• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini menerangkan tentang sejarah singkat, visi misi, serta tujuan, struktur organisasi dan program kegiatan Forum Remaja Muslim Pasirbuah (FORMUSPA)

BAB IV : ANALISIS STRATEGI DAKWAH FORUM REMAJA MUSLIM PASIRBUAH (FORMUSPA)

Dalam bab ini penulis menganalisa tentang strategi dakwah forum remaja muslim pasirbuah (FORMUSPA) dan faktor pendukung kegiatan dakwah forum remaja muslim pasirbuah (FORMUSPA)

BAB V : PENUTUP

Menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran yang menjadi penutup dari pembahasan skripsi ini

14

A. Strategi

1. Ditinjau dari etimologis

Jika ditinjau dari prespektif etimologis, kata strategi adalah turunan dari kata dalam bahasa Yunani yaitu, strategos. Adapun kata strategos dapat diterjemahkan sebagai komandan militer pada zaman Athena. Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan (menghimpun) seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan.1 Sebelum ia melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kualitas maupun kuantitas. Misalnya: kemampuan setiap personal, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya, dan lain sebagaianya. Selanjutnya ia juga mengumpulkan informasi kekuatan musuh tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya maupun keadaan persenjataanya. Setelah semua diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan apa yang harus dilakukan, taktik dan teknik peperangan, serta waktu yang tepat untuk melakukan suatu serangan, dan lain sebagaianya.2

1

Setiawan Hari Purnomo dan Zulkieflimansyah, Manajemen Strategi Sebuah Konsep Pengantar, ( Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, 1999 ), h. 26

2

Zainuddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21, terjemahan A,E Priyono danI lyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1996),h. ii

15

2. Ditinjau dari terminologis

Sedangkan jika ditinjau dari segi terminologis atau secara istilah strategi adalah cara-cara dimana suatu organisasi atau kegiatan akan berjalan kearah tujuan yang sudah direncanakan terlebih dahulu, sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa pakar mengenai istilah strategi. Maka dari itu penulis mengambil beberapa pengertian strategi diantaranya:

a. Onong Uchayana di dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, bahwa strategi adalah merupakan suatu perencanaan (Planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan strategi yang bukan hanya berfungsi sebagai petunjuk arah saja melainkan harus mampu menunjukan bagaimana taktik operasionalnya.3

b. Menurut James AF. Stoner, et, al yang mengutip strategi ini dari seorang sejarahwan Alfred D. Chander, berpendapat bahwasanya strategi adalah penentuan dan tujuan sasaran pokok jangka panjang dari suatu usaha dan pengambilan serangkaian tindakan dan pengabdian sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan.4 c. A.M Kadarman mengatakan, strategi adalah penentu tujuan utama

ang berjangka panjang dan sasaran dari suatu perusahaan atau organisasi serta pemilihan cara-cara bertindak dan pengalokasian

3

Onong Uchayana, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1992), h.23

4

James AF. Stoner dan Edward Freeman, Manajemen, terjemah Wilhelmus W. Bakohatundan Benyamin Mohan, (Jakarta: Intermedia, 1994), h. 306

16

sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk untuk mwujudkan suatu tujuan. Jadi, strategi menyangkut segala pengaturan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan agar tidak kalah dalam bersaing.5

d. Menurut Din Syamsudin didalam buku Etika Agama Membangun Masyarakat Madani, strategi mengandung arti diantaranya adalah: 1) Rencana dan cara yang seksama untuk mencapai tujuan.

2) Seni dalam mensiasati pelaksanaan rencana atau program untuk mencapai tujuan.

3) Sebuah penyesuaian terhadap lingkungan untuk menampilkan fungsi dan peran penting dalam mencapai keberhasilan.

e. Lalu menurut Asmuni Syukir, bahwa strategi dalam ilmu dakwah berarti sebagai metode, siasat, dan taktik yang digunakan dalam proses kegiatan dakwah.6

3. Faktor-faktor strategi

Dengan demikian dalam menyusun sebuah strategi, kita perlu memperhitungkan berbagai faktor, baik internal maupun eksternal dan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Strength (Kekuatan), yakni memperhitungkan kekuatan yang dimiliki yang biasanya menyangkut manusianya, dana dan beberapa piranti yang dimilikiya.

5

A.M Kadarman, et al, Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: PT. Prenhalindo), h. 58

6

Asmuni Syukir, Dasar – dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1995), h. 32

17

b. Weakness (Kelemahan), yakni memperhitungkan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, yang menyangkut aspek-aspek sebagaimana dimiliki oleh strength (kekuatan)

c. Opportunity (Peluang), yakni dengan cara memanfaatkan peluang yang ada.

d. Thearth (Ancaman), yakni dengan memperhitungkan ancaman yang mungkin terjadi kapanpun.7 Teori ini dinamakan dengan analisis SWOT

Syarif Usman didalam bukunya strategi pembangunan Indonesia dan Pembangunan Dalam Islam menyatakan ada lima faktor yang perlu di ketahui dalam menyusun stategi, yaitu:

a. Tujuan jangka panjang (Tujuan Akhir) atau jangka pendek (Tujuan Sementara).

b. Ilmu Medan (mengetahui situasi dan kondisi). c. Kekuatan – kekuatan.

d. Kebijaksanaan pemimpin e. Pemimpin.8

4. Tahapan-tahapan strategi

Selain itu kita juga harus memperhatikan tahapan-tahapan strategi yang merupakan bagian yang ada kaitannya dengan strategi, oleh karena itu tahapan ini tidak dapat dipisahkan dari strategi itu sendiri. Fred

7Rafi‟udin dan Maman Abdul Djaelani, Prinsip dan Strategi Dakwah, (CV. Pustaka Setia: Bandung, 2004), h. 76

8

Syarif Usman, Pembngunan Indonesia dan Pembangunan Dalam Islam, (Jakarta: Firma Jakarta, 1998), Cet. Ke-1 h. 6

18

R. David mengatakan bahwa dalam strategi ada tahapan-tahapan yang harus ditempuh yaitu:

a. Perumusan strategi

Hal-hal yang termasuk dalam perumusan strategi adalah pengembangan Praktek tujuan, mengenai peluang dan ancaman eksternal, penentapan kekuatan dan kelemahan secara internal, melahirkan strategi alternatif, serta memilih strategi untuk dilaksanakan. Pada tahap ini adalah proses merancang, dan menyeleksi berbagai strategi yang akhirnya menuntun pada pencapaian misi dan tujuan organisasi.

b. Implementasi strategi

Implementasi strategi juga disebut sebagai tindakan dalam strategi, karena implementasi berarrti mobilisasi untuk mengubah strategi yang di rumuskan menjadi suatu tindakan. Kegiatan yang termasuk dalam implementasi strategi adalah pengembangan budaya dalam mendukung strategi, menciptakan struktur yang efektif, mengubah arah, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memanfaatkan system informasi yang masuk. Agar tercapai kesuksesan dalam implementasi strategi, maka di butuhkan adanya disiplin, motivasi kerja.

c. Evaluasi strategi

Evaluasi strategi adalah dimana manajer membandingkan hasil-hasil yang diperoleh dengan tingkat pencapaian tujuan. Tahap akhir

19

dalam strategi adalah mengevaluasi strategi yang telah dirumuskan sebelumnya.9

B. Dakwah

1. Pengertian dakwah

Ditinjau dari segi bahasa “Dakwah” berarti: panggilan, seruan atau ajakan. Bentuk perkataan tersebut dalam bahasa Arab, adalah bentuk mashdar. Sedangkan bentuk kata kerja (fi’il) nya adalah berarti: memanggil, menyeru, atau mengajak(Da’a, Yad’u, Da’watan).10 Orang yang berdakwah biasa disebut dengan Da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang di dakwahi disebut dengan Mad’u.11

Sedangkan menurut istilah, mengandung beberapa arti, dikarenakan kebanyakan para ahli ilmu dakwah memberikan definisi atau istilah dakwah sesuai dengan sudut pandang mereka dalam memahaminya, sehingga definisi menurut ahli ilmu dakwah yang satu dengan yang lainnya berbeda dan terkadang pula terdapat kesamaan. Berikut ini beberapa definisi yang dinyatakan oleh beberapa para ahli diantaranya sebagai berikut:

Menurut Muhammad Natsir dakwah adalah usaha untuk menyerukan kepada perorangan dan seluruh ummat tentang tujuan dan pandangan hidup manusia di dunia meliputi amar ma’ruf nahyi munkar.12

Sedangkan menurut Sayyid Qutub yang dikutip oleh A. Ilyas Ismail dakwah adalah merupakan suatu kewajiban bagi seluruh umat Islam,

9

Fred David, Manajemen Strategi Konsep, (Jakarta: Prenhalindo, 2002),h. 5

10

Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Can Hoeve, 1999), h. 280

11

Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, Cet 1, (UIN Jakarta Press), h. 33

12

Muhammad Natsir, Fiqh Al dakwah dalam Majalah Islam Kiblat, (Jakarta: T.p, 1971), h. 7

20

dakwah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kaum muslim baik individu maupun kelompok.13

Menurut Nasrudin Latief, Dakwah adalah usaha atau aktifitas dengan lisan atau tulisan dan lainnya yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia untuk beriman dan mentaati Allah SWT, sesuai dengan garis – garis aqidah syari‟at serta akhlak islamiyyah.14

Dari beberapa pengertian dan definisi yang dinyatakan oleh para ahli, maka penulis dapat menyimpulkan, dakwah adalah upaya atau cara yang dilakukan oleh seorang da‟i dalam menyampaikan pesan – pesan atau nilai ajaran islam yang bersumber dari Al – Quran dan Hadist, hal ini dilakukan dengan mengajak, menyeru, membimbing manusia agar kembali kepada ajaran yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi apa yang dilarang Nya, baik itu secara lisan, tulisan atau perbuatan.

2. Unsur – unsur dakwah

Unsur-unsur dakwah adalah komponen yang terdapat dalam setiap kegiatan dakwah. Adapun unsur-unsur tersebut adalah da’i (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqoh (metode dakwah), dan atsar ( efek dakwah).15

13

A. Ilyas Ismail, Pradigma Dakwah Sayyid Qutub Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah, ( Jakarta: Penerbit Madani, 2006 ), h. 20

15

Muhammad Munir & Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, ( Jakarta : Kencana, 2009), Cet ke-2, h. 21

21 a. Da’i (pelaku dakwah)

Da‟i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok ataupun melalui organisasi atau lembaga.

Da‟i seringkali disamakan dengan muballigh (orang yang menyampaikan ajaran islam). Namun sebenarnya sebutan tersebut memiliki konotasi sempit yaitu hanya membatasi da‟i sebagai orang yang menyampaikan ajaran Islam secara lisan saja. Padahal kewajiban dakwah adalah milik siapa saja yang mengaku sebagai ummat Rosulullah saw.

Da‟i juga harus mengetahui cara menyampaikan dakwah tentang zat Allah, alam semesta, dan kehidupan, serta apa yang dihadirkan dalam dakwah untuk memberikan solusi terhadap problema yang dihadapi manusia, serta metode yang dihadirkan menjadikan manusia secara perilaku dan pemikiran tidak melenceng.16

b. Mad’u ( Penerima Dakwah)

Adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan.

16

22

Dakwah kepada manusia yang belum beragama Islam adalah dengan maksud untuk mengajak mereka kepada tauhid dan beriman kepada Allah, sedangkan dakwah kepada manusia yang telah mendapat cahaya hidayah islam adalah untuk meningkatkan kualitas iman, islam dan ihsan.

Muhammad Abduh membagi mad’u menjadi tiga golongan yaitu:

1) Golongan cerdik cendekia yang cinta kepada kebenaran, dapat berfikir secara kritis, dan cepat dapat menangkap persoalan.

2) Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam, serta belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang tinggi.

3) Golongan yang berbeda dengan keduanya, mereka senang membahas sesuatu tetapi hanya dalam batas tertentu saja, dan tidak mampu membahasnya secara mendalam.17

c. Maddah (Materi dakwah)

Maddah dakwah adalah pesan-pesan dakwah dalam Islam atau segala sesuatu yang harus disampaikan subjek kepada objek dakwah, yaitu keseluruhan ajaran Islam yang ada didalam Kitabullah dan Sunnah Rosulullah. Secara umum materi dakwah bisa diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok:

1) Akidah

Masalah pokok yang menjadi materi dakwah adalah aqidah islamiyah. Masalah akidah dan keimanan menjadi materi utama

17

23

dalam dakwah. Karena aspek iman dan aqidah merupakan komponen utama yang akan membentuk moralitas atau akhlak ummat. Iman merupakan esensi dalam ajaran Islam. Iman juga erat kaitannya antara akal dan wahyu. Bahkan didalam al quran iman disebutkan dengan berbagai variasinya sebanyak 244 kali.18

2) Syariah

Hukum atau syariah sering disebut sebagai cermin peradaban dalam pengertian bahwa ketika ia tumbuh matang dan sempurna, maka peradaban mencerminkan diri dalam hukum-hukumnya. Pelaksanaan syariah merupakan sumber yang melahirkan peradaban islam, yang melestarikan dan melindunginya dalam sejarah. Syariah inilah yang akan selalu menjadi kekuatan peradaban dikalangan kaum muslim.19

3) Muamalah

Islam merupakan agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar porsinya daripada urusan ibadah. Ibadah muamalh disini dipahami sebagai ibadah yang mencakup hubungan dengan sesama makhluk dalam rangka mengabdi kepada Allah swt. Karena islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada kehidupan ritual.20

18

Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana 2009), jilid ke-1, cet ke-2, h. 24

19

Ibid., h. 25

20

24 4) Akhlak

Secara etimologis kata akhlaq berasal dari bahasa Arab, jamak dari Khuluqunyang berarti budi pekerti, perangai dan tingkah laku. Menurut Al Farabi, ilmu akhlak adalah pembahasan tentang keutamaan-keutamaan yang dapat menyampaikan manusia kepada tujuan hidup yang tertinggi, yaitu kebahagiaan. Oleh karena itu berdasarkan pengertian diatas, maka akhlak dalam islam pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang merupakan ekspresi kondisi jiwanya.21

d. Wasilah (Media) Dakwah

Wasilah atau media dakwah adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran islam) kepada penerima dakwah. Dalam proses melakukan dakwah ada beberapa komponen yang tidak bisa dipisahkan salah satuya adalah penggunaan media sebagai alat untuk melakukan aktivits dakwah.

Media merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang dai saat berdakwah. Media dakwah sebgai jalan untuk memudahkan seorang da‟i melakukan dakwahnya sehingga apa yang di sampaikan nya dengan cepat dapat di terima oleh khalayak atau para jamaah dan pesan dakwah yang disampaikannya itu dapat tersebar dengan luas.

21

25

Keberadaan media dakwah sangatlah penting untuk diupayakan dan diperhatikan oleh seorang da‟i apalagi jika kita melihat kemajuan teknologi yang semakin pesat dan berkembang. Jika seorang da‟i tidak bisa memanfaatkan media yang ada maka sulit dakwahnya itu diterima. Beberapa hal yang dapat digunakan sebagai media dakwah diantaranya: media lisan, media tulisan, lukisan, audio visual dan media – media yang lainnya yang bisa di manfaatkan untuk berdakwah.22

e. Metode Dakwah

Metode berasal dari bahasa Latin yaitu methodus yang berarti cara. Dalam bahasa Yunani methodhus berarti cara atau jalan. Secara terminologis, metode adalah cara yang sistematis dan teratur untuk pelaksanaan suatu atau cara kerja.

Dakwah adalah cara yang digunakan subjek dakwah untuk menyampaikan materi dakwah atau bias diartikan metode dakwah adalah cara-cara yang digunakan seorang da‟i untuk menyampaikan materi dakwah yaitu Islam atau serentetan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.23banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang dai dalam melakukan dakwah agar apa yng menjadi tujuan dakwah bisa di terima oleh para khalayak banyak atau mad‟u

22

M. Bachri Ghazali, Dakwah Komunikasi, (Surabaya: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), Cet. Ke-1, h. 12

23

26

Dalam Al-Quran Allah menerangkan tentang metode dalam menyampaikan dakwah seperti dalam surah An-Nahl: 125













































Artinya:”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan

pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang

yang mendapat petunjuk”Qs. An-Nahl: 125

Dalam ayat tersebut terdapat tiga metode dakwah yang harus kita laksanakan yaitu berdakwah dengan hikmah, berdakwah mauidzoh hasanah/ pelajaran yang baik dan berdakwah melalui bantahan yang baik.

C. Strategi dakwah

Setelah membahas tentang pengertian strategi dan dakwah, maka langkah selanjutnya yang perlu dibahas adalah strategi dakwah.

1. Pengertian strategi dakwah

Strategi dakwah sangat erat kaitannya dengan manajemen, karena orientasi keduanya sama-sama mengarah pada sebuah keberhasilan planning atau sebuah rencana yang sudah ditetapkan oleh individu maupun organisasi.

27

Menurut Asmuni syukir bahwa strategi dakwah merupakan metode, siasat, taktik, yang harus di gunakan dalam aktiftas dakwah.24 Sedangkan Menurut Abu Zahra, strategi dakwah islam adalah perencanaan, penyerahan dan operasi dakwah islam yang dibuat secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan islam yang meliputi seluruh dimensi kemanusiaan.25

Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa strategi dakwah adalah metode atau taktik yang digunakan dalam melakukan aktifitas dakwah dengan perencanaan yang disusun sehingga apa yang menjadi tujuan dakwah itu dapat terlaksana.

2. Asas – asas strategi dakwah

Dalam strategi dakwah ada beberapa asas yang harus dipehatikan agar dakwahnya berjala efektif dan tepat sasaran.

Adapun asas – asas nya sebagai berikut:

a. Asas Fisiologis, yaitu azas ini erat hubungannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam aktifits dakwah

b. Asas Sosiologis, yaitu azas ini berbicara tentang masalah yang berkaitan dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah.

c. Asas kemampuan dan keahlian dai.

d. Asas Pisikologi, yaitu asas ini membahas tentang masalah yang berhubungan dengan jiwa manusia.

e. Asas efektivitas dan efisiensi, yaitu asas ini maksudnya adalah dalam melakukan aktivitas dakwahnya harus dapat menyeimbangkan antara

24

Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, h. 28

25

Acep Aripudin & Syukriadi Syambas, Dakwah Damai Pengantar Dakwah Budaya, ( Bandung: PT Remaja Rosada karya, 2007 ), Cet. Ke-1, h. 138

28

waktu ataupun tenaga yang di keluarkan dengan pencapaian hasilnya.26

D. Narkoba

1. Sejarah dan pengertian narkoba

Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.

Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Penggunaan obat-obat-obatan jenis opium sudah lama dikenal di Indonesia, jauh sebelum pecahnya Perang Dunia ke-2 pada zaman penjajahan Belanda. Pada umumnya para pemakai candu (opium) tersebut adalah orang-orang Cina.27

Pemerintah Belanda memberikan izin pada tempat-tempat tertentu untuk menghisap candu dan pengadaan (supply) secara legal dibenarkan

berdasarkan undang-undang. Orang-orang Cina pada waktu itu

menggunakan candu dengan cara tradisional, yaitu dengan jalan

26

Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al – Ikhlas, 1983), h.32

27

29

menghisapnya melalui pipa panjang. Hal ini berlaku sampai tibanya Pemerintah Jepang di Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang menghapuskan Undang-Undang itu dan melarang pemakaian candu (Brisbane Ordinance).

Ganja (Cannabis Sativa) banyak tumbuh di Aceh dan daerah Sumatera lainnya, dan telah sejak lama digunakan oleh penduduk sebagai

bahan ramuan makanan sehari-hari. Tanaman Erythroxylon Coca (Cocaine)

banyak tumbuh di Jawa Timur dan pada waktu itu hanya diperuntukkan bagi ekspor. Untuk menghindari pemakaian dan akibat-akibat yang tidak

diinginkan, Pemerintah Belanda membuat Undang-undang (Verdovende

Middelen Ordonantie) yang mulai diberlakukan pada tahun 1927. Meskipun

demikian obat-obatan sintetisnya dan juga beberapa obat lain yang mempunyai efek serupa (menimbulkan kecanduan) tidak dimasukkan dalam perundang-undangan tersebut.28

Setelah kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia membuat perundang-undangan yang menyangkut produksi, penggunaan dan distribusi

dari obat-obat berbahaya (Dangerous Drugs Ordinance) dimana wewenang

diberikan kepada Menteri Kesehatan untuk pengaturannya. Baru pada waktu tahun 1970, masalah obat-obatan berbahaya jenis narkotika menjadi masalah besar dan nasional sifatnya. Pada waktu perang Vietnam sedang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, maka hampir di semua negeri, terutama di Amerika Serikat penyalahgunaan obat (narkotika) sangat

28

30

meningkat dan sebagian besar korbannya adalah anak-anak muda. Nampaknya gejala itu berpengaruh pula di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kemajuan teknologi dan perubahan-perubahan sosial yang cepat, menyebabkan Undang-Undang narkotika warisan Belanda (tahun 1927) sudah tidak memadai lagi. Maka pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-Undang No.9 tahun 1976, tentang Narkotika. Undang-Undang tersebut antara lain mengatur berbagai hal khususnya tentang peredaran gelap (illicit traffic). Disamping itu juga diatur tentang terapi dan rehabilitasi korban narkotik (pasal 32), dengan menyebutkan secara khusus peran dari dokter dan rumah sakit terdekat sesuai petunjuk menteri kesehatan.29

Dengan semakin merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia, maka UU Anti Narkotika mulai direvisi. Sehingga disusunlah UU Anti Narkotika nomor 22/1997, menyusul dibuatnya UU Psikotropika nomor 5/1997. Dalam Undang-Undang tersebut mulai diatur pasal-pasal ketentuan pidana terhadap pelaku kejahatan narkotika, dengan pemberian sanksi terberat berupa hukuman mati.30

Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif / psikotropika dapat menyebabkan efek dan dampak negatif bagi pemakainya. Dampak yang

29

Siswanto Sunarso, Politik Hukum Dalam Undang – Undang Narkotika, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012 ), h. 56

30

31

negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk efeknya bagi kesehatan mental dan fisik.31

Meskipun demikian terkadang beberapa jenis obat masih dipakai dalam dunia kedokteran, namun hanya diberikan bagi pasien-pasien tertentu, bukan untuk dikonsumsi secara umum dan bebas oleh masyarakat. Oleh karena itu obat dan narkotik yang disalahgunakan dapat menimbulkan berbagai akibat yang beraneka ragam.

Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.32

Psikotropika yaitu zat atau obat, baik alami maupun sintesis bukan narkotik yang berkhasia psikoaktif melalui pengaryh selektif pada susunan saraf dan menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.33

2. Faktor-faktor penyalahgunaan narkoba

Permasalahan Narkoba di Indonesia masih merupakan sesuatu yang bersifat urgen dan kompleks. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir permasalahan ini menjadi marak. Terbukti dengan bertambahnya jumlah

31

Ilham Akbar, Narkoba Dan Penyebabnya, (Semarang:PT. Karunia, 2011), h. 34

32

Diakses di www.bnn.go.id pada tanggal 20 Januari 2015

33

Zulkarnaen Nasution, Kompilasi Peraturan Perundang – undangan Tentang Narkoba ( Jakarta: kencana, 2006 ), h. 890

32

penyalahgunan atau pecandu narkoba secara signifikan, seiring

meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan narkoba yang semakin beragam polanya dan semakin massif pula jaringan sindikatnya. Hal ini tentunya ada faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga penyalahgunaan narkoba ini terjadi. Di antara faktor-faktor itu adalah:

a. Indikasi pengguna

a. Pengendalian diri yang lemah

b. Kondisi kehidupan keluarga

Dokumen terkait