BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
D. Program Deradikalisasi dalam Lapas
Dari hasil yang penulis temukan program Deradikalisasi BNPT terdapat empat program, ialah sebagai berikut :
1. Identifikasi
Tahapan identifikasi yang diberikan mengacu pada Peraturan Mentri Hukum dan Ham nomor 35 tahun 2018 tentang revitalisasi lembaga pemasyarakatan, yaitu proses pengisian profiling dan juga litmas. Tidak hanya dilakukan pada saat pertama kali narapidana teroris tersebut masuk ke Lapas, tetapi dilakukan secara berkala seiring dengan tahapan pembinaan yang telah dan akan dilakukan.
Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Bapak Fauzi selaku Kasi Identifikasi BNPT :
“ identifikasi untuk apa aja sih? Gunanya ialah untuk melihat gambaran narapidana tersebut, jadi dari petugas dapat melihat mengenai kebutuhannya, mengenai keterpaparannya. Dalam proses identifikasi ini juga bisa dilihat dalam tipologi penggolongannya, apakah iya sebagai seorang terorisme simpatisan atau bukan, Karena kebutuhan identifikasi adalah langkah awal dalam pelaksanaan program deradikalisasi, artinya identifikasi ini sebagai bestline pelaksanaan suatu program pembinaan, jadi sebelum dilaksanakannya program Rehabilitasi, Reedukasi, dan Reintegrasi sosial.
Narapidana harus melewati proses Identifikasi terlebih dahulu”103
103 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Fauzi selaku Kasi Identifikasi BNPT di Lapas Cipinang yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 11.00
Pendapat Bapak Fauzi diperkuat oleh Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi BNPT :
“ identifikasi awal sangatlah penting karena dari tahapan tersebut, kita bisa menilai orang tersebut sudah radikal atau tidak. Kita lihat kembali kecenderungannya seperti apa ? keras atau rendahkah. Karena jika memiliki kecenderungan yang keras, atau mempertahankan keyakinannya yang tidak umum nantinya pendekatan yang diberikan akan berbeda. Tidak bisa kita berikan pembinaan secara biasa, apalagi jika sampai napiter tersebut enggan untuk di ajak berdialog, sudah pasti napiter tersebut tidak mau menerima proses pembinaan dan materi.”104
“ pada praktek lapangannya kita bisa membuktikan kepada mereka bahwa Islam atau Agama, bukan ajaran yang mengajarkan kekerasan, mereka harus bisa menerimanya. Tetapi disinilah kita mengalami perang argumen dan perang kenyataan, agar komunikasi yang dibangun tidak dalam dasar berkonflik argumen, maka kita juga memberikan contoh-contoh untuk memperkuat argumen yang kita berikan, ketika kita berkomunikasi dengan mereka. Tidak bisa langsung napiter menerima apa yang kita sampaikan, tetapi harus dilakukan pendekatan personal terlebih dahulu seperti perkenalan.”105
Pendapat Bapak Letkol Hendro diperkuat oleh Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorisme Lapas Klas I Cipinang :
“proses identifikasi lebih lanjut dilakukan dialog dari hati ke hati dengan mengkonstruksi mental dan hukum sebab akibat para narapidana terorisme ikut terjaring, karena sebagai strategi untuk mengubah doktrin yang sudah
104 Hasil wawancara langsung dengan Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi di Kantor Pusat BNPT yang dilakukan pada tanggal 13 September 2019 pukul 10.00
105 Op,cit
tertanam dalam pola pikir masing-masing narapidana terorisme secara normative dan global. Serta menjunjung tinggi tujuan lembaga pemasyarakatan, yaitu memasyarakatkan kembali masyarakat agar kembali ke masyarakat.”106
Dari kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa, Identifikasi dilakukan untuk mengkonstruksi mental dan sebab akibat permasalahan yang narapidana terorisme dapatkan, mengetahui pandangan idealisme narapidana teroris terhadap jihad, mengetahui tingkat radikalisme narapidana teroris, menentukan penempatan yang sesuai di dalam lapas, sehingga diharapkan dapat mencegah gangguan keamanan, Dan untuk melihat pemetaan jaringan (kelompok), berdasarkan jaringan dan aliran narapidana teroris.
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi yang dilakukan BNPT merupakan tahapan yang diberikan dengan melihat kebutuhan, serta keterpaparan pemahaman ideologi terorisme. Selain itu atas pertimbangan assessment asimilasi dari 1/3 masa pidana narapidana tersebut, apakah memiliki track record perubahan kearah lebih baik atau dengan perilaku yang sama saat penangkapan dan ditempatkan dalam Lapas.
“Ketika sudah mengetahui terkait kebutuhannya, selanjutnya peran dari tahap Rehabilitasu yakni, bagaimana mengembalikkan mereka dari yang terpapar
106 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang , Jakarta yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 09.30
paham Radikal Terorisme hingga ke titik nol. Artinya dari minus kita netralkan, bagaimana kita membawa napiter tersebut supaya terhindar dari paham-paham, khususnya paham-paham kekerasan yang mengatas namakan Agama. Dimana selama ini menjadi fenomena mereka melakukan tindak kekerasan atas dasar Agama. Misalnya dengan menyimpulkan beberapa ayat atau kata saja, pandangan-pandangan yang diselewengkan atau pandangan-pandangan yang terlalu tekstual dalam memahami ayat Al-Qur’an atau suatu Hadits.”107
“pemberian Rehabilitasi program Deradikalisasi diberikan tergantung kebutuhan dan tergantung kepada diri setiap narapidana terorismenya, terkadang perkembangan mereka di lapangan naik turun. Jika hari ini sudah mengadakan Interaksi komunikasi mereka menyadarinya, bahwa mungkin ia Radikal dan kemudian intensitasnya turun. Tetapi jika kembali terpengaruh dengan lingkungannya bukan tidak mungkin intensitas Radikalnya kembali naik. Kuncinya adalah, semakin intens atau sering kita melakukan pembinaan maka semakin cepat membuat tingkat Radikal narapidana terorisme turun.”108
“dalam upaya dukungan program Rehabilitasi di Lembaga pemasyarakatan, dari pihak BNPT turut mendatangkan penyuluh Agama dan Psikolog dengan tujuan membantu peran para pamong napiter. Pamong-paamong napiter juga cukup kreatif, karena banyak kegiatan yang para pamong lakukan kepada napiter selalu para pamong koordinasikan kepada pihak-pihak yang terkait seperti BNPT ataupun Densus. Artinya para pamong melaksanakan program ini tidak hanya secara
107 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Fauzi selaku Kasi Identifikasi BNPT di Lapas Cipinang yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 11.00
108 Hasil wawancara langsung dengan Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi di Kantor Pusat BNPT yang dilakukan pada tanggal 13 September 2019 pukul 10.00
bertahap tetapi terus menerus. Sehingga program tersebut terus berjalan, dengan kata lain tidak harus program ini berjalan saat BNPT hadir dan datang saja, akan tetapi ketika BNPT datang maka itu menjadi sebuah kegiatan untuk memperkuat.”109
3. Reedukasi
Tahapan Deradikalisasi selanjutnya adalah Reedukasi. Artinya, memberikan edukasi kembali berupa pencerahan dan pelurusan ideologi narapidana terorisme, dengan tujuan penguatan dan kesadaran dalam beragama serta ideologi negara. Tahapan yang diberikan berupa penyuluhan pemahaman wawasan keagamaan, penguatan wawasan kebangsaan dan kewirausahaan.
Dalam hal ini BNPT turut merangkul dan bersinergi dengan beberapa instansi pemerintah antara lain para ulama-ulama MUI, dosen-dosen atau guru besar UIN dan STAIN, penyuluh agama daerah, serta lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan, pembinaan serta pendekatan kepada para narapidana terorisme. Reedukasi diberikan dengan mempertimbangkan assessment lanjutan 2/3 masa pidana narapidana dan track record perubahan perilakunya.
“ salah satu factor penyebab Deradikalisasi tidak hanya pemahaman Agama yang keliru, ada juga faktor wawasan kebangsaan yang kurang. Jika wawasan kebangsaan kita sesuai, tidaklah mungkin kita akan berkonflik sesama masyarakat. Seperti halnya prinsip Bhineka Tunggal Ika,
109 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Fauzi selaku Kasi Identifikasi BNPT di Lapas Cipinang yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 11.00
yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan berbagai keyakinan Agama. Jika kita tidak memiliki rasa satu kesatuan, keinginan terus berkonflik akan terus ada.
Seperti halnya berbeda Agama, perbedaan suku. Karena terkadang kegiatan wawasan kebangsaan jika tidak rutin diberikan akan semakin membuat lunturnya pemahaman mereka (napiter).”110
“ penyuluhan wawasan kebangsaan sebenarnya terkait dengan mindset atau cara berfikir atau ideologi yang mereka dan keluarga narapidana bertentangan dengan ideologi pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu juga mengurangi tingkat Radikalisme pada diri napiter dengan tidak mengintimidasi atau melakukan paksaan apalagi sampai mencuci otak (brainwash) napiter, tetapi melalui cara reintegrasi pemikiran mereka. Dari pihak Lembaga Pemasyarakatan dan Petugas Pemasyarakatan bersama-sama mengupayakan para narapidana untuk kembali ke jalur yang bisa diterima oleh Negara dan warga masyarakat.”111
“ secara umum Agama mengajarkan kebaikan, tetapi didalam ajaran Agama terdapat kata-kata yang kadang-kadang jika tidak ditafsirkan secara benar atau adanya pemotongan, artinya seolah-olah menyuruh orang untuk berbuat kekerasan. Hal ini juga berlaku tidak hanya dalam Agama Islam saja tetapi dalam Agama lainpun sama halnya. Langkah yang kita ambil ialah mengajarkan pemahaman Islam secara benar dan tanpa kekerasan.
Seperti halnya orang-orang yang melakukan jihad, adalah jihad yang salah mereka membaca jihad hanya pada konteks jihadnya saja. Tidak menyeluruh, padahal definisi jihad sendiri banyak dan luas. Jihad yang luas
110 Hasil wawancara langsung dengan Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi di Kantor Pusat BNPT yang dilakukan pada tanggal 13 September 2019 pukul 10.00
111 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang , Jakarta yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 09.30
tidak hanya dalam satu konteks sempit saja. Jadi intinya kita memberikan kesadaran bahwa konteks jihad itu luas tidak sesempit yang mereka bayangkan.”112
“ materi kewirausahaan masuk ke dalam proses pembinaan kemandirian yang Lembaga pemasyarakatan berikan kepada para napiter, pembinaan kemandirian merupakan serangkaian proses dengan tujuan, membekali para narapidana khususnya terorisme beserta keluarga mereka dari mata pencaharian dan ekonominya.
Sedangkan dalam pelaksanaannya dilakukan dengan, pemberian keahlian seperti kewirausahaan atau keahlian lain untuk mengembangkan perekonomian kepada para napiter dan keluarga pasca mereka bebas dari masa penahanan terkait ideologi terorisme.”113
4. Reintegrasi Sosial atau Resosialisasi
Tahapan pembinaan program Deradikalisasi yang terakhir adalah Reintegrasi Sosial. Dalam assessment tahapan ini sudah masuk dalam hitungan 2/3 masa pidana sampai dengan bebas pidana seorang narapidana tersebut.
Hingga tiba saat seorang narapidana bebas dan kembali kepada masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya, reintegrasi diperlukan untuk penyatuan, pengutuhan, pemasyarakatan kembali napiter melalui diskusi, pembinaan, penyuluhan yang diberikan oleh BNPT dan beberapa instansi pemerintah yang bersinergi.
“ Untuk resosialisasi atau reintegrasi sosial intinya kita mempersiapkan lagi narapidana yang masih berada di
112 Hasil wawancara langsung dengan Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi di Kantor Pusat BNPT yang dilakukan pada tanggal 13 September 2019 pukul 10.00
113 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang , Jakarta yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 09.30
tahanan, agar siap menghadapi lingkungan di luar.
Prosesnya kan memang berbeda, apalagi orang yang dari dalam kondisinya kan sudah beda. Begitu mereka keluar dari lapas terkadang ada euphoria kebebasan.
Ada juga tantangannya karena belum tentu masyarakat mau menerima, apalagi mereka yang mantan narapidana teroris. Ada juga masyarakat yang menolak, beberapa mungkin pernah diberitakan di televisi. mereka secara terang-terangan menolak mereka kembali ke lingkungannya yang dulu, bahkan ketika mereka menjadi jenazah pun di tolak untuk di kebumikan di lingkungan tempat tinggalnya dulu. Maka dari itu perlu sekali kita memberikan pemahaman baik pada narapidana ataupun masyarakatnya. Kadang-kadang dalam satu kasus di salah satu lapas, kita mengundang keluarga, pejabat lingkungan setempat seperti lurah, ataupun muspika.
Untuk turut hadir ke dalam lapas, dan mengikuti pertemuan, dimana kita memberikan informasi bahwa sang napiter ini sudah bebas dari pengaruh radikalisasi.
Agar bisa diterima dan selanjutnya muspika setempat bisa menginformasikan kembali kepada masyarakat setempat bahwa sang mantan napiter tersebut sudah terbebas.”114
“ Reintegrasi sosial itu lebih mempersiapkan narapidana untuk kembali ke masyarakat, bekal-bekal apa yang harus disiapkan kembali ke masyarakat, dan bagaimana bisa membaurkan mereka agar dapat diterima di masyarakat. Kita persiapkan seacara psikologisnya bahwa saat mereka akan bebas, akan banyak kendala-kendala yang akan mereka hadapi. Ketika seorang napiter akan bebas, informasi mengenai narapidana tersebut kita sampaikan ke bagian Subdit Bina masyarakat yang menangani di bidang bina masyarakat dan pembinaan terhadap para mantan napiter. Sehingga, perlunya ada kegiatan identifikasi terhadap kebutuhan napiter di masyarakat nanti seperti apa dan
114 Hasil wawancara langsung dengan Letkol Hendro selaku Kasi Deradikalisasi di Kantor Pusat BNPT yang dilakukan pada tanggal 13 September 2019 pukul 10.00
program pembinaan apa saja yang tepat untuk mereka lakukan. Kemudian kita juga harus bersinergi dengan aparat setempat, seperti Densus, polres setempat, Dandim setempat dan kepala desa setempat. Sehingga kita, dapat mengetahui mana yang memang butuh pengawasan dan mana yang butuh untuk dibaurkan dengan masyarakat. Untuk napiter yang sudah kooperatif atau sudah berubah, kita juga akan membantu mereka untuk kembali kemasyarakat. Sehingga jangan sampai ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka mengalami kesulitan untuk pengurusan seperti pengajuan KTP, pembuatan SIM dan administrasi lainnya.”115
E. Kendala dalam pelaksanaan Program Deradikalisasi