Kondisi Fisik
Desa Muara Binuangeun merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak. Untuk menuju ke kantor kecamatan, harus melewati Desa Wanasalam terlebih dahulu dengan waktu tempuh selama 30 menit. Desa Muara Binuangeun merupakan desa yang memiliki sumberdaya laut yang dimanfaatkan secara optimal. Lokasi Desa Muara Binuangeun berada di ujung kecamatan serta ujung kabupaten. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Cipedang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Wanasalam, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pandeglang, dan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Lautan Indonesia atau Samudera Hindia inilah yang menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat desa.
Selain pemanfaatan sumberdaya laut, di Desa Muara Binuangeun juga terdapat kawasan pertanian. Komoditas pertanian tersebut terdiri dari tanaman jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang panjang, padi sawah, padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, dan cabai. Selain pertanian, masyarakat Desa Muara Binuangeun juga banyak memiliki ternak. Ternak yang dimiliki masyarakat antara lain sapi, kerbau, ayam kampung, bebek dan kambing.
Sarana dan prasarana Desa Muara Binuangeun cukup baik. Prasarana tersebut berupa tempat peribadatan, sekolah, kesehatan, olahraga, jembatan, jalan aspal, serta prasarana ekonomi seperti pasar dan tempat pelelangan ikan. Sarana peribadatan cukup memadai dengan jumlah masjid sebanyak 4 bangunan, dan mushola sebanyak 27 bangunan. Sarana peribadatan ini menyebar di seluruh Desa Muara Binuangeun sehingga masyarakat tidak kesulitan untuk mengaksesnya. Sarana pendidikan seperti bangunan sekolah juga sangat memadai. Penempatan lokasi bangunan sekolah berada pada tempat yang strategis sehingga tidak menyulitkan siswa untuk pergi ke sekolah. Sarana kesehatan dan sarana olahraga juga terdapat di Desa Muara Binuangeun seperti Puskesmas dan lapangan sepak bola. Selain itu, jembatan beton juga terdapat di Desa Muara Binuangeun yang menghubungkan langsung dengan Desa Cikiruh Wetan Kabupaten Pandeglang. Jembatan ini dalam kondisi yang baik sehingga tidak ada kekhawatiran bagi masyarakat untuk melintasinya.
Ketersediaan sarana ekonomi seperti pasar dan tempat pelelangan ikan sangat memadai. Pasar yang beroperasi setiap hari sejak dinihari hingga sore hari merupakan pasar tradisional. Pasar ini tidak hanya diisi oleh masyarakat Desa Muara Binuangeun namun banyak pedagang yang datang dari luar desa maupun luar kecamatan. Ketersediaan tempat pelelangan ikan juga memudahkan rumahtangga nelayan untuk melakukan kegiatan penjualan ikan. Pelelangan yang ada di Desa Muara Binuangeun selalu ramai setiap harinya dikarenakan aktivitas nelayan yang tidak pernah terhenti.
Kondisi pemukiman warga sangat bervariatif tergantung dengan status ekonomi warga. Sebagian besar pemukiman sudah dalam bentuk permanen. Akan tetapi, pemukiman nelayan yang berada dekat pesisir dan pantai masih belum seluruhnya permanen. Masih banyak pemukiman yang terbuat dari bilik bambu.
Kondisi seperti ini membuat udara laut yang masuk ke rumah lebih besar dibandingkan rumah permanen.
Kondisi Sosial
Jumlah penduduk di Desa Muara Binuangeun adalah 11.116 jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak 5561 jiwa dan perempuan sebanyak 5.555 jiwa. Jumlah ini didominasi Suku Sunda dan mayoritas beragama Islam. Selain Suku Sunda, terdapat Suku lain seperti Jawa yang sudah lama menetap di Desa Muara Binuangeun. Nelayan merupakan profesi yang paling banyak dimilliki oleh warga desa. Terdapat sebanyak 1681 jiwa yang berpofesi sebagai nelayan. Banyaknya nelayan mengikuti keadaan alam yang berdekatan dengan Lautan Indonesia yang memberikan banyak kehidupan.
Ikatan sosial antar warga masih terbilang erat. Hal ini terlihat dari keterlibatan warga ketika terdapat tetangga yang sedang hajatan. Mereka akan sukarela menjadi relawan meski hanya sekedar membantu memasak dan lainnya. Selain itu, beberapa waktu lalu Desa Muara rutin mengadakan acara syukuran laut
atau mereka sebut sebagai “ruwatan”. Tradisi ruwatan ini dilakukan sebagai
ungkapan rasa syukur atas kelimpahan ikan yang telah membantu memberikan kehidupan bagi nelayan serta seluruh warga. Akan tetapi, karena beberapa alasan tradisi ruwatan tersebut saat ini sudah tidak dilaksanakan lagi.
Dalam sistem nelayan, terdapat kelembagaan langgan dan ikatan
patronase. Langgan merupakan kelembagaan yang di dalamnya terdapat individu yang berperan membantu nelayan. Bantuan tersebut berupa memberikan perahu dan menjadi pelelang ikan yang diperoleh nelayan. Nelayan yang diberikan perahu tersebut memiliki kewajiban untuk memberikan sebesar 10% hasil penjulannya kepada langgan setiap kali melaut. Ikatan ini berlangsung selamanya hingga perahu yang diberikan tidak dapat digunakan lagi. Sedangkan ikatan
patronase adalah ikatan yang dibentuk antara taweu (sebutan lokal untuk pemilik perahu) dengan pandega (sebutan untuk anak buah kapal). Kedua jenis ikatan ini sangat membantu nelayan dalam kehidupannya.
Kondisi Ekonomi
Sebagian besar kegiatan ekonomi yang ada di Desa Muara Binuangeun adalah perikanan tangkap. Hasil tangkapan ikan yang diperoleh nelayan kemudian di lelang di tempat pelelangan ikan (TPI) yang tersedia. Aktivitas di TPI tidak pernah berhenti setiap harinya karena nelayan aktif mencari ikan. Terdapat beberapa aturan yang dibakukan oleh TPI untuk masyarakatnya. Dari hasil melaut, nelayan harus membayarkan sebanyak 5% dari total pendapatan yang diperoleh setiap harinya. Dana 5 persen ini dialokasikan untuk saving, dana paceklik (musim paceklik) serta dana kematian anggota keluarga nelayan. Dana
saving dapat diambil selama satu tahun sekali. Sedangkan dana paceklik akan dibagikan ketika musim paceklik tiba. Setiap nelayan yang melakukan pembayaran 5% ini maka mereka akan mendapatkan sejenis tanda bukti berupa karcis. Karcis ini juga diperoleh oleh dewan Dinas Kelautan dan Perikanan yang berada di Desa Muara tersebut.
21
Kegiatan perekonomian tidak hanya terjadi di TPI tersebut akan tetapi ada beberapa ikan dengan kualitas bagus yang dikirim ke ibukota. Selain itu, saat ini sudah ada beberapa aturan yang menetapkan larangan terhadap jenis ikan tertentu untuk ditangkap. Contoh jenis spesies yang dilarang adalah tuna dibawah 20 Kg serta lobster yang kurang dari 3 Ons. Hal ini membuat nelayan merasa khawatir karena kedua jenis tersebut bernilai cukup tinggi.
Selain aktivitas kenelayanan, terdapat aktivitas ekonomi seperti pertanian yang juga berkembang di Desa Muara Binuangeun. Hasil pertanian biasa dijual ke luar desa atau di dalam desa. Pasar yang berada di Desa Muara Binuangeun merupakan pasar yang paling besar di kecamatan. Hal ini memudahkan warga desa untuk melakukan kegiatan ekonomi baik untuk menjual atau hanya sekedar membeli keperluan sehari-hari. Selain itu, Desa Muara Binuangeun memiliki keunggulan dibanding desa lainnya. Hal ini karena Desa Muara Binuangeun memiliki industri rumahan seperti industri pengolahan hasil laut. Hasil olahan ini dapat berupa bakso ikan, ikan pindang, teri, dendeng, ikan asin, abon ikan, serta kerupuk ikan. Hasil industri ini tidak hanya di pasarkan di dalam desa, tetapi sudah merambah ke luar desa, luar kecamatan bahkan hingga ke Ibukota Kabupaten.
Kondisi Ekologi
Desa Muara Binuangeun merupakan daerah dataran rendah yang berada tepat dekat pantai Samudera Hindia. Tekstur tanahnya adalah pasiran karena pengaruh dari laut. Samudera Hindia yang digunakan sebagai tempat melaut merupakan laut yang berkarang dengan ombak yang ganas. Badai dan angin sering dirasakan oleh nelayan ketika sedang melaut. Terdapat sungai yang mengalir ke lautan tersebut. Kondisi air sungai berwarna bening. Akan tetapi, aliran sungai yang melintasi tempat pelelangan berwarna cokelat. Hal ini disebabkan karena limbah air dari pelelangan yang dibuang ke sungai tersebut.
Selain itu, kondisi laut yang dekat dengan pemukiman dipenuhi sampah plastik. Sampah ini adalah sisa aktivitas rumahtangga yang tinggal dekat pesisir yang kemudian membuang sampahnya ke laut. Jika dilihat dari musim, pada saat musim kemarau, maka ikan yang ada di Samudera Indonesia ini melimpah.
Desa Cikiruh Wetan Kondisi Fisik
Desa Cikiruh Wetan merupakan salah satu desa di Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang. Desa Cikiruh Wetan berbatasan langsung dengan Desa Muara Binuangeun di sebelah timur. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Sukawaris, sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjungan, dan sebelah selatan Desa Cikiruh Wetan adalah Samudera Hindia. Lautan Indonesia ini yang menjadi sumber kehidupan nelayan di Desa Cikiruh Wetan. Selain perikanan tangkap, warga desa juga mengembangkan pertanian seperti jagung, padi sawah, ubi kayu, ubi jalar, cabai, bawang merah, tomat, dan kubis. Peternakan yang juga dipelihara di desa ini adalah sapi, kerbau, ayam kampung, kambing, dan domba. Ketersediaan sarana dan prasarana cukup memadai. Sarana tersebut seperti tempat beribadat yaitu masjid berjumlah 7 bangunan dan mushola sebanyak 10
bangunan. Sarana kesehatan terdiri dari 4 buah posyandu. Gedung pendidikan setingkat SMA/sederajat juga terdapat 1 buah di Desa Cikiruh Wetan. Hal ini memudahkan anak muda yang ingin melanjutkan ke tingkat SMA. Mereka dapat mengakses sekolah yang ada di desanya.
Sementara itu, sarana pelelangan ikan yang terdapat di Desa Cikiruh Wetan belum berumur lama. Meski nelayan Di Cikiruh Wetan melakukan kegiatan melelang ikan di TPI nya, akan tetapi masih banyak nelayan yang melelang hasil tangkapannya di desa pertama. Hal ini tidak hanya terjadi diantara nelayan tetapi juga dilakukan oleh sebagian bakul (penjual ikan) dari Desa Cikiruh Wetan. Mereka menganggap bahwa peluang mendapatkan keuntungan menjadi bakul di Desa Binuangeun lebih besar dibanding Desa Ckiriuh Wetan.
Kondisi laut yang tidak stabil sudah menjadi tantangan tersendiri bagi warga nelayan. Kelimpahan ikan di laut bergantung pada musimnya. Terdapat dua musim yang dikenal oleh masyarakat nelayan. Musim tersebut adalah musim
paceklik yaitu ketika ikan sedikit dan musim panen yaitu ketika ikan melimpah.
Kondisi Sosial
Sebagian besar warga desa di Cikiruh Wetan didominasi oleh Suku Sunda. Agama yang banyak dianut di Desa Cikiruh Wetan adalah Islam. Jumlah penduduk di Desa Cikiruh Wetan yaitu sebanyak 6308 jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak 3289 jiwa dan perempuan sebanyak 3019 jiwa. Sebagian besar nelayan di desa ini berpusat di daerah dekat pesisir. Kondisi perumahan nelayan sudah terdapat yang permanen, semi permanen, dan non permanen. Ikatan sosial yang terjalin di desa ini juga masih cukup kuat. Hal ini ditunjukkan dari kebiasaan tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat sesama tetangga. Nelayan Desa Cikiruh Wetan juga memiliki ikatan seperti
langgan dan patronase. Ikatan ini membantu nelayan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya laut yang ada. Ikatan langgan dan patronase tidak hanya terjadi di internal desa namun banyak nelayan yang memiliki ikatan langgan dan patronase dengan nelayan di desa pertama. Hal ini tidak menutup kemungkinan karena tidak ada aturan tertentu yang membatasi jangkauan kedua ikatan tersebut.
Sebagian nelayan di Desa Cikiruh Wetan tergabung dengan kelompok nelayan seperti kelompok usaha bersama (KUB) yang diinisiasi oleh pemerintah. Selain kelompok formal, rumahtangga nelayan juga tergabung dalam kelompok non formal seperti pengajian yang diadakan satu kali dalam seminggu, dan kelompok sosial lainnya. Kegiatan nelayan yang sehari-hari melaut dan memperbaiki kerusakan jaring secara besama-sama sambil bercengkerama menjadikan ikatan sosial yang tejalin semakin erat.
Kondisi Ekonomi
Kegiatan ekonomi Desa Cikiruh Wetan yaitu mengembangkan ekonomi perikanan tangkap. Perikanan tangkap yang banyak diperoleh nelayan adalah jenis tongkol/cakalang, kakap, tenggiri, jambal, belanak, cumi, bawal, kembung, layur, lobster, tembang, dan rajungan. Sedangkan ikan tawar yang dibudidayakan adalah mujair dan nila. Jenis budidaya dan produksi ikan laut dan payau yang dilakukan adalah tambak seluas 8 ha, jermal sebanyak 43 unit, dan jaring sebanyak 23 ha.
23
produksi tambak sebanyak 16 ton pertahun. Produksi jermal sebanyak 86 ton pertahun, dan produksi jaring sebanyak 3 ton tahun.
Kegiatan lain yang dilakukan di Desa Cikiruh Wetan tergantung dari pekerjaan utamanya. Ada rumahtangga yang melakukan kegiatan ekonomi di rumah dan adapula yang melakukan kegiatan ekonomi di luar rumah seperti di pasar. Bagi sebagian besar warga desa memanfaatkan pula pasar yang ada di Desa Muara Binuangeun. Hal ini karena wilayah mereka yang berdekatan serta ikatan sosial yang sudah terjalin erat. Kegiatan lain yang biasa dilakukan rumahtangga nelayan khususnya istri adalah melakukan kegiatan non-fishing eonomy seperti membuka warung, menjual makanan, menjadi buruh cuci, membuka jasa honorer serta kegiatan lainnya.
Ikatan patronase yang terjalin memberikan peluang bagi nelayan untuk memperoleh penghasilan. Pandega (ABK) memperoleh penghasilan dari sistem bagi hasil dari penjualan ikan. Penjualan hasil tangkapan akan dipotong biaya keberangkatan seperti bahan bakar dan bekal, kemudian di potong untuk langgan
dan TPI masing-masing 10% dan 5%. Setelah itu, baru kemudian pandega
mendapatkan bagian. Akan tetapi, bagian tersebut akan jauh lebih kecil dari taweu
(pemilik perahu).
Kondisi Ekologi
Kondisi ekologi Desa Cikiruh Wetan tidak berbeda dengan Desa Muara Binuangeun. Hal ini karena kedua desa bersebelahan satu sama lain. Sumber daya laut yang dimanfaatkan oleh nelayan ini sama. Sungai yang yang mengalir ke laut merupakan sungai yang membatasi kedua desa. Di sebelah kiri dan kanan sungai terdapat pelelangan ikan yang berseberangan. Kedua pelelangan ini beroperasi setiap hari sehingga limbah yang dihasilkan tidak terhenti.
Limbah air ikan dari kedua pelelangan tersebut dibuang ke sungai sehingga kondisi airnya berwarna cokelat. Kondisi tanah Desa Cikiruh Wetan berupa pasiran. Perumahan nelayan berada tepat di sekitar pesisir sehingga mereka membuang sampah di pesisir tersebut. Hal ini yang menyebabkan kondisi pesisir selalu dipenuhi sampah plastik dan berbau tidak sedap.
Gambaran Umum Responden di Dua Desa
Responden di kedua desa masing-masing berjumlah tiga puluh orang. Dari tiga puluh orang kemudian di golongkan berdasarkan rata-rata tingkat pendapatan masing-masing desa. Responden dari kedua desa tidak semua memiliki perahu. Pemilik perahu di Desa Muara Binuangeun adalah sebanyak 12 orang dan di Desa Cikiruh Wetan sebanyak 11 orang. Pelapisan berdasarkan pendapatan membuat nelayan pemilik perahu tidak selamanya berada di lapisan ekonomi atas. Hal ini karena selain melakukan kegiatan melaut, nelayan juga memperoleh pendapatan dari pekerjaan lain.
Lapisan ekonomi bawah di Desa Muara Binuangeun dan Desa Cikiruh Wetan berjumlah sama yaitu sebanyak 40%. Jumlah ini merupakan nelayan yang berstatus ABK. Pada lapisan ekonomi menengah di Desa Muara Binuangeun sebanyak 36% sedangkan lapisan ekonomi menengah di Desa Cikiruh Wetan
sebanyak 33%. Pada lapisan ekonomi menengah di kedua desa diisi oleh sebagian pemilik kapal dan bukan pemilik kapal.
Pada lapisan ekonomi atas terdapat perbedaan antara Desa Muara Binuangeun dan Desa Cikiruh Wetan. Lapisan ekonomi atas di Desa Muara Binuangeun masih ada nelayan bukan pemilik kapal yaitu sebesar 14%. Sementara itu, di Desa Cikiruh Wetan lapisan ekonomi atas hanya diisi oleh nelayan pemilik kapal.
Pada masyarakat nelayan di kedua desa terdapat sistem bagi upah yang jika dilihat lebih mendalam terdapat ketimpangan. Ketimpangan tersebut tercipta karena pembagian hasil yang diperoleh juragan (pemilik kapal) jauh lebih besar dari upah ABK. Berikut adalah ilustrasi sistem pembagian upah yang dilakukan dengan asumsi 4 orang yang pergi melaut ( 3 ABK + pemilik kapal).
Gambar 3 Ilustrasi sistem bagi upah di dua desa
Ikhtisar
Desa Muara Binuangeun dan Desa Cikiruh Wetan merupakan dua desa yang berada di wilayah administratif yang berbeda. Desa Muara Binuangeun berada di Kabupaten Lebak dan Desa Cikiruh Wetan berada di Kabupaten Pandeglang. Akan tetapi secara wilayah kedua desa ini berada bersampingan dengan lokasi Desa Cikiruh Wetan berada di sebelah barat dan Desa Muara Binuangeun berada di sebelah timur.
Diantara kedua desa ini terdapat sebuah sungai yang bermuara ke laut Selatan Jawa. Sungai ini menjadi penyatu antara kedua desa dengan difasilitasi sebuah jembatan beton besar dengan kondisi baik. Nelayan di kedua desa ini memanfaatkan sumber daya laut yang sama serta menjalin ikatan kesalingtergantungan. Jenis ikatan tersebut adalah ikatan langgan dan patron client. Ikatan ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak baik antara langgan dengan nelayan maupun antara taweu (pemilik perahu) dengan pandega (anak buah kapal).
Kondisi ekonomi di kedua desa dikatakan cukup berkembang karena kedua desa ini merupakan penghasil ikan tangkap yang sudah dikenal. Selain memasarkan hasil ikan di desa, ikan tersebut dijual juga ke luar desa oleh tangan kedua. Selain menjual ikan dalam kondisi segar, rumahtangga nelayan juga melakukan berbagai industri pengolahan hasil laut meski dalam skala kecil.
Pendapatan melaut TPI (5%) Nelayan (85%) Langgan (10%) ABK (42,5%) Juragan (42,5%) ABK 1 (10.6%) ABK 1 (10.6%) ABK 1 (10.6%) Juragan (10.6%)