• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program/Kegiatan Prioritas Gubernur terpilih Bagi OPD

Bab II Perencanaan Kinerja

2.4 Program/Kegiatan Prioritas Gubernur terpilih Bagi OPD

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung masuk dalam Misi ketiga dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2019 - 2024 Provinsi Lampung yaitu : “Meningkatkan Kualitas SDM dan Mengembangkan Upaya Perlindungan Anak, Pemberdayaan Perempuan, dan Kaum Disabilitas”.

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 43

Agenda Kerja Gubernur Lampung periode 2019 – 2024 bersinergi dengan strategi nasional yaitu :

1. Paradigma sehat, dengan penguatan promotif dan preventif

2. Pelayanan Kesehatan, melalui peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta

3. Jaminan Kesehatan, dengan mewujudkan Universal Health Coverage.

Capaian Agenda Kerja Gubernur/Wakil Gubernur & Program Unggulan Tahun 2021 di Dinas Kesehatan dalam mendukung Agenda Gubernur / Wakil Gubernur ada pada agenda 11 dan agenda 14 janji Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Lampung.

Tabel 2.4

Agenda Gubernur / Wakil Gubernur & Program Unggulan di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 Nomor

Agenda Judul Agenda Program Prioritas Agenda 11 Lampung ramah

perempuan dan anak

1. Pengembangan Ruang Laktasi Percontohan di Perkantoran.

2. Pembinaan ke seluruh Rumah Sakit untuk menjadikan RS Sayang Ibu dan Bayi.

3. Mengirimkan Surat Edaran ke Kabupaten/Kota dalam rangka mendorong penyediaan ruang laktasi (ruang menyusui).

4. Peningkatan Pemanfaatan Kelas Ibu, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 44

Nomor

Agenda Judul Agenda Program Prioritas

Agenda 14 Lampung Sehat 1. Gerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (GERMAS),

2. Penguatan Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK)

3. Pembinaan dan Pengembangan Puskesmas Percontohan di 15 Kabupaten/Kota,

4. Penyediaan sarana dan

prasarana untuk

penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, alat kesehatan untuk pemeriksaan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan surveilans

5. Menyediakan dan memberikan obat pelayanan kesehatan dasar dan obat program serta perbekalan kesehatan sebagai Buffer Stock kepada seluruh Kabupaten/Kota se Provinsi Lampung,

6. Pelayanan RSUD Bandar Negara Husada,

7. Pelayanan Kalibrasi Alat Kesehatan bagi Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, 8. Pelayanan Balai Laboratorium

Kesehatan,

9. Pelayanan Balai Pelatihan

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 45

Nomor

Agenda Judul Agenda Program Prioritas

Kesehatan untuk Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan, Kader Kesehatan dan Masyarakat,

10. Bantuan Premi JKN bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) 11. Penanganan COVID-19

Provinsi Lampung

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 46

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 Kerangka Pengukuran Kinerja

Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan misi organisasi kepada pihak-pihak yang berwenang menerima pelaporan akuntabilitas/pemberi amanah. Laporan tersebut memberikan gambaran penilaian tingkat pecapaian target masing-masing indikator sasaran srategis yang ditetapkan dalam dokumen Renstra Tahun 2019-2024 maupun Rencana Kerja Tahun 2021 Sesuai dengan ketentuan tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang ditetapkan untuk mewujudkan Visi dan Misi Dinas Kesehatan.

Penilaian kinerja dalam laporan kinerja ini dilakukan dengan menggunakan 2 rumus perhitungan. Penghitungan prosentase pencapaian rencana tingkat capaian perlu memperhatikan karakteristik komponen realisasi. Dalam kondisi :

1. Semakin Tinggi realisasi semakin menunjukkan pencapaian kinerja semakin baik , menggunakan rumus :

Persentase pencapaian rencana tingkat

capaian

:

Realisasi

X 100%

Rencana

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 47

2. Semakin tinggi realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja, maka digunakan rumus

Persentase pencapaian rencana tingkat

capaian

:

Rencana- ( Realisasi- Rencana)

X 100%

Rencana

Predikat nilai capaian kinerjanya dikelompokan dalam skala nilai peringkat kinerja sesuai yang tercantum dalam Permendagri nomor 86 Tahun 2017, sebagai berikut :

Tabel 3.1

Skala Nilai Peringkat Kinerja Dengan Petunjuk Pelaksanaan SAKIP

No Interval Nilai Realisasi Kinerja

Kriteria Penilaian Realisasi Kinerja

Kriteria Warna

1 91% < 100% Sangat Tinggi Biru

2 76% < 90% Tinggi Hijau

3 66% < 75% Sedang Pink

4 51% < 65% Rendah Kuning

5

< 50%

Sangat Rendah Merah

Selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi kinerja dilakukan analisis pencapaian kinerja untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai sebab-sebab tercapai atau tidak tercapainya kinerja yang

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 48

diharapkan. Pelaporan Kinerja ini didasarkan pada Perubahan Perjanjian Kinerja Dinas Kesehatan Tahun 2021.

3.2 Capaian Indikator Tujuan dan Indikator Kinerja Utama Perubahan Renstra Tahun 2021

Dalam rangka mengukur dan peningkatan kinerja serta lebih meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah, maka setiap instansi pemerintah perlu menetapkan Indikator Tujuan dan Indikator Kinerja Utama (IKU). Untuk itu pertama kali yang perlu dilakukan Instansi Pemerintah adalah menentukan apa yang menjadi indikator tujuan dan indikator kinerja utama dari Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Dengan demikian kinerja utama terkandung dalam tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah, sehingga IKU adalah merupakan ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah. Dengan kata lain IKU digunakan sebagai ukuran keberhasilan dari Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Upaya untuk meningkatkan akuntabilitas, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga melakukan reviu terhadap Indikator Kinerja Utama, dalam melakukan reviu dengan memperhatikan capaian kinerja, permasalahan dan isu-isu strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi.

3.2.1 Indikator Tujuan dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perubahan Renstra 2021

Hasil pengukuran atas Indikator Kinerja Utama Dinas Kesehatan Lampung tahun 2021 menunjukan hasil sebagai berikut :

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 49

Tabel 3.2

Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021

No Sasaran IKU Satuan Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 2024 Nasional

2021 Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Capaian

1. Menurunnya kasus kematian ibu

Jumlah Kasus

Kematian Ibu Kasus -

Kasus Kesakitan Angka Keberhasilan

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 50

Untuk capaian di tahun 2021 3 indikator dengan kriteria Sangat Tinggi (ST) sedangkan 1 indikator dengan kriteria Tinggi (T).

3.2.2 Analisa Keberhasilan dan Kegagalan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021

3.2.2.1 Jumlah Kasus Kematian Ibu

Kematian Ibu adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera.

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan prediktor utama dampak dari pelayanan KIA. Tahun 2015 AKI sebesar 305/100,000 KH (Data Survey antar Sensus (SUPAS) 2015).

Sementara Target penurunan AKI tahun 2024 sebesar 183/100.000 KH.

Strategi pencapaian penurunan AKI dan AKB adalah melalui upaya peningkatan akses pelayanan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, peningkatan pemberdayaan masyarakat dan penguatan tata kelola dengan salah satu upaya terobosan adalah dengan penetapan Kabapaten/Kota lokus penurunan AKI dan AKB yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan dan akan dilaksanakan secara bertahap sejak tahun 2020 s.d tahun 2023 ini.

Akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan minimal 4 kali, sesuai dengan ketetapan waktu kunjungan. Saat ini sedang dikembangkan pelayanan

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 51

ANC dengan minimal 6 kali kunjungan, dimana ada penambahan pada trimester 2 dan 3, dan untuk kunjungan 1 dan ke 5 diharapkan dilakukan pemeriksaan ANC oleh Dokter umum dengan menggunakan peralatan USG dasar.

Disamping itu, indikator ini menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, Melalui kegiatan ini diharapkan ibu hamil dapat dideteksi secara dini adanya masalah atau gangguan atau kelainan dalam kehamilannya dan dilakukan penanganan secara cepat dan tepat.

Pada saat ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan memberikan pelayanan antenatal secara lengkap (10 T) yang terdiri dari: timbang badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai status gizi (ukurLiLA), ukur tinggi fundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi TT dan bila perlu pemberian imunisasi Td, pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan), test lab sederhana (Golongan Darah, Hb, Gluko protein Urin) dan skrining terhadap Hepatitis B, Sifilis, HIV, Malaria, TBC, tata laksana kasus, dan temu wicara/ konseling termasuk P4K serta KB PP.

Melalui konseling yang aktif dan efektif, diharapkan ibu hamil dapat melakukan perencanaan kehamilan dan persalinannya dengan baik serta memantapkan keputusan ibu hamil dan keluarganya untuk melahirkan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Pelayanan persalinan sesuai standar adalah persalinan yang dilakukan oleh Bidan dan atau Dokter dan atau Dokter Spesialis Kebidanan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan Pemerintah maupun Swasta yang memiliki Surat

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 52

Tanda Register (STR) baik persalinan normal dan atau persalinan dengan komplikasi. Fasilitas pelayanan kesehatan meliputi Polindes, Poskesdes, Puskesmas, bidan praktek swasta, klinik pratama, klinik utama, klinik bersalin, balai kesehatan ibu dan anak, rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Standar pertolongan persalinan di faslitas kesehatan meliputi : 1) Pencegahan infeksi

2) Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.

3) Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ketingkat pelayanan yang lebih tinggi.

4) Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

5) Memberikan Injeksi Vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir.

Penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan adanya korelasi positif antara persalinan oleh tenaga kesehatan dengan penurunan angka kematian ibu. Artinya dengan semakin meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan maka angka kematian ibu akan menurun. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan di sini adalah tenaga yang memiliki latar belakang pendidikan kebidanan atau kedokteran yang telah terlatih dan memiliki sarana dan prasarana pertolongan persalinan serta penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Oleh karena itu indikator yang dianggap lebih spesifik untuk menggambarkan persalinan oleh nakes adalah persalinan di fasilitas kesehatan mengingat di beberapa wilayah nakes masih melakukan pertolongan persalinan di rumah dengan peralatan yang terbatas sehingga bila terjadi komplikasi sangat beresiko tidak tertangani dan dapat menimbulkan kematian.

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 53

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah pendekatan safe motherhood, dimana terdapat empat pilar dalam menurunkan angka kematian ibu yaitu keluarga berencana, pemeriksaan kehamilan sesuai standar, persalinan bersih dan aman, serta PONED dan PONEK.

Jumlah kasus kematian ibu pada tahun ini sebanyak 187 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan kasus kematian ibu tahun tahun 2020 yang hanya 115 kasus. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 54

Tabel 3.3

Perbandingan Jumlah Kasus Kematian Ibu dari tahun 2019 s.d 2021

No Sasaran IKU Satuan Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 2024 Nasional

2021 Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Capaian

1. Menurunnya kasus kematian ibu

Jumlah Kasus Kematian Ibu

Kasus -

111

-

130 115 111,5 % 170 187 90 % 110 58,82 % 305/100.000

KH (SUPAS 2015)

Jumlah kasus kematian ibu dari tahun 2019 s.d 2021 mengalami peningkatan terutama di tahun 2021. Di tahun 2020 kematian ibu dibawah target yang telah ditetapkan yaitu sebanyak 115 kasus (111,5%) akan tetapi di tahun 2021 kematian ibu meningkat menjadi 187 (90%) kasus kematian.

Untuk melihat sebaran jumlah kasus kematian ibu di Provinsi Lampung dapat kita lihat pada grafik dibawah ini :

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 55

Grafik 3.1 Kasus Kematian Ibu Di Provinsi Lampung Tahun 2021

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022

Berdasarkan grafik diatas Kabupaten dengan cakupan tertinggi adalah Lampung Timur dan Lampung Tengah.

Sedangkan grafik dengan cakupan terendah adalah Tulang Bawang, Pesawaran dan Lampung barat.

Grafik 3.2

Trend Kasus Kematian Ibu

Di Provinsi Lampung Tahun 2017 – 2021

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022

2017 2018 2019 2020 2021

KEMATIAN IBU

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 56

Pada grafik diatas terlihat adanya kasus kematian ibu dari tahun 2018 mengalami peningkatan terutama di tahun 2021.

Secara terperinci penyebab kematian ibu tahun 2021 ini digambarkan dalam grafik dibawah ini.

Grafik 3.3

Penyebab Kematian Ibu Di Provinsi Lampung Tahun 2021

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022

Grafik di atas menunjukkan hampir setengah dari kematian ibu tahun 2021 (45 %) disebabkan oleh Covid 19, diikuti oleh penyebab lain seperti perdarahan dan hipertensi dalam kehamilan.

Analisis kematian ibu tahun 2021 di provinsi menunjukkan tingginya kematian ibu tahun 2021 disebabkan oleh :

1. 45% kasus kematian ibu disebabkan karena perlindungan ibu hamil sebagai kelompok resti terhadap Virus Covid-19 rendah.

2. Terbatasnya faskes primer dan rujukan yang mampu memberikan pelayanan kegawatdaruratan maternal neonatal saat pandemi Covid-19.

Perdarahan

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 57

3. Keluarga takut/ragu untuk merujuk dan terlambat dalam memutuskan untuk merujuk saat bumil terkena Covid-19.

4. Sistem rujukan khusus ibu hamil belum ada sehingga rujukan belum maksimal dan efektif.

5. Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi belum dilaksanakan secara optimal

6. Sistem pencatatan dan pelaporan yang belum efektif.

7. Tarbatasnya sarana dan prasarana pendukung pelayanan di fasilitas Kesehatan dasar terutama bidan di desa

8. Terbatasnya jumlah nakes terlatih dalam ketrampilan klinis program.

3.2.2.2 Jumlah Kasus Kematian Bayi

Kematian Bayi adalah Kematian yang terjadi pada usia 0 – 1 tahun.

Masa Neonatal merupakan masa yang sangat kritis karena pada masa ini banyak terjadi kematian. Masalah utama bayi baru lahir pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian, kesakitan dan kecacatan. Hal ini merupakan akibat dari kondisi kesehatan ibu yang jelek, perawatan selama kehamilan yang tidak adekuat, penanganan selama persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta perawatan neonatal yang tidak adekuat. Bila ibu meninggal saat melahirkan, kesempatan hidup yang dimiliki bayinya menjadi semakin kecil. Kematian neonatal tidak dapat diturunkan secara bermakna tanpa dukungan upaya menurunkan kematian ibu dan meningkatkan kesehatan ibu.

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 58

Perawatan antenatal dan pertolongan persalinan sesuai standar, harus disertai dengan perawatan neonatal yang adekuat dan upaya-upaya untuk menurunkan kematian bayi akibat bayi berat lahir rendah, infeksi pasca lahir (seperti tetanus neonatorum, sepsis), hipotermia dan asfiksia.

Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi pasca lahir disebabkan oleh penyakit – penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan biaya yang tidak mahal, mudah dilakukan, bisa dikerjakan dan efektif. Intervensi imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil menurunkan kematian neonatal hingga 33-58% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Sekitar 11,5 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram (Riskesdas 2007). Data dari SKRT 2001 menunjukkan bahwa Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor terpenting kematian neonatal.

Penyumbang utama kematian BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kematian karena hipotermia pada bayi berat lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur jumlahnya cukup bermakna. Perilaku/ kebiasaan yang merugikan seperti memandikan bayi segera setelah lahir atau tidak segera menyelimuti bayi setelah lahir, dapat meningkatkan risiko hipotermia pada bayi barulahir. Intervensi untuk menjaga bayi baru lahir tetap hangat dapat menurunkan kematian neonatal sebanyak 18-42% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Salah satu penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian bayi baru lahir adalah Pneumonia, suatu infeksi yang dapat terjadi saat lahir atau setelah lahir. Faktor risiko terpenting terjadinya Pneumonia adalah perawatan yang tidak

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 59

bersih, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat.

Pneumonia pada bayi baru lahir gejalanya tidak jelas dan seringkali tidak diketahui sampai keadaannya sudah sangat terlambat.

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi hingga berusia 6 bulan.Walaupun proporsi bayi yang pernah mendapat ASI cukup tinggi yaitu 95,7% (SDKI 2007), namun proporsi ASI eksklusif pada bayi 0 - 6 bulan masih rendah yaitu 32,4% (SDKI 2007), demikian juga dengan proporsi bayi mendapat ASI sekitar 1 jam setelah lahir yaitu 43,9% (SDKI 2007). Tidak memberikan kolostrum merupakan salah satu kebiasaan merugikan yang sering ditemukan. Pemberian ASI dapat menurunkan kematian neonatal hingga 55-87% (The Lancet Neonatal Survival 2005).

Jumlah Kasus Kematian Bayi pada tahun 2021 sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2020, di tahun 2020 jumlah kasus kematian bayi sebanyak 537 kasus (110,5%) sedangan di tahun 2021 sebanyak 489 kasus (109,44%), seperti pada tabel dibawah ini :

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 60

Tabel 3.4

Perbandingan Jumlah Kasus Kematian Bayi dari Tahun 2019 s.d 2021

No Sasaran IKU Satuan Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 2024 Nasional

2021 Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Capaian

1. Menurunnya kasus kematian Bayi

Jumlah Kasus Kematian Bayi

Kasus -

511

-

600 537 110,5 % 540 489 109,44

% 520 106,34

%

24/1.000 KH (SDKI 2017)

Jumlah kasus kematian bayi di tahun 2021 per kabupaten / kota di Provinsi Lampung dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 61

Grafik 3.4

Kasus Kematian Bayi (0 s.d <1 thn) Di Provinsi Lampung Tahun 2021

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022

Berdasarkan grafik diatas dengan kematian tertinggi adalah Lampung Tengah (100 kasus) dan Lampung Tengah (77 kasus). Sedangkan grafik kematian bayi terendah adalah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Grafik 3.5

Perbandingan Jumlah Kasus Kematian Bayi dari tahun 2017 s.d 2021 di Provinsi Lampung

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022 24

2017 2018 2019 2020 2021

BAYI

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 62

Grafik diatas memperlihatkan penurunan kasus kematian bayi mengalami fluktuasi dari tahun 2019, namun tahun 2021 terjadi sedikit penurunan dibandingkan tahun 2019 yaitu 489 kasus.

Hal-hal yang menyebabkan penurunan kasus kematian bayi adalah :

1) Peningkatan penggunaan buku KIA mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pelayanan kesehatan bagi baru lahir yang mendorong mereka untuk memeriksakan bayinya ke fasilitas kesehatan.

2) Perbaikan infrastruktur terutama di daerah dengan akses sulit memudahkan masyarakat untuk mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.

3) Meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan serta distribusi fasilitas dan tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota.

4) Meningkatnya alokasi pembiayaan kesehatan bagi masyarakat khususnya masyarakat yang tidak mampu seperti adanya Jampersal dan APBD Kabupaten/Kota dan juga BOK di Puskesmas yang dapat digunakan oleh petugas kesehatan untuk kunjungan rumah kepada bayi yang tidak datang ke faskes.

5) Peningkatan pemanfaatan kohort bayi dan Balita mendukung perbaikan system pencatatan dan pelaporan pelayanan pada bayi dan Balita.

6) Peningkatan peran aktif lintas program dan lintas sector dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir dan neonatal.

7) Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan petugas dalam pelayanan kesehatan mendorong peningkatan kualitas pelayanan sehingga masyarakat merasa puas

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 63

dengan pelayanan di fasilitas kesehatan.

8) Terlaksananya program kemitraan bidan dan dukun mendorong peran aktif masyarakat untuk mendorong ibu bersalin ke nakes dan memeriksakan bayi baru lahir ke petugas kesehatan

3.2.2.3 Prevalensi Stunting

Pengertian dari Prevalensi Stunting adalah keadaan kurang zat gizi dimana tinggi badan di bawah standar sesuai usianya, disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama (WHO).

Program prioritas dalam pembinaan gizi adalah penurunan angka stunting, berbagai upaya dalam penurunan angka stunting dimana prioritas stunting pada 1000 HPK, koordinas dengan lintas program dan sektor melalui konvergensi stunting dan pertemuan FGD, Angka stunting dari tahun ketahun seperti dalam grafik dibawah ini :

Grafik 3.6

Angka Stunting dari Tahun 2013 s.d 2021

Sumber: Riskesdas 2013, 2018, SSGI 2019, 2021 dan ePPGBM 2020 dan 2021 42,6

2013 2018 2019 2021 ePPGBM 2020

ePPGBM 2021

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 64

Jika dilihat dari trend capaian sejak tahun 2013 terjadi penurunan yang signifikan sampai tahun 2021 dimana prevalensi stunting tahun 2013 42,6 menjadi 4,5 % di tahun 2021. Namun data tahun 2021 belum menggambarkan keadaan stunting di provinsi Lampung karena belum semua data balita yang diukur terentry.

Tabel 3.5

Perbandingan Capaian Realisasi Prevalensi Stunting dari Tahun 2019 s.d 2021 di Provinsi Lampung

No Sasaran IKU Satuan Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 2024 Nasional

2021 Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Target Capaian

3. Meningkatnya Satus Gizi Masyarakat

Prevalensi

stunting Persen -

26,26

-

25,18 8,2 167,4 % 23,08 18,5 119,84

% 14 132,14

%

Dari tabel diatas dapat dilihat perbandingan realisasi capaian pada tahun 2021 sebesar 18,5 (119,84) lebih rendah dibanding tahun 2020 sebesar 8,2 (167,4%).

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 65

Grafik 3.7

Sebaran Capaian Stunting di Provinsi Lampung

Sumber : Laporan Tahunan Bidang Kesmas, 2022

Grafik 3.8

Prevalensi Stunting tahun 2020 s.d 2021 di Provinsi Lampung

Indeks Panjang Badan menurut Umur atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), Indeks PB/U atau TB/U menggambarkan pertumbuhan panjang atau tinggi badan anak berdasarkan umurnya. Indeks ini dapat mengidentifikasi anak-anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek

11,1

3,9

1,7 1,4 6,0

2,8 1,7 8,3

3,5 7,0

15,8

8,8

0,4

8,0 6,9 4,5

Target: 21,1%

2020 2021

Capaian 8,2 18,5

Target 25,18 23,08

25,18 23,08

8,2 18,5

Target Capaian

Kj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 66

(severely stunted), yang disebabkan oleh gizi kurang dalam waktu lama atau sering sakit.

Anak-anak yang tergolong tinggi menurut umurnya juga dapat diidentifikasi. Anak-anak dengan tinggi badan di atas normal (tinggi sekali) biasanya disebabkan oleh gangguan endokrin, namun hal ini jarang terjadi di Indonesia.

Percepatan penurunan stunting melalui penguatan intervensi spesifik dan sensitif. Dalam penurunan dengan intervensi spesifik melalui pendekatan siklus hidup (1000 HPK + remaja) dengan upaya optimalisasi cakupan, stategi yang digunakan : 1. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) 2. Peningkatan kualitas program

3. Penguatan edukasi gizi

4. Penguatan manajemen intervensi gizi di puskesmas dan posyandu

Kegiatan dalam mendukung percepatan penurunan stunting ditahun 2021 adalah :

1. Kegiatan berfokus pada 1000 HPK seperti pemberian TTD, vitamin A, asi eksklusif

2. Kegiatan Pemanfaatan data surveilans gizi, kegiatan tersebut dilakukan secara virtual melalui zoom meeting dihadiri oleh seluruh tenaga gizi puskesmas dan pengelola gizi kabupaten, kegiatan tersebut juga sebagai evaluasi dalam pengentrian ePPGBM di provinsi Lampung

3. Kegiatan konvergensi stunting dan FGD dihadiri oleh pengelola gizi kabupaten/kota dan LIntas sektor terkait

LKj Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2021 67

4. Kegiatan orientasi surveilans gizi dalam pemantauan pertumbuhan yang dihadiri oleh kader di 6 lokus kabupaten stunting

5. Diseminasi surveilans gizi 6. Monev program gizi

Dalam meningkatkan keberhasilan status gizi tentunya didukung oleh beberapa faktor diantaranya :

Dalam meningkatkan keberhasilan status gizi tentunya didukung oleh beberapa faktor diantaranya :

Dokumen terkait