• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesional pekerjaan sosial

Dalam dokumen smk10 PekerjaSosial Juda (Halaman 143-147)

Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Sosial

A. Setting pelayanan sosial

1. Profesional pekerjaan sosial

Standard klasifikasi praktek pekerjaan sosial yang dikembangkan oleh Ikatan Pekerja Sosial Amerika Serikat (NASW, National Association of Sovcial Workers) menggambarkan empat level praktek pekerjaan sosial dan mengidentifikasikan tanggung jawab tugas dan landasan pendidikan sebagai berikut:

a. Level profesional dasar

Level profesional dasar (basic professional level) menyaratkan strata satu (S1) dalam pekerjaan sosial dari suatu program yang diakreditasi oleh Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI). Level ini menyajikan praktek yang menyaratkan keterampilan praktek profesional, pengetahuan teoritik, dan nilai-nilai yang pada umumnya tidak diperoleh dari pengalaman kerja sehari-hari tetapi yang diperoleh melalui pendidikan formal profesional pekerjaan sosial. Pendidikan formal pekerjaan sosial berbeda dari pembelajaran eksperiensial karena didasarkan atas pengetahuan konseptual dan teoritik tentang interaksi personal dan sosial serta atas pelatihan dalam penggunaan diri secara disiplin dalam berelasi dengan klien.

b. Level profesional pakar/ahli

pekerjaan sosial dari satu program pekerjaan sosial yang diakreditasi oleh Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI). Level ini menyajikan penguasaan teknik teraputik yang spesifik dan didemonstrasikan pada sekurang-kurangnya satu metode pengetahuan dan keterampilan, dan pengetahuan umum tentang kepribadian manusia yang dipengaruhi oleh faktor- faktor sosial, serta penggunaan diri secara disiplin dalam relasi penyembuhan dengan individu-individu atau kelompok-kelompok, atau pengetahuan konseptual yang luas tentang penelitian, administrasi, atau metode- metode perencanaan dan masalah-masalah sosial.

c. Level profesional independen/mandiri

Level profesional independen/mandiri (independent

professional level) menyaratkan strata dua (S2) dalam

pekerjaan sosial dari satu program pekerjaan sosial yang diakreditasi oleh Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI) dan sekurang-kurangnya pengalaman kerja dua tahun pascastrata dua di bawah supervisi profesional yang sesuai. Level ini menyajikan pencapaian atau prestasi oleh praktisioner praktek, yang didasarkan atas pelatihan spesifik yang sesuai, yang dikembangkan dan didemonstrasikan di bawah supervisi professional, yang memadai untuk menjamin kemandirian, penggunaan secara teratur keterampilan- keterampilan profesional dalam praktek mandiri atau otonom. Minimum dua tahun disyaratkan bagi pembelajaran eksperiensial ini dan periode demonstrasi menyusul strata dua program pekerjaan sosial. Level ini dapat diterapkan baik kepada praktek solo atau otonom sebagai praktisioner mandiri atau konsultan maupun kepada praktek dalam organisasi dimana pekerja sosial memiliki tanggung jawab utama untuk mewakili profesi atau atas pelatihan atau pengadministrasian staf profesional.

d. Level profesional lanjutan

Level profesional lanjutan (advanced professional level) menyaratkan kecakapan khusus dalam teori, praktek, administrasi atau kebijakan atau kemampuan untuk melaksanakan studi-studi penelitian lanjutan dalam kesejahteraan sosial; biasanya didemonstrasikan melalui strata tiga (S3) dalam pekerjaan sosial atau disiplin ilmu

sosial yang sangat relevan. Level ini menyajikan praktek dimana praktisioner mengemban tanggung jawab sosial dan organisasional utama atas pengembangan professional, analisis, penelitian, atau implementasi kebijakan, atau yang dicapai melalui pertumbuhan profesional pribadi yang didemonstrasikan melalui kontribusi konseptual lanjutan bagi pengetahuan profesional. (h. 9 dalam DuBois & Miley, h. 86).

DiNitto & McNeece menyebut level profesional itu sebagai struktur pendidikan pekerjaan sosial yang terdiri atas tiga susunan program. Pertama, program stara satu (S1, undergraduate programs) menyiapkan mahasiswa untuk berpraktek pekerjaan sosial level permulaan atau entri.

Kedua, program stara dua (S2, master’s programs) menyiapkan mahasiswa untuk berpraktek pekerjaan sosial pada level pelayanan langsung atau klinis, dan pelayanan tidak langsung atau administrasi dan perencanaan.

Ketiga, program stara tiga (S3, doctoral programs) menyiapkan mahasiswa untuk berkarir dalam pengajaran dan penelitian atau posisi administratif atau analisis kebijakan tingkat tinggi (h. 25-27).

Ernest Greenwood mengusulkan lima syarat suatu bidang pekerjaan disebut sebagai profesi yaitu memiliki seperangkat teori, otoritas (mandat, kewenangan), sanksi atau pengakuan masyarakat, kode etik, dan kebudayaan (Johnson, 1989, h. 19).

Level profesional praktek pekerjaan sosial dibedakan menurut level otonomi profesional, spesialisasi praktek, kebutuhan klien, dan kompleksitas masalah. Setiap posisi pekerjaan sosial dalam skema hierarkhis dievaluasi berdasarkan tujuh faktor:

x Pengetahuan yang disyaratkan oleh posisi

x Kemampuan membuat pertimbangan secara mandiri

x Level keterampilan

x Derajat kerentanan klien

x Fungsi sosial yang dialankan oleh kegiatan (NASW 1981a dalam DuBois & Miley, h. 87).

2. Paraprofesional

Paraprofesional (paraprofessionals), atau orang-orang yang memiliki beberapa pengetahuan khusus dan pelatihan teknis yang disupervisi oleh dan bekerjasama dengan profesional, yang merupakan proporsi staf yang cukup besar dalam jejaring penyelenggaraan pelayanan sosial. Dalam kenyataan, perkiraan menunjukkan bahwa kurang lebih ѿ petugas kesehatan jiwa masyarakat dan ½ petugas pelayanan langsung di bidang kesehatan jiwa adalah paraprofesional (Mandell & Schram 1985 dalam DuBois & Miley, h. 87).

Paraprofesional dapat diberikan beragam nama jabatan. Di bidang kesehatan jiwa, staf paraprofesional dapat disebut teknisi kesehatan jiwa; di bidang kesejahteraan publik disebut ajun pekerja sosial (caseworker aides); di bidang pelayanan rehabilitasi disebut koordinator pelayanan; dan di panti asuhan berjangka panjang disebut petugas pelayanan sosial. Fungsi mereka seringkali berorientasi tugas dan kadang-kadang bersifat juru tulis atau rutin. Pada suatu kasus tertentu, paraprofesional harus bekerja di bawah bimbingan anggota staf profesional. Supervisi reguler dan kesempatan pelatihan berkelanjutan sangat penting untuk menjamin kinerja berkualitas tinggi dari paraprofesional.

Beberapa isu penting berkaitan dengan penggunaan paraprofesional perlu dipertimbangkan (Kinduka 1987 dalam DuBois & Miley, h. 87). Pertama, gerakan paraprofesional memberi harapan besar bagi jejaring penyelenggaraan pelayanan sosial yang lebih efektif melalui penggunaan para karyawan pribumi. Tentu saja paraprofesional merupakan suatu simpul dalam kontinum pelayanan kemanusiaan. Akan tetapi signifikansi kontribusi mereka masih dapat diperdebatkan. Sering sekali paraprofesional memilih metode-metode intervensi tradisional daripada memberikan pelayanan-pelayanan inovatif yang membumi sebagaimana diharapkan semula.

Kedua, deklasifikasi posisi-posisi profesional pekerjaan sosial dan tumpang tindih fungsi antara pekerja sosial dan

aktivitas profesional. Pada satu sisi, paraprofesional menolak dikendalikan oleh pekerja sosial dalam pelayanan kemanusiaan; pada sisi lain, pekerja sosial yang terlatih secara profesional menolak kehadiran karyawan yang kurang terlatih ke dalam pelayanan sosial. Penggunaan paraprofesional menuntut kesesuaian antara level kompetensinya dengan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

Dalam dokumen smk10 PekerjaSosial Juda (Halaman 143-147)