BAB II LANDASAN TEORI
F. Profil Kelompok Persatuan Islam (Persis) dan Nahdlatul Ulama (NU)… 50
Perkembangan kelompok atau organisasi Persatuan Islam di Kelurahan Mekarsari berawal sekitar tahun 1980 dari sebuah perkumpulan yang bersifat obrolan-obrolan ringan para perantau yang berasal dari sunda (Ciamis dan Tasikmalaya), yang kemudian berlanjut pada taklim atau pengajian membahas kitab Bulughul Marom dan lain-lain. Taklim atau pengajian yang bersifat terbatas ini dilaksanakan di langgar/mushola Darul
4
Mukminin (yang sekarang menjadi Masjid Jami’ Darul Mukminin) yang saat itu bangunan hanya sebatas pondasi dan berdindingkan bilik bambu saja.
Haji Sholihin (Alm) seorang pensiunan Purnawirawan adalah merupakan salah satu pembawa gagasan faham keagamaan Persatuan Islam di Kelurahan mekar Sari yang berasal dari Ciamis, dengan inisiatifnya lah taklim/pengajian yang membahas tantang kejamiyahan Persis di mulai. Mengingat trek record dari beliau sebagai seorang pensiunan membantu memudahkan “dakwah” Persis yang menarik perhatian seorang hartawan dari Jakarta yang merupakan relasi dari beliau. Setiap pengajian dan kegiatan yang diselenggarakan Persis saat itu di hadiri beliau. Kehadiran beliau bukan tanpa arti, setiap keadatangan beliau menarik perhatian warga lain karena pasti beliau memberikan sumbangan terhadap masyarakat seperti memberikan kitab-kitab agama, bahkan beliau memberikan santunan terhadap ustadz-ustadz diluar Persis.
Berlanjut sekitar tahun 1986 kegiatan Persis mulai sedikit berani dan berkembang, taklim yang lebih besarpun diadakan dengan mengundang ustadz-ustadz besar dari golongan Persis sendiri yang berasal dari pimpinan Pusat di bandung seperti Ustadz Aceng Zakaria, Ustadz Entang Muchtar dan lain-lain. Dalam beberpa hal sosialisasi jam’iyyah persis ini bukan tanpa halangan.
Dengan semangat kejamiyyahan H.Sholihin berinisiatif untuk mendirikan pimpinan cabang Persatuan Islam Cimanggis yang terletak di Kelurahan Mekar Sari. Bermodalkan anggota saat itu sebanyak 20 orang saja. Sementara peraturan jam’iyyah pusat menyebutkan baru dapat membentuk pimpinan cabang minimal memiliki anggota sebanyak 25 orang5 seperti mendapatkan rukhsoh dari pimpinan pusat di Bandung akhirnya terbentuklah cabang Persatuan Islam Cimanggis yang di lantik pada tahun 2000 oleh pimpinan persatuan Islam Daerah Bogor di Citereup.
Pada periode awal setelah terbentuknya pimpinan cabang Persatuan Islam, terpilih lah Haji Ma’mun sebagai ketua hingga tiga periode (masa jabat pimpinan cabang Persis selama 3 tahun, pimpinan daerah Persis 4 tahun, dan pimpinan pusat Persis 5 tahun)6. Pada masa kepemimpinan Haji Ma’mun ini mengumpulkan kader-kader yang berserakan di Cimanggis dan di Mekar Sari pada khususnya. Serta membangun infrasrtuktur yang menunjang kegiatan jam’iyyah. Pada periode kepemimpinan beliau pembuatan sekretariat serta majlis yang berstatus milik jam’iyyah Persatuan Islam dapat terealisasi. Pada periode terakhir masa jihad 2009 hingga 2011 dipimpin oleh Haji Uba. Pimpinan cabang Persatuan Islam Cimanggis membawahi beberapa organisasi, seperti pemuda dan pemudi Persatuan Islam, Badan otonom Persatuan Islam Persistri (Persatuan Islam Istri) Cabang Cimanggis.
5
Qanun Asasi Qanun Dakhili Persatuan Islam.
6
Program kerja pimpinan cabang Persatuan Islam (Persis) Cimanggis.
1. Penasehat : Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Program di Cabang.
2. Ketua
3. Wakil Ketua: Melaksanaan Tugas dan Penanggung Jawab menegemen jam’iyyah di pimpinan Cabang, mengkoordinasikan dan memotivasi semua Ka. Bidgar unit merealisasikan program kerja.
4. Sekretaris: Mengelola, melengkapi dan menata administrasi kesekretariatan, menjalin Komunikasi antar stap pimpinan.
5. Bendahara; menyusun RAPB cabang membuat buku IZIT (iuran, Zakat, Infaq, dan Tabungan), memotivasi pemasukan dana, menyediakan fasilitas,Membuat laporan keuangan.
6. Bidgar SDM dan Organisasi: Mengoptimalisasikan pembinaan anggota, meningkatkan kualitas SDM, mendata anggota setiap tahun, mewujudkan adanya pemuda/i Persis cabang Cimanggis.
7. Bidgar Pendidikan: Mengembangkan Diniyah Ula, Tarbiyatus Sholhin, Meningkatkan Kualitas SDM, Mengembangkan SDIT Bina Auladi, Meningkatkan kualitas SDM.
8. Bidgar Dakwah: Pembinaan calon Mubaligh, Pelaksanaan Dakwah secara optimal, Pembinaan Pemuda/i Persis.
9. Bidgar Haji: Mendata yang akan dan telah Ibadah Haji dan Umroh, Menyebarkan Informasi tantang Haji da Umroh melalui KBIH Persis, Meningkatkan kualitas alumni Haji.
10.Bidgar Perwakafan: Mendata Wakaf, Mengelola Wakaf, Mengurus Administrasi Wakaf, Memotivasi Gerakan Wakaf.
11.Bidgar Perzakatan. Sosialisasi ZIS, Mengupdate daftar Muzaki dan
Mustahik.
12.Bidgar Sosial dan Ekonomi: Bakti Sosial Anggota, Mengembangkan Ekonomi, Tabungan Hewan Kurban, lain-lain.
2. Nahdlatul Ulama (NU).7
Warga Nahdlatul Ulama di Mekar Sari tidak memiliki struktur seperti halnya kelompok Persatuan Islam (Persis), akan tetapi dalam kenyataan dilapangan mayoritas warga di Mekarsari memegang teguh prinsif-prinsif Nahdlatul Ulama dan beribadah bermadzhabkan syafi’i.
Gagasan dengan prilaku Nahdlatul Ulama (NU) ini di bawa dan diajarkan oleh ustadz, guru atau anggota masyarakat yang pernah mengeyam pendidikan di pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama seperti Tebu Ireng, Asyhafi’iyah dan lain-lain.
Pada dasarnya pimpinan cabang Nahdlatul Ulama (NU) berada dikelurahan cisalak yang bebatasan langsung dengan kelurahan Mekarsari,
7
hal ini berimbas langsung pada masyaraakat di kelurahan Mekarsari. Beberapa pengurus Nahdlatul Ulama (NU) tersebut tinggal di kelurahan Mekarsari dan mengajar dan memiliki jadwal tetap dalam mengisi pengajian pada masjid atau majlis taklim dimasyarakat sehingga dimungkinkan masyarakat mengikuti prinsif-prinsif beragama dengan dasar kelompok Nahdlatul Ulama (NU).
Para ustadz, guru, atau anggota masyarakat yang pernah mengeyam pendidikan pesantren ini memberikan sumbangsih terhadap pemantapan prilaku ke Nahdliyian, terlebih salah seorang dari anggota masyarakat berposisi sebagai ketua Nahdlatul Ulama dan menjabat di Majlis Ulama Indonesia (MUI) Depok.
Gagasan dengan prilaku Nahdlatul Ulama (NU) dominan dibawa dan disebarkan oleh keluarga ustadz Junaidi (Alm) yang pernah mengenyam pendidikan pesantren didaera Bogor serta adik-adik beliau yang juga merupakn guru atau ustadz bagi warga nahdliyin yang di Mekarsari yang juga memiliki dasar pendidikan di pesantren dan juga pernah mengeyam pendidikan sekolah tinggi di IAIN Jakarta.
Setelah meninggalnya ustadz Junaidi dakwah dan pengajian atau majlis taklim yang memperkuat keyakinan beragama dengan prinsif-prinsif Nahdlatul Ulama (NU) dilanjuntkan oleh H. Zahrudin yang merupakan adik dari beliau, serta oleh K.H Makmur yang merupakan teman seperjuangan dari ustad Junaidi (Alm).
BAB IV
HASIL TEMUAN LAPANGAN
A. Sumber-Sumber Konflik Kelompok Persatuan Islam (Persis) dan Nahdaltul Ulama (NU)
Beberapa faktor yang menyebabkan konflik terjadi di masyarakat Mekarsari adalah bersumber pada interpretasi dan perbedaan masyarakat tentang pemahaman keagamaan, terutama setelah kelompok Persatuan Islam masuk dan mulai berkembang di lingkungan tersebut karena warga nahdliyin dapat dikatakan lebih dulu ada dan berkembang di lingkungan masyarakat Mekarsari. Beberapa sumber konflik yang menjadi perdebatan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan warga nahdliyin yang bersumberkan pada pemahaman keagamaan diantaranya adalah:
1. Pengurusan Jenazah.
Bagi orang-orang nahdliyin pengurusan jenazah selain memandikan dan mensholati mayit, mereka juga mengenal adab memuliakan jenazah dengan mendoakan mayit dengan cara mengajikan (membacakan al-quran) di hadapan mayit, mengadzani mayit saat di liang lahad sebelum dikuburkan, tidak demikian dengan keyakinan dengan orang-orang Persatuan Islam (Persis), mereka tidak menjalankan selain dari pada memandikan, menyolatkan, dan mengantarkan mayit hingga sampai makam. Bagi orang-orang Persatuan Islam diluar pada pelaksanaan yang di yakininya dalam
urusan pengurusan jenazah ini dianggap sebagai sesuatu yang bid’ah. Seperti dituturkan oleh seorang informan (47 tahun) warga nahdliyin:
“Satu contoh misalnya seperti pada saat ustadz junaidi (Alm) meninggal mereka hanya mensholati, mengantarkan, dan selebihnya tidak melakukan apa-apa, sementara kita melakukan doa bersama untuk almarhum”.1
2. Selametan atau tahlilan (mendo’a kan mayit setelah dimakamkan) Bila seseorang meninggal, maka anggota keluarga terdekatnya mengadakan sebuah ritual yang disebut dengan selametan. Ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari, ritual selametan atau tahlilan ini dilakukan hingga tujuh hari kedepan, empat puluh hari, seratus hari, dan haul kematian memperingati kematian mayit yang sudah setahun meninggalkan keluarga. Biasanya pada ritual selametan ini disugukan makanan cemilan, rokok, dan lain-lain, dan setelah acara tahlilan selesai para peserta selametan atau tahlilan ini mendapatkan bingkisan yang mereka sebut sebagai “besek”.
Konflik kembali terjadi bagi orang-orang Persatuan Islam ini tidak dapat dibenarkan karena tidak bersumberkan pada hadits, karena semasa hidupnya Nabi tidak melaksanakan ritual selametan ini. Terlebih memberikan makan kepada peserta tahlilan yang dianggap terbalik dengan keyakinan orang Persatuan Islam (Persis) yang seharusnya ikut berduka dan membantu secara materi justru berbalik dengan mengeluarkan uang untuk kepentingan selametan atau tahlilan
1
tersebut. Seperti yang di jelaskan seorang informan (43 tahun) yang merupakan salah seorang ustadz dari warga nahdliyin:
“Orang-orang Persis itu tidak tahu, sebenarnya dibalik itu semua keluarga mayit sangat senang apabila di kirimi doa, berupa tahlil. Argument mereka tidak berdasar dan mengakar, mereka tidak akan pernah datang saat diundang pada acara tahlilan, dikirimi makanannya pun menolak. Mereka tidak pernah tahu bahwa makanan yang paling nikmat adalah makanan yang telah di doakan, bagi keluarga yang ditinggal tidak ada sejarahnya sampai menjual rumah atau tanahnya untuk keperluan tahlilan ini, seperti anggapan yang sering di lontarkan orang-orang Persis”.2
Hal serupa juga terjadi pada salah satu keluarga warga nahdliyin seperti yang di tuturkan oleh seorang informan (24 tahun) yang kebetulan salah seorang dari kakaknya menjadi anggota jam’ah Persatuan Islam dikarenakan menikah dengan salah seorang anggota jama’ah tersebut
“Dulu saat orang tua kami meninggal abang gak datang waktu diadakan acara tahlilan, keesokan harinya baru datang dan dia berkata dari pada buat masak dan dikasihin ke orang-orang itu
mubazir, lebih baik kumpulin duit dan dikasihin ke anak-anak yatim piatu, jelas-jelas lebih bermanfaat”.3
3. Maulid Nabi Muhammad S.A.W.
Bagi orang-orang nahdliyin masyarakat Mekarsari perayaan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W adalah sesuatu yang sakral dan pasti dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 12 Dzulhijah, atau tanggal lain pada bulan tersebut. Seperti di tuturkan informan (47 tahun)
2
Wawancara Pribadi dengan UZ, Depok, 7 Juni 2011.
3
“Kami tidak peduli apa yang sering dikatakan mereka (jam’ah Persatuan Islam) yang menganggap pelaksanaan maulid Nabi sesuatu yang bid’ah, mereka tidak tahu apa inti dari perayaan ini, mereka tidak memahami kenapa kami melaksanaan maulid nabi ini. Bagi kami perayaan Maulid ini mengandung makna perenungan atas pengorbanan dan jasa seorang Nabi yang berjuang memperjuangkan agama Allah, dan didalam perayaan ini terkandung makna syi’ar Islam yang luas, yang tidak hanya menjakau anggota organisasinya saja melainkan seluruh umat Islam pada umumnya”.4
4. Mengirimkan surah al-Fatihah bagi sodara-sodara muslim yang lebih dulu meninggalkan mereka.
Penafsiran berbeda tentang hadits “idza maata ibnu adama inkothoa amaluhu illa min tsalasin, shodaqotin jariyatin au ilmin yuntafaubihi au waladin sholihin”. Perdebatan tentang orang lain yang menigrimkan surah al- Fatihah bagi orang-orang Persatuan Islam sesuatu yang tidak akan pernah sampai karena amalan yang akan diterima hanya sebatas pada doa anak yang sholeh. Sedangkan pemahaman bagi orang-orang nahdliyin siapa saja yang dengan ikhlas mendoakan orang-orang terdahulu yang terlebih dulu meninggalkan mereka adalah sesuatu yang baik dan mustahil bagi Allah tidak mengabulkan do’a orang-orang yang mendoa’akan bagi almarhum, seperti yang dituturkan oleh informan (58 tahun) yang merupakan salah seorang ustadz dari warga nahdliyin:
“Makna pada hadits waladun sholihun di tunjukan bukan hanya berasal dari keluarga senasab atau anak kandung saja, Karena bila ditunjukan bagi anak kandung dalam kaidah bahasa Arab
4
semestinya penggunaan bahasanya dalam hadits tersebut ibnun sholehun atau bintun sholehatun’’.5
5. Adzan dua kali saat pelaksanaan sholat Jum’at.
Bagi orang nahdliyin adzan dua kali sesuatu yang di contohkan oleh Nabi Muhammad saw dahulu. Sementara pendapat orang Persis adzan dua kali yang di contohkan Rasulullah dahulu karena ada beberapa hal, ketika adzan pertama dilakukan di dalam masjid sementara orang-orang masih diluar melaksanakan kegiatannya masing-masing dan di dalam masjid jama’ah masih terlihat sedikit dengan keadaan demikian Rasul memerintahkan sahabat untuk melakukan adzan yang kedua tetapi dilakukan di luar masjid dengan maksud untuk mengingatkan para jama’ah sholat jum’at yang masih melakukan kegiatannya. Argumentasinya pada zaman sekarang fasilitas pengeras suara sudah tersedia yang memungkinkan apabila adzan dengan menggunakan pengeras suara akan menjamah seluruh daerah yang ada disekitar masjid, jadi tidak mesti pada saat ini adzan dilakukan dua kali sebelum khotib mayampaiakan khutbah jum’atnya.
6. Pelaksanaan doa qunut setiap sholat subuh.
Bagi warga Persatuan Islam mendoakan para pejuang Allah dibelahan bumi lain yang sedang berjihad tidak mesti dilakukan pada sholat subuh saja, serta redaksi do’a qunut yang selalu dan biasa di bacakan warga nahdliyin pada sholat subuh pada umumnya berbeda.
5
Sementara orang-orang Persatuan Islam pernah melaksanakan qunut dilakukan pada sholat berjama’ah maghrib dan isya, saat jama’ah banyak dan dengan redaksi do’a qunut yang berbeda pada umumnya
7. Mengangkat tangan saat berdo’a.
Jama’ah Persatuan Islam menganggap kedudukan Hadits rof’ul yadain fi du’a tidak sampai pada derajat shohih, sehingga pada pelaksanaannya jama’ah Persatuan Islam (Persis) tidak mengangkat tangan mereka saat berdo’a, terkecuali pengkhususan pada sholat meminta hujan (istisqho). Sementara tidak demikian dengan Warga nahdliyin mengangkat tangan selalu dilakukan apabila sedang melakukan do’a. seperti dituturkan oleh informan (51 tahun)
“Sebetulnya logikanya sangat sederhana, bagaimana kita lihat seorang anak ketika meminta uang kepada orang tuanya, anak itu pasti “nadangin” tangannya. Begitupun kita bila kita meminta apalagi pada yang Menciptakan kita”.6
8. Mengeraskan suara saat berdoa’a setelah shalat berjama’ah.
Hal yang biasa dan kerap ditemui di masjid-masjid atau mushala di Indonesia termasuk hasil pengamatan peneliti yang melakukan sholat di masjid di tempat penelitian dilakukan, mengeraskan do’a setelah sholat berjama’ah sesuatu yang biasa dilakukan, hal ini yang kemudian menjadi salah satu bahan kritikan bagi warga nahdliyin yang dilayangkan oleh jama’ah Persatuan Islam (Persis) menurutnya cara demikan tidak pernah di contohkan oleh rasulullah saw dan sahabatnya.
6
Rasulullah mencontohkan berdo’a dengan rincian membaca
Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali dan digenapkan dengan membaca Laa ilaaha illallah. Suara keras saat berdo’a di takutkan orang-orang persatuan Islam (Persis) menggangu orang lain yang shalatnya terlambat atau masbuq. Dengan dalil al-Quran (QS. Al-‘Araf: 2005) yang intinya adalah berwirid dan berzikir itu hendaknya penuh kekhusyu’an dan dengan suara yang pelan dan penuh rasa takut dan pelan.
9. Melaksanakan wiridan dengan menggunakan tasbih.
Melakukan wiridin dengan menggunakan tasbih sesuatu yang biasa dilakukan oleh warga nahdliyin akan tetapi hal ini tidak demikian dengan warga jama’ah Persatuan Islam. Bagi warga Persatuan Islam rasulullah tidak menggunakan media apapun dalam melakukan wirid kecuali dengan hanya denga jari-jemari tangan kanannya saja. Seperti di tuturkan oleh seorang informan 51 Tahun:
“Pada zaman Rasulullah saw ada yang menggunakan seperti tasbih akan tetapi jumlahnya tidak 33 seperti tasbih yang ada seperti sekarang ini melainkan 1000 buah, kalau memang mau konsisten seharusnya mereka (warga Nahdliyin) menggunakan media yang sama dan dengan jumlah yang sama”.7
10.Jumlah raka’at dalam sholat tarawih pada malam bulan ramadhan. Perebedaan yang mencolok mengenai jumlah raka’at ini menyebabkan tidak mungkin kedua kelompok ini melakukan sholat
7
terawih secara berjama’ah, bagi orang-orang nahdliyin mereka melakukan sholat tarawih dengan jumlah 23 raka’at dengan 2 raka’at sampai sepuluh kali salam dan di lanjutkan dengan 3 raka’at witir, sementara jama’ah Persatuan Islam melaksanakan sholat tarawih dengan 11 raka’at dengan dengan 4 raka’at hingga 2 kali salam dan dilanjutkan dengan 3 raka’at sholat witir.
11.Memberikan kebebasan pada orang yang baru belajar untuk menjadi imam sholat pada orang-orang Persis.
Sementara pada prinsipnya warga nahdliyin hanya mau diimami oleh orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas, dan kapabilitas dalam urusan agama. Seperti yang kembali di utarakan informan (43 tahun):
“Pernah satu ketika saya diimami oleh salah seorang anggota jama’ah Persatuan Islam, saya tahu kapasitas dari orang tersebut dalam urusan agama. Walaupun saya berdiri sebagai makmum dalam sholat tersebut akan tetapi saya meniatkan sholat saya sendiri, karena saya hanya mau diimami oleh orang-orang yang fasih dalam bacaannya, faham dalam urusan agama, kasarnya paling tidak saya mengagap harus keilmuannya diatas saya”.8
Sehingga bukan tidak mungkin dalam pelaksanaan sholat berjama’ah selalu di imami oleh orang yang sama, seperti pengamatan yang di lakukan oleh peniliti yang ikut sholat berjama’ah di masjid milik warga Nahdlatul Ulama dalam sholat maghrib dan isya selalu di imami oleh imam yang sama.
8
12.Pelaksanaan sholat Gerhana.
Sholat gerhana bagi orang-orang nahdliyin bukan sesuatu yang masyhur untuk di laksanakan, akan tetapi tidak demikian dengan warga Persatuan Islam (Persis) setiap gerhana terjadi para warga Persatuan Islam melaksanakan sholat gerhana dengan sunnah-sunnahnya seperti melaksanakan sholat gerhana, bertakbir, mendengarkan khotbah, dan bershodaqoh. Biasanya pelaksanaan sholat gerhana ini dilakukan secara berjama’ah di lakukan di masjid dan dengan menggunakan pengeras suara. Ini salah satu yang menjadi sumber besar konflik yang terjadi pada masyarakat sebagaimana telah disebut pula di atas.
13.Penggunaan sayyidina untuk menyebutkan Nabi Muhammad saw dalam sholawat,
Bagi warga nahdliyin tidak ada salahnya memuliakan Rasulullah dengan mambahkan sayyidina, karena itu merupakan salah satu cara memuliakan, menteladani, pribadi yang dicintainya. Namun bagi jama’ah Persatuan Islam dalam haditsnya Rasulullah tidak menggunakan redaksi sayyidina, dan menganggap penambahan kata sayyidina dalam sholawat sesuatu yang ditambah-tambahkan.
Selain faktor diatas ada beberapa faktor lain yang kerap menjadi konflik antara jama’ah Persatuan Islam dengan warga nahdliyin diantaranya adalah perdebatan mengengenai konsep ahlu sunnah wal jama’ah. Pada dasarnya kedua organsisai ini merupakan kelompok yang mendeklarasikan sebagai ahlu sunnah
wal jama’ah hanya saja dalam mengaplikasikan ajaran agama ada perbedaaan dalam mengartikulasikan sebuah dalil dengan argumentasinya masing-masing. Seperti yang di tuturkan seorang informan (54 tahun).
“Semestinya pemahaman agama itu berasal dari atas baru kebawah (harus mencari sumber yang utama yaitu al-Quran dan dari sunnah Nabi Muhammad baru di perkuat dengan perkataan sahabat dan berlanjut pada ulama-ulama setelahnya) itu kiranya yang menjadi dasar penafsirann bagi kami. Yang saya liat pada umumnya warga nahdliyin mengembangkan pemahaman keagamaan berasal dari bawah baru keatas (mencari dalil dari ulama-ulama klasik) dan belum tentu mencari dalil sunnah nabi. Sehinga dalam kenyataannya bagi kami melihat itu tidak sesuai dengan
sunnah nabi Muhammad karena nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan dan tidak ada hadits yang memperkuatnya”.9
Faktor lain yang meyebabkan konflik walaupun tidak dominan adalah motif status ekonomi, Status ekonomi warga Persatuan Islam berada diatas atau lebih apabila dibandingakan dengan warga nahdliyin yang ada Mekarsari. Warga jama’ah Persatuan Islam dapat dikatakan berekonomi menengah keatas dan sebaliknya bagi warga nahdliyin menengah kebawah. Kesuksesan dakwah jama’ah Persatuan Islam ditunjang dengan ekonomi yang baik pula di daerah tersebut. Sebagai indikasinya berbagai fasilitas dibangun oleh warga jama’ah Persatuan Islam melalui sumbangan bersama para jama’ahnya, Pembangunan fasilitas tersebut termasuk mushola dan majlis berdekatan dengan masjid bukan tanpa alasan karena dalam beberapa kegiatan pelarangan warga nahdliyin kepada jama’ah Persatuan Islam untuk menggunakan fasilitas-fasilitas yang sudah ada yang nota bene merupakan aset warga nahdliyin. Seperti dituturkan oleh informan (43 tahun).
9
“Orang-orang Persis isrof dalam membangun fasilitasnya, lihat saja membangun majlis dan mushola dengan bahan-bahan bangunan dan bentuk bangunannya menelan biaya yang tidak sedikit. Hanya karena salah seorang dari jama’ah mereka seorang kontraktor. Seharusnya dana yang besar tersebut dapat digunakan pada hal-hal yang lebih penting di banding sekedar membangun. Kami bukan berarti tidak bisa membangun seperti itu, kami mempertimbangkan azas manfaat pengguanaannya saja jangan sampai mubazir dan saya melihatnya cenderung jatuh pada
Isrof”.10