BAB II : EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA
3.3 Program dan Kegiatan
BAB II
EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
TAHUN 2019
Untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan rencana pembangunan perlu dilakukan evaluasi Rencana Kerja SKPD dengan mengidentifikasi apakah pelaksanaan pembangunan sesuai dengan target kinerja yang telah ditetapkan sehingga dapat dikatahui efektivitas pelaksanaan proses perencanaan pembangunan dan kendala-kendala dalam pelaksanaan pembangunan. Hasil evaluasi tersebut sebagai bahan pertimbangan kebijakan di tahun berikutnya.
2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja OPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra OPD
Bappeda Kota Tangerang Selatan pada tahun 2019 telah melaksanakan 7 program dan 23 Kegiatan dengan rincian sebagai berikut :
1 Program Perencanaan Pembangunan Daerah Kegiatan – Kegiatan :
a. Koordinasi Penelitian dan Pengembangan inovasi Pembangunan Daerah
b. Koordinasi Penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lakip)
c. Koordinasi Perencanaan Dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dan Kependudukan
d. Koordinasi Perencanaan Dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemerintahan Umum
e. Koordinasi Perencanaan Dan Pengendalian Pembangunan Bidang Sumber Daya Masyarakat (SDM) Dan Kesejahteraan Masyarakat f. Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang
Pekerjaan Umum dan Perhubungan
g. Koordinasi Perencanaan Dan Pengendalian Pembangunan Bidang Ekonomi
h. Monitoring Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
i. Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Dan Prioritas Plapon Anggaran Sementara
j. Penyusunan Rkpd Kota Tangerang Selatan
k. Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup
l. Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Permukiman
m. Penyusunan Analisa Standar Belanja
n. Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi Dan Pelaporan Kinerja Program Dan Kegiatan
2. Program Pengembangan Data Dan Statistik Daerah Kegiatan – Kegiatan :
a. Pengumpulan, Kompilasi, Penyusunan, Dan Diseminasi Data Dan Statistik Daerah
b. Penyusunan dan pengembangan data dan Informasi 3. Program Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah
Kegiatan – Kegiatan :
a. Penyusunan Laporan Kinerja Keuangan Dan Neraca Aset
4. Program Pengembangan Sistem Manajemen Sumber Daya Aparatur Kegiatan – Kegiatan :
a. Pembinaan, Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Dan Aparatur 5. Program Penelitian Dan Pengembagan Daerah
Kegiatan – Kegiatan :
a. Penyelenggaraan Penelitian Dan Pengembangan Daerah b. Pengembangan Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah c. Fasilitasi Pengembangan Pembiayaan Pembangunan
6. Program Kerjasama Pembangunan Dan Kewilayahan Kegiatan – Kegiatan :
a. Koordinasi Perencanaan Pengembangan Kerjasama Pembangunan 7. Program Pelayanan Administrasi Dan Sarana Prasarana Perkantoran
Kegiatan – Kegiatan :
a. Penyediaan Dan Pemeliharaan Barang Dan Jasa Perkantoran
Terhadap masing-masing program tersebut akan dianalisis berdasarkan capaian sasaran sebagai berikut :
Sasaran 1 : Meningkatnya keselarasan perencanaan
pembangunan daerah yang berkualitas
Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi Capaian
Sasaran (%)
Tingkat keselarasan antar dokumen
perencanaan % 100 99,73 99,73%
Sasaran 2 : Terakomodirnya aspirasi masyarakat dalam
perencanaan pembangunan daerah
Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi Capaian
Sasaran (%)
Persentase Aspirasi Masyarakat melalui Musrenbang dan reses yang telah masuk dalam dokumen
perencanaan yang dilaksanakan oleh PD
% 75 91,15 121,53 %
Sasaran 3 : Meningkatnya kinerja pembangunan daerah
Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi Capaian
Sasaran (%)
Persentase capaian indikator RPJMD
sesuai target % 83 82,04 98,84 %
Sasaran 4 :
Meningkatnya penerapan hasil penelitian dan pengembangan dalam perencanaan
Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi Capaian Sasaran (%)
Persentase hasil penelitian dan pengembangan yang
dimanfaatkan dalam Perumusan Kebijakan
% 60 73,33 122,22%
Sasaran 5 : Meningkatnya kinerja pelayanan Bappeda
Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi Capaian
Sasaran (%)
Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) % 73 77,94 106,77%
2.1.1. Rencana Anggaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kota Tangerang Selatan
Pada Tahun Anggaran 2019, anggaran yang dialokasikan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk kegiatan Belanja Tidak
Langsung yang setelah terjadi perubahan anggaran menjadi sebesar Rp. 9.970.963.821,- sedangkan untuk kegiatan Belanja Langsung
adalah sebesar Rp. 20.450.000.000,-
Sehingga total Anggaran yang dialokasikan untuk melaksanakan kegiatan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan pada Tahun Anggaran 2019 adalah sebesar Rp. 30.420.963.821,- Secara terinci terlihat pada tabel berikut :
PROGRAM/KEGIATAN Pagu Anggaran
Belanja Tidak langsung 9.970.963.821
Belanja Langsung 20.450.000.000
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 8.559.420.000
Koordinasi Penelitian dan Pengembangan inovasi Pembangunan Daerah 222.860.000 Koordinasi Penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ)
dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
877.600.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kependudukan
309.882.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemerintahan Umum
118.800.000
Koordinasi perencanaan dan pengendalian Pembangunan Bidang Sumber Daya Masyarakat (SDM) dan Kesejahteraan Masyarakat
832.000.000
Koordinasi perencanaan dan pengendalian Pembangunan Bidang Ekonomi 862.500.000 Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah 616.600.000 Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plapon Anggaran
Sementara
1.144.500.000
Penyusunan RKPD Kota Tangerang Selatan 1.309.578.000 Penyusunan Analisa Standar Belanja 220.600.000 Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi dan Pelaporan Kinerja Program dan
kegiatan
359.500.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup
1.124.800.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pekerjaan Umum dan Perhubungan
285.000.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Permukiman
275.200.000
PENGEMBANGAN DATA DAN STATISTIK DAERAH 920.000.000 Penyusunan dan pengembangan data dan Informasi 100.000.000 Pengumpulan, Kompilasi, Penyusunan dan Diseminasi data dan
Statistik Daerah
820.000.000 PENGEMBANGAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH 296.155.500 Penyusunan Laporan Kinerja Keuangan Dan Neraca Aset 296.155.500 PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN SUMBER DAYA
APARATUR
634.166.000
PENELITIAN DAN PENGEMBAGAN DAERAH 1.226.226.000 Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Daerah 683.360.000 Pengembangan Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah 427.866.000 Fasilitasi Pengembangan Pembiayaan Pembangunan 115.000.000
KERJASAMA PEMBANGUNAN DAN KEWILAYAHAN 103.400.000
Koordinasi Perencanaan Pengembangan Kerjasama Pembangunan 103.400.000 PELAYANAN ADMINISTRASI DAN SARANA PRASARANA
PERKANTORAN
8.710.632.500
Penyediaan dan Pemeliharaan Barang dan Jasa Perkantoran 8.710.632.500
Total 30.420.963.821
2.1.2. Analisis Kinerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Realisasi penyerapan anggaran belanja tidak langsung adalah sebesar Rp. 9.515.474.412,- atau sebesar 95,43 %. Sedangkan penyerapan anggaran belanja langsung adalah sebesar Rp. 20.069.591.164,- atau sebesar 98,14 % ,sehingga total penyerapan anggaran adalah sebesar Rp. 29.585.065.576,- atau sebesar 97,25 % sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
PROGRAM/KEGIATAN Anggaran Pagu
Realisasi Sisa Anggaran
Fisik
Keuangan
(%) (Rp) (%) (Rp.) (%)
Belanja Tidak langsung 9.970.963.821 100 9.515.474.412 95,43 455.489.409 4,57
Belanja Langsung 20.450.000.000 100 20.069.591.164 98,14 380.408.836 1,86
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 8.559.420.000 100 8.376.729.295 97,87 182.690.705 2,13
Koordinasi Penelitian dan Pengembangan inovasi Pembangunan Daerah
222.860.000 100 202.210.000 90,73 20.650.000 9,27 Koordinasi Penyusunan Laporan Keterangan
Pertanggung Jawaban (LKPJ) dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
877.600.000 100 850.851.000 96,95 26.749.000 3,05
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kependudukan
309.882.000 100 303.582.000 97,97 6.300.000 2,03
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pemerintahan Umum
118.800.000 100 109.900.000 92,51 8.900.000 7,49 Koordinasi perencanaan dan pengendalian
Pembangunan Bidang Sumber Daya Masyarakat (SDM) dan Kesejahteraan Masyarakat
Koordinasi perencanaan dan pengendalian Pembangunan Bidang Ekonomi
862.500.000 100 860.764.695 99,8 1.735.305 0,2 Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah
616.600.000 100 581.800.000 94,36 34.800.000 5,64 Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran dan
Prioritas Plapon Anggaran Sementara
1.144.500.000 100 1.136.455.000 99,3 8.045.000 0,7 Penyusunan RKPD Kota Tangerang Selatan 1.309.578.000 100 1.306.653.000 99,78 2.925.000 0,22 Penyusunan Analisa Standar Belanja 220.600.000 100 188.225.000 85,32 32.375.000 14,68 Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi dan
Pelaporan Kinerja Program dan kegiatan
359.500.000 100 354.499.600 98,61 5.000.400 1,39 Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian
Pembangunan Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup
1.124.800.000 100 1.104.720.000 98,21 20.080.000 1,79
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Pekerjaan Umum dan Perhubungan
285.000.000 100 282.834.000 99,24 2.166.000 0,76
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Permukiman
275.200.000 100 263.085.000 95,6 12.115.000 4,4
PENGEMBANGAN DATA DAN STATISTIK DAERAH
920.000.000 100 868.771.500 94,43 51.228.500 5,57
Penyusunan dan pengembangan data dan Informasi 100.000.000 100 98.800.000 98,8 1.200.000 1,2 Pengumpulan, Kompilasi, Penyusunan dan
Diseminasi data dan Statistik Daerah
820.000.000 100 769.971.500 93,9 50.028.500 6,1
PENGEMBANGAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
296.155.500 100 292.757.500 98,85 3.398.000 1,15
Penyusunan Laporan Kinerja Keuangan Dan Neraca Aset
296.155.500 100 292.757.500 98,85 3.398.000 1,15
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN SUMBER DAYA APARATUR
634.166.000 100 605.350.000 95,46 28.816.000 4,54
Pembinaan, Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur
634.166.000 100 605.350.000 95,46 28.816.000 4,54
PENELITIAN DAN PENGEMBAGAN DAERAH 1.226.226.000 100 1.154.328.100 94,14 71.897.900 5,86
Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Daerah
683.360.000 100 652.415.900 95,47 30.944.100 4,53 Pengembangan Sistem Perencanaan Pembangunan
Daerah
427.866.000 100 411.966.000 96,28 15.900.000 3,72 Fasilitasi Pengembangan Pembiayaan
Pembangunan
115.000.000 100 89.946.200 78,21 25.053.800 21,79
KERJASAMA PEMBANGUNAN DAN KEWILAYAHAN
103.400.000 100 90.900.000 87,91 12.500.000 12,09
Koordinasi Perencanaan Pengembangan Kerjasama Pembangunan
103.400.000 100 90.900.000 87,91 12.500.000 12,09
PELAYANAN ADMINISTRASI DAN SARANA PRASARANA PERKANTORAN
8.710.632.500 100 8.680.754.769 99,66 29.877.731,00 0,34
Penyediaan dan Pemeliharaan Barang dan Jasa Perkantoran
8.710.632.500 100 8.680.754.769 99,66 29.877.731 0,34
Total 30.420.963.821 100 29.585.065.576 97,25 835.898.245 2,75
Realisasi penyerapan anggaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah adalah sebesar 97,25 %, menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 96,12% dengan demikian kinerja penyerapan mengalami peningkatan sehingga
SILPA menurun sebesar 2,75 % dimana hal ini merupakan efesiensi dari kegiatan dan sisa dari pihak ketiga (pengadaan barang dan jasa).
2.2. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD
Perencanaan pembangunan daerah merupakan kegiatan yang tidak mudah karena berhadapan dengan berbagai permasalahan yang sangat kompleks dan komprehensif (meliputi berbagai aspek sosial kemasyarakatan) dari suatu keadaan yang ada diwilayah terkait. Kompleksitas permasalahan tersebut sudah menjadi konsekuensi logis yang harus dihadapi dan tidak mungkin dihindari. Namun begitu tidak berarti bahwa hal itu akan menjadi suatu hambatan yang tidak dilampaui, melainkan justru menjadi tantangan yang akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil perencanaan pembangunan daerah jika perencana mampu mengatasinya.
Pembangunan di bidang Perencanaan Pembangunan Daerah telah dilakukan secara berkelanjutan dari tahun ke tahun yang sesuai Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 18 Tahun 2011 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan, dapat dijabarkan bahwa Bappeda mempunyai kedudukan sebagai unsur perencanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sektretaris Daerah. Dengan kedudukan tersebut Bappeda mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Bappeda Kota Tangerang Selatan mempunyai fungsi :
1. Perumusan bahan kebijakan Perencanaan Pembangunan Daerah ; 2. Pelaksanaan fasilitasi Perencanaan Pembangunan Daerah ;
3. Pelaksanaan kegiatan bidang Perencanaan Pembangunan Daerah ; 4. Pelaksanaan perumusan kebijakan teknis perencanaan ;
5. Pelaksanaan pengkoordinasian statistik daerah, penelitian dan pengembangan serta penyusunan perencanaan pembangunan daerah;
6. Pelaksanaan koordinasi statistik daerah, penelitian dan pengembangan serta pembinaan perencanaan pembangunan daerah; 7. Pelaksanaan koordinasi pengendalian pembangunan daerah ;
8. Pembinaan dan memfasilitasi proses hukuman disiplin kepada bawahannya ( secara berjenjang) yang melakukan pelanggaran disiplin dengan berdasarkan pada Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang disiplin pegawai negeri;
9. Penyelenggaraan penyusunan rencana kerja,kinerja,dan anggaran tahunan Badan.
10. Pelaksanaan kerjasama pembangunan daerah.
Berdasarkan uraian mengenai tugas dan fungsi Bappeda, maka kegiatan perencanaan difungsikan sebagai suatu kegiatan penyusunan rencana yang prosesnya ditata dan dijalankan secara sistematik, produknya dirumuskan dengan sistematik dan didasarkan pada pemikiran logis dan objektif. Perencanaan pembangunan merupakan suatu tahapan awal dalam proses pembangunan. Sebagai tahapan awal, perencanaan pembangunan akan menjadi bahan/pedoman/acuan dasar bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan (action plan). Karena itu perencanaan pembangunan diharapkan bersifat implementatif (dapat dilaksanakan) dan aplikatif (dapat diterapkan ).
Kegiatan perencanaan pembangunan pada dasarnya merupakan kegiatan riset/penelitian, karena proses pelaksanaannya akan banyak menggunakan metode-metode riset, mulai dari teknik pengumpulan data, analisis data, hingga studi lapangan/kelayakan dalam rangka mendapatkan data akurat, baik yang dilakukan secara konseptual, dokumentasi maupun ekperimental.
Dalam kaitannya dengan Perencanaan Pembangunan Daerah, maka pengertian pembangunan dinyatakan sebagai suatu proses perencanaan pembangunan yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah dan lingkungannya dalam wilayah/daerah tertentu dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap dan tetap berpegang pada azas prioritas.
Dengan demikian perencanaan pembangunan daerah meliputi beberapa ciri, antara lain:
a. Menghasilkan program yang bersifat umum; b. Analisis perencanaan bersifat makro/luas;
c. Lebih efektif dan efisien digunakan untuk perencanaan jangka menengah dan panjang.
d. Memerlukan pengetahuan secara interdisipliner, general dan universal, namun tetap memiliki spesifikasi masing-masing yang jelas;
e. Fleksibel dan mudah untuk dijadikan sebagai acuan perencanaan pembangunan jangka pendek (1 tahunan);
Dalam memahami pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran yang mengidentikkan pembangunan dengan perkembangan,
pembangunan dengan modernisasi dan industrialisasi, bahkan pembangunan dengan westernisasi. Seluruh pemikiran tersebut berdasarkan pada aspek perubahan, dimana pembangunan, perkembangan, dan modernisasi serta industrialisasi secara keseluruhan mengandung unsur perubahan.
Sehingga pembangunan dapat dikatakan sebagai suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian pembangunan secara sederhana diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk menuju kearah peningkatan dari keadaan semula atau terjadinya pertumbuhan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangunan.
Dengan memahami gambaran mengenai unsur-unsur perencanaan dan pengertian pembangunan, dapat diperoleh suatu gambaran mengenai perencanaan pembangunan. Dalam perencanaan pembangunan terkandung beberapa hal pokok yang dapat dikatakan sebagai unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri. Adapun unsur- unsur dimaksud meliputi :
1. Adanya asumsi-asumsi yang didasarkan pada fakta-fakta. Ini berarti bahwa perencanaan hendaknya disusun dengan berdasarkan pada asumsi-asumsi yang didukung dengan fakta-fakta atau bukti-bukti yang ada. Hal ini menjadi penting karena hasil perencanaan merupakan dasar bagi pelaksanaan suatu program atau kegiatan;
2. Adanya alternatif-alternatif atau pilihan-pilihan sebagai dasar penentuan kegiatan yang akan dilakukan. Ini berarti bahwa dalam menyusun rencana perlu memperhatikan berbagai alternatif sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan;
3. Adanya tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini perencanaan merupakan suatu alat atau sarana untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan kegiatan;
4. Bersifat memprediksi sebagai langkah untuk mengantipasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat memperngaruhi pelaksanaan perencanaan;
5. Adanya kebijaksanaan sebagai hasil keputusan yang harus dilaksanakan;
Saat ini yang menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas-tugas perencanaan di Bappeda adalah Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, dan peraturan yang berada di bawahnya termasuk Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi, Dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan peraturan- peraturan tersebut, saat ini Bappeda telah melaksanakan ketentuan yang telah diamanatkan.
2.3. Isu-isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD
Dalam pelaksanakan tugas pokok dan fungsi Bappeda, terdapat beberapa permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanan, yaitu: - Masih kurangnya keselarasan dan konsistensi perencanaan
pembangunan baik antara Renstra OPD dengan RPJMD, Indikator Tujuan dan Sasaran.
- Optimalisasi sumber daya manusia masih perlu ditingkatkan agar dapat meningkatkan kualitas hasil analisa, telaahan dan kajian dalam merumuskan perencanaan dan pengendalian pembangunan Kota Tangerang Selatan, sehingga dapat dihasilkan perencanaan pembangunan yang berkualitas.
- Data dan Informasi pembangunan yang merupakan alat utama dalam perencanaan/ umpan balik perencanaan dan pengendalian pembangunan belum dapat diperoleh tepat waktu. Hal ini dapat mengakibatkan perencanaan dan pengendalian pembangunan yang kurang akurat.
- Bappeda harus mengembangkan sistem pengumpulan data dan informasi pembangunan Kota Tangerang Selatan. dalam UU nomor 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional secara jelas dinyatakan bahwa perencanaan harus disusun berdasarkan data dan informasi yang akurat.
Oleh karena itu ke depan Bappeda Kota Tangerang Selatan harus mempunyai data dan informasi yang akurat dan mutakhir sebagai dasar perumusan kebijakan serta perencanaaan pembangunan dan pengendalian pembangunan Kota Tangerang Selatan.;
Personil pelaksana teknis di Bappeda yang berpengalaman dalam bidang fisik, terutama menyangkut proses perencanaan pembangunan, masih terbatas sehingga hasilnya dirasakan masih kurang maksimal.
Perencanaan pembangunan pada prinsipnya didasarkan atas kepentingan masyarakat Kota Tangerang Selatan. Oleh karena itu sedapat mungkin pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut Bappeda perlu menjaring aspirasi pembangunan sebanyak-banyaknya dari masyarakat untuk kemudian diolah dan dipilih kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan.
Hubungan kerjasama dan koordinasi antar sektor dan wilayah masih kurang optimal. Pelaksanaan rencana pembangunan tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya kerjasama dan koordinasi antar sektor maupun wilayah, karena seringkali pelaksanaan pembangunan bersinggungan dengan sektor lain atau wilayah daerah lain yang memiliki prioritas yang berbeda.
Perencanaan pembangunan yang dirancang untuk jangka waktu 5 tahun memiliki ketidakpastian keterlaksanaan dan ketercapaian yang tinggi. Hal ini sangat tergantung dari tekad para pemangku kebijakan untuk menjalankan secara konsisten program dan kegiatan yang mendukung pencapaian target pembangunan. Agar pembangunan selama 5 tahun ke depan (2016-2021) lebih terarah dan terkendali, serta sumber daya yang ada dapat lebih fokus pada pencapaian target pembangunan, perlu dirumuskan kegiatan-kegiatan prioritas pembangunan Kota Tangerang Selatan yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun dengan ukuran keberhasilan yang jelas sehingga mudah diukur dan dipantau. Rencana kegiatan prioritas ini secara substansi sudah dituangkan dalam RPJMD dan juga dalam RKPD namun masih perlu dilengkapi dengan ukuran keberhasilan/ target yang jelas serta jadwal waktu pencapaiannya secara tahunan (di dalam RPJMD) dan secara triwulan (di dalam RKPD).
Faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya kapasitas perencana di tingkat perangkat daerah dan Bappeda.
2. Belum adanya database pembangunan Kota Tangerang Selatan 3. Kurangnya koordinasi antar wilayah dalam hal perencanaan
pembangunan daerah
4. Program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah masih kurang jelas
5. Pengendalian pembangunan daerah, terutama atas program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah kurang optimal.
6. Perencanaan dan pengendalian tata ruang masih kurang optimal.
2.3.1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan instrumen utama yang perlu dimiliki setiap OPD dalam menjalankan roda pembangunan, dengan dimilikinya struktur organisasi maka setiap kegiatan yang akan dan telah direncanakan dapat berjalan sesuai dengan koridor yang telah ditentukan.
Pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan, struktur organisasi tertinggi dikepalai oleh seorang Kepala Badan yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang Sekretaris, 4 (lima) orang Kepala Bidang sebagaimana terlihat pada Bagan Struktur Organisasi Badan sesuai dengan lampiran Peraturan Walikota Kota Tangerang Selatan Nomor 70 Tahun 2016, yang terdiri dari:
1. Kepala Badan; 2. Sekretariat:
4. Bidang Ekonomi dan Sosial Kemasyarakatan; 5. Bidang Fisik dan Prasarana;
6. Bidang Penelitian, Pengembangan dan Pemerintahan Umum. 7. UPT; dan
8. Kelompok Jabatan Fungsional. 2.3.2. Permasalahan Yang Dihadapi
Secara spesifik, beberapa permasalahan yang dapat diungkapkan dalam realisasi Rencana Kinerja Tahun Anggaran 2019, yang ada pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Beberapa kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan program kerja di Tahun Anggaran 2019 diantaranya adalah :
Secara umum pelaksanaan kegiatan-kegiatan di Bidang-bidang berjalan baik. Hanya dalam pengumpulan data dari masing-masing OPD terkait mengalami sedikit keterlambatan.
Jadwal Pembahasan dan penetapan KUA dan PPAS terlambat. Kurangnya personil perencana yang berpengalaman dalam
menyangkut proses perencanaan pembangunan, sehingga hasilnya masih kurang maksimal.
Secara umum pelaksanaan kegiatan-kegiatan di Bidang berjalan baik.
Kurang keserasian/ kesesuaian Target indikator sasaran, sehingga tidak mencerminkan hasil/ outcome pada Renstra Bappeda.
2.3.3 Solusi Dalam Menghadapi Permasalahan Melakukan rapat koordinasi dengan OPD.
Melakukan kunjungan ke setiap OPD sesuai mitra Bidang. Mereview kembali perencanaan kegiatan.
2.4 Review terhadap Rancangan Awal RKPD 2.4.1 Permasalahan Pembangunan Daerah.
Ada 6 (enam) permasalahan pokok yang menjadi masalah mendesak di Kota Tangerang Selatan, yaitu:
No. Permasalahan/ Isu Strategis
1.
Kualitas Sumber Daya Manusia
Meskipun IPM (79,17) relatif lebih baik dibanding kab/kota lain di Provinsi Banten, namun Angka Melek Huruf (AMH) dan Indeks Kemampuan Daya Beli Masyarakat/Purchasing Power Parity (PPP) Kota Tangsel masih perlu ditingkatkan.
2. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk (3,5%) dan Kepadatan Penduduk (10.143 jiwa/km²) dengan komposisi jumlah pria lebih banyak menjadi tantangan tersendiri terhadap masalah sosial, migrasi penduduk, dan pemenuhan kebutuhan dasar.
3. Sarana dan Prasarana wilayah
Aksesibilitas orang, barang dan jasa masih membutuhkan peningkatan ketersediaan dan kualitas prasarana dan sarana wilayah apalagi sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah penyumbang terbesar PDRB Kota Tangsel (31%). Disamping itu ketaatan pada pemanfaatan ruang yang masih kurang, tata kota semrawut, kemacetan, serta minimnya ruang terbuka hijau (RTH) untuk publik.
Meskipun perekonomian Kota Tangsel mampu tumbuh diatas nasional dan provinsi namun terdapat kecendrungan perlambatan mengikuti kencendrungan nasional dan gobal serta Daya beli masyarakat makin rendah, ketimpangan pendapatan semakin lebar karena produk dari pertumbuhan ekonomi yang ada kurang dirasakan masyarakat
5. Kemiskinan dan Kesejahteraan Social
Tingkat kemiskinan 1,62% dan tingkat pengangguran terbuka 6,92% sebagai dampak urbanisasi merupakan permasalahan kota yang harus diantisipasi agar tidak semakin meningkat
6. Tata Kelola Pemerintahan
Masih belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan daerah, diantaranya terdapat produk-produk hukum (perda) yang blm diselesaikan tepat waktu, pelayanan publik masih perlu ditingkatkan, Opini BPK RI atas laporan keuangan menurun dari WTP ke WDP, serta nilai AKIP Kota Tangsel masih CC
2.5. Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Masyarakat
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Tangerang Selatan senantiasa menambah usulan program dan kegiatan yang diusulkan para pemangku kepentingan, baik dari kelompok masyarakat terkait langsung dengan pelayanan, LSM, asosiasi-asosiasi, perguruan tinggi maupun dari OPD yang langsung ditujukan kepada OPD maupun berdasarkan hasil pengumpulan informasi SKPD dari penelitian lapangan dan pengamatan pelaksanaan musrenbang kecamatan dan forum Bappeda.
Pada tahun 2019 tidak ada usulan Program/Kegiatan dari kelompok masyarakat, LSM, Asosiasi dan Perguruan Tinggi, usulan yang
disampaikan hanya bersifat masukan maupun harapan terhadap pelaksanaan Program/Kegiatan yang direncanakan.
BAB III
TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN
3.1. Telaahan Terhadap Kebijakan Nasional
Telaahan terhadap kebijakan nasional dan sebagaimana dimaksud, yaitu penelaahan yang menyangkut arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi O P D . Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan di daerah merupakan satu kesatuan integrasi dengan perencanaan pembangunan nasional, sehingga tema dan prioritas pembangunan daerah harus mengacu pada tema dan prioritas pembangunan nasional.
3.1.1 Telaahan Renstra Bappenas
Bappenas dalam Renstra periode 2015-2019 mengarahkan sumber dayanya untuk mencapai tujuan dan sasaran strategis sebagai berikut:
a. Keselarasan perencanaan jangka menengah nasional (RPJMN) dengan perencanaan jangka panjang nasional (RPJPN). Hal ini