BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.2 Strategi Program Pengembangan Sekolah Ramah Anak Di SMA
4.2.2 Program Pengembangan Sekolah Ramah Anak di SMA Kota
Dengan ditetapkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, diharapkan kondisi dan perlindungan anak menjadi lebih baik karena undang-undang tersebut memuat perlindungan terbaik bagi anak, yaitu hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, partisipasi serta perlindungan anak dari kekerasan.
Dalam upaya melindungi anak dari kekerasan, program Sekolah Ramah Anak secara khusus berupaya mencegah kekerasan pada anak di sekolah. Aksesibilitas di sekolah lebih mudah dibandingkan di rumah, sekolah mempunyai peran strategis dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Guru-guru perlu mengetahui tentang pencegahan kekerasan, termasuk cara alternatif dalam mendidik dan mendisiplinkan peserta didik.
Di bawah ini beberapa program pengembangan sekolah ramah anak dan implementasinya kedalam delapan standar pendidikan nasional.
1. Standar kompetensi lulusan
Standar ini digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan sehingga dengan adanya standar ini diharapkan lulusan memiliki sikap anti kekerasan, lulusan memiliki sikap toleransi yang tinggi, lulusan memiliki sikap peduli lingkungan, lulusan
28
memiliki sikap setia kawan dan lulusan memiliki sikap bangga terhadap sekolah dan almamater.
2. Standar Isi
Standar ini merupakan kerangka dasar dan struktur kurikulum yang memuat beban belajar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan atau kurikulum yang terbaru, kemudian dimuat dalam kalender pendidikan atau kalender akademik. Dalam standar isi mencantumkan pelaksanaan Sekolah Ramah Anak dan dasar hukum mencantumkan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA).
3. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka mewujudkan Sekolah Ramah Anak atau sekolah yang bebas dari kekerasan:
a. Kekerasan fisik (physical abuse)
Secara sengaja dilakukan terhadap bagian tubuh anak yang bisa menghasilkan luka fisik pada anak misalnya: memukul, mencekik, menendang, menyundut anak dengan rokok, dan lain-lain.
b. Kekerasan sexual (sexual abuse)
Jika anak digunakan untuk tujuan seksual bagi orang yang lebih tua usianya. Misalnya memaparkan anak pada kegiatan atau prilaku seksual, memegang atau raba anak atau mengundang anak melakukannnya.
29
Termasuk disini adalah penyalahgunaan anak untuk pornografi, pelacuran atau bentuk ekploitasi seksual lainnya.
c. Kekerasan emosional (emotional abuse)
Meliputi serangan terhadap perasaan dan harga diri anak. Perlakuan salah ini sering luput dari perhatian padahal kejadian bisa sangat sering karena biasannya terkait pada ketidakmampuan dan atau kurang efektifnya guru dalam menghadapi anak. Bentuknya bisa mempermalukan anak, penghinaan, penolakan, mengatakan anak “bodoh” “malas”, “nakal”, menghardik, menyumpahi anak dan lain-lain. Untuk itulah pendidik dan tenaga kependidikan harus memahami Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA).
4. Standar Proses
Proses pembelajaran interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berperan aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat, perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Paling tidak ada beberapa ciri yang harus dimiliki apabila suatu ketika ingin menjadi Sekolah Ramah Anak yaitu:
a. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan.
b. Memberi bantuan berupa sandang seperti seragam, sepatu, tas, buku dan lain-lain. Juga tersedia fasilitas kesehatan sebagai bentuk bantuan pangan. c. Memberi ruang kepada peserta didik untuk berkreasi, dan partisipasi sesuai
30
d. Memberikan perlindungan dan rasa aman bagi peserta didik. e. Menghargai keragaman dan memastikan kesetaraan.
f. Perlakuan adil bagi peserta didik, cerdas lemah, kaya-miskin, normal-cacat, dan anak pejabat dan anak buruh.
g. Penerapan norma agama, sosial, dan budaya kota Tegal.
h. Kasih sayang kepada peserta didik, memberikan perhatian bagi mereka yang lemah dalam proses belajar karena memberikan hukuman fisik maupun non fisik bisa menjadikan mereka trauma.
i. Saling menghormati hak-hak peserta didik baik antar peserta didik, antar tenaga pendidik serta antar tenaga pendidik dengan peserta didik.
j. Terjadi proses belajar sedemikian rupa sehingga peserta didik merasa senang mengikuti pelajaran, tidak ada rasa takut, cemas dan was-was, tidak merasa rendah diri karena bersaing dengan teman lain.
k. Membiasakan etika mengeluarkan pendapat dengan tata cara: - Tidak memotong pembicaraan orang.
- Mengacungkan tangan saat ingin berpendapat, berbicara setelah dipersilahkan.
- Mendengarkan pendapat orang lain.
l. Proses belajar mengajar didukung oleh media ajar seperti buku pelajaran dan alat bantu ajar atau peraga sehingga membantu daya serap peserta didik.
31 5. Standar Sarana dan Prasarana
Standar sarana dan prasarana yang harus dipenuhi untuk menjadi sekolah ramah anak adalah:
a. Penataan Kelas
- Peserta didik dilibatkan dalam penataan bangku, dekorasi, dan kebersihan agar betah di kelas.
- Penataan tempat duduk yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan.
- Peserta didik dilibatkan dalam memajang karya, hasil ulangan/tes, bahan dan buku sehingga artistik dan menarik serta menyediakan pojok baca. - Bangku dan kursi ukurannya disesuaikan dengan ukuran postur anak Tegal
serta mudah untuk digeser guna menciptakan kelas yang dinamis. b. Lingkungan Sekolah
- Peserta didik dilibatkan dalam pendapat untuk menciptakan lingkungan sekolah (penentuan warna dinding kelas, hiasan, kotak saran, majalah dinding, taman kebun sekolah.
- Guru terlibat langusng dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan memberikan contoh seperti memungut sampah, membersihkan meja sendiri.
- Fasilitas sanitasi seperti toilet, tempat cuci, disesuaikan dengan postur dan fasilitas.
- Lingkungan sekolah bebas asap rokok.
32
- Penerapan kebijakan/peraturan yang mendukung kebersihan dan kesehatan yang disepakati, dikontrol dan dilaksanakan oleh semua peserta didik dan warga sekolah.
- Penerapan kebijakan/peraturan yang melibatkan peserta didik, misalnya tata tertib sekolah.
- Menyediakan tempat dan sarana bermain karena bermain menjadi dunia anak agar memperoleh kesenangan, persahabatan, memeperoleh teman baru, merasa enak, belajar keterampilan baru.
- Kamar mandi bersih bebas bau.
- Ruang perpustakaan, ruang UKS, ruang Laboratorium, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi merupakan tempat yang representatif bagi peserta didik.
- Ruang kantin bersih, bebas dari debu dan lalat, kantin yang menjual makanan yang tidak membahayakan bagi kesehatan peserta didik.
- Menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik makan tidak sambil berdiri.
- Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk beraktivitas. 6. Standar Pembiayaan
Dalam standar pembiayaan, paling tidak ada tiga unsur yang perlu diperhatikan agar sekolah dikatakan sebagai sekolah ramah anak yaitu:
a. Peserta didik tidak dilibatkan dalam urusan keuangan yang terkait dengan kewajiban orang tua/ wali murid.
33
b. Infaq tidak digunakan untuk alasan mencari dana tambahan (tidak ada tekanan dan sindirian bagi peserta didik yang tidak mampu memberi infaq).
c. Program wisata dibahas secara transparan dengan orang tua murid dan peserta didik (disinyalir ada unsur “paksaan”).
7. Standar Pengelolaan
1. Tata tertib guru dipajang agar peserta didik dapat membaca.
2. Sanksi yang diberikan kepada peserta didik yang melanggar tata tertib, disepakati antara guru, peserta didik dan orang tua pada awal tahun pelajaran.
3. Penerapan konsekuensi logis bagi pelanggaran tata tertib, contoh penerapan “poin”.
4. Pemberian “reward” disosialisasikan kepada masyarakat sekolah pada awal tahun pelajaran.
5. Program sekolah/kebijakan sekolah disosialisasikan kepada masyarakat sekolah.
8. Standar Penilaian Pendidikan
Standar penlitian pendidikan merupakan standar nasional penilaian pendidikan tentang mekanisme prosedur dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik, diantaranya:
a. Memberikan reward bagi peserta didik berprestasi baik akademik maupun non akademik.
34
b. Memberikan bimbingan dan motivasi kepada peserta didik yang kurang berhasil dalam evaluasi.
c. Tidak mempermalukan peserta didik dihadapan temannya terhadap prestasinnya yang kurang.
d. Guru secara transparan menjelaskan kepada peserta didik kriteria penilaian.
e. Mengoreksi dan menilai pekerjaan rumah.
f. Peserta didik diberi kesempatan menilai kinerja guru.
Agar dapat tercipta suasana pembelajaran yang mengarah kepada sekolah ramah anak, maka guru harus mampu menciptakan suasanan pembelajaran yang kondusif. Maka disinilah guru memiliki peran yang sangat strategis. Dari hasil analisis dan diskusi dengan beberapa guru SMA di Kota Tegal maka, peranan tersebut adalah:
1. Guru sebagai fasilitator, yaitu memberi akses ke sumber belajar, alat dan bahan serta program kerja.
2. Guru sebagai penasehat, yaitu membantu mengatasi masalah dan saran alternatif.
3. Guru sebagai pengelola, yaitu melakukan pengecekan, memonitor dan memberikan umpan balik.
4. Guru sebagai pemandu, yaitu menyarankan jadwal untuk melaksanakan kegiatan atau penelitian, menulis laporan dan lain-lain.
5. Guru sebagai pemeriksa, yaitu memeriksa, menilai dan memberikan umpan balik.
35
6. Guru sebagai pengarah, yaitu menentukan lingkup bahasan yang ingin dipelajari atau memberi gagasan.
7. Guru sebagai pemberi kebebasan kepada peserta didik dalam mengambil keputusan.
8. Guru sebagai pendukung dalam mendorong, memfokuskan perhatian dan mendiskusikan gagasan peserta didik.
Didalam melaksanakan peran di atas, guru harus memperhatikan konsekuensi logis yang biasanya di sekolah-sekolah dikenal dengan istilah hukuman atau punishment sehingga suasana kondusif di sekolah tercipta dengan baik. Berikut penulis sajikan perbedaan anatara hukuman dengan konsekuensi logis sebagai panduan guru dalam melakukan punishment sehingga bisa menciptakan suasana sekolah yang ramah anak.
Hukuman Konsekuensi Logis
Menitik beratkan kekuasan orang dewasa Menitikberatkan pada realitas dan aturan
Sembarangan dan tidak berkaitan dengan tindakan.
Secara logis berkaitan dengan perilaku salahnya.
Menitik beratkan pada perilaku salah yang telah lalu.
Memperhatikan masa sekarang dan masa depan.
Ancaman dan sangsi. Berkomunikasi atas rasa hormat, kemauan baik, tidak mengancam peserta didik dengan harga dirinya. Pemenuhan secara paksa. Dihadapkan pada pilihan.
36