• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten dan Pergeseran

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pertumbuhan Sektor-sektor Perekonomian Provinsi Banten Sebelum

5.1.4 Profil Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten dan Pergeseran

Berdasarkan persentase nilai komponen pertumbuhan proporsional (PP)

dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW), dapat diperoleh profil

pertumbuhan PDRB dengan cara mengekspresikan persentase nilai PP dan PPW

ke dalam sumbu vertikal dan horizontal. PP diletakkan pada sumbu horizontal

sebagai absis, sedangkan PPW pada sumbu vertikal sebagai ordinat.

Berdasarkan Gambar 4, pada kuadran I tidak terdapat nilai PP dan PPW,

artinya tidak ditemukan sektor yang memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan

memiliki daya saing yang baik atau mampu bersaing dengan kabupaten lain.

Pada kuadran II ditempati oleh sektor industri pengolahan, sektor listrik,gas dan

air bersih, sektor bangunan, sektor pengangkutan dan komunikasi, ini ditandai

dengan PP dan PPW yang bernilai positif dan negatif. Artinya, bahwa sektor-

bersaing dengan sektor yang berada di kabupaten lainnya. Persentase PP dan PPW

dari masing-masing sektor tersebut yaitu 21 persen dan -24 persen untuk sektor

industri pengolahan, 6 persen dan -9 persen untuk sektor listrik, gas dan air bersih,

2 persen dan -6 persen untuk sektor bangunan, 5 persen dan -12 persen untuk

sektor pengangkutan dan komunikasi.

Kuadran selanjutnya, yaitu kuadran III diduduki oleh sektor

pertambangan, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa-jasa. Ini

ditandai dengan PP dan PPW yang bernilai negatif, yaitu -15 persen dan -1 persen

untuk sektor pertambangan, -1 persen dan -7 persen untuk sektor perdagangan,

hotel dan restoran, -16 persen dan -2 persen untuk sektor jasa-jasa. Artinya,

sektor-sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan yang lambat dan tidak dapat

-30 -25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 -20 -10 0 10 20 30 PPW PP Sektor Pertanian Sektor Keuangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sektor Pertambangan

Sektor Perdagangan. Hotel dan Restoran Sektor Jasa-Jasa

Sektor Industri Pengolahan

Sektor Listrik. Gas dan Air Bersih

Sektor Bangunan

Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Gambar 4. Profil Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten (1994-1996)

Terakhir, yaitu kuadran IV ditempati oleh sektor pertanian dan sektor

keuangan, persewaan dan jasa perusahan. Hal ini menginterprestasikan bahwa

sektor-sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan yang lambat, tetapi mampu

bersaing dengan sektor-sektor yang berada di kabupaten lainnya. Persentase PP

dan PPW dari masing-masing sektor tersebut yaitu -18 persen dan 13 persen untuk

sektor pertanian, -2 persen dan 6 persen untuk sektor keuangan, persewaan dan

jasa perusahaan.

Nilai pergeseran bersih (PB) diperoleh dari penjumlahan nilai PP dan PPW. Berdasarkan tabel 9, pada Provinsi Banten hanya terdapat satu sektor yang memiliki nilai PB yang positif (PB > 0), yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (4 %). Artinya, bahwa sektor tersebut termasuk dalam kelompok

pertumbuhan yang progresif (maju). Ketujuh sektor lainnya memiliki nilai pergeseran bersih yang negatif (PB < 0). Hal ini berarti pertumbuhan sektor-sektor tersebut termasuk dalam kelompok pertumbuhan lambat.

Tabel 9. Pergeseran Bersih Sektor-sektor Perekonomian Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1994-1996

Pergeseran Bersih No Sektor (Rp) (%) 1 Pertanian -68.761 -5 2 Pertambangan -5.360 -16 3 Industri Pengolahan -204.495 -3

4 Listrik, Gas dan Air Bersih -13.671 -3

5 Bangunan -25.047 -4

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -193.131 -8

7 Pengangkutan dan Komunikasi -83.467 -7

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 17.349 4

9 Jasa-jasa -136.893 -18

Total -713.476 -60

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1994-1996.

Apabila nilai PB dari setiap sektor (PBij) dijumlahkan, maka akan

diperoleh total nilai PB Provinsi Banten (PB.j), yaitu sebesar -60 persen.

Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Provinsi Banten termasuk dalam

kelompok yang lambat.

5.2 Pertumbuhan Sektor-sektor Perekonomian Provinsi Banten Pada Saat Krisis Ekonomi Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

5.2.1 Analisis PDRB Provinsi Banten dan PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 1997-1999

Awal tahun 1997, kondisi perekonomian Indonesia mulai menunjukkan

ketidakstabilan, tepatnya pada tahun 1998 perekonomian Indonesia mengalami

krisis. Kondisi krisis tersebut berpengaruh terhadap perekonomian Provinsi

terhadap perkembangan sektor-sektor perekonomian di Provinsi Banten. Tidak

ada satu sektorpun yang memberikan kontribusi positif terhadap PDRB Provinsi

Jawa Barat. Berdasarkan Tabel 10, semua sektor-sektor perekonomian yang ada di

Provinsi Banten memiliki tingkat pertumbuhan yang negatif.

Sektor pertambangan merupakan sektor yang paling terpuruk akibat

adanya krisis, dengan tingkat pertumbuhan negatif sebesar -57,03 persen atau

kontribusi terhadap PDRB menurun sebesar Rp 22.420. Pada tahun sebelumnya

sektor ini juga mengalami tingkat pertumbuhan yang menurun apalagi dengan

adanya krisis di Indonesia semakin memperpuruk sektor ini. Dengan tingkat

inflasi yang tinggi menyebabkan sulitnya sektor ini dalam menyediakan alat-alat

yang dibutuhkan dalam pertambangan ataupun penggalian karena harga yang sulit

dijangkau. Sektor bangunan mengalami hal yang sama, dengan kontribusi

terhadap PDRB menurun sebesar Rp 442.174 atau sebesar -52,90 persen.

Urutan ketiga ditempati oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan dengan tingkat pertumbuhan negatif sebesar -39,29 persen. Ini berarti

kontribusi sektor keuangan, persewan dan jasa perusahaan terhadap PDRB

mengalami penurunan sebesar Rp -266.693.

Seperti ketiga sektor yang telah dijelaskan di atas, sektor yang lain juga

mengalami penurunan. Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami

penurunan sebesar -30,40 persen, sektor listrik, gas dan air bersih menurun

sebesar -28,20 persen, sektor industri pengolahan menurun sebesar -27,35 persen,

sektor perdagangan, hotel dan restoran menurun sebesar -15,44 persen, sektor

persen. Secara total, PDRB Provinsi Banten mengalami penurunan, yaitu sebesar

Rp -4.601.851 atau sebesar -24,39 persen.

Tabel 10. PDRB Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993

PDRB Provinsi Banten Lapangan Usaha 1997 1999 PerubahanPDRB Provinsi Banten (1997-1999) Persen Pertanian 1,652,766 1,540,393 -112,373 -6,8 Pertambangan dan Penggalian 39,312 16,892 -22,421 -57,03 Industri Pengolahan 9,474,917 6,883,695 -2,591,222 -27,35 Listrik, Gas dan Air

Bersih 627,988 450,868 -177,120 -28,20

Bangunan/Konstruksi 836,093 393,919 -442,174 -52,90 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 3,089,368 2,612,476 -476,891 -15,44 Pengangkutan dan

Komunikasi 1,558,884 1,085,000.23 -473,883.46 -30,40 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 678,829 412,136 -266,693 -39,29

Jasa-Jasa 906,232 867,159 -39,074 -4,31

Total 18,864,389 14,262,538 -4,601,851 -24,39

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999

Kondisi krisis ekonomi juga berpengaruh terhadap perekonomian Provinsi

Jawa Barat. Berdasarkan Tabel 11, sektor bangunan merupakan sektor yang

paling terpuruk akibat adanya krisis ekonomi, dengan kontribusi terhadap PDRB

Provinsi Jawa Barat yang menurun sebesar Rp -1.447.346,1 atau sebesar -40,29

persen. Dengan adanya inflasi, komponen-komponen yang dibutuhkan untuk

membangun tidak dapat terjangkau harganya sehingga banyak kegiatan

pembangunan (konstruksi) ditunda atau tidak dilanjutkan. Selain itu,

rumah/bangunan termasuk dalam kredit jangka panjang, ketika krisis banyak

bank-bank yang colaps sehingga menjadi kredit macet pada sektor bangunan. Sektor jasa-jasa masih memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Provinsi

bersih juga masih memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 2,25 persen dan

sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,27 persen. Secara total, PDRB

Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan, yaitu sebesar Rp -9.728.883,42 atau

sebesar -15,25 persen.

Tabel 11. PDRB Provinsi Jawa Barat Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993

PDRB Provinsi Jawa Barat Lapangan Usaha 1997 1999 PerubahanPDRB Provinsi Jawa Barat (1997-1999) Persen Pertanian 8,954,830.60 8,202,701.86 -752,128.74 -8,40 Pertambangan dan Penggalian 3,175,868.74 2,253,275.07 -922,593.67 -29,05 Industri Pengolahan 23,001,067.36 18,817,932.05 -4,183,135.31 -18,19 Listrik, Gas dan Air

Bersih 1,267,356.23 1,295,910.97 28,554.74 2,25 Bangunan/Konstruksi 3,592,176.35 2,144,830.25 -1,447,346.10 -40,29 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 12,556,316.39 11,027,976.11 -1,528,340.28 -12,17 Pengangkutan dan

Komunikasi 3,067,771.23 3,076,114.58 8,343.35 0,27 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 3,110,669.81 1,954,483.10 -1,156,186.71 -37,17 Jasa-Jasa 5,085,168.80 5,309,118.10 223,949.30 4,40

Total 63,811,225.51 54,082,342.09 -9,728,883.42 -15,25

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Pada masa krisis ekonomi, nilai Ra untuk semua sektor di seluruh

kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat sebesar -0,15. Nilai Ra yang

negatif menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1997 sampai 1999 kondisi

perekonomian Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan. Nilai Ra didasarkan

pada selisih total PDRB Provinsi Jawa Barat pada tahun 1999 dengan total PDRB

Provinsi Jawa Barat pada tahun 1997 dibagi total PDRB Provinsi Jawa Barat pada

5.2.2 Rasio PDRB Provinsi Banten dan PDRB Provinsi Jawa Barat (Nilai Ra, Ri dan ri) Tahun 1997-1999

Nilai Ri diperoleh dari selisih antara PDRB Provinsi Jawa Barat sektor i

pada tahun 1999 dengan PDRB Provinsi Jawa Barat sektor i pada tahun 1997

dibagi PDRB Jawa Barat sektor i pada tahun 1997. Berdasarkan Tabel 12,

diketahui bahwa ada enam sektor yang memiliki nilai Ri negatif, yaitu sektor

pertanian, sektor pertambangan, sektor industri pengolahan, sektor bangunan,

sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan. Hal ini berarti bahwa keenam sektor tersebut mengalami penurunan

kontribusi terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat. Nilai Ri terbesar dimiliki sektor

jasa-jasa, yaitu sebesar 0,04, sedangkan nilai Ri terkecil dimiliki sektor bangunan,

yaitu sebesar -0,40.

Tabel 12. Nilai Ra, Ri dan ri Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

No Sektor Ra Ri ri

1 Pertanian -0,15 -0,08 -0,07

2 Pertambangan -0,15 -0,29 -0,57 3 Industri Pengolahan -0,15 -0,18 -0,27 4 Listrik, Gas dan Air Bersih -0,15 0,02 -0,28

5 Bangunan -0,15 -0,40 -0,53

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -0,15 -0,12 -0,154 7 Pengangkutan dan Komunikasi -0,15 0,003 -0,30 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -0,15 -0,37 -0,39

9 Jasa-jasa -0,15 0,04 -0,04

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Nilai ri dihitung berdasarkan selisih antara PDRB Provinsi Banten sektor i

pada tahun 1999 dengan PDRB Provinsi Banten sektor i pada tahun 1997 dibagi

1999, semua sektor-sektor perekonomian di Provinsi Banten memiliki nilai ri

yang negatif. Sektor pertambangan memiliki nilai ri terkecil, yakni sebesar -0,57.

5.2.3 Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Tahun 1997-1999

Persentase total PDRB sektor-sektor perekonomian Provinsi Banten pada

tahun 1997 sampai 1999 sebesar -24,39 persen, sedangkan persentase komponen

pertumbuhan regional sebesar -15,25 persen. Karena nilai persentase total

perubahan PDRB sektor-sektor ekonomi Provinsi Banten lebih kecil dari pada

persentase komponen pertumbuhan regional, maka tingkat pertumbuhan sektor-

sektor ekonomi di Provinsi Banten lebih kecil dari pada tingkat pertumbuhan

sektor-sektor ekonomi Provinsi Jawa Barat.

Tabel 13. Komponen Pertumbuhan Regional Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

Pertumbuhan Regional No Sektor (Rp) (%) 1 Pertanian -247.915 -15,25 2 Pertambangan -5.897 -15,25 3 Industri Pengolahan -1.421.238 -15,25

4 Listrik, Gas dan Air Bersih -94.198 -15,25

5 Bangunan -125.414 -15,25

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -463.405 -15,25

7 Pengangkutan dan Komunikasi -233.833 -15,25

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -101.824 -15,25

9 Jasa-jasa -135.935 -15,25

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Kontribusi sektor-sektor ekonomi Provinsi Banten berdasarkan komponen

pertumbuhan proporsional, ada yang memberikan kontribusi positif dan ada juga

yang memberikan kontribusi negatif. Berdasarkan tabel 14, sektor-sektor yang

memberikan sumbangan yang positif dalam kurun waktu 1997 sampai 1999,

bersih sebesar Rp 106.757,96 (17 %), sektor perdagangan, hotel dan restoran

sebesar Rp 92.681,04 (3 %), sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp

238.509,25 (15,3 %) dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 172.184,08 (19 %). Karena

kontribusi bernilai positif (PP>0), maka kelima sektor tersebut memiliki laju

pertumbuhan yang cepat.

Pada Tabel 14 sektor-sektor yang memberi kontribusi negatif terhadap

komponen pertumbuhan proporsional, antara lain sektor pertambangan sebesar Rp

-5.503,68 (-14 %), sektor industri pengolahan sebesar Rp -284.247,51 (-3 %),

sektor bangunan sebesar Rp -209.023,25 (-25 %) dan sektor Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan sebesar Rp -149.342,38 (-22 %). Kontribusi yang bernilai

negatif (PP<0), mengindikasikan bahwa keempat sektor tersebut memiliki laju

pertumbuhan yang lambat.

Tabel 14. Komponen Pertumbuhan Proporsional Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

Pertumbuhan Proporsional No Sektor (Rp) (%) 1 Pertanian 115.693,62 7 2 Pertambangan -5.503,68 -14 3 Industri Pengolahan -284.247,51 -3

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 106.757,96 17

5 Bangunan -209.023,25 -25

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 92.681,04 3

7 Pengangkutan dan Komunikasi 238.509,25 15.3

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -149.342,38 -22

9 Jasa-jasa 172.184,08 19

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Komponen pertumbuhan wilayah selanjutnya adalah komponen

pertumbuhan pangsa wilayah. Berdasarkan Tabel 15, dapat diketahui sektor-

pertanian merupakan satu-satunya sektor yang mampu bersaing (PPW>0) dengan

kontribusi sebesar Rp 16.527,66 (1 %).

Tabel 15. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

Pertumbuhan Pangsa Wilayah No Sektor

(Rp) (%)

1 Pertanian 16.527,66 1

2 Pertambangan -11.007,36 -28

3 Industri Pengolahan -852.742,53 -9

4 Listrik, Gas dan Air Bersih -188.396,4 -30

5 Bangunan -108.692,09 -13

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -105.038,51 -3,4

7 Pengangkutan dan Komunikasi -472.341,85 -30,3

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -13.576,58 -2

9 Jasa-jasa -72.498,56 -8

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Sektor lainnya, yaitu sektor Pertambangan, sektor Industri Pengolahan,

sektor Listrik, Gas dan Air Bersih, sektor Bangunan, sektor Perdagangan, Hotel

dan Restoran, sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan, dan sektor jasa-jasa, merupakan sektor yang tidak dapat

bersaing dengan kabupaten lainnya, karena persentase nilai PPW dari masing-

masing sektor bernilai negatif atau kurang dari nol (PPW<0).

5.2.4 Profil Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten dan Pergeseran Bersih Tahun 1997-1999

Pada kurun waktu 1997 sampai 1999, sektor pertanian berada pada

kuadran I, karena nilai PP dan PPW yang bernilai positif, yakni sebesar 7 persen

dan 1 persen. Hal ini berarti bahwa sektor pertanian memiliki laju pertumbuhan

yang cepat dan mampu bersaing dengan kabupaten lainnya.

Kuadran II menunjukkan sektor-sektor perekonomian Provinsi Banten

lain sektor listrik, gas dan air bersih dengan PP sebesar 17 persen dan PPW

sebesar -30 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan PP sebesar

3 persen dan PPW sebesar -3 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi dengan

PP sebesar 15,3 persen dan PPW sebesar -30,3 persen, dan sektor jasa-jasa dengan

PP sebesar 19 persen dan PPW sebesar -8 persen.

-35 -30 -25 -20 -15 -10 -5 0 5 -40 -20 0 20 40 PPW PP Sektor Pertambangan Sektor Industri Pengolahan Sektor Keuangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sektor Bangunan

Sektor Listrik. Gas dan Air Bersih

Sektor Perdagangan. Hotel dan Restoran Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Sektor Jasa-Jasa

Sektor Pertanian

Gambar 5. Profil Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten (1997-1999)

Kuadran III, ditempati oleh sektor pertambangan dengan PP sebesar -14

persen dan PPW sebesar -28 persen, sektor industri pengolahan dengan PP sebesar

perusahaan dengan PP sebesar -22 persen dan PPW sebesar -2 persen, dan sektor

bangunan dengan PP sebesar -25 persen dan PPW sebesar -13 persen. Pada

kuadran ini menunjukkan nilai PP dan PPW yang negatif, yang berarti bahwa

sektor-sektor perekonomian di Provinsi Banten yang tidak memiliki laju

pertumbuhan yang cepat dan juga tidak mampu bersaing dengan kabupaten

lainnya. Pada kuadran IV, tidak ditemukan sektor-sektor yang memiliki laju

pertumbuhan yang lambat dan mampu bersaing dengan kabupaten lainnya.

Pergeseran bersih (PB) diperoleh dari penjumlahan persentase PP dan

PPW. Berdasarkan tabel 16, terdapat dua sektor ekonomi yang memiliki nilai PB

yang positif, tujuh sektor lagi memiliki nilai PB yang negatif. Artinya ketujuh

sektor tersebut termasuk dalam pertumbuhan yang lambat.

Tabel 16. Pergeseran Bersih Sektor-sektor Perekonomian Provinsi Banten Sebelum Otonomi Daerah Tahun 1997-1999

Pergeseran Bersih No Sektor (Rp) (%) 1 Pertanian 132.221,28 8 2 Pertambangan -16.511,04 -42 3 Industri Pengolahan -1.136.990,04 -12

4 Listrik, Gas dan Air Bersih -81.638,44 -13

5 Bangunan -317.715,34 -38

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran -12.357,47 -0,4

7 Pengangkutan dan Komunikasi -233.832,6 -15

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan -162.918,96 -24

9 Jasa-jasa 99.685,52 11

Total -1.730.057,09 -125,4

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 1997-1999.

Sektor-sektor yang tergolong dalam pertumbuhan progresif karena memiliki nilai PB positif (PB>0) adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa.

Apabila nilai PB dari setiap sektor (PBij) dijumlahkan, maka akan diperoleh total

beberapa sektor yang termasuk dalam kelompok pertumbuhan yang progresif, tetapi karena terpuruknya tujuh sektor yang memiliki nilai PB yang negatif

sehingga berdampak pada perekonomian Provinsi Banten. Akibatnya

perekonomian Provinsi Banten termasuk dalam kelompok pertumbuhan yang

lambat.

5.3 Pertumbuhan Sektor-sektor Ekonomi Provinsi Banten Pada Masa Otonomi Daerah Tahun 2000-2002

5.3.1 Analisis PDRB Provinsi Banten dan PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 2000-2002

Semenjak adanya kebijakan otonomi daerah, banyak daerah yang

mengalami pemekaran wilayah salah satunya adalah Provinsi Banten. Sejalan

dengan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, Provinsi Banten yang dahulu

merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, ikut serta mengimplikasikan

kebijakan otonomi daerah, sehingga Provinsi Banten memiliki kemandirian dalam

melaksanakan pemerintahan dan menentukan sendiri kemajuan pembangunan.

Berdasarkan Tabel 17, sektor yang memiliki tingkat pertumbuhan terbesar

adalah sektor pengangkutan dan komunikasi, yaitu sebesar 29,24 persen. Pada

tahun 2000 kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB

Provinsi Banten sebesar Rp 1.313.634,38 meningkat menjadi Rp 1.697.693,95

pada tahun 2002. Besarnya laju pertumbuhan sektor pengangkutan dan

komunikasi ini karena telah tersedinya sarana dan prasarana yang memadai pada

Salah satu contohnya dengan adanya perbaikan jalan yang menghubungkan antar

kota maupun antar provinsi.

Tabel 17. PDRB Provinsi Banten Atas Dasar Harga Konstan Pada Masa Otonomi Daerah Tahun 2000 – 2002

PDRB Provinsi Banten Lapangan Usaha 2000 2002 PerubahanPDRB Provinsi Banten (2000-2002) Persen Pertanian 1,570,049.08 1,771,150.67 201,101.59 12,81 Pertambangan dan Penggalian 18,496.69 21,156.54 2,659.85 14,38 Industri Pengolahan 8,337,141.67 9,409,060.68 1,071,919.01 12,86 Listrik, Gas dan Air

Bersih 698,663.91 807,143.61 108,479.70 15,23 Bangunan/Konstruksi 397,802.46 485,315.94 87,513.48 22 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 2,871,655.83 3,306,096.32 434,440.49 15,13 Pengangkutan dan

Komunikasi 1,313,634.38 1,697,693.95 384,059.57 29,24 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 437,440.37 466,965.87 29,525.50 6,75

Jasa-Jasa 895,262.43 996,533.86 101,271.43 11,31

Total 16,540,146.82 18,961,117.44 2,420,970.62 14,64

Sumber: BPS Provinsi Banten, 2000-2002

Tingkat pertumbuhan terbesar kedua ditempati sektor bangunan yakni

sebesar 22 persen. Pada tahun 2000, meskipun kontribusi sektor bangunan

tergolong kecil yakni sebesar Rp 397.802,46 meningkat menjadi Rp 485.315,94

pada tahun 2002, namun laju pertumbuhan sektor ini tergolong cepat. Besarnya

peran sektor bangunan terhadap PDRB karena Provinsi Banten merupakan

Provinsi baru sehingga perlu adanya sarana penunjang bagi kegiatan ekonomi

yang lain. Urutan ke tiga diduduki oleh sektor listrik, gas dan air bersih, yakni

15,23 persen. Urutan selanjutnya yakni sektor perdagangan, hotel dan restoran

sebesar 15,13 persen, sektor pertambangan sebesar 14,38 persen, sektor industri

pengolahan sebesar 12,86 persen. Meskipun sektor industri pengolahan laju

PDRB, yaitu sebesar Rp 8.337.141,67 pada tahun 2000 meningkat menjadi

Rp 9.409.060,68 pada tahun 2002. Sektor pertanian sebesar 12,81 persen dan

sektor jasa sebesar 11,31 persen. Sektor yang memliki tingkat pertumbuhan

terendah adalah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, yaitu sebesar

6,75 persen. Rendahnya tingkat pertumbuhan sektor keuangan, persewaan dan

jasa perusahaan disebabkan masih rendahnya kinerja lembaga keuangan di

Provinsi Banten yang masih tergolong tradisional. Secara total, rata-rata

peningkatan laju pertumbuhan Provinsi Banten sebesar 14,64 persen.

Beda halnya dengan laju pertumbuhan di Provinsi Jawa Barat setelah

adanya pemekaran wilayah, hal ini memberi dampak terhadap pertumbuhan

perekonomiannya. Secara total, rata-rata peningkatan laju pertumbuhan Provinsi

Jawa Barat sebesar 9,04 persen lebih rendah di bandingkan dengan laju

pertumbuhan Provinsi Banten selama dua tahun berturut-turut semenjak adanya

pemekaran wilayah. Berdasarkan sektor (Tabel 18), yang memiliki tingkat

pertumbuhan terbesar adalah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

sebesar 27,43 persen, pada Provinsi Banten justru sektor keuangan, persewaan dan

jasa perusahaan tingkat pertumbuhannya sangat kecil.

Tingkat pertumbuhan terbesar kedua ditempati sektor pengangkutan dan

komunikasi sebesar 19,34 persen, sektor ini pada Provinsi Banten justru memiliki

laju pertumbuhan yang terbesar. Urutan ketiga yaitu sektor listrik, gas dan air

bersih sebesar 15,16 persen, hampir sama dengan Provinsi banten meskipun

kontribusi yang diberikan sangat jauh berbeda. Urutan ke empat adalah sektor

Tabel 18. PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Konstan Pada Masa Otonomi Daerah Tahun 2000 – 2002

PDRB Provinsi Jawa Barat Lapangan Usaha 2000 2002 PerubahanPDRB Provinsi Jawa Barat (2000-2002) Persen Pertanian 7.842.830,94 8.047.249,51 204.418,57 2,61 Pertambangan dan Penggalian 3.487.447,40 3.126.111,01 -361.336,39 -10,36 Industri Pengolahan 21.833.139,25 23.631.807,21 1.798.667,96 8,24 Listrik, Gas dan Air

Bersih 1.800.087,97 2.072.935,99 272.848,02 15,16 Bangunan/Konstruksi 1.904.918,44 2.032.147,56 127.229,12 6,68 Perdagangan, Hotel dan Restoran 9.139.872,32 10.415.294,86 1.275.422,54 13,95 Pengangkutan dan Komunikasi 2.708.611,99 3.232.450,14 523.838,15 19,34 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 2.134.666,18 2.720.136,96 585.470,78 27,43 Jasa-Jasa 4.717.177,60 5.316.102,11 598.924,51 12,70

Total 55.568.752,09 60.594.235,35 5.025.483.26 9,04

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, 2000-2002.

Urutan selanjutnya adalah sektor jasa sebesar 12,70 persen, sektor industri

pengolahan sebesar 8,24 persen. Meskipun sektor industri pengolahan tingkat

pertumbuhannya hanya pada urutan ke enam namun sektor ini memberikan

kontribusi terbesar pada PDRB Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 21.833.139,25

pada tahun 2000 kemudian meningkat menjadi Rp 23.631.807,21 pada tahun

2002. Sektor bangunan sebesar 6,68 persen dan sektor pertanian sebesar 2,61

persen. Sektor yang pertumbuhannya paling terendah dan tingkat pertumbuhannya

negatif adalah sektor pertambangan sebesar -10,36 persen. Salah satu penyebab

menurunnya pertumbuhan sektor pertambangan ini karena beberapa daerah

(seperti Lebak dan Serang yang memproduksi bahan galian golongan C, seperti

andesit, batu kapur, bentonit, dsb) bukan merupakan bagian dari wilayah Jawa

5.3.2 Rasio PDRB Provinsi Banten dan PDRB Provinsi Jawa Barat (Nilai Ra, Ri dan ri) Tahun 2000-2002

Nilai Ra pada masa otonomi daerah adalah sebesar 0,09, nilai tersebut

sama untuk semua sektor diseluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa

Barat. Nilai Ra yang bernilai positif (Ra>0) mengindikasikan bahwa

perekonomian Provinsi Jawa Barat mengalami pertumbuhan yang positif.

Tabel 19. Nilai Ra, Ri dan ri Pada Masa Otonomi Daerah Tahun 2000-2002

No Sektor Ra Ri ri

1 Pertanian 0,09 0,03 0,13

2 Pertambangan 0,09 -0,10 0,14

3 Industri Pengolahan 0,09 0,08 0,13

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,09 0,152 0,155

5 Bangunan 0,09 0,07 0,22

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,09 0,14 0,15

7 Pengangkutan dan Komunikasi 0,09 0,19 0,29

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 0,09 0,27 0,07

9 Jasa-jasa 0,09 0,13 0,11

Sumber: BPS Provinsi Banten, 2000-2002.

Nilai Ri didasarkan pada selisih antara PDRB sektor i Provinsi Jawa Barat

pada tahun 2002 dengan PDRB sektor i Provinsi Jawa Barat tahun 2000 dibagi

PDRB sektor i Provinsi Jawa Barat tahun 2000. Pada kurun waktu 2000-2002,

sebagian sektor perekonomian di Provinsi Jawa Barat memberikan kontribusi

yang positif terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat. Hanya sektor pertambangan

yang memberikan sumbangan negatif. Hal ini ditandai dengan nilai Ri kurang dari

nol (Ri<0), yaitu sebesar -0,10, sedangkan sektor yang memiliki nilai Ri terbesar

sektor kuangan, persewaan dan jasa perusahaan memberikan kontribusi terbesar

terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat.

Nilai ri diperoleh dari selisih antara PDRB sektor i Provinsi Banten pada

tahun 2002 dengan PDRB sektor i Provinsi Banten pada tahun 2000 dibagi PDRB

sektor i Provinsi Banten pada tahun 2000. Semua sektor-sektor perekonomian

yang ada di Provinsi Banten memiliki nilai ri lebih dari nol (ri>0). Hal ini berarti

Dokumen terkait