BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
6. Program Penguatan Pendidikan Karakter
Penguatan Pendidikan Karakter sering disebut dengan istilah PPK. Tahun 2010 merupakan pemusatan pendidikan karakter di jantung pendidikan nasional semakin kuat karena pemerintah Indonesia mencanangkan dan melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter dengan berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN). Tim PPK Kemendikbud (2017: 17) mengungkapkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter membantu mengembangkan potensi peserta didik dengan mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan menyelaraskan berbagai program pendidikan karakter tanpa mengabaikan dimensi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Koesoema (2018a: 8) bahwa gerakan Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan perilaku dalam pendidikan. Sedangkan prioritas gerakan PPK yang
ditetapkan oleh Kemendikbud yakni terdapat 5 (lima) nilai-nilai utama karakter yang saling berkaitan sehingga membentuk jejaring nilai yaitu nilai religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Hal tersebut sejalan dengan gagasan Bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan sebagai upaya untuk memajukan dan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran, dan tubuh anak dengan “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (mengerti, merasakan, dan melakukan). Oleh karena itu, gerakan PPK membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam membentuk karakter yang santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong sesuai dengan tujuan dari Gerakan Revolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar belakang Penguatan Pendidikan Karakter yakni adanya kebijakan pemerintah Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa pada tahun 2010 yang merupakan bagian integral Nawacita untuk membentuk dan mengarahkan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) dalam menanamkan nilai-nilai utama PPK.
b. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter
Koesoema (2007: 118) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter sudah sering didengungkan sebagai suatu kemendesakan dalam kinerja pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mencanangkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
secara bertahap mulai tahun 2016. Hal tersebut didukung oleh Mulyasa (dalam Larasati, dkk, 2014: 6) bahwa Penguatan Pendidikan Karakter tingkat satuan pendidikan mengarahkan pada pembentukkan budaya sekolah dengan menerapkan nilai-nilai utama PPK yang tercermin dalam perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol. Sedangkan menurut Tilaar (dalam Larasati, dkk, 2014: 5) pendidikan dan pengajaran di satuan pendidikan menitikberatkan pada tindakan dan perilaku peserta didik dalam mengimplementasikan pendidikan karakter.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka peneliti berpendapat bahwa Penguatan Pendidikan Karakter adalah salah satu cara yang dilakukan sekolah untuk mengintegrasikan, memperdalam, memperluas program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah ada sebelumnya sehingga dapat memperkuat karakter siswa dengan melibatkan kerja sama antara sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Tim PPK Kemendikbud (2017: 17) menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah dalam memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila. Berdasarkan penjelasan di atas maka setiap individu harus mempunyai karakter yang dapat membawa implikasi positif yang meliputi keterpaduan empat nilai. Keterpaduan empat nilai tersebut secara ringkas ditunjukkan pada gambar 2.1 yakni:
Gambar 2.1 Keterpaduan Empat Nilai-nilai Karakter Olah Hati, Olah Pikir, Olah Raga, dan Olah Karsa
Berdasarkan gambar 2.1 di atas dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter harus mengsinergikan keterpaduan empat nilai karakter yakni olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga untuk memperkuat karakter peserta didik dengan melibatkan dukungan dari sekolah, orang tua, maupun masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
c. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter
Tim PPK Kemendikbud (2017: 16) mengemukakan bahwa gerakan Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai karakter sebagai dimensi pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan. Adapun tujuan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai berikut:
1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.
2) Membangun kembali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.
3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), dan olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).
4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.
5) Membangun jejaring perlibatan masyarakat (publik) sebagai sumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan Penguatan Pendidikan Karakter adalah mengarahkan peserta didik pada pembentukan karakter dan meningkatkan mutu proses pendidikan yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.
d. Nilai-nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter
Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan. Adapun nilai utama karakter adalah sebagai berikut.
1) Religiusitas
Tim PPK Kemendikbud (2017: 8) menyatakan bahwa nilai karakter religiusitas mencerminkan sikap keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa ditunjukkan dengan perilaku melaksanakan agama dan kepercayaan yang dianutnya, menghargai perbedaan agama,
mempunyai sikap toleran yang tinggi terhadap pelaksana agama lain, dan hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.
Nilai religiusitas yang awalnya adalah religius, tetapi sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 penyebutan istilah nilai religius direvisi menjadi religiusitas. Subnilai religiusitas antara lain toleransi, percaya diri, kerja sama, mencintai lingkungan, dan anti kekerasan.
2) Nasionalisme
Tim PPK Kemendikbud (2017: 8) menyatakan bahwa nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
Nilai nasionalisme yang awalnya adalah nasionalis, tetapi sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 penyebutan istilah nilai nasionalis direvisi menjadi nasionalisme. Subnilai nasionalisme meliputi cinta tanah air, patuh terhadap hukum, disiplin, dan menghormati keberagaman budaya, suku, dan agama.
3) Kemandirian
Tim PPK Kemendikbud (2017: 9) bahwa nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak mudah bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita.
Nilai kemandirian yang awalnya adalah mandiri, tetapi sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 penyebutan istilah nilai mandiri direvisi menjadi kemandirian. Tim PPK Kemendikbud (2017: 9) mengungkapkan bahwa subnilai kemandirian meliputi kerja keras, tangguh, tidak mudah menyerah, kreatif, profesional, dan pemberani. 4) Gotong Royong
Tim PPK Kemendikbud (2017: 9) menyatakan bahwa nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan nyata saling membantu dengan semangat kerja sama dalam menyelesaikan persoalan. Berdasarkan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 penyebutan istilah nilai gotong royong tidak mengalami perubahan istilah. Subnilai gotong royong meliputi tindakan kerja sama, tolong-menolong, solidaritas, empati, dan musyawarah sebagai mufakat. 5) Integritas
Tim PPK Kemendikbud (2017: 9) menyatakan bahwa nilai karakter integritas merupakan nilai yang menjadi dasar seseorang dalam berperilaku sebagai sosok yang dapat dipercaya baik dalam tindakan, perkataan, dan perkerjaan sesuai dengan nilai kebenaran. Berdasarkan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 penyebutan istilah nilai integritas tidak mengalami perubahan istilah. Subnilai integritas meliputi kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa 5 (lima) nilai utama Pengutan Pendidikan Karakter saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan karena membentuk suatu keutuhan pribadi. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional.
e. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Implementasi PPK
Tim PPK Kemendikbud (2017: 10) menyatakan bahwa dalam pengembangan dan implementasi gerakan PPK mempunyai prinsip-prisip yang mendasari. Beberapa prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. 1) Nilai-nilai Moral Universal
Fokus gerakan PPK terdapat pada penguatan nilai-nilai moral universal dengan didukung oleh setiap individu dari berbagai macam latar belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya. 2) Holistik
Pelaksanaan gerakan PPK dilaksanakan secara holistik dengan arti pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) yang dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak, baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun kolaborasi dengan berbagai komunitas di luar lingkungan pendidikan.
3) Terintegrasi
Gerakan PPK merupakan poros pelaksanaan pendidikan nasional terutama pada pendidikan dasar dan menegah yang dikembangkan,
dilaksanakan dengan memadukan, menghubungkan, dan mengutuhkan berbagai elemen pendidikan, bukan merupakan program tempelan dan tambahan dalam proses pelaksanaan pendidikan.
4) Partisipatif
Pelaksanaan gerakan PPK mengikutsertakan dan melibatkan publik seluas-luas sebagai pemangku kepentingan pendidikan. Pihak-pihak terkait seperti kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah dapat menyepakati prioritas nilai-nilai utama karakter dan kekhasan sekolah yang diperjuangkan dalam gerakan PPK, menyepakati bentuk dan strategi pelaksanaan gerakan PPK, dan pembiayaan gerakan PPK.
5) Kearifan Lokal
Gerakan PPK bertumpu dan responsif pada kearifan lokal nusantara yang demikian beragam dan majemuk agar kontekstual dan membumi. Gerakan PPK harus bisa mengembangkan dan memperkuat kearifan lokal nusantara agar dapat berkembang dan berdaulat sehingga dapat memberi identitas dan jati diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia. 6) Kecakapan Abad XXI
Gerakan PPK mengembangkan kecakapan yang dibutuhkan peserta didik untuk hidup pada abad XXI seperti kecakapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapan berkomunikasi (communication skill), penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).
7) Adil dan Inklusif
Pengembangan dan pelaksanaan gerakan PPK berdasarkan prinsip keadilan, non-diskriminasi, non-sektarian, menghargai kebinekaan, dan perbedaan (inklusif), menjunjung harkat dan martabat manusia.
8) Selaras dengan Perkembangan Peserta didik
Pengembangan dan pelaksanaan gerakan PPK selaras dengan perkembangan peserta didik baik perkembangan biologis, psikologis, maupun sosial, agar tingkat kecocokan dan keberterimaannya tinggi dan maksimal. Dalam hubungan ini kebutuhan-kebutuhan perkembangan perlu memperoleh perhatian intensif.
9) Terukur
Pengembangan dan pelaksanaan gerakan PPK berlandaskan prinsip keterukuran agar dapat diamati dan diketahui proses dan hasilnya secara objektif. Dalam hubungan ini komunitas sekolah mendeskripsikan nilai-nilai utama karakter sebagai prioritas pengembangan di sekolah dalam sebuah sikap dan perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif, mengembangkan program-program penguatan nilai-nilai karakter bangsa yang dilaksanakan dan dicapai oleh sekolah, dan mengerahkan sumber daya yang dapat disediakan oleh sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan dan melaksanakan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter perlu menggunakan 9 prinsip yang bertujuan agar siswa dapat belajar melalui proses berpikir, bersikap sesuai dengan nilai-nilai karakter.
f. Basis Penguatan Pendidikan Karakter
Proses pelaksanaan program Penguatan Pendidikan Karakter secara utuh dan menyeluruh mengembangkan pendekatan pada setiap basis yakni berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan ketiga basis program Penguatan Pendidikan Karakter:
1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Kelas merupakan ruang tempat belajar siswa dengan karakteristik yang beragam. Guru dan siswa merupakan pelaku utama pengembangan pendidikan karakter di kelas. Koesoema (2018a: 9-10) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter berbasis kelas atau sering disebut dengan locus educations merupakan proses terjadinya pembaharuan pendidikan dari dalam lingkungan pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Tim PPK Kemendikbud (2017: 28) bahwa fokus pendidikan karakter berbasis kelas meliputi interaksi saat proses pembelajaran di kelas antara guru dan siswa, siswa dan sesama siswa, dinamika pembelajaran, cara-cara evaluasi, dan penilaian selama proses pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas adalah sebuah proses interaksi, dinamika, dan komunikasi antara guru dan siswa saat di kelas dalam struktur kurikulum. Pengintegrasian program PPK berbasis kelas terbagi menjadi 5 aspek yakni aspek kurikulum, aspek pembiasaan kelas, aspek manajemen kelas, aspek model/metode pembelajaran, dan aspek layanan bimbingan dan konseling. Dalam mengintegrasikan
program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Pengintegrasian PPK dalam kurikulum
Suhendra (2019: 24) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan pengalaman belajar yang dilaksanakan secara terorganisasi dalam bentuk tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah. Menurut Tim PPK Kemendikbud (2017: 27) bahwa seorang guru dalam mengintegrasikan nilai-niai utama PPK ke dalam kurikulum bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan pengetahuan dengan menanamkan kesadaran siswa dan mempraktikkan nilai-nilai karakter pada saat proses pembelajaran. Guru mempunyai peran penting dalam mengimplementasikan suatu dokumen kurikulum pada proses pembelajaran. Adapun langkah-langkah menerapkan PPK melalui pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum adalah sebagai berikut:
(1) Melakukan analisis KD dengan mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran seperti KD yang tercantum dalam mata pembelajaran. Berikut ini merupakan contoh pengimplementasian pendidikan karakter berbasis kelas dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Tabel 2.1 Contoh Pengintegrasian Nilai Karakter ke dalam RPP
Mata
Pelajaran No
Kompetensi
Dasar No Indikator Pencapaian
Nilai Karakter PPKn 1.1 Mensyukuri ditetapkannya bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, dan padi kapas sebagai lambang negara “Garuda Pancasila” 1.1.1 Menunjukkan rasa syukur atas keberadaan diri sebagai bangsa Indonesia Hidup rukun dengan pemeluk agama lain (religiusitas) 1.1.2 Membuat ungkapan syukur dalam doa untuk bangsa Indonesia
2.1
Bersikap santun, rukun, mandiri, dan percaya diri sesuai dengan sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila” dalam kehidupan sehari-hari 2.1.1 Menunjukkan sikap santun dalam berinteraksi dengan keluarga dan teman
Menghargai keberagamaan, saling tolong-menolong tanpa melihat agama, suku, dan adat istiadat (toleransi) 2.1.2 Menunjukkan sikap rukun dan saling menghormati di sekolah 3.1 Mengenal simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila” 3.1.1 Mengucapkan bunyi tulisan yang terdapat pada pita burung Garuda Cinta tanah air, menjaga persatuan, (nasionalisme) 3.1.2 Menjelaskan arti
Bhineka Tunggal Ika
4.1 Menceritakan simbol sila Pancasila pada lambang Garuda sila Pancasila 4.1.1 Menceritakan gambar
simbol sila Pancasila Kerja sama (gotong royong) 4.1.2
Memberi contoh perilaku sesuai simbol Garuda Pancasila Bahasa Indonesia 3.1 Menjelaskan kegiatan persiapan membaca permulaan 3.1.1 Menjelaskan kegiatan persiapan membaca Kemandirian, percaya diri 3.1.2 Menjelaskan cara-cara
membaca yang baik
Kemandirian, percaya diri
4.1.1
Mendemonstrasikan cara membaca yang baik
Integritas, percaya diri
4.1.2
Membaca sebuah teks dengan menggunakan cara membaca yang benar
Integritas, percaya diri
Berdasarkan pada tabel 2.1 di atas merupakan contoh pengintegrasian nilai karakter ke dalam RPP kelas 1 semester 1 terdapat pada mata pelajaran PPKn membahas materi simbol sila-sila Pancasila-sila dan Bahasa Indonesia membahas materi kegiatan persiapan membaca permulaan. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam mata pelajaran PPKn antara lain religiusitas, toleransi, nasionalisme, dan gotong royong. Selain itu nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain kemandirian, percaya diri, dan integritas. (2) Mendesain rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
memfokuskan penguatan karakter dengan memilih model/metode pembelajaran. Misalnya dengan mempelajari KD 4.1.2 siswa diminta untuk memberikan contoh perilaku sesuai simbol dalam lambang Garuda Pancasila secara berpasangan. Model/metode pembelajaran kooperatif yang digunakan menggunakan think pair share (TPS). Pengelolaan kelas yang dapat digunakan guru dalam menanamkan nilai-nilai karakter yakni meminta perwakilan setiap kelompok mengambil kertas yang berisi nilai-nilai PPK. Kemudian setiap siswa secara berpasangan memberikan contoh perilaku tersebut sesuai dengan nilai-nilai PPK. Nilai karakter yang muncul dalam memilih model/metode pembelajaran think pair share (TPS) yakni kerja sama dalam sebuah tim, percaya diri, menghargai orang lain yang sedang menyampaikan pendapat, dan kejujuran dalam
menyampaikan contoh perilaku sesuai simbol dalam lambang Garuda Pancasila.
(3) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario dalam RPP. Dalam melaksanakan pembelajaran pada KD 4.1.2 guru menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan metode think pair share (TPS). Maka pembelajaran yang dilakukan guru menerapkan model/ metode pembelajaran sesuai dengan RPP yang sudah dirancang. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan scenario RPP yakni toleransi, kerja sama, religiusitas, percaya diri, kemandirian, dan kejujuran.
(4) Melaksanakan penilaian otentik pada proses pembelajaran. Lingkup penilaian otentik mencakup aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Proses penilaian otentik menunjukkan pencapaian hasil belajar setiap siswa.
(5) Melakukan refleksi dan evaluasi proses pembelajaran. Setelah melakukan proses pembelajaran guru mengajak siswa melakukan refleksi dengan memahami dan menghayati nilai-nilai yang menjadi fokus pembelajaran hari itu.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengintegrasian kurikulum dalam PPK harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh guru dalam desain RPP. Selain itu, guru perlu memahami langkah-langkah dalam rangka mendesain pendidikan karakter berbasis kelas yang terintegrasi dalam kurikulum.
b) Pengintegrasian PPK dalam pembiasaan kelas
Pembiasaan kelas dibutuhkan demi berlangsungnya proses pembelajaran yang berpengaruh pada kehidupan siswa di masa mendatang. Pembiasaan kelas yang baik akan menuju ke arah disiplin diri sendiri (self discipline). Menurut Gunawan (2019: 304) pembiasaan kelas yang dilakukan guru dalam mengimplementasikan nilai-nilai PPK seperti siswa berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi, siswa masuk ke kelas satu persatu dengan tertib, guru memeriksa kerapian rambut, kebersihan kuku, dan kebersihan baju, berdoa bersama yang dipimpin ketua kelas atau salah seorang siswa, memberikan salam pada guru, pada saat pembelajaran berlangsung siswa tetap tertib tidak ribut. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam melakukan pembiasaan kelas seperti religiusitas, jujur, toleransi, disiplin, gotong royong, kemandirian, kreatif, dan tanggung jawab.
c) Pengintegrasian PPK dalam manajemen kelas
Seorang guru harus dapat melakukan pengelolaan ruang kelas atau sering disebut dengan manajemen kelas. Menurut Gunawan (2019: 2) manajemen kelas merupakan serangkaian cara yang digunakan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi kelas sehingga memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik. Tim PPK Kemendikbud (2017: 28) mengemukakan pendapat bahwa dalam pengelolaan dan pengaturan kelas dapat memberikan penguatan nilai-nilai karakter. Pendapat tersebut sejalan dengan Koesoema
(2018a: 146) bahwa fungsi manajemen kelas dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan fungsi manajemen kelas secara tidak langsung untuk membantu siswa mengetahui, memahami, mempraktekkan nilai-nilai yang membentuk karakter melalui diskusi, dialog, dan perencanaan pengalaman belajar.
Dalam proses pengelolaan kelas atau manajemen kelas seorang guru perlu melakukan tindakan seperti membuat peraturan kelas agar kelas tidak menjadi kacau, kenyamanan ruang kelas, pengaturan tata letak bangku serta posisi tempat duduk siswa, dan pembentukan kelompok belajar. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas merupakan tindakan yang dilakukan oleh guru dalam menjaga lingkungan belajar agar tercipta suasana belajar kondusif. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam melakukan manajemen kelas seperti disiplin, kemandirian, tanggung jawab, demokratis, dan jujur.
d) Pengintegrasian PPK dalam layanan bimbingan dan konseling Maliki (2016: 89) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar diperuntukkan bagi semua siswa baik yang mempunyai masalah atau tidak sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan kebiasaan belajar yang baik. Menurut Irham dan Novan (2014: 70) bahwa pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling memerlukan kerja sama antara guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling yang didukung manajemen sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan bentuk upaya dalam mengarahkan perkembangan siswa menuju perubahan yang positif.
Pendidikan karakter melalui bimbingan dan konseling dapat dilakukan melalui 1) layanan dasar, 2) layanan responsif, 3) layanan peminatan, dan 4) dukungan sistem. Layanan bimbingan dan konseling merupakan momen utama dalam mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK. Dengan adanya layanan bimbingan dan konseling dapat membantu peserta didik memahami dan mengembangkan potensi, minat, dan bakat sesuai dengan karakteristik kepribadian, membantu peserta didik mengembangkan kemampuan dalam hubungan sosial yang sehat dengan teman sebaya, keluarga, maupun masyarakat, membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar, membantu peserta didik mengambil keputusan karier. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam melakukan layanan bimbingan dan konseling seperti tanggung jawab, integritas, displin, dan cinta damai.
e) Pengintegrasian PPK dalam model/metode pembelajaran
Penguatan Pendidikan Karakter yang terintegrasi dalam kurikulum dapat dilakukan ketika pembelajaran di kelas dengan menggunakan model/metode pembelajaran. Menurut Siregar dan Rindi (2019: 6) metode pembelajaran merupakan cara menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan menurut Koesoema (2018a: 173) dalam
pemilihan model/metode pembelajaran yang tepat akan semakin memperkuat pembentukan karakter siswa. Dengan didukung kebijakan PPK oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017: 29) bahwa model/metode pembelajaran yang dapat membantu pembentukan karakter seperti pendekatan pembelajaran saintifik, discovery learning, berbasis masalah, berbasis proyek, dan kooperatif. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model/metode pembelajaran merupakan skenario pembelajaran yang digunakan guru harus tepat sesuai dengan kebutuhan siswa. Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam penggunaan model/metode pembelajaran seperti rasa ingin tahu, integritas, kerja keras, demokratis, dan menghargai prestasi.
2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Menurut Yaumi (2014: 14) sekolah sebagai satuan pendidikan harus membangun kerja sama dan interaksi bagi seluruh staf sekolah seperti staf administrasi, kepala sekolah, komite sekolah, bimbingan konseling sekolah sehingga dapat membangun program pendidikan karakter.
Koesoema (2018b: 28) mengemukakan bahwa pendidikan karakter