• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM SARJANA STRATA 1 TERAPAN KEPOLISIAN (Pendidikan Karakter Berbasis Pada Kurikulum Responsif – Progresif

Pancasilais)

Kepolisian dengan organ Polisi merupakan profesi kemanusiaan yang unik. Hal ini dilogikakan pada tupoksinya sebagai pengayom, pelindung, pelayan sekaligus penegak hukum. Dalam konteks penegak hukum, polisi selalu di hadapkan pada “kesepanengan”untuk keadilan, kemanfataan dan kepastian hukum. Kondisi inilah seorang polisi harus dibekali dengan kemampuan analisis hukum yang paripurna untuk mampu menjalankan tugas penegakkan hukum yang mewujudkan keadilan substantif. Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem dapat berperan di tengah masyarakat dengan baik dan benar, jika ditegakkan secara konsisten dan konsekuen. Sistem Hukum menurut L.Friedman tersusun dari sub-sub sistem hukum, terdiri dari susbstansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum (legal culture). Mekanisme sub sistem hukum inilah yang dapat menentukan dapat tidaknya suatu penegakkan hukum berproses sesuai dengan harapan. Pembentukan hukum yang diharapkan adalah responsif (Nonet and Selznick) dengan menggunakan Critical Legal Studies (CLS) dari Roberto Mangabeira Unger dan mampu diimplementasi sesuai teori dari Robert Seidman tentang bekerjanya hukum, sehingga mampu secara Responsif-“menjawab kebutuhan masyarakat” (Philip Nonet-P.Selznick) sekaligus Progresif mampu menyediakan dengan cepat sesuai kebutuhan hukum keadilan yang mensejahterakan kedepan“(Satjipto Rahardjo) dengan mampu menyelesaikan masalah-masalah hukum melalui penegakkan hukum. Faktaya hukum seringkali menjadi beban publik dan menyengsarakan rakyat karena hukum ditegakkan oleh para penegak hukum, pakar hukum praktisi hukum yang belum menjalankan hukum dengan benar secara substantive. Pangkal terjadinya ketidakmampuan tersebut salah satunya adalah berawal dari pola pendidikan. Oleh karena itu dalam gagasan Akpol menjadi Program Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian perlu dikukuhkan lagi dengan model kurikulum yang berbasis pada berkarakter responsif-progresif Pancasilais. Artinya pendidikan di Akpol sebagai pelopor pendidikan yang berkarakter dengan berdasarkan pada Pancasila. Yaitu pendidikan hukum yang berkarakter resposif progresif kebutuhan hukum masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan yang Berperikemanusiaan dengan mengutamakan Persatuan berdasarkan pada Musyawarah Mufakat untuk mewujudkan Keadilan Sosial. Hal tersebut bisa dicermati dari Naskah Kurikulum Akpol Program Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian yang akan diberlakukan pada Tahun Ajaran 2013/2014.

Kata Kunci: Karakter, Kepolisian, Responsif-Progresif, Pancasilais

1) Dr. Rodiyah, SPd, SH., MSi. Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang 1

Oleh Rodiyah

ABSTRAK

A. PENDAHULUAN karakter studi ilmu hukum di

Indone-Berdasar pada logika Tupoksi sia yang harus di jalankan di PTN-Kepolisian sebagai Pelayan Pelin- PTS. Model pendidikan karakter ini dung dan Pengayom sekaligus pene- harus berdasarkan pada teori hukum gak hukum adalah mempunyai linie- yang responsif dari (Nonet dan ritas dengan pemahaman ilmu hkum. Selznick) dan progresif (Satjipto Maka penulis mempersepsikan ilmu Rahardjo) dalam pola pendidikan kepolisian pada tataran sebagaian dalam tataran Critical Legal Studies sebagai ilmu hukum terutama pada (Roberto M Unger) berdasarkan konsep penegakkan hukum. Pema- ideologi Pancasila. Konsep ini juga haman awal Ilmu Hukum adalah ilmu menjadi salah satu alternatif karakter praktek, Le Sens Pratique (Akal/ pendidikan di Akpol Program Nalar Praktis), padahal ilmu hukum Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian. tidak sekedar membahas masalah Model studi hukum di Indonesia teknis peradilan semata, tapi yang harus berdasarkan pada teori dari lebih penting adalah masalah teknis Nonet dan Selznick tentang hukum filosofis. Sejarah perkembangan yang responsif, serta teori kritis atau studi hukum di Indonesia selalu Critical Legal Studies (CLS) dari

dikaitkan dengan politik yang ber- Roberto Mangabeira Unger. Kedua kembang dan mempengaruhi karak- teori hukum tersebut merupakan ter studi hukum. Pada jaman Orde paradigma baru dalam hukum dan Baru hukum dimaknai praktis seba- meninggalkan paradigma lama. Da-gai penyelesaikan masalah hukum di lam paradigma baru, hukum tidak masyarakat bukan mentertibkan dan lagi dilihat sebagai entitas yang ber-menyejahterakan dengan mencip- diri sendiri, melainkan harus mampu takan keadilan dimasyarakat. Akibat- berinteraksi dengan entitas lain nya studi hukum di Perguruan Tinggi dengan tujuan pokok untuk meng-Negeri maupun Swasta-pun ber- adopsi kepentingan-kepentingan orientasi pada hukum praktif yang yang ada di dalam masyarakat (No-jauh dari filosofis. Dalam perkem- net, Philippe & Selznick, Philip, bangannya hukum harus berdasarkan 2003: 73-74.). Untuk itu, tidaklah pada kajian filosofis yang mampu heran jika hukum bisa berinteraksi secara responsif dan progresif berda- dengan politik. Hukum yang demi-sarkan Pancasila dalam mewujudkan kian ini akan lebih mampu memaha-keadilan yang menyejahterakan. mi atau menginterpretasi ketidaktaat-Konsep inilah yang nantinya an dan ketidakteraturan yang terjadi harus berkembang dalam pendidikan di masyarakat. Dengan demikian,

PROGRAM SARJANA STRATA 1 TERAPAN KEPOLISIAN (Pendidikan Karakter Berbasis Pada Kurikulum Responsif – Progresif

Pancasilais)

Kepolisian dengan organ Polisi merupakan profesi kemanusiaan yang unik. Hal ini dilogikakan pada tupoksinya sebagai pengayom, pelindung, pelayan sekaligus penegak hukum. Dalam konteks penegak hukum, polisi selalu di hadapkan pada “kesepanengan”untuk keadilan, kemanfataan dan kepastian hukum. Kondisi inilah seorang polisi harus dibekali dengan kemampuan analisis hukum yang paripurna untuk mampu menjalankan tugas penegakkan hukum yang mewujudkan keadilan substantif. Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem dapat berperan di tengah masyarakat dengan baik dan benar, jika ditegakkan secara konsisten dan konsekuen. Sistem Hukum menurut L.Friedman tersusun dari sub-sub sistem hukum, terdiri dari susbstansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum (legal culture). Mekanisme sub sistem hukum inilah yang dapat menentukan dapat tidaknya suatu penegakkan hukum berproses sesuai dengan harapan. Pembentukan hukum yang diharapkan adalah responsif (Nonet and Selznick) dengan menggunakan Critical Legal Studies (CLS) dari Roberto Mangabeira Unger dan mampu diimplementasi sesuai teori dari Robert Seidman tentang bekerjanya hukum, sehingga mampu secara Responsif-“menjawab kebutuhan masyarakat” (Philip Nonet-P.Selznick) sekaligus Progresif mampu menyediakan dengan cepat sesuai kebutuhan hukum keadilan yang mensejahterakan kedepan“(Satjipto Rahardjo) dengan mampu menyelesaikan masalah-masalah hukum melalui penegakkan hukum. Faktaya hukum seringkali menjadi beban publik dan menyengsarakan rakyat karena hukum ditegakkan oleh para penegak hukum, pakar hukum praktisi hukum yang belum menjalankan hukum dengan benar secara substantive. Pangkal terjadinya ketidakmampuan tersebut salah satunya adalah berawal dari pola pendidikan. Oleh karena itu dalam gagasan Akpol menjadi Program Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian perlu dikukuhkan lagi dengan model kurikulum yang berbasis pada berkarakter responsif-progresif Pancasilais. Artinya pendidikan di Akpol sebagai pelopor pendidikan yang berkarakter dengan berdasarkan pada Pancasila. Yaitu pendidikan hukum yang berkarakter resposif progresif kebutuhan hukum masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan yang Berperikemanusiaan dengan mengutamakan Persatuan berdasarkan pada Musyawarah Mufakat untuk mewujudkan Keadilan Sosial. Hal tersebut bisa dicermati dari Naskah Kurikulum Akpol Program Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian yang akan diberlakukan pada Tahun Ajaran 2013/2014.

Kata Kunci: Karakter, Kepolisian, Responsif-Progresif, Pancasilais

1) Dr. Rodiyah, SPd, SH., MSi. Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang 1

Oleh Rodiyah

ABSTRAK

A. PENDAHULUAN karakter studi ilmu hukum di

Indone-Berdasar pada logika Tupoksi sia yang harus di jalankan di PTN-Kepolisian sebagai Pelayan Pelin- PTS. Model pendidikan karakter ini dung dan Pengayom sekaligus pene- harus berdasarkan pada teori hukum gak hukum adalah mempunyai linie- yang responsif dari (Nonet dan ritas dengan pemahaman ilmu hkum. Selznick) dan progresif (Satjipto Maka penulis mempersepsikan ilmu Rahardjo) dalam pola pendidikan kepolisian pada tataran sebagaian dalam tataran Critical Legal Studies sebagai ilmu hukum terutama pada (Roberto M Unger) berdasarkan konsep penegakkan hukum. Pema- ideologi Pancasila. Konsep ini juga haman awal Ilmu Hukum adalah ilmu menjadi salah satu alternatif karakter praktek, Le Sens Pratique (Akal/ pendidikan di Akpol Program Nalar Praktis), padahal ilmu hukum Sarjana Strata 1 Terapan Kepolisian. tidak sekedar membahas masalah Model studi hukum di Indonesia teknis peradilan semata, tapi yang harus berdasarkan pada teori dari lebih penting adalah masalah teknis Nonet dan Selznick tentang hukum filosofis. Sejarah perkembangan yang responsif, serta teori kritis atau studi hukum di Indonesia selalu Critical Legal Studies (CLS) dari

dikaitkan dengan politik yang ber- Roberto Mangabeira Unger. Kedua kembang dan mempengaruhi karak- teori hukum tersebut merupakan ter studi hukum. Pada jaman Orde paradigma baru dalam hukum dan Baru hukum dimaknai praktis seba- meninggalkan paradigma lama. Da-gai penyelesaikan masalah hukum di lam paradigma baru, hukum tidak masyarakat bukan mentertibkan dan lagi dilihat sebagai entitas yang ber-menyejahterakan dengan mencip- diri sendiri, melainkan harus mampu takan keadilan dimasyarakat. Akibat- berinteraksi dengan entitas lain nya studi hukum di Perguruan Tinggi dengan tujuan pokok untuk meng-Negeri maupun Swasta-pun ber- adopsi kepentingan-kepentingan orientasi pada hukum praktif yang yang ada di dalam masyarakat (No-jauh dari filosofis. Dalam perkem- net, Philippe & Selznick, Philip, bangannya hukum harus berdasarkan 2003: 73-74.). Untuk itu, tidaklah pada kajian filosofis yang mampu heran jika hukum bisa berinteraksi secara responsif dan progresif berda- dengan politik. Hukum yang demi-sarkan Pancasila dalam mewujudkan kian ini akan lebih mampu memaha-keadilan yang menyejahterakan. mi atau menginterpretasi ketidaktaat-Konsep inilah yang nantinya an dan ketidakteraturan yang terjadi harus berkembang dalam pendidikan di masyarakat. Dengan demikian,

didalam hukum yang responsif yang sangat mendesak dan terhadap terbuka lebar ruang dialog untuk masalah-masalah keadilan sosial memberikan wacana dan adanya sambil tetap mempertahankan hasil-pluralistik gagasan sebagai sebuah hasil institusional yang telah dicapai realitas. Karena itu, hukum yang oleh kekuasaan berdasar hukum. responsif tidak lagi mendasarkan Konsep hukum responsif ini me-pertimbangan juridis belaka, melain- rupakan jawaban atas kritik bahwa kan mencoba melihat sebuah per- seringkali hukum tercerai dari kenya-soalan dari berbagai perspektif dalam taan-kenyataan pengalaman sosial rangka untuk mengejar apa yang dan dari cita-cita keadilan sendiri

,

disebut ”keadilan substantif”. Oleh (Philippe Nonet and Philip Selznick karena itu, para penegak hukum 1978: 4). Sekalipun tesis Nonet dan (termasuk polisi digarda depan) di Selznick ini bukanlah teori yang dalam menjalankan tugas keprofe- mampu menyelesaikan semua pro-siannya tentang cara pandang untuk blem praktis, tetapi memberikan per-menyikapi hukum adalah sebagai spektif dan kriteria untuk mendiag-berikut : “The law, like the traveller, nosis dan menganalisis

problem-must be ready for the morrow, it problem-must problem hukum yang muncul di

have a principle”. Jika hukum diper- masyarakat dengan penekanan khu-sepsikan sebagai sarana maka keadil- sus atas dilema-dilema institusional an harus menjadi tujuan yang mau dan pilihan-pilihan kebijakan yang dikejar, meskipun tidak selalu meng- kritis (A.A.G. Peters dan Koesriani gunakan perspektif hukum. Karena Siswosoebroto, 1990: 158).

itu diskresi dalam artian positif perlu Pada keadaan terdapatnya hukum digunakan, tetapi tetap berpedoman responsif, kesempatan untuk berpar-bahwa diskresi dilakukan untuk tisipasi dalam pembentukan hukum memperoleh keadilan substantif. lebih terbuka. Dalam pengertian ini, Dengan demikian, fleksibilitas hu- arena hukum menjadi semacam kum yang responsif itu tinggi terha- forum politik, dan partisipasi hukum dap hal-hal lain di luar hukum. mengandung dimensi politik.

De-Konsep pembangunan hukum ngan perkataan lain, aksi hukum me-yang responsif me-yang dirumuskan oleh rupakan wahana bagi kelompok atau Philippe Nonet dan Philip Selznick organisasi untuk berperan serta adalah sebuah konsep hukum yang dalam menentukan kebijaksanaan

,

memenuhi tuntutan-tuntutan agar umum (Mulyana W. Kusumah 2010: hukum dibuat lebih responsif terha- 18). Dalam konteks kebijakan hu-dap kebutuhan-kebutuhan sosial kum, pembangunan hukum

seharus-nya mencakup tiga hal. Pertama, kan pada stabilitas, semua potensi menjamin keadilan dalam masyara- masyarakat yang dapat mengusik ke-kat. Kedua, menciptakan keten- kuasaan dihadapkan pada kekuatan traman hidup dengan memelihara aparat negara, seperti TNI dan Polri. kepastian hukum. Kepastian hukum Itulah sebabnya pada orde baru berkaitan dengan efektifitas hukum banyak aktifis dan kritikus ditangkap akan terjamin hanya bila negara oleh aparat negara karena aktifitas-mempunyai sarana-sarana yang nya dianggap dapat mengganggu memadai untuk memastikan berlaku- stabilitas negara atau pemerintah. nya peraturan-peraturan yang ada. Dengan menggunakan strategi pem-Dalam hal ini aparat penegak hukum bangunan hukum ortodok yang posi-memainkan peranan penting. Ketiga, tivis-instrumentalisme hukum ditem-mewujudkan kegunaan dengan me- patkan sebagai instrumen ampuh nangani kepentingan-kepentingan untuk melaksanakan ideologi dan yang nyata dalam kehidupan bersama program negara, serta melegitimasi secara konkrit (Huijbers, Theo, 1990: visi para pihak yang memegang

116-118). kekuasaan.

Dengan bergulirnya reformasi Searah dengan teori hukum res-banyak pihak yang telah memberikan ponsif adalah teori hukum kritis kontribusi terhadap pembaharuan dengan tokohnya Roberto Manga-hukum di Indonesia, mulai dari beira Unger tentang Hukum Kritis lembaga-lembaga pemerintah, partai atau Critical Legal Studies (CLS) politik, LSM hingga calon-calon atau lebih dikenal di Indonesia Presiden dan Wapres. Munculnya dengan Gerakan Studi Hukum Kritis berbagai kontribusi pembaharuan (GSHK). Roberto M. Unger, secara hukum ini merupakan wujud kepri- terang-terangan menolak teori ten-hatinan bangsa atas keterpurukan tang pemisahan hukum dan politik kondisi hukum sejak pemerintahan (law politics distinction). Menurut-orde lama yang mencapai puncaknya nya, tidak mungkin dalam proses-pada pemerintahan orde baru. Pada proses hukum, apakah dalam mem-kedua orde itu, pembangunan hukum buat undang-undang atau menafsir-kurang menjadi fokus perhatian kannya, berlangsung dalam konteks pemerintahan. Pada orde lama, fokus bebas atau netral dari pengaruh-perhatian pemerintah pada sektor pengaruh moral, agama, dan pluralis-ekonomi, sedangkan pada orde baru, me politik. Lebih lanjut Unger fokus pemerintah dilakukan terhadap mengatakan bahwa tidak mungkin masalah stabilitas. Dengan menekan- mengisolasi hukum dari konteks di

didalam hukum yang responsif yang sangat mendesak dan terhadap terbuka lebar ruang dialog untuk masalah-masalah keadilan sosial memberikan wacana dan adanya sambil tetap mempertahankan hasil-pluralistik gagasan sebagai sebuah hasil institusional yang telah dicapai realitas. Karena itu, hukum yang oleh kekuasaan berdasar hukum. responsif tidak lagi mendasarkan Konsep hukum responsif ini me-pertimbangan juridis belaka, melain- rupakan jawaban atas kritik bahwa kan mencoba melihat sebuah per- seringkali hukum tercerai dari kenya-soalan dari berbagai perspektif dalam taan-kenyataan pengalaman sosial rangka untuk mengejar apa yang dan dari cita-cita keadilan sendiri

,

disebut ”keadilan substantif”. Oleh (Philippe Nonet and Philip Selznick karena itu, para penegak hukum 1978: 4). Sekalipun tesis Nonet dan (termasuk polisi digarda depan) di Selznick ini bukanlah teori yang dalam menjalankan tugas keprofe- mampu menyelesaikan semua pro-siannya tentang cara pandang untuk blem praktis, tetapi memberikan per-menyikapi hukum adalah sebagai spektif dan kriteria untuk mendiag-berikut : “The law, like the traveller, nosis dan menganalisis

problem-must be ready for the morrow, it problem-must problem hukum yang muncul di

have a principle”. Jika hukum diper- masyarakat dengan penekanan khu-sepsikan sebagai sarana maka keadil- sus atas dilema-dilema institusional an harus menjadi tujuan yang mau dan pilihan-pilihan kebijakan yang dikejar, meskipun tidak selalu meng- kritis (A.A.G. Peters dan Koesriani gunakan perspektif hukum. Karena Siswosoebroto, 1990: 158).

itu diskresi dalam artian positif perlu Pada keadaan terdapatnya hukum digunakan, tetapi tetap berpedoman responsif, kesempatan untuk berpar-bahwa diskresi dilakukan untuk tisipasi dalam pembentukan hukum memperoleh keadilan substantif. lebih terbuka. Dalam pengertian ini, Dengan demikian, fleksibilitas hu- arena hukum menjadi semacam kum yang responsif itu tinggi terha- forum politik, dan partisipasi hukum dap hal-hal lain di luar hukum. mengandung dimensi politik.

De-Konsep pembangunan hukum ngan perkataan lain, aksi hukum me-yang responsif me-yang dirumuskan oleh rupakan wahana bagi kelompok atau Philippe Nonet dan Philip Selznick organisasi untuk berperan serta adalah sebuah konsep hukum yang dalam menentukan kebijaksanaan

,

memenuhi tuntutan-tuntutan agar umum (Mulyana W. Kusumah 2010: hukum dibuat lebih responsif terha- 18). Dalam konteks kebijakan hu-dap kebutuhan-kebutuhan sosial kum, pembangunan hukum

seharus-nya mencakup tiga hal. Pertama, kan pada stabilitas, semua potensi menjamin keadilan dalam masyara- masyarakat yang dapat mengusik ke-kat. Kedua, menciptakan keten- kuasaan dihadapkan pada kekuatan traman hidup dengan memelihara aparat negara, seperti TNI dan Polri. kepastian hukum. Kepastian hukum Itulah sebabnya pada orde baru berkaitan dengan efektifitas hukum banyak aktifis dan kritikus ditangkap akan terjamin hanya bila negara oleh aparat negara karena aktifitas-mempunyai sarana-sarana yang nya dianggap dapat mengganggu memadai untuk memastikan berlaku- stabilitas negara atau pemerintah. nya peraturan-peraturan yang ada. Dengan menggunakan strategi pem-Dalam hal ini aparat penegak hukum bangunan hukum ortodok yang posi-memainkan peranan penting. Ketiga, tivis-instrumentalisme hukum ditem-mewujudkan kegunaan dengan me- patkan sebagai instrumen ampuh nangani kepentingan-kepentingan untuk melaksanakan ideologi dan yang nyata dalam kehidupan bersama program negara, serta melegitimasi secara konkrit (Huijbers, Theo, 1990: visi para pihak yang memegang

116-118). kekuasaan.

Dengan bergulirnya reformasi Searah dengan teori hukum res-banyak pihak yang telah memberikan ponsif adalah teori hukum kritis kontribusi terhadap pembaharuan dengan tokohnya Roberto Manga-hukum di Indonesia, mulai dari beira Unger tentang Hukum Kritis lembaga-lembaga pemerintah, partai atau Critical Legal Studies (CLS) politik, LSM hingga calon-calon atau lebih dikenal di Indonesia Presiden dan Wapres. Munculnya dengan Gerakan Studi Hukum Kritis berbagai kontribusi pembaharuan (GSHK). Roberto M. Unger, secara hukum ini merupakan wujud kepri- terang-terangan menolak teori ten-hatinan bangsa atas keterpurukan tang pemisahan hukum dan politik kondisi hukum sejak pemerintahan (law politics distinction). Menurut-orde lama yang mencapai puncaknya nya, tidak mungkin dalam proses-pada pemerintahan orde baru. Pada proses hukum, apakah dalam mem-kedua orde itu, pembangunan hukum buat undang-undang atau menafsir-kurang menjadi fokus perhatian kannya, berlangsung dalam konteks pemerintahan. Pada orde lama, fokus bebas atau netral dari pengaruh-perhatian pemerintah pada sektor pengaruh moral, agama, dan pluralis-ekonomi, sedangkan pada orde baru, me politik. Lebih lanjut Unger fokus pemerintah dilakukan terhadap mengatakan bahwa tidak mungkin masalah stabilitas. Dengan menekan- mengisolasi hukum dari konteks di

mana ia eksis. Hubungan hukum ism dan objectivism. Inti serangan

dengan lingkungan sosial menurut Unger terhadap formalisme dan Unger dikonstruksikan sebagai “ne- objektivisme yaitu untuk

menunjuk-gotiable, subjective and poliy-depen- kan tidak sahihnya proyek ahli

hu-,

kum klasik abad ke-19, yang

dent as politics”( Roberto M. Unger

membayangkan bahwa di dalam

1999: 15-17).

struktur hukum sudah terpasang-Menurut Unger ada dua alasan

tetap (built) demokrasi dan pasar. utama mengapa tidak mungkin

mem-Percobaan memberlakukan konsep bayangkan netralitas dan objektivitas

ini menjadi perincian teknis hukum, hukum, seperti dikutip di bawah ini:

menurut Unger justru berakhir

de-First, procedure is inseparable

ngan memperlihatkan kedok

kepal-from out came: every method makes

suannya.

certain legislative choices more

Unger menentang formalisme

likely than others... Second, each law

dan objektivisme itu dengan titik

making system it self embodies

tolak dari pemikiran bahwa setiap

certain values; it incorporates a view

cabang doktrin harus bersandar

of how power ought to be distributed

diam-diam, kalau tidak secara

te-in the society and how conflicts

rang-terangan, pada suatu

bentuk-should be resolved.”

bentuk interaksi manusia yang riil Dengan mengacu kepada

proses-dan realitis di biproses-dang kehidupan proses empiris pembuatan kebijakan

realistik masyarakat tempat doktrin hukum, Unger menunjukkan betapa

itu berlaku. Itu artinya diperlukan tidak realistiknya teori pemisahan

suatu teori sosial yang dapat hukum dan politik, analisis hukum

dipercaya. Katakanlah misalnya, tidak hanya memusatkan pengkajian

seorang ahli hukum tata negara, ia pada segi-segi doktrinal dan

asas-membutuhkan teori tentang republik asas hukum semata, sebab hukum

demokratis yang menggambarkan bukanlah sesuatu yang terjadi secara

hubungan yang tetap antara masya-alamiah, melainkan direkonstruksi

rakat dan negara, sebelum ia mema-secara sosial. Analisis mengenai

hami atau membangun suatu doktrin bagaimana hukum itu direkonstruksi

hukum di bidang tata negara. dan bagaimana rekonstruksi itu

Unger mengusulkan peninjauan sebetulnya diperlukan untuk

meng-ulang terhadap teori-teori sosial absahkan suatu tatanan.

utama, yang menawarkan perubahan Roberto M. Unger mengajukan

linear masyarakat. Unger tidak kritik keras terhadap tradisi hukum

mempercayai keniscayaan jalannya liberal, khususnya terhadap

formal-sejarah - sebagaimana yang menjadi bangunan mental dan sosialnya

premis teori-teori sosial seperti sendiri serta menempatkan

per-Marxisme misalnya. Unger juga aturan dan bangunan lain sebagai

terobsesi oleh pencarian alternatif gantinya”.