertentu (Bellante dan Jackson, 1990). Hal ini berbeda dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. Orang membeli barang karena barang itu memberikan nikmat (utility) kepada si pembeli. Sementara pengusaha mempekerjakan seseorang karena memproduksikan barang untuk dijual kepada masyarakat konsumen. Oleh karena itu, kenaikan permintaan pengusaha terhadap tenagakerja, tergantung dari kenaikan permintaan masyarakat akan barang yang diproduksinya. Permintaan tenagakerja seperti itu disebut “derived demand“ (Simanjuntak, 1998).
Fungsi permintaan tenagakerja biasanya didasarkan pada teori ekonomi neoklasik, dimana dalam ekonomi pasar diasumsikan bahwa pengusaha tidak dapat mempengaruhi harga pasar (price taker). Dalam hal memaksimalkan laba, pengusaha hanya dapat mengatur berapa jumlah tenagakerja yang dapat dipekerjakan. Fungsi permintaan tenaga kerja didasarkan pada : (1) tambahan hasil marjinal, yaitu tambahan hasil (output) yang diperoleh dengan penambahan seorang pekerja atau istilah lainnya disebut Marginal Physical Product dari tenaga kerja (MPPL), (2) penerimaan marjinal, yaitu jumlah uang yang akan diperoleh pengusaha dengan tambahan hasil marjinal tersebut atau istilah lainnya
disebut Marginal Revenue (MR). Penerimaan marjinal disini merupakan besarnya tambahan hasil marjinal dikalikan dengan harga per unit, sehingga MR= VMPPL = MPPL . P, dan (3) biaya marjinal, yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan pengusaha dengan mempekerjakan tambahan seorang pekerja, dengan kata lain upah karyawan tersebut. Apabila tambahan penerimaan marjinal lebih besar dari biaya marjinal, maka mempekerjakan orang tersebut akan menambah keuntungan pemberi kerja, sehingga ia akan terus menambah jumlah pekerja selama Marginal Revenue (MR) lebih besar dari tingkat upah.
Sumber : Bellante dan Jackson (1990)
Gambar 2.2 Permintaan Tenagakerja dengan Tingkat Upah Tetap
Value Marginal Physical Product of Labour (VMPP) adalah nilai pertambahan hasil marjinal dari tenaga kerja. P adalah harga jual barang per unit, DL adalah permintaan tenaga kerja, W adalah tingkat upah, dan L adalah jumlah tenaga kerja. Peningkatan permintaan terhadap tenaga kerja tergantung dari pertambahan permintaan masyarakat terhadap barang yang dikonsumsinya. Semakin tinggi permintaan masyarakat akan barang tertentu, maka jumlah tenaga kerja yang diminta suatu lapangan usaha akan semakin meningkat dengan asumsi tingkat upah tetap (Gambar 2.2).
Peningkatan jumlah tenagakerja dalam suatu lapangan usaha tidak dilakukan untuk jangka pendek, walaupun permintaan masyarakat terhadap produk yang dihasilkan tinggi. Dalam jangka pendek, pengusaha lebih mengoptimalkan jumlah tenaga kerja yang ada dengan penambahan jam kerja atau penggunaan mekanisme, sedangkan dalam jangka panjang kenaikan jumlah permintaan masyarakat akan direspon dengan menambah jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan. Hal ini berarti terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja baru.
Penurunan tingkat upah dapat dilihat pada Gambar 2.3. Kurva DL melukiskan besarnya nilai hasil marjinal tenaga kerja (VMPPL) untuk setiap penggunaan tenaga kerja. Dengan kata lain, menggambarkan hubungan antara tingkat upah (W) dan penggunaan tenaga kerja yang ditunjukkan oleh titik L0 dan L1. Pada gambar 2.3 terlihat bahwa pada kondisi awal, tingkat upah berada pada W1 dan jumlah tenaga kerja yang digunakan L1. Jika tingkat upah diturunkan menjadi W0 , maka tenaga kerja yang diminta meningkat menjadi L0.
W
W
W0
Sumber : Bellante dan Jackson (1990)
Gambar 2.3 Permintaan Tenagakerja dengan Tingkat Upah Menurun
(Ehrenberg dan Smith, 2009 : 36 – 40) dalam teorinya juga manyatakan bahwa bila upah atau harga barang modal diasumsikan turun, maka biaya
L0 L1
DL L
produksi juga akan mengalami penurunan. Tentunya mengakibatkan pula harga jual per unit barang akan turun. Pada keadaan seperti ini produsen cenderung untuk meningkatkan produksi barangnya karena permintaan akan barang-barang oleh para konsumen akan meningkat. Disamping itu permintaan akan tenaga kerja dapat bertambah besar karena peningkatan kegiatan produksi perusahaan dalam menghasilkan output. Permintaan tenaga kerja seperti itu disebut “derived demand“. Peningkatan dalam permintaan tenaga kerja seperti ini diakibatkan karena efek skala (scale effect). Apabila upah atau harga barang modal naik maka pengusaha ada yang lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses produksinya dan menggantikan kebutuhan akan tenaga kerja dengan kebutuhan akan barang modal seperti mesin dan lain-lain sehingga terjadi capital intensif
dalam proses produksi. Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya pergantian atau penambahan penggunaan alat-alat atau mesin-mesin untuk proses produksi disebut efek subtitusi tenaga kerja (subtitution effect). Jadi secara relatif penggunaan tenaga kerja adalah berkurang.
2.4 Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Mankiw (2007), hukum Okun menyatakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara tingkat pengangguran dengan GDP (Gross Domestic Product) riil, di mana terdapat hubungan yang negatif antara tingkat pengangguran dengan GDP riil. Pernyataan ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan positif antara kesempatan dengan GDP riil. Okun menggunakan data tahunan dari Amerika Serikat untuk menunjukkan hukum Okun ini seperti terlihat pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 merupakan titik sebar dari perubahan dalam tingkat pengangguran pada sumbu horizontal dan perubahan persentase dalam GDP riil
pada sumbu vertikal. Gambar ini menunjukan dengan jelas bahwa perubahan dalam tingkat pengangguran dari tahun ke tahun sangat erat kaitannya dengan perubahan dalam GDP riil dari tahun ke tahun, seperti terlihat pada garis titik sebar pengamatan yang berslope negatif.
Sumber : Mankiw , 2007
Gambar 2.4. Kurva Hukum Okun
Harrod-Domar (Todaro, 2006) dalam teori pertumbuhannya menyatakan bahwa secara definitif tingkat pertumbuhan output (Y) dikurangi dengan tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja (Y/L) sama dengan pertumbuhan kesempatan kerja (L). Secara matematis hubungan-hubungan tersebut dapat disajikan sebagai berikut :
/ ∆
……… (1) Sementara itu menurut (Todaro, 2006), faktor-faktor atau komponen pertumbuhan ekonomi yang penting dalam masyarakat adalah sebagai berikut : 1. Akumulasi modal, termasuk semua investasi baru dalam bentuk tanah,
peralatan fisik, dan sumberdaya manusia.
2. Perkembangan populasi, yang akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan angkatan kerja.
3. Kemajuan teknologi, terutama sektor industri. Perubahan Persentase
GDP riil
Perubahan Tingkat Pengangguran
Teori Harod-Domar menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya dengan lebih mengutamakan perkembangan sektor-sektor ekonomi yang padat karya. Apabila pertumbuhan ekonomi dilihat dari pertambahan output dalam bentuk GDP konstan, maka akan menghilangkan unsur inflasi didalamnya. Sementara itu di sisi lain inflasi sebenarnya dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya akan dapat menciptakan kesempatan kerja. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa tolak ukur dari keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah diantaranya adalah PDRB daerah tersebut dan pertumbuhan penduduk yang bermuara pada tingkat kesempatan kerja. PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumberdaya alam dan faktor-faktor produksi.
2.5. Penelitian Terdahulu
Sitanggang dan Nachrowi (2004). “Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Propinsi pada 9 sektor di Indonesia”. Tujuannya adalah untuk mengetahui pola struktur ekonomi serta pola penyerapan tenaga kerja sektoral di Indonesia dan faktor- faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja sektoral di Indonesia dengan menggunakan data tahun 1980-2000. menggunakan model terbaik yaitu Pooled Least Square (PLS) terboboti. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa struktur ekonomi Indonesia secara nasional mengalami perubahan dari sektor pertanian ke sektor-sektor lainnya. Adanya peningkatan dan penurunan dalam jumlah penyerapan tenaga kerja ini disebabkan oleh perubahan populasi, net migration, output, dan juga upah. Perbedaan penelitian Sitanggang dan Nachrowi (2004) dengan penelitian ini yaitu dalam penelitian ini hanya membahas dua sektor
ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa periode 2001-2010.
Noer (2007) meneliti hubungan kausalitas antara tingkat output dan
pengangguran di Malaysia. Menggunakan data time series tahun 1970-2004. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang negatif antara
perubahan presentase GDP riil dengan tingkat pengangguran di Malaysia.
Zamrowi (2007). Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kecil (Studi di Industri Kecil Mebel di Kota Semarang). Metode Analisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel upah berhubungan negatif dan signifikan, variabel produktivitas barhubungan negatif dan signifikan, variabel modal berpengaruh positif dan signifikan, variabel pengeluaran non upah berhubungan positif dan signifikan.
Sianturi (2008). “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penciptaan Kesempatan Kerja Di Provinsi Sumatera Utara Sebelum dan Pada Masa Otonomi Daerah (1994-2007)”. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi penciptaan kesempatan kerja di Provinsi Sumatera Utara sebelum dan pada masa otonomi daerah. Hasil analisis regresi panel data menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh nyata dan berhubungan positif adalah variabel PDRB, variabel investasi memberikan pengaruh yang negaif, tingkat upah riil memberikan pengaruh, variabel angkatan kerja tidak signifikan, variabel indeks pendidikan tidak signifikan, variabel dummy otonomi daerah memberikan pengaruh yang negatif. Perbedaan penelitian Sianturi (2008) dengan penelitian ini yaitu membahas dua sektor ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa periode 2001-2010.
Tindaon (2010). “Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Jawa Tengah (Pendekatan Demometrik)” dengan menggunakan data 21 tahun dari tahun 1988-2008. Tujuan dari penelitian tersebut adalah meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja sektoral. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode Ordinary Least Square (OLS). Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa Variabel populasi atau Pertumbuhan jumlah penduduk Jawa Tengah berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan sektor Listrik, Gas, dan Air (LGA). Sementara pertumbuhan jumlah penduduk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektoral untuk sektor-sektor perekonomian lainnya. Jumlah PDRB sektoral berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja masing-masing sektor perekonomian di Jawa Tengah.
Koefisien elastisitas kesempatan kerja terbesar adalah pada sektor bangunan diikuti oleh sektor transportasi dan yang terkecil adalah sektor keuangan dan sektor listrik, gas dan air. Perbedaan penelitian Tindaon (2010) dengan penelitian ini yaitu hanya membahas dua sektor ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa periode 2001- 2010.
Akmal (2010). “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu mengetahui kondisi tenaga kerja indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di indonesia. Metode analisis regresi panel data dengan metode Fixed Effect pada taraf nyata 5 persen. Hasil analisis menunjukkan variabel PDRB secara signifikan berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga
kerja, Variabel investasi berpengaruh signifikan dan berhubungan positif, variabel UMP secara signifikan berpengaruh positif. Perbedaan penelitian Akmal (2010) dengan penelitian ini yaitu membahas penyerapan tenaga kerja di dua sektor ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa periode 2001-2010.
Rakhman (2011). “Analisis Perekonomian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesempatan Kerja di DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui struktur perekonomian dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesempatan kerja di DKI Jakarta. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Shift-Share, Loqation Quotient, dan Multiple Regression yang ditaksir dengan metode kuadrat terkecil (OLS) dalam bentuk semi – Log. Hasil analisis data variabel dengan Multiple Regression menunjukkan bahwa Variabel Otonomi Daerah, PMA, PMDN, PDRB, dan suku bunga kredit investasi secara simultan berpengaruh terhadap kesempatan kerja. Perbedaan penelitian Rakhman (2011) dengan penelitian ini yaitu hanya fokus membahas dua sektor ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa periode 2001-2010.
Nila, Fridhowati (2011) menganalisis dengan metode regresi panel data pendekatan fixed effect model menunjukkan bahwa PDRB dan UMP berpengaruh positif terhadap penyerapan tenag kerja sektor industri di Pulau Jawa periode 2003-2010. Sedangkan PMA dan PMDN berpengaruh negatif. Perbedaan penelitian Nila (2011) dengan penelitian ini yaitu dalam penelitian ini menganalisis dua sektor ekonomi yaitu sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di lokasi yang sama yaitu di Pulau Jawa periode 2001-2010.
2.6. Kerangka Pemikiran
Pembangunan ekonomi di wilayah Pulau Jawa yang notabene memiliki penduduk terbesar kurang lebih sebesar 60 persen dari jumlah total penduduk nasional pada era otonomi daerah seharusnya tidak hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja, akan tetapi harus memperhatikan pula adanya pemerataan dari hasil pertumbuhan ekonomi tersebut agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Pemerataan pendapatan tersebut salah satunya dapat dilihat dari adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja dan adanya kesempatan kerja baru untuk menanggulangi peningkatan penduduk usia kerja yang setiap tahunnya relatif selalu meningkat. Meningkatnya penduduk usia kerja yang tidak diiringi dengan meningkatnya kesempatan kerja baru akan menyebabkan adanya gap dalam bentuk pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka rata-rata di wilayah Pulau Jawa setiap tahunnya sebesar 10,47 persen. Adapun komposisi dari jumlah pengangguran tersebut rata-rata setiap tahunnya sebesar 43,38 persen merupakan pengangguran terdidik dan sisanya sebesar 56,62 persen pengangguran tidak terdidik.
Pulau Jawa yang memiliki struktur ekonomi berbasis sekunder dan tersier yang kontribusi setiap tahunnya diatas 50 persen seharusnya juga mampu menyerap tenaga kerja agar tingkat pengangguran di Pulau Jawa yang relatif besar mampu diatasi. Berdasarkan data (BPS, 2001-2010) sektor yang memiliki dominasi terbesar dalam perekonomian Pulau Jawa yaitu sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,83 persen dan 6,84 persen. Akan tetapi, tingginya pertumbuhan ekonomi dikedua sektor tersebut belum diiringi dengan pertumbuhan penyerapan
tenaga kerjanya. Berdasarkan data (SAKERNAS, 2001-2010) laju rata-rata pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran setiap tahunnya masing-masing hanya sebesar 1,69 persen dan 2,68 persen. Laju pertumbuhan tenaga kerja dikedua sektor formal tersebut relatif lebih rendah dibandingkan dengan sektor formal lainnya.
Salah satu sasaran utama pembangunan adalah selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi disisi lain juga harus mampu menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Oleh karena itulah, pemerintah senantiasa membuat kebijakan yang dapat meningkatkan taraf hidup pekerja dengan tingkat upah yang layak. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menetapkan kebijakan tingkat upah minimum. Tingkat upah minimum ditetapkan secara sektoral dan regional pada tahun 2001. Tingkat upah minimum yang ditetapkan di atas tingkat upah rata-rata yang diperoleh pekerja kemungkinan besar akan menyebabkan pengusaha mengurangi penggunaan tenaga kerja sehingga pertumbuhan penyerapan tenaga kerja akan berkurang.
Masih rendahnya tingkat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di wilayah Pulau Jawa menjadi suatu topik yang menarik untuk diteliti apakah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah di era otonomi terkait adanya upah minimum di pasar kerja dapat memengaruhi penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran?. Berangkat dari adanya permasalahan tersebut, melalui penelitian ini perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai dampak kebijakan upah minimum pada era otonomi daerah serta variabel-variabel kebijakan lainnya seperti PDRB, PMA dan PMDN untuk memberikan saran
kebijakan terkait dengan meningkatnya pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa.
= ruang lingkup analisis
Gambar 2.5. Kerangka Pemikiran
PMDN PMA
PDRB UMP
Pembangunan Ekonomi di Pulau Jawa Era Otonomi Daerah :
- Pro Growth
- Pro Job
- Pro Poor
Rendahnya Laju Penyerapan tenaga kerja sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran
di Era Otonomi Daerah
Deskriptif : Perkembangan kondisi penyerapan tenaga kerja sektor industri dan perdagangan, hotel dn restoran pada tahun 2001-
2010
penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel
dan restoran:
Analisis Regresi Panel Data Implikasi Kebijakan
2.7. Hipotesis
Berdasarkan kerangka penelitian diatas, dapat disimpulkan beberapa hipotesis antara lain :
1. UMP riil berpengaruh negatif terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dalam artian menurunnya tingkat UMP akan mengakibatkan meningkatnya jumlah permintaan tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sehingga penyerapan tenaga kerja meningkat.
2. PDRB riil berpengaruh positif terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dalam artian meningkatnya PDRB akan mengakibatkan meningkatnya jumlah permintaan tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sehingga penyerapan tenaga kerja meningkat.
3. PMA berpengaruh positif terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dalam artian meningkatnya PMA akan mengakibatkan meningkatnya jumlah permintaan tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sehingga penyerapan tenaga kerja meningkat.
4. PMDN berpengaruh positif terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dalam artian meningkatnya PMDN akan mengakibatkan meningkatnya jumlah permintaan tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sehingga penyerapan tenaga kerja meningkat.
III. METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data panel terdiri dari dua bagian yaitu : (1) time series dan (2) cross section. Data time series yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tahunan selama sepuluh tahun dari tahun 2001 – 2010, data cross section sebanyak enam