• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil dan Karakter Protein serta Pola Parasitemia

Gambar 16. Perbedaan profil protein STrAg 372, 87 dan 06 yang mempunyai pola parasitemia sama yaitu biotipe 1.

Perbedaan profil protein tidak serta merta menyebabkan pola biologis yang berbeda seperti pada STrAg 372 dari NTT, STrAg 87 dari Jawa Timur dan STrAg 06 dari Jawa Tengah (Gambar 16). Menurut hasil penelitian yang dilaporkan oleh Subekti et al. (2013) isolat 372, isolat 87 dan isolat 06 termasuk dalam biotipe 1. Subekti et al (2013) menggolongkan isolat Trypanosoma evansi dari Indonesia berdasarkan pola parasitemia dan kecepatan membunuh mencit menjadi tiga golongan yaitu biotipe 1 yang ditandai dengan parasitemia tinggi (107 – 108

trypanosoma/ml darah) dalam waktu singkat disertai kematian mencit serentak dalam 2 – 4 hpi, biotipe 2 yang ditandai adanya parasitemia undulan yaitu regulasi biologi Trypanosoma evansi dalam mengatur kemampuan berkembang biak dan

29 mempertahankan inang tetap hidup dengan cara mengurangi kepadatan populasi dalam darah ketika jumlahnya sudah sangat tinggi dan akan kembali meningkat setelahnya dan biotipe 3 yaitu pola parasitemia tinggi yang dipertahankan dalam waktu lama tanpa adanya parasitemia undulan. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya protein spesifik yang sama dari ketiga isolat tersebut.

Pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan profil protein dan karakter imunogenik secara umum antar isolat Trypanosoma evansi tidak dapat secara mutlak dijadikan sebagai penanda dalam penggolongan varian Trypanosoma evansi berdasarkan pola parasitemia. Hal ini disebabkan oleh adanya persamaan pola parasitemia / biotipe pada isolat 372, isolat 87 dan isolat 06 yang mempunyai perbedaan profil dan karakter protein imunogenik.

Di sisi lain, perbedaan profil dan karakter protein imunogenik sejalan dengan adanya perbedaan respon terhadap trypanosidal yang diberikan. Meskipun demikian profil protein yang berbeda dapat menunjukkan bahwa Trypanosoma evansi yang ada di Indonesia mempunyai variasi walaupun isolat tersebut diisolasi pada waktu yang sama dan wilayah yang sama pula.

30

5

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Profil protein sembilan isolat dari wilayah kasus Surra yang berbeda di Indonesia yang teridentifikasi dalam penelitian ini yaitu tiga isolat yang berasal dari Kalimantan, isolat A13 terdapat 13 protein dengan BM 16,09 – 55,83 kD, isolat A14 teridentifikasi 14 protein dengan BM 15,76 – 71,92 kD, isolat SPT 14 protein teridentifikasi dengan BM 16,21 – 70,23 kD, isolat PLS dari Lampung terdapat 18 protein dengan BM 16,13 – 83,75 kD, isolat S13 terdapat 20 protein dengan BM 16,04 – 85,46 kD sedangkan isolat S18 terdapat 23 protein dengan BM 16,34 – 83,14 kD yang berasal dari Banten serta isolat 372 dari Nusa Tenggara Timur teridentifikasi 17 protein dengan BM 16,23 – 84,6 kD. Sedangkan dua isolat dari Jawa yaitu isolat 87 dari Jawa Timur dan isolat 06 dari Jawa Tengah masing – masing 12 protein dengan 16,12 – 74,29 kD serta 11 protein dengan 16,27 – 59,88 kD. Perbedaan profil protein merupakan indikasi lain adanya perbedaan varian atau tipe Trypanosoma evansi selain berdasarkan perbedaan kepekaan terhadap trypanosidal dan pola parasitemia.

Karakter protein imunogenik antar isolat Trypanosoma evansi dalam penelitian ini juga menunjukkan perbedaan. Tidak semua protein pada SDS PAGE dikenali antibodi IgG anti Surra pada metode Western Blot yang menggunakan serum pool yang terinfeksi alami Surra. Sembilan isolat menunjukkan respon yang sama kuat terhadap antibodi IgG anti Surra pada protein 39 – 42 kD. Hal ini dapat dikatakan bahwa protein – protein tersebut merupakan protein imunogenik yang terdapat pada semua isolat atau bisa disebut sebagai common protein. Sedangkan pada protein > 50 kD sembilan isolat menunjukkan adanya perbedaan respon imunogenik terhadap antibodi IgG anti Surra. Protein tersebut merupakan protein spesifik yang dimiliki oleh masing – masing isolat yang juga sebagai indikasi adanya keragaman / varian dalam satu spesies Trypanosoma evansi.

Saran

Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai protein spesifik dari isolat di Indonesia untuk pengembangan alat diagnosa yang spesifik dalam rangka mendukung upaya pengendalian Surra menurut keragaman / variasi Trypanosoma evansi di Indonesia. Selain itu diperlukan juga penelitian tentang pola parasitemia dan kepekaan terhadap trypanosidal sebagai pendukung dalam pengembangan alat diagnosa Surra.

31

DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Rady A. 2008. Epidemiological studies (parasitological, serological and molecular techniques) of Trypanosoma evansi infection in camels (Camelus dromedarius) in Egypt. Vet.World 1 (11) : 325 – 328.

Aquino LPCT, Machado RZ, Lemos KR, Marques LC, Garcia MV and Borges GP. 2010. Antigenic Characterization of Trypanosoma evansi Using Sera from Experientally and Naturally Infected Bovine, Equine, Dogs and Coatis. Rev. Bras. Parasitol. Vet. 19 (2) : 112 – 118.

Balai Veteriner Banjarbaru. 2013. Peta Penyakit Hewan 2012. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Banjarbaru (ID).

Balai Veteriner Banjarbaru. 2014. Peta Penyakit Hewan 2013. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Banjarbaru. (ID).

Balai Veteriner Banjarbaru. 2015. Peta Penyakit Hewan 2014. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Banjarbaru. (ID).

Bradford M. 1976. A rapid and sensitive method for de quantitation of microgram quantitites of protein utilizing the principle of protein-dye binding. Analytical Biochemistry. 72 : 248 – 254.

Davison HC, Thrusfield MV, Husein A, Muharsini S, Partoutomo S, Rae P and Luckins AG. 2000. The occurrence of Trypanosoma evansi in buffaloes in Indonesia, estimated using various diagnostic tests. Epidemiol. Infect. 124 : 163 – 172.

De-Menezes VT, Queiroz AO, Gomes MAM, MarqueSand MAP and Jansen AM. 2004. Trypanosoma evansi in inbred and Swiss-Webstermice : distinct aspects of pathogenesis. Parasitol Res. 94 : 193 – 200.

Direktorat Kesehatan Hewan. 2012. Pedoman pengendalian dan pemberantasan penyakit Trypanosomiasis (Surra). Jakarta (ID) : Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Hoare CA. 1972. The Trypanosomes of Mammals : A Zoological Monograph. Blackwell Scientific Publications. Oxford (UK).

Kang D, Gho YS, Suh M and Kang C. 2002. Highly Sensitive and Fast Protein Detection with Coomassie Brilliant Blue in Sodium Dodecyl Sulfate- Polyacrylamide Gel Electrophoresis. Bull. Korean Chem. Soc. Vol. 23 (11) : 1511 – 1512.

Katili AS. 2009. Struktur dan fungsi protein kolagen. Jurnal Pelangi Ilmu 2 (5) : 19 – 29.

Laemmli UK. 1970. Cleavage of structural proteins during assembly of head bacteriophage T4. Nature, 227 : 680 – 685.

32

Laha R and Sasmal NK. 2008. Characterization of immunogenic proteins of Trypanosoma evansi isolated from three different Indian hosts using hyperimmune sera and immune sera. Research in Veterinary Science 85: 534 – 539.

Macaraeg BB, Lazaro JV, Abes NS, Mingala CN. 2013. In-vivo assessment of the effects of trypanocidal drugs against Trypanosoma evansi isolates from Philippine water buffaloes (Bubalus bubalis). Veterinarski Arhiv 83 (4): 381 – 392.

Martindah E dan Husein A. 2007. Trypanosomiasis pada ternak kerbau. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. 103 – 109.

Partoutomo S. 1996. Patogenesis Trypanosoma evansi pada kerbau yang diberi ransum bermutu tinggi dan rendah. JITV 2 (2): 137 – 144.

Partoutomo S, Husein A, Muharsini S dan Damayanti R. 1996. Rangkuman Hasil Penelitian Surra di Balai Penelitian Veteriner. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Cisarua, Bogor, 7-8 November 1995, 145 – 156.

Queiroz AO, Legey AP, Xavier SCC and Jansen AM. 2001. Specific Antibody Levels and Antigenic Recognition of Wistar Rats Inoculated With Distinct Isolates of Trypanosoma evansi. Memórias do Instituto Oswaldo Cruz, 96 (7) : 965 – 972.

Ravindran R, Raol JR, Mishra AK, Pathak KML, Babu N, Satheesh C and Rahul S. 2008. Trypanosoma evansi in camels, donkeys and dogs in India : 36 comparison of PCR and light microscopy for detection – short communication. Vet Arch. 78 (1): 89 – 94.

Ronohardjo P, Wilson AJ, Partoutomo S and Hirst RG. 1986. Some aspects of the epidemiology and economics of important diseases of large ruminants in Indonesia. Di dalam Davison HC, Thrusfield MV, Husein A, Muharsini S, Partoutomo S, Rae P and Luckins AG, editor. 2000. The occurrence of Trypanosoma evansi in buffaloes in Indonesia, estimated using various diagnostic tests. Epidemiol. Infect. 124 : 163 – 172.

Singh V, Singh A and Chhabra MB. 1995. Protection conferred by Trypanosoma evansi infection against homologous and heterologous trypanosome challenge in rabbits. Veterinary Parasitology 56 : 269 – 279.

Stephen Lorne E. 1986. Trypanosomiasis a veterinary perspective. Pergamon Press. Oxford (UK).

Subekti DT, Sawitri DH, Wardhana AH dan Suhardono. 2013. Pola Parasitemia dan Kematian Mencit yang Diinfeksi Trypanosoma evansi Isolat Indonesia. JITV 18 (4) : 274 – 290.

Subekti DT. 2014. Perkembangan, Struktur, Mekanisme Kerja dan Efikasi Trypanosidal untuk Surra. Wartazoa 24 (1) : 1 – 15.

33 Subekti DT, Yuniarto I, Sulinawati, Susiani H, Santosa B, Amaliah F, Utomo BN, Dahlan M, Suharyanto dan Sukarya. 2015. Perbedaan Kepekaan Antar Isolat Trypanosoma Indonesia Terhadap Beberapa Trypanosidal. JITV in press.

Sumarjo D. 2009. Pengantar Ilmu Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program strata I Fakultas Bioeksakta. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Jakarta. (ID).

Switzer RC III, Merril CR dan Shifrin S. 1979. A Highly Sensitive Silver Stain For Detecting Proteins And Peptides In Polyacrylamide Gels. Anal. Biochem. 98 : 231 – 237.

Towbin H, Stalhelin T and Gordon J. 1979. Electrophoretic Transfer of Proteins from Polyacrylamide Gels to Nitrocellulose Sheets : Procedure and Some Applications. Proceedings of the National Academy of Science 76 : 4350- 4354.

Uche UE, Ross CA and Jones TW. 1992. Identification of the surface components of Trypanosoma evansi. Res. Vet. Sci. 53 : 252-253.

34

Dokumen terkait