KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Pustaka dan Hipotets Penelitian
2.1.9 Profesionalisme Auditor Internal
Menurut Garman (2006) profesionalisme adalah kemampuan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dan organisasi dengan standar etika dan profesional yang mencakup tanggung jawab kepada klien maupun masyarakat.
Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya; memberikan opini yang objektif, tidak bias, dan tidak dibatasi dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga (Sawyer: 2006). Untuk mengetahui apakah seorang auditor internal telah profesional dalam melakukan tugasnya, maka perlu adanya evaluasi kinerja. Dan evaluasi kinerja auditor internal dapat dilakukan dengan cara yaitu: sudahkah terpenuhinya kriteria-kriteria profesionalisme auditor internal.
Menurut Arens dan Loebbecke (2009) berpendapat bahwa untuk meningkatkan profesionalisme, sering akuntan harus memperlihatkan perilaku profesinya, yang berupa:
1) Tanggung jawab
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, akuntan harus mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua aktivitas mereka.
36 2) Kepentingan masyarakat
Akuntan harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat, dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme.
3) Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab profesional dengan integritas tertinggi.
4) Objektivitas dan Independensi
Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesional.
5) Keseksamaan
Akuntan harus memenuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa dan melakukan tanggung jawab profesional dengan kemampuan terbaik.
6) Lingkup dan Sifat Jasa
Dalam menjalankan praktik sebagai akuntan publik, ffakuntan harus mematuhi prinsip-prinsip perilaku profesional dalam menentukan lingkup dan jasa audit yang akan diberikan.
Konsep profesionalisme yang dikembangkan oleh Hall (1968) dalam Lestari dan Dwi (2003: 11) banyak digunakan oleh para peneliti untuk mengukur profesionalisme dari profesi auditor yang tercermin dari sikap dan perilaku. Menurut
37
Hall (1968) dalam Herawati dan Susanto (2009:4) terdapat lima dimensi profesionalisme, yaitu:
1) Pengabdian pada profesi
Pengabdian pada profesi dicerminkan dari dedikasi profesionalisme dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Keteguhan untuk tetap melaksanakan pekerjaan meskipun imbalam ekstrinsik kurang. Sikap ini adalah ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan, bukan hanya alat untuk mencapai tujuan. Totalitas ini sudah menjadi komitmen pribadi, sehingga kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan rohani, baru kemudian materi. 2) Kewajiban sosial
Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi dan manfaat yang diperoleh baik masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
3) Kemandirian
Kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandangan seseorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien, dan bukan anggota profesi). Setiap ada campur tangan dari luar dianggap sebagai hambatan kemandirian secara profesional.
4) Keyakinan terhadap peraturan profesi
Keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, bukan
38
orang luar yang tidak mempunyai kompetensi dalm bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
5) Hubungan dengan sesama profesi
Hubungan dengan sesama profesi adalah menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan kelompok kolega informal sebagai ide utama dalam pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesional.
2.1.10 Kecurangan
Penelitian kali ini penulis akan menganalisis pengaruh kompetensi auditor internal, independensi auditor internal dan profesionalisme auditor internal dalam upaya mencegah fraud. ACFE’s mendefinisikan fraud sebagai tindakan mengambil keuntungan secara sengaja dengan cara menyalahgunakan suatu pekerjaan/jabatan atau mencuri aset/sumberdaya dalam organisasi Singelton (2010) dalam Yuniarti (2012). Arti dari fraud adalah kecurangan, penipuan, atau penggelapan. Sedangkan kecurangan mencakup suatu tindakan ketidakberesan dan tindakan ilegal yang
bercirikan penipuan yang disengaja. Dapat disimpulkan bahwa fraud
(kecurangan/kejahatan) mencakup: 1) Penggelapan (Embezzlement).
2) Manipulasi pelanggaran karena jabatan (Malfeasance). 3) Pencurian (Thiefts).
39 5) Kelakuan buruk (Misdeed).
6) Kelalaian (Defalcanion).
7) Penggelapan Pajak (With Holdings). 8) Penyuapan.
9) Pemerasan. 10) Penyerobotan.
11) Salah saji (Misappropriation).
12) Fraudulent.
Meskipun demikian pada dasarnya kecurangan adalah merupakan serangkaian ketidakberesan (irregularities) mengenai: perbuatan-perbuatan melawan hukum
(illegal acts), yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (misalnya
menipu memberikan gambaran yang keliru (mislead) terhadap pihak lain, yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam ataupun dari luar organisasi, untuk mendapatkan keuntungan baik pribadi maupun kelompok dan secara langsung atau tidak langsung merugikan orang lain.
Kecurangan sering terjadi dalam perusahaan, tetapi tak seorang pun dapat melakukan apapun sampai auditor internal maupun eksternal menguji laporan keuangan perusahaan tersebut. Auditor yang terlatih menjadi lebih sensitif sehingga mereka mengurangi resiko kegagalan dalam mendeteksi suatu kekeliruan secara material dalam suatu laporan keuangan perusahaan. Jika kecurangan terjadi, pihak manajemen selalu mempertanyakan bagaimana fungsi dan peran internal auditor yang ada. Dimana dan sedang apa mereka pada saat kasus tersebut terjadi. Kapan
40
pemeriksaan terakhir dilakukan dan mengapa pemeriksaan terakhir tersebut tidak dapat membongkar kecurangan atau setidaknya mengungkapkan kelemahan sistem internal control yang memungkinkan terjadinya kecurangan.
Sesuai dengan norma pemeriksaan, kecurangan merupakan tanggung jawab oknum yang bersangkutan, sedangkan manajemen bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya kecurangan dan mendeteksi ada atau tidaknya kecurangan. Tanggung jawab auditor Internal adalah untuk menilai dan membantu pihak manajemen dalam melakukan pencegahan dan pendeteksian atas kecurangan tersebut. Berikut ini adalah beberapa tipe audit:
1) Fraudulent Financial Reporting (Laporan Keuangan yang curang).
Pelaporan keuangan yang curang adalah pernyataan kesalahan atau kesalahan dari jumlah atau penyingkapan dengan tujuan untuk menipu para pemakai.
2) Misaproppriation of Asset (Penggelapan Harta)
Penggelapan harta adalah penipuan yang melibatkan pencurian dari suatu kesatuan asset. Misapropriation of Asset digunakan untuk mengacu pada pencurian yang melibatkan para karyawan dan anggota internal dari organisasi. Penggelapan asset biasanya dilakukan di tingkat yang lebih rendah dari hirarki organisasi.
41 Pendorong / Paksa an Gambar 2.1 Fraud Triangle
Sumber: Tuannakota (2007)
Tiga kondisi dari penipuan timbul dari fraudulent financial reporting dan
misapproppriation of assets yang diuraikan dalam SAS 99 (AU 316), yang dijelaskan
dalam Auditing and Assurance Services. Tiga kondisi tersebut dikenal sebagai Fraud
Triangle yaitu pendorong/paksaan (pressure), kesempatan (opportunity), dan
sikap/rasionalisasi (rationalization). Penjelasannya sebagai berikut: 1) Pendorong/Paksaan (Pressure).
Penggelapan uang perusahaan oleh pelakunya bermula dari suatu tekanan
(pressure) yang menghimpitnya. Orang ini mempunyai kebutuhan keuangan
yang mendesak, yang tidak dapat diceritakannya kepada orang lain. Konsep yang penting disini adalah tekanan yang menghimpit hidupnya (berupa kebutuhan akan uang), padahal ia tidak bisa berbagi (sharing) dengan orang lain. Konsep ini dalam bahasa Inggris disebut perceived non-shareable financial need.
42 2) Kesempatan (Opportunity).
Kondisi yang mendesak menyediakan peluang bagi manajemen atau para karyawan untuk melakukan penipuan.
3) Sikap/Rasionalisasi (Rationalization).
Sikap, karakter atau kesatuan nilai-nilai etis yang ada, itu mengijinkan manajemen atau para karyawan untuk melakukan suatu tindakan yang tidak jujur, atau mereka ada dalam suatu lingkungan yang cukup menekan yang menyebabkan mereka untuk yang merasionalkan untuk melakukan suatu tindakan yang tidak jujur.
Dalam pengklasifikasiannya, kecurangan dapat dilakukan oleh manajemen dan karyawan suatu perusahaan.
1) Management Fraud (Fraud oleh Manajemen).
Management fraud umumnya sulit untuk ditemukan sebab seseorang atau lebih
anggota manajemen bisa saja mengesampingkan internal controls. Bentuk-bentuk management fraud antara lain ialah menghapuskan transaksi tertentu, kecurangan dalam mencantumkan atau melaporkan jumlah tertentu, dan lain sebagainya.
Ada dua hal yang termasuk di dalam kecurangan oleh pihak manajemen
43
(1) Manajemen meminta agar KAP memberikan opini setuju (unqualified
opinion) padahal manajemen tahu sebetulnya Laporan Keuangannya tidak
layak.
(2) Manajemen melakukan transaksi-transaksi dengan pihak yang masih ada hubungan kekeluargaan atau persahabatan (related party transaction), atau juga melakukan transaksi yang tidak wajar (notatarm’s lenght), kesemuanya itu merugikan perusahaan dan menguntungkan kepentingan pribadi atau kelompoknya.
2) Employee Fraud (Fraud oleh Karyawan).
Jika auditor bertanggung jawab menemukan semua employee fraud, maka audit tests harus diperluas sebab banyak sekali jenis-jenis kecurangan karyawan yang sangat sulit atau bahkan tidak mungkin terdeteksi. Maka, prosedur auditnya akan lebih mahal dibanding dengan temuannya ini dikarenakan adanya tindakan kolusi antara beberapa karyawan dalam memalsukan dokumen dan akan sulit sekali ditemukan dengan cara audit yang biasa.
Dalam bukunya, Sawyer (2006:1038-1039) menjelaskan bahwa terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan atau mencegah terjadinya fraud dalam perusahaan, antara lain:
1) Menetapkan standar, anggaran dan statistik, dan menyelidiki semua penyimpangan yang material.
44
2) Menggunakan teknik kuantitatif dan analitis untuk menandai peristiwa yang menyimpang.
3) Mengidentifikasi indikator proses kritis: kehilangan dalam peleburan, pengulangan kerja dalam manufaktur dan perakitan, dan uji laba kotor dalam operasi eceran.
4) Menganalisa secara mendalam performa yang tampak terlalu baik, dan performanya yang ada di bawah standar.
5) Mendirikan departemen Audit Internal yang profesional dan independen.