• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM SANIMAS 1 Pengertian Sanimas

Dalam dokumen Pembiayaan Pemukiman dan Perumahan dan (Halaman 34-38)

Secara definitif, Sanimas adalah sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah permukiman yang berbasis masyarakata dengan pendekatan tanggap kebutuhan. Fokus kegiatan Sanimas adalah penanganan air limbah rumah tangga khususnya tinja manusia dan tidak menutup kemungkinan limbah cair “home indsutri”, misalnya industri tahu dan tempe.

Sanimas merupakan usaha penyehatan lingkungan permukiman pada skala komunitas (kampung, RT) dengan cara membanguna sarana dan prasarana sanitasi yang dilakukan secara inisiatif dalam semangat kebersamaam di antara pemangku kepentingan, seperti warga masyarakat setempat, LSM atau swasta, pemerintah daerah

dan pemerintah pusat. Pendekatan Sanimas adalah pemberdayaan masyarakat (comunity empowerment).

Walaupun sebagai gagasan Sanimas berasal dari pemerintah pusat, namun tingkat keberhasilan progam ini ditentukan oleh kontribusi dan peranan masyrakat setempat sesuai namanya, Sanitasi oleh masyarakat. Sebab, merekalah yang akan memanfaatkan, mengoperasikan, serta memelihara prasarana sanitasi di lingkungannya. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lebih bertindak sebagai fasilitator.

Fasilitas Sanimas terdapat beberapa macam, tergantung pilihan teknologinya, yakni : Sistem Perpipaan komunal, Sistem MCK Plus ++, dan “septictank” bersama (biasanya satu “septictank” untuk 3-15 KK).

Fasilitas Sanimas MCK Plus ++ yang dilengkapi “bio-digester” dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif. Sesuai dengan namanya, MCK Plus ++ memberikan banyak manfaat.

2. Penjelasan Progam Sanimas dari Pemerintah

Pemerintah sudah mengembangkan program perbaikan kampung sejak tahun 1980 secara besar-besaran dengan nama KIP dimana dari 7 komponen kegiatannya adalah pembangunan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan (MCK, Persampahan dan Drainase). Meskipun secara fisik terlihat berhasil baik, tetapi sebenarnya program tersebut masih memiliki kekurangan terutama aspek keberlanjutan dimana peran masyarakat sangat minimal.

Untuk menindak lanjuti progam tersebut saat ini Pemerintah menyediakan program sanitasi lingkungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi, yang disebut dengan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM); yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan.

Kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini mencakup: (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. Melalui pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)

ini, masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase yang sesuai, ikut aktif menyusun rencana aksi, membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya, bahkan bila perlu mengembangkannya, dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan permukiman kumuh perkotaan.

3. PENDEKATAN, PRINSIP dan POLA PENYELENGGARAAN a. Pendekatan

DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan salah satu kegiatan pembangunan prasarana air limbah, persampahan dan drainase yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui :

1) Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah, dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan;

2) Otonomi dan desentralisasi, dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan dan pengelolaan hasilnya;

3) Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan, dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan;

4) Partisipatif, dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan dan pengelolaan;

5) Keswadayaan, dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan, baik proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, maupun pemanfaatan hasil kegiatan.

b. Prinsip-Prinsip DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Prinsip Dasar DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. Program ini bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK

Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka.

2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, peran LSM/Swasta, sedangkan pemerintah hanya sebatas sebagai fasilitator.

3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh LSM atau konsultan pendamping

PERSIAPAN Sosialisasi

PENYIAPAN TFL (Seleksi, Pelatihan)

SELEKSI LOKASI

Longlist, Shortlist Lokasi terpilih

PENYUSUNAN RKM Organisasi, Pilihan Teknologi dan Sarana,

DED, RAB dan Jadwal Kegiatan Dokumen RKM PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR Pelatihan Tukang KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasan / pengendalian oleh masyarakat Sarana Siap Digunakan PELATIHAN OPERATOR Sosialisasi pengguna O & M Operasi, Pemeliharaan

Efluen dari IPAL memenuhi standar Penyakit terkait air menurun

Sarana berkelanjutan

yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan limbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial.

4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat.

Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

1. Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat.

2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak.

3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat.

4. Berkelanjutan, pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.

c. Pola Penyelenggaraan

Pola penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Konsultan Pendamping yang memiliki kemampuan teknis dan sosial kemasyarakatan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Namun jika dalam tahap pelaksanaan konstruksi terdapat kegiatan yang secara teknis tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat sendiri, maka KSM dapat menunjuk pihak ketiga melalui Kerja Sama Operasional (KSO)

4. Tahap Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) meliputi : Persiapan, Seleksi Kab/Kota, Seleksi lokasi, Penguatan Kelembagaan, Penyusunan RKM, Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan sarana terbangun.

5. Pembiayaan

a. Sumber Pendanaan

Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini berasal dari berbagai sumber pembiayaan, yaitu: Pemerintah Pusat (APBN), Pemerintah Kabupaten/Kota (DAK dan APBD), swadaya masyarakat dan swasta/donor.

Bagan Sumber Pendanaan b. Rencana Pembiayaan

Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut:

1. Biaya sosialisasi DAK, pelatihan TFL dan pelatihan Ketua KSM serta mandor dibiayai dari dana APBN dan APBD, sedangkan biaya pelatihan bendahara, tukang dan operator dari dana APBD.

2. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD.

3. Biaya Konstruksi

Biaya Konstruksi dibiayai oleh:

a. Pemerintah Daerah (DAK dan APBD) untuk biaya material dan upah. b. Swadaya Masyarakat

Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunai (on cash) serta kontribusi dalam APBN

Dalam dokumen Pembiayaan Pemukiman dan Perumahan dan (Halaman 34-38)

Dokumen terkait