Sebelum memasuki pembahasan tentang ”profesional”, perlu dimulai dengan etika profesi. Etika profesi ini dedeskripsikan sebagai norma-norma, syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi oleh sekelompok orang yang disebut kalangan profesional. Lalu siapakah yang disebut profesional itu? Orang yang menyandang suatu profesi tertentu disebut seorang profesional. Selanjutnya Oemar Seno Adji mengatakan bahwa peraturan-peraturan mengenai profesi pada umumnya mengatur hak-hak yang fundamental dan mempunyai peraturan-peraturan mengenai tingkah laku atau perbuatan dalam melaksanakan profesinya yang dalam banyak hal disalurkan melalui kode etik.110
Soren Kierkegaard111 seorang filsuf Denmark pelopor ajaran eksistensialisme memandang bahwa eksistensi manusia dalam kontek kehidupan konkret (seperti bekerja sebagai profesional) adalah makhluk alamiah yang terikat dengan lingkungannya, memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hukum alamiah. Kehidupan manusia bermula dari tarap estetis, kemudian meningkat ketarap etis, dan terakhir taraf religius.
Pada taraf kehidupan etis manusia mampu menangkap alam sekitarnya sebagai alam yang mengagumkan dan mengungkapkannya kembali sebagai bentuk karya seni seperti lukisan, tarian-nyanyian dan lainnya. Pada taraf kehidupan etis, manusia meningkatkan kehidupan estetis ketaraf manusiawi dalam bentuk perbuatan bebas dan bertanggung jawab (nilai moral). Pada taraf kehidupan religius manusia menghayati pertemuannya dengan Tuhan penciptanya dalam bentuk takwa dimana makin dekat
109
Suhrawardi K. Lubis,Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 1994, hal. 12. 110
S. Sinansari ecip, Kode Etik dan Undang-undang Pers, Berguna ataukah Percuma?, http://www.dewankehormatanpwi.com/aktifitas.php?Kat=26&id=34, akses 14 Pebruari 2013.
111
manusia dengan Tuhannya maka makin dekat pula dia pada kesempurnaan hidup dan semakin jauh dari kegelisahan dan keraguan.112
Dalam aspek lain digariskan pula, bahwa ada beberapa faktor yang terkait dengan kehidupan profesi dan malapraktik profesional, pertama, kepentingan klien yang dapat bersifat individual atau bersifat kolektif. Kepentingan klien ini langsung terkait dengan apabila terjadi malapraktik profesional. Dalam hubungannya dengan profesional, kedudukan klien bersifat dependen dan dalam kondisi konfidensial dalam kerangka memberikan pelayanan, kedua, kepentingan masyarakat. Kepentingan masyarakat ini erat kaitannya dengan kepentingan yang harus mengedepankan pelayanan kepentingan umum (sifat altruistik). Pelayanan profesional yang ceroboh akan merugikan kepentingan masyarakat. Ketiga, kepentingan negara. Sepanjang menyangkut kepentingan negara, masalahnya akan banyak berkaitan dengan kebijaksanaan sosial dalam bentuk program-program pembangunan.113
Karena itu, menjadi seorang profesional hukum itu mutlak didukung dengan keahlian khusus yang melekat, yang bersubstansi tentang penguasaan teknik-teknik solusi problema sosial-yuridis. Tanpa itu, maka belum lazim digolongkan sebagai profesional. Dan keahlian itu terbentuk dan dikuasai melalui proses yang tidak ringan. Pembelajaran dan pelatihan misalnya merupakan dua aspek yang amat mendukung terkonstruksi dan tercapainya idealisme profesi..
Profesi hukum ini memiliki tempat yang istimewa di tengah masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan eksistensi konstitusional kenegaraan yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara hukum (rechstaat). Jika dikaitkan dengan batasan berbagai pendapat pakar di aras, maka profesi hukum pun berangkat dari suatu proses, yang kemudian melahirkan pelaku hukum yang andal. Penguasaan terhadap peraturan perundang-undangan, hukum yang sedang berlaku dan diikuti dengan aspek aplikatifnya menjadi substansi profesi hukum.
Tanggung jawab seorang yang profesional, menurut Wawan Setiawan114, paling tidak harus bertanggung jawab kepada:
a. Klien dan masyarakat yang dilayaninya; b. Sesama profesi dan kelompok profesinya; c. Pemerintah dan negaranya.
Pada rapat gabungan Pengda INI Jateng dan DIY disebutkan bahwa seorang profesional itu haruslah memiliki kepribadian sosial, sebagaimana berikut:
112 Ibid 113
Liliana Tedjosaputro,Op.Cit.hal.74-80 114
1) Bertanggung jawab atas semua tindakannya;
2) Berusaha selalu meningkatkan ilmu pengetahuannya;
3) Menyumbangkan pikiran untuk memajukan ketrampilan/kemahiran dan keahlian serta pengetahuan profesi;
4) Menjunjung tinggi kepercayaan orang lain terhadap dirinya;
5) Menggunakan saluran yang baik dan benar serta legal dan halal untuk menyatakan ketidak-puasannya;
6) Kesediaan bekerja untuk kepentingan asosiasi/organisasi dan senantiasa memenuhi kewajiban organisasi profesinya;
7) Mampu bekerja dengan baik dan benar tanpa pengawasan tetap atau terus menerus;
8) Mampu bekerja tanpa pengarahan terinci;
9) Tidak mengorbankan orang lain/pihak lain demi kemajuan/keuntungan diri pribadinya semata-mata;
10) Setia pada profesi dan rekan seprofesi; 11) Mampu menghindari desas-desus; 12) Merasa bangga pada profesinya;
13) Memiliki motivasi penuh untuk lebih mengutamakan kepentingan masyarakat yang dilayaninya;
14) Jujur, tahu akan kewajiban dan menghormati hak pihak/orang lain; 15) Segala pengalamannya senantiasa diniati dengan niat dan i’tikad yang
baik, tujuan yang dicapai hanya tujuan yang baik, demikian pula tata cara mencapai tujuan itu juga dengan cara yang baik.
Penguasaan dan penerapan hukum, atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku telah menetapkannya sebagai praktisi yang diberi kompetensi menyelenggarakan (memberdayakan) hukum, maka pelaku ini telah mengemban misi istimewa profesi hukum.
Penguasaan terhadap hukum adalah melalui proses edukatif dan aplikatif. Karena prosesnya demikian, maka yang diperoleh dan dikuasainya (hukum) adalah produk ilmu pengetahuan yang menempatkan pihak yang menguasainya memiliki kekhususan (spesifikasi) keahlian di bidang hukum yang tidak semua masyarakat memilikinya.
Perlu direfleksi apa yang disampaikan Satjipto Rahardjo, bahwa hukum adalah karya manusia yang berupa norma-norma berisikan petunjuk (panduan) tingkah laku. Hukum merupakan pencerminan kehendak manusia tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu dibina dan kemana harus diarahkan. Oleh karena itu, pertama-tama hukum mengandung rekaman dan ide-ide yang dipilih oleh masyarakat tempat hukum itu diciptakan. Ide-ide ini adalah Ide-ide mengenai keadilan.115
115
Ada suatu tuntutan fungsional yang wajib diberdayakan dari pihak yang sudah memasuki dunia profesi hukum. Spesifikasi atau kekhususan keahlian yang dikuasainya menjadi “mahal” nilainya di tengah masyarakat. Artinya si “penguasa” profesi dituntut jadi agen fungsional yang bisa menempatkan profesinya menjadi bermanfaat di tengah masyarakat. Karena itu, profesi hukum dapat diartikan sebagai suatu kegiatan (aplikatif) fungsional mengenai ketentuan-ketentuan perundang-undangan, yang diimplementasikan terhadap orang-orang (masyarakat) dan negara yang sedang menghadapi persoalan-persoalan yuridis.
Seseorang yang menguasai hukum dan utamanya memiliki persyaratan formal untuk menyelesaikan kasus-kasus yuridis yang menimpa orang lain, maka orang tersebut sudah terlibat dalam pemberdayaan keahlian atau teknik-teknik spesifikasi dari sebuah profesi hukum. Seperti dalam Piagam Baturraden, yang dihasilkan oleh pertemuan para Advokat tanggal 27 Juni 1971 telah merumuskan tentang unsur-unsur untuk dapat disebut “profession, yaitu:
a. Harus ada ilmu (hukum) yang diolah didalamnya;
b. Harus ada kebebasan, tidak boleh ada dienst verhouding (hubungan dinas)hierarchies;
c. Mengabdi pada kepentingan umum, mencari nafkah tidak boleh menjadi tujuan;
d. Adaclienten-verhouding, yaitu hubungan kepercayaan di antara advokat danclient;
e. Ada kewajiban merahasiakan informasi dari klien dan perlindungan dan hak merahasiakan itu oleh undang-undang;
f. Ada immunitet terhadap penuntutan tentang hak yang dilakukan di dalam tugas pembelaan;
g. Ada kode etik dan peradilan kode etik (tuchtrechtspraak);
h. Ada honorarium yang tidak perlu seimbang dengan 33 hasil pekerjaan atau banyaknya usaha atau pekerjaan yang dicurahkan (orang tidak mampu harus ditolong tanpa biaya dan dengan usaha yang sama).116
Rumusan itu menentukan tentang hubungan antara profesi hukum dengan masyarakat, yang sekaligus dijadikan sebagai suatu karakteristik-nya. Artinya, layanan (keberpihakan) sosial menjadi unsur mutlak dalam profesi hukum. Seseorang yang bermaksud memasuki fase profesional hukum harus memiliki unsur-unsur dan karakteristik profesi.
Secara khusus, terdapat ciri-ciri yang melekat pada profesi hukum, yaknipertama, didahului oleh persiapan dalam memperdalam pengetahuan tentang perundang-undangan dan teknik penerapan (aplikasinya) atau
training khusus yang bertujuan pada pemahaman makna hukum, baik
116
secara materiil maupun formal, kedua, menunjuk pada keanggotaan yang tetap yang membedakan dengan keanggotaan yang lain. Artinya, harus ada suatu spesifikasi keilmuan yang dikuasainya yang membedakan dengan lainnya yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun sosial, dan
ketiga, adanya sikap kesediaan menerima (aseptabilitas) atas pekerjaan yang dilakukannya. Tidak menuntut secara berlebih atau di luar kemampuan kliennya. Tidak menolak dan memutuskan hubungan profetik dalam memberikan layanan kepada kliennya yang kurang mampu secara ekonomi atau terhadap klien yang tiba-tiba jatuh miskin.