• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Purwadarminto (1999: 405), pengertian kompetensi adalah kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan.

Menurut pendapat C. Lynn (1985: 33), bahwa “competence my range from recall and understanding of fact and concepts, to advanced motor skill, to teaching behaviours and profesional values”. Kompetensi dapat meliputi pengulangan kembali fakta-fakta dan konsep-konsep sampai pada ketrampilan motor lanjut hingga pada perilaku-perilaku pembelajaran dan nilai-nilai profesional.

Spencer dan Spencer dalam Hamzah B. Uno (2007: 63), kompetensi merupakan karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan menjadi cara-cara berperilaku dan berfikir dalam segala situasi, dan berlangsung dalam periode waktu yang lama. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa kompetensi menunjuk pada kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap, dan perilaku.

Lebih lanjut Spencer dan Spencer dalam Hamzah B. Uno (2007: 63), membagi lima karakteristik kompetensi yaitu sebagai berikut.

1) Motif, yaitu sesuatu yang orang pikirkan dan inginkan yang

menyebabkan sesuatu.

2) Sifat, yaitu karakteritik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi.

3) Konsep diri, yaitu sikap, nilai, dan image dari sesorang.

4) Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu.

5) Ketrampilan, yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental.

Menurut E. Mulyasa (2004: 37-38), kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Pada sistem pengajaran, kompetensi digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan profesional yaitu kemampuan untuk menunjukkan pengetahuan dan konseptualisasi pada tingkat yang lebih tinggi. Kompetensi ini dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman lain sesuai tingkat kompetensinya.

Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan seperangkat penguasaan kemampuan,

ketrampilan, nilai, dan sikap yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru yang bersumber dari pendidikan, pelatihan, dan pengalamannya sehingga dapat menjalankan tugas mengajarnya secara profesional.

Dalam hubungannya dengan tenaga kependidikan, kompetensi merujuk pada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi sertifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas kependidikan. Tenaga kependidikan dalam hal ini adalah guru. Guru harus memilki kompetensi yang memadai agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Menurut Piet Sahertian (1994: 73), “Kompetensi guru adalah kemampuan melakukan tugas mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan”. Suparlan (2006: 85) berpendapat bahwa

“Kompetensi guru melakukan kombinasi kompleks dari pengetahuan, sikap, ketrampilan dan nilai-nilai yang ditujukkan guru dalam konteks kinerja yang diberikan kepadanya”.

Menurut Sumitro dkk (2002: 70), “Sekolah memerlukan guru yang memiliki kompetensi mengajar dan mendidik inovatif, kreati, manusiawi, cukup waktu untuk menekuni profesionalitasnya, dapat menjaga wibawanya di mata peserta didik dan masyarakat sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan”.

Kemampuan mengajar adalah kemampuan esensial yang harus

dimilki oleh guru, tidak lain karena tugas yang paling utama adalah mengajar. Dalam proses pembelajaran, guru menghadapi siswa-siswa yang dinamis, baik sebagai akibat dari dinamika internal yang berasal dari dalam diri siswa maupun sebagai akibat tuntutan dinamika lingkungan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap siswa. Oleh karena itu, kemampuan mengajar harus dinamis juga sebagai tuntutan-tuntutan siswa yang tak terelakkan. Kemampuan mengajar guru sebenarnya merupakan pencerminan guru atas kompetensinya.

Kompetensi ini terdiri dari berbagai komponen penting.

Nana Sudjana (2002: 17), mengutip pendapat Cooper bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu:

1) Mempuyai pengetahuan tentang belajar tingkah laku manusia.

2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya.

3) Mempunyai sikap yang tepat tentang dirinya, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya.

4) Mempunyai kemampuan tentang teknik mengajar

Sementara itu menurut pendapat Glasser yang dikutip Nana Sudjana (2002: 18), yang menyebutkan ada empat yang harus dikuasi oleh guru, meliputi: “1) Menguasai bahan pelajaran, 2) Kemampuan mendiagnosa tingkah laku siswa, 3) Kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, 4) Kemampuan mengukur hasil belajar siswa”.

Pada tahun 1970-an terkenal wacana tentang apa yang disebut sebagai pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi atau “Competency Based Training Education (CBTE)”. Pada saat itu, Direktorat Pendidkan

Guru dan Tenaga Teknis (Disguntentis) pernah mengeluarkan “buku saku” tentang sepuluh kompetensi guru, yaitu:

1) Memiliki kepribadian sebagai guru.

2) Menguasai landasan pendidikan.

3) Menguasai bahan pengajaran.

4) Menyusun program pengajaran.

5) Melaksanakan proses belajar mengajar.

6) Melaksanakan penilaian pendidikan.

7) Melaksanakan bimbingan.

8) Melaksanakan administrasi.

9) Menjalin kerjasama dan interaksi dengan guru, sejawat, dan masyarakat.

10) Melaksanakan penelitian sederhana (Suparlan, 2006: 81-82).

Kesepuluh kompetensi di atas diharapkan dimiliki guru secara maksimal agar proses belajar mengajar akan lebih efektif sehingga menghasilkan peserta didik yang kompeten. Menurut Suparlan (2006:

83). “Kompetensi minimal yang harus dimiliki guru meliputi: menguasai materi, metode dan system penilaian, namun jika tidak dilandasi

penguasaan kepribadian keguruan dan ketrampilan lainnya, guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional”.

Jika guru menguasai dan melaksanakan kesepuluh kompetensi tersebut dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah maka guru itu diharapkan dapat menjadi guru yang efektif. Guru yang mampu melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik.

Terkait dengan penguasaan materi bahan ajar, guru dituntut dapat menggunakan strategi dan metode mengajar yang tepat serta melaksanakan penilaian hasil belajar yang terus-menerus dan jujur.

Selain itu penguasaan materi, guru juga dituntut memiliki antusiasme yang tinggi dalam arti memiliki semangat senang mengajar dengan penuh kasih sayang. Kemampuan dan kemauan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya akan menjadi syarat utama bagi terbentuknya guru yang efektif.

b. Media Pembelajaran

Heinich (Supriadie, 1996:67) mengemukakan “media secara harfiah berarti perantara (between) yakni perantara sumber pesan dengan penerima pesan”. Sedangkan Gagne (Sadiman,2003:6) mengemukakan bahwa “media adalah berbagai komponen dalam lingkungan siswa yang

dapat merangsangnya untuk belajar.”

Media berasal dari kata medium yang berasal dari bahasa latin yang berarti perantara atau pengantar. Jadi dapat disimpulkan bahwa media adalah perantara sumber-sumber dari berbagai elemen-elemen penting di dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Istilah media yang digunakan dalam bidang pembelajaran disebut media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, alat bantu atau media tidak hanya dapat memperlancar proses komunikasi akan tetapi dapat merangsang siswa untuk merespon dengan cepat tentang pesan (message) yang disampaikan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa media merupakan suatu alat dalam menyampaikan materi. Akan tetapi apabila media tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya, maka media tersebut tidak efektif dan tidak dapat menyampaikan isi pesan kepada siswa. Oleh karena itu, media perlu dirancang dengan memperhatikan ciri-ciri dan karakteristik dari sasaran dan kesesuaian dengan tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dan benar akan dapat merangsang komunikasi siswa dengan sumber media tersebut.

Awalnya, media hanyalah alat bantu yang digunakan guru untuk menerangkan pelajaran. Alat bantu pertama yang digunakan adalah alat

bantu visual, yakni berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa, antara lain untuk mendorong motivasi belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak dan mempertinggi daya serap belajar. Kemudian, pada abad ke-20 lahirlah alat bantu audio visual terutama yang menggunakan pengalaman kongkrit untuk menghindari verbalisme (Susilana dan Riyana, 2008:7).

Media pembelajaran dapat mempertinggi daya serap atau retensi belajar siswa dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar siswa.

Menurut Susilana dan Riyana (2008:9) dalam kaitannya dengan fungsi media pembelajaran, dapat ditekankan beberapa hal sebagai berikut:

1) Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.

2) Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.

3) Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan

kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri.

Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.

4) Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.

5) Media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar.Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.

6) Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.

7) Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.

Menurut Munadi (2008:36) analisis fungsi yang didasarkan pada medianya dan didasarkan pada penggunanya. Pertama, analisis fungsi yang didasarkan pada media terdapat tiga fungsi media pembelajaran, yakni; 1) media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar; 2)

fungsi semantik; 3) fungsi manipulatif. Kedua, analisis fungsi yang didasarkan atas penggunanya (anak didik) terdapat dua fungsi yakni 4) fungsi psikologis dan 5) fungsi sosio-kultural.

Secara lebih rinci Munadi (2008: 37) menjabarkan fungsi media pembelajaran sebagai berikut:

1) Fungsi media pembelajaran sebagai sumber belajar

Secara teknis, media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar.

Dalam kalimat “sumber belajar” ini tersirat makna keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain-lain. Media pembelajaran dapat mengantikan fungsi guru terutama sebagai sumber belajar.

2) Fungsi Semantik

Fungsi semantik yaitu “kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata (simbol verbal) yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami anak didik (tidak verbalistik).”

3) Fungsi Manipulatif

Fungsi manipulatif didasarkan pada ciri-ciri (karakteristik) umum yang dimiliki oleh media tersebut. Berdasarkan karakteristik umum ini, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas-batas ruang dan waktu dan mengatasi keterbatasan indrawi.

4) Fungsi Psikologi

Fungsi psikologi terbagi menjadi lima yaitu:

a) Fungsi atensi; media pembelajaran dapat meningkatkan (attention) siswa terhadap materi ajar. Oleh karena itu media pembelajaran harus dibuat semenarik mungkin sehingga dapat menarik dan memfokuskan perhatian siswa.

b) Fungsi afektif; Yaitu menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu. Media pembelajaran yang tepat guna dapat meningkatkan sambutan atau penerimaan siswa terhadap stimulus tertentu.

c) Fungsi kognitif; Siswa yang belajar melalui media pembelajaran akan memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi baik objek itu berupa orang, benda, atau kejadian atau peristiwa.

d) Fungsi imajinatif; Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinasi siswa. Imajinasi ini mencakup penimbulan atau kreasi objek-objek baru sebagai rencana bagi masa mendatang, atau dapat juga mengambil bentuk fantasi (khayalan) yang didominasi kuat sekali oleh pikiran-pikiran autistik.

e) Fungsi motivasi; Motivasi merupakan seni yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Motivasi merupakan dorongan pihak luar dalam hal ini guru yang mendorong, mengaktifkan dan menggerakkan siswanya

secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dengan melalui bantuan media pembelajaran.

5) Fungsi Sosio Kultural

Fungsi media dilihat dari sosio kultural, yakni mengatasi hambatan sosio kultural antara peserta komunikasi pembelajaran. masalah ini dapat diatasi salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran memiliki kemampuan dalam memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.

Selain itu, media pembelajaran mempunyai manfaat yang dapat menarik minat dan motivasi belajar siswa. Miarso (2009:458) merumuskan manfaat media pembelajaran dari berbagai kajian teoritik maupun empirik sebagai berikut:

1) media mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak kita sehingga dapat berfungsi secara optimal.

2) media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para pelajar.

3) media dapat melampaui batas ruang kelas.

4) media memungkinkan adanya interaksi langsung antara pelajar dengan lingkungannya.

5) media menghasilkan keseragaman pengamatan. media memberikan pengalaman dan persepsi yang sama. pengamatan yang dilakukan oleh

pelajar bisa bersama-sama diarahkan kepada hal-hal penting yang dimaksudkan oleh guru.

6) media membangkitkan keinginan dan minat baru. dengan menggunakan media pembelajaran, horizon pengalaman anak semakin luas, persepsi semakin tajam, konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap. akibatnya keinginan dan minat untuk belajar selalu muncul.

7) media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar, misalnya pemasangan gambar-gambar di papan tempel, pemutaran film, mendengarkan rekaman, atau radio merupakan rangsangan yang membangkitkan keinginan siswa untuk belajar.

8) media memberikan pengalaman yang integral atau menyeluruh dari sesuatu yang konkrit maupun abstrak.

9) media memberikan kesempatan kepada pelajar untuk belajar mandiri, pada tempat, waktu, dan kecepatan yang ditentukan sendiri.

10) media meningkatkan kemampuan keterbacaan baru (new literacy), yaitu kemampuan untuk membedakan dan menafsirkan objek, tindakan, dan lambang yang tampak, baik yang alami maupun buatan manusia, yang terdapat dalam lingkungan.

11) media mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatknya kesadaran akan dunia sekitar.

12) media dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri guru maupun

pelajar.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas mengenai fungsi dan manfaat media pembelajaran dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting yakni salah satunya sebagai alat yang dapat merangsang perhatian siswa dan membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga terciptanya suasana pembelajaran yang lebih efektif dan yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Media juga seringkali diartikan sebagai alat yang dapat dilihat dan di dengar. Alat-alat ini dipakai dalam pengajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Dengan menggunakan alat-alat ini, guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap, hidup dan interaksinya bersifat banyak arah. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986:4) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut dengan media komunikasi, dalam Arsyad (2006:4).

Sedangkan menurut Gagne dan Briggs (1975:4) , media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari: buku, tape recorder, benda asli atau nyata, video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional

di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar, dalam Arsyad (2006:4).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas tentang pengertian media dapat diambil kesimpulan bahwa: (1) media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan sempurna, (2) media berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar, (3) adapun yang disampaikan oleh guru mesti menggunakan media, paling tidak yang digunakan adalah media verbal yaitu berupa kata-kata yang diucapkannya dihadapan siswa, (4) segala sesuatu yang terdapat di lingkungan sekolah, baik berupa manusia ataupun bukan manusia yang pada permulaannya tidak dilibatkan dalam proses belajar mengajar setelah dirancang dan dipakai dalam kegiatan tersebut. Lingkungan itu berstatus media sebagai alat perangsang belajar.

Dalam perkembangannya, media pengajaran mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanik dan elektronik untuk tujuan pengajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikroprosessor yang melahirkan

pemakaian komputer dan kegiatan interaktif (Arsyad, 2010: 157).

Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, Asyar (2011:45) mengelompokkan jenis media menjadi empat jenis, yaitu:

1) media visual, yaitu jenis media yang digunakan hanya mengandalkan indera penglihatan semata-mata dari peserta didik. dengan media ini, pengalaman belajar yang dialami peserta didik sangat terganung pada penglihatannya.

2) media audio, adalah jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran yang hanya melibtkan indera pendengaran peserta didik.

semakin baik kemampuan pendengaran maka akan semakin banyak pengalaman yang akan diterima peserta didik.

3) media audio-visual, adalah jenis media yang di gunakan dalam pembelajaran yang melibatkan pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam proses pembelajaran. pesan dan informasi dalam media ini dapat disalurkan berupa pesan verbal dan nonverbal yang mengandalkan kemampuan mendengar dan melihat dari peserta didik.

4) multimedia, yaitu media yang melibatkan beberapa jenis media dan peralatan secara terintegrasi dalam suatu proses atau kegiatan pembelajaran. dalam pembelajaran multimedia melibatkan indera penglihatan dan pendengaran melalui media teks, visual diam, visual gerak, dan audio serta media interaktif yang berbasis komputer dan teknologi komunikasi dan informasi.

c. Kemampuan/Evaluasi

Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan dari kata evaluation dalam bahasa Inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian. Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang yang menilai atau menaksir disebut sebagai evaluator (Echols, 1975).

Sejumlah ahli mengemukakan pemahaman evaluasi secara etimologis, seperti Grounlund, Nurkancana, dan Raka Joni. Menurut Grounlund (1976) ” a system atic process of determining the extent to which instructional objectives are achieved by pupil ”. Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan berkenaan dengan proses kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu. Sementara Raka Joni ( 1975) mengartikan evaluasi sebagai suatu proses dimana kita mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan mempertimbangkan patokan-patokan tertentu, patokan tersebut mengandung pengertian baik-tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi syarat, dengan perkataan lain menggunakan value judgment.

Dengan pengertian di atas maka dapat dikemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai tujuan.

Sementara evaluasi hasil belajar pembelajaran adalah suatu proses menetukan nilai prestasi belajar pembelajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Untuk memperjelas lagi, ada beberapa perumusan penilaian sebagai padanan kata evaluasi menurut beberapa ahli diantaranya:

1) Adam (1964), menjelaskan bahwa kita mengukur berbagai kemampuan anak didik. Bila kita melangkah lebih jauh lagi dalam menginterpretasikan skor sebagai hasil pengukuran itu dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai dalam suatu kerangka maksud pendidikan dan pelatihan atas dasar beberapa pertimbangan lain untuk membuat penilaian, maka kita tidak lagi membatasi diri kita dalam pengukuran karena telah mengevaluasi kemampuan atau kemajuan anak didik.

2) Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen (1961), menjelaskan bahwa evaluasi berhubungan dengan pengukuran . Dalam beberapa hal evaluasi lebih luas, karena evaluasi juga termasuk penilaian penilaian formal dan penilaian intuitif mengenai kemajuan peserta didik.

Evaluasi juga mencakup penilaian tentang apa yang baik dan apa yang diharapkan. Dengan demikian hasil pengukuran yang benar merupakan dasar yang kokoh untuk melakukan penilaian.

3) Arikunto (1990), penilaian lebih menekankan kepada proses pembuatan keputusan terhadap sesuatu ukuran baik-buruk yang bersifat kuantitatif. Sedangkan pengukuran menekankan proses penentuan kualitas sesuatu yang dibandingkan dengan satuan ukuran tertentu. Sehingga dari batasan pengukuran dan penilaian di atas dapat disimpulkan bahwa pengukuran dilakukan apabila kegiatan penilaian membutuhkannya, bila kegiatan pengukuran tidak membutuhkan maka kegiatan pengukuran tidak perlu dilakukan.

Selanjutnya hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif akan diolah dan dibandingkan dengan kriteria sehingga didapat hasil penilaian yang bersifat kualitatif.

4) Ralph Tyler (1950) menyatakan bahwa Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.

Terdapat beberapa istilah yang sering disalahartikan dalam kegiatan evaluasi, yaitu evaluasi (evaluation), penilaian (assessment), pengukuran (measurement), dan tes (test). Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 dijelaskan bahwa

“evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan”. Selanjutnya, dalam

PP.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab I pasal 1 ayat 17 dikemukakan bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”.

Istilah pengukuran (measurement) mengandung arti “the act or process of ascertaining the extent or quantity of something” (Wand and Brown, 1957 : 1). Hopkins dan Antes (1990) mengartikan pengukuran sebagai “suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan hasil pengamatan mengenai beberapa ciri (atribute) tentang suatu objek, orang atau peristiwa”. Dengan demikian, evaluasi dan penilaian berkenaan dengan kualitas daripada sesuatu, sedangkan pengukuran berkenaan dengan kuantitas (yang menunjukkan angka- angka) daripada sesuatu. Oleh karena itu, dalam proses pengukuran diperlukan alat ukur yang standar. Misalnya, bila ingin mengukur IQ diperlukan alat ukur yang disebut dengan tes, bila ingin mengukur suhu badan diperlukan alat yang disebut dengan termometer, dan sebagainya.

Secara umum, tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Indikator efektivitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang

Indikator efektivitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang

Dokumen terkait