AKUNTABILITAS KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)
B.4. Program Upaya Kesehatan Perorangan
A. Kegiatan Dalam Program Upaya Kesehatan Perorangan
Dalam rangka mencapai misi “Pemerataan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan melalui Rumah Sakit , Balai Kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya” dan tujuan “Meningkatnya Akses, Pemerataan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan melalui Rumah Sakit , Balai Kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya” maka dilaksanakan Program Upaya Kesehatan Perorangan.
Program Upaya Kesehatan Perorangan didukung oleh 3(tiga) kegiatan yaitu (1) Pelayanan bagi penduduk miskin di Rumah Sakit dan atau rumah sakit Khusus, serta pengembangan kesehatan rujukan, (2)Peningkatan Kualitas Pelayanan di RS dan (3) Peningkatan pelayanan kesehatan penunjang dan kegawatdaruratan di RSU dan RS khusus.
B. Sasaran
Program Upaya Kesehatan Perorangan dengan sasaran “Meningkatkatnya jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dengan kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang bisa diakses masyarakat dan prasarana kesehatan di Rumah Sakit, Rumah Sakit Khusus dan Balai Kesehatan” ;indikator sasaran sebagai berikut:
1) Persentase Rumah Sakit Pemerintah menyelenggarakan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) sesuai standar
2) Persentase Rumah Sakit yang terakreditasi 5 pelayanan dasar
B. Anggaran Belanja
Pada tahun anggaran 2014, Program Upaya Kesehatan Perorangan mendapatkan alokasi anggaran belanja sebesar Rp. 1.700.000.000,00dengan realisasi belanja sebesar Rp. 1.295.442.803,00 atau sebesar 76,2 %.
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 44
Tabel 3.8. TUJUAN 3 dan SASARAN 3
TUJUAN 3 SASARAN 3.3.
Meningkatnya Akses , Pemerataan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya
Meningkatnya Jangkauan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Gawat Darurat yang Bisa Diakses Masyarakat dan Prasarana Kesehatan di Rumah Sakit,
Rumah Sakit Khusus dan Balai
Kesehatan
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan dalam tabel 3.9. sebagai berikut :
TABEL : 3.9. Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya Jangkauan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan Gawat Darurat yang Bisa Diakses Masyarakat dan Prasarana Kesehatan di Rumah Sakit, Rumah Sakit Khusus dan Balai Kesehatan .
NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)
1 2 3 4 5
1 Persentase Rumah Sakit
Pemerintah
menyelenggarakan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) sesuai standar
80 % 85,19 % 106, 49
2 Persentase Rumah Sakit
Pemerintah yang Terakreditasi 5 Pelayanan Dasar
70 % 90,63 % 129,47
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran 117,98
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Pada Program Upaya Kesehatan Perorangan dalam kinerja program didapatkan upaya – upaya yang dilakukan dalam menghadapi pelaksanaan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka perlu adanya penataan penyelenggaraan kesehatan yang berjenjang dan berkesinambungan melalui mekanisme system penataan alur rujukan yang efektif dan efisien. Sehingga diperlukan data dan informasi terkait pelayanan kesehatan agar penataan penyelenggaraan kesehatan dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien.
Bedasarkan Surat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tanggal 30 Januari 2014 nomor: 445/1306/101.4/2014 perihal revisi format laporan tahunan RS, maka Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014 melakukan pengadaan
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 45
software data dan analisa laporan RS. Software data dan analisa laporan RS merupakan sebuah system informasi yang bertujuan untuk merekap data laporan tahunan seluruh RS di Jawa Timur. Data tersebut di unggah dalam system yang tersimpan dalam database penyimpanan yang dikelompokkan berdasarkan tahun laporan dokumen tersebut. Selain itu untuk standarisasi Pelayanan medis di RS maka Sejak tahun 2012 telah tersusun Buku Pedoman Sistem Rujukan berbasis Indikasi Medis yaitu penyelenggaraan pelayanaan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayaan kesehatan secara timbal balik, baik vertikal maupun horizontal yang didasarkan pada kemampuan medis rumah sakit yang dalam penyusunannya telah melibatkan Rumah Sakit Umum Daerah, Puskesmas, Dinas Kesehatan dan IDI dan Organisasi Profesi dari masing-masing pelayanan. Pedoman ini mengacu pada Sistem Kesehatan Nasional mengamanatkan tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas yang dilaksanakan dengan
memperhatikan inovasi dan terobosan dalam penyelengaraannya yang
berkesinambungan, terus menerus, terpadu dan paripurna melalui penguatan sistem rujukan.
Peningkatan mutu pelayanan kesehatan di RS perlu terus ditingkatkan sejalan dengan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik, cepat dan yang sesuai standar pelayanan RS.
Berdasarkan ukuran keberhasilan yang sudah ditetapkan yaitu terlaksananya pembinaan peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit Pemerintah dengan melihat pelaksanaan akreditasi di Rumah Sakit Pemerintah. Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali. Akreditasi RS dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam maupun luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku dan ditetapkan oleh Menteri, sesuai yang diamanatkan pada UU RS No 44 Tahun 2009 pasal 40. Akreditasi RS dilakukan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) yang dulunya penilaian akreditasi RS menggunakan versi 2007 yang meliputi Akreditasi RS 5 pelayanan, 12 pelayanan dan 16 pelayanan maka pada pertengahan 2012 adalah batas akhir penilaian akreditasi versi tahun 2007 yang selanjutnya instrumen akreditasi menggunakan akreditasi yang baru yaitu versi 2012 sesuai Keputusan Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI Nomor : HK.02.04/I/2790/11 tentang Standar Akreditasi RS.
Dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan RI sampai tahun 2014 ada ketentuan target pencapaian Akreditasi RS (RS Pemerintah,BUMN, TNI/POLRI, dan Swasta) diharapkan mencapai 90%. Sampai saat ini (akhir tahun 2013) RS di Jawa Timur yang telah terakreditasi sebanyak 237 RS (66,76%) dari 355 RS yang ada sehingga masih ada sekitar 118 RS (33,24%) yang belum terakreditasi (versi 2007/
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 46
lama). Adapun perincian jumlah RS di Jawa Timur yang sudah terakreditasi yaitu sebagai berikut:
a) RSU Pemerintah : 54 RS → 50 RS terakreditasi (92,59%) b) RSK Pemerintah : 10 RS → 8 RS terakreditasi (80,00%) c) RS TNI/Polri : 28 RS → 24 RS terakreditasi (85,71%)
d) RS BUMN : 15 RS → 12 RS terakreditasi (80,00%)
e) RSU Swasta : 152 RS → 110 RS terakreditasi (72,37%) f) RSK Swasta : 96 RS → 33 RS terakreditasi (34,38%)
Adapun Indikator Renstra pada tahun 2013 adalah 70 %. Indikator Renstra tersebut yang dimaksud adalah akreditasi yang versi 2007/ lama.Sehingga persentase pencapaian sasaran masih dibawah target yaitu 66,76%. Sedangkan target indikator Renstra tahun 2014 yaitu >75%. Berbagai kegiatan terkait peningkatan pencapaian indikator Renstra untuk akreditasi RS antara lain :
a) Workshop Akreditasi RS bekerjasama dengan KARS pusat dan RS yang sudah terakreditasi di RSU dan RSK, dengan tujuan agar RS dapat membuat dokumen sesuai standart dan parameter penilaian akreditasi RS, sasaran adalah RS Pemerintah yang belum terakreditasi
b) Monitoring dan Evaluasi Akreditasi RS
Pada tahun 2014 tidak ada perubahan rumah sakit pemerintah yang terakreditasi 5 pelayanan dasar karena adanya perubahan versi akreditasi dari versi 2007 ke versi baru (versi 2012).
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2012 tentang Akreditasi RS dimana disebutkan pada pasal 3 bahwa RS wajib mengikuti akreditasi nasional, dan pada pasal 4 untuk dalam upaya meningkatkan daya saing, RS dapat mengikuti akreditasi internasional sesuai kemampuan. Sampai pada akhir tahun 2014 RS di Jawa Timur yang sudah terakreditasi nasional (versi 2012) baru 10 RS yaitu RS Panti Nirmala Malang, RS Mata Undaan Surabaya, RSUD dr Soetomo, RSAL dr. Ramelan, RS Baptis Batu, RS Adi Husada Kapasari, RS Semen Gresik, RS Muhammadiyah Lamongan dan RS Premier Surabaya, RS Premier merupakan salah satu RS yang sudah terakreditasi Internasional.
Sedangkan untuk pencapaian target indikator Rumah Sakit Pemerintah menyelenggarakan Program Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam. 87,03%RS Mampu PONEK 24 jam adalah RS yang mampu menyelenggarakan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal secara komprehensif dan terintegrasi 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, yang dapat terukur malalui Penilaian Kinerja Manjemen dan Penilaian Kinerja Klinis dan Buku Paket Pelatihan PONEK Protokol bagi Tenaga Pelaksana . Dari data di Laporan Tahunan RS
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 47
didapatkan tidak lebih dari 50% RS Pemerintah yang memiliki SK Tim Ponek, terkait dengan pelaksanaan penyelenggaraan Ponek mengacu pada buku pedoman Ponek Kemenkes RI tahun 2012.
Angka kematian ibu di RS Pemerintah di Jawa Timur sampai sekarang masih cukup tinggi. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi Angka Kematian Ibu tinggi yaitu kualitas layanan darurat obstetry dan neonatal pada berbagai tingkat pelayanan kesehatan, termasuk sarana prasarana dan SDM. Pada tahun 2013 RS Pemerintah kelas A kasus kematian ibu sebanyak 44 kasus,pada 21 RS Pemerintah kelas B yang mengisi data laporan (2013) sebanyak 178 kasus, dan pada 6 RS Pemerintah kelas C yaitu sebanyak 6 kasus dan pada 1 RS Pemerintah kelas D yang mengisi data laporan sebanyak 2 kasus.
Untuk itu pada tahun 2014 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur melaksanakan kegiatan Supervisi fasilitatif terpadu yang melibatkan lintas program/ lintas sektor serta pendampingan tim Kabupaten/Kota. Maka tahapan yang dilakukan yaitu antara lain: mengadakan rapat persiapan, rapat evaluasi , advokasi ke Pemda setempat tentang upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi. Dan pada tahun 2013, angka kematian ibu yang tertinggi yaitu di RS Pemerintah kelas B yaitu sebanyak 68 %. Hal ini bisa menjadi bahan masukan dari pemegang kebijakan khususnya terkait dengan penyiapan SDM maupun sarana dan prasarana di masing-masing RS sebagai tempat rujukan. Seperti di Kab Kediri, angka kematian ibu masih tergolong tinggi, oleh karena dilakukan Program Penguatan RS sebagai rujukan pelayanan maternal neonatal dengan cara pelatihan tim PONEK, monev serta fasilitasi audit medis di RS Kab Kediri. Hasilnya cukup memuaskan terjadi penurunan angka kematian ibu dari 34 (2013) menjadi 13 (2014). Meskipun begitu perlu dukungan Asisten Kesra dan Bappeda dalam koordinasi Lintas Sektor dan Lintas Program di Kab/Kota Kediri. Dan dari pengalaman tersebut diatas diharapkan adanya Sistem Rujukan upaya penurunan estafet panjang rantai rujukan – Radiomedik, serta adanya Peran IDI dan Dinkes Kab/Kota terkait Praktik Dr Spesialis dan peran IBI dalam Kompetensi SDM terkait pelatihan teknis.
E. Upaya Pemecahan Permasalahan
Permasalahan dan Upaya yang dilakukan terkait Program Upaya Kesehatan Perorangan adalah sebagai berikut:
a) Berdasarkan UU RS No. 44 Tahun 2009 yang dijelaskan dalam Permenkes RI Nomor 56/MENKES/PER/2014 tentang Perijinan dan Klasifikasi RS disebutkan bahwa Peran Dinas Kesehatan Provinsi adalah memberikan Rekomendasi Perijinan dan Penetapan Kelas untuk RS kelas B sedangkan rekomendasi
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 48
perijinan dan klasifikasi RS kelas C dan D diserahkan ke Dinas Kesehatan Kab/ Kota. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur akan mengadvokasi kepada Kementerian Kesehatan RI untuk memprioritaskan penetapan kelas Rumah Sakit di Jawa Timur mengingat jumlah RS di Jawa Timur termasuk terbanyak di Indonesia.
b) Dengan standar akreditasi baru yang diberlakukan mulai tahun 2012, maka rumah sakit harus menata ulang standarnya karena pada standar akreditasi baru ada 4 (empat) kelompok standar yaitu : Kelompok standar berfokus pada pasien, Kelompok standar manajemen rumah sakit, Kelompok sasaran keselamatan pasien, Kelompok sasaran menuju Milineum Development Goals.
c) Sedangkan yang menjadi permasalahan RS Pemerintah belum melaksanakan PONEK sekaligus masih tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi antara lain karena keterbatasan SDM Spesialistik khususnya dokter spesialis Obgyn dan dokter spesialis anak yang full timer . Untuk itu pihak Dinas Kesehatan hendaknya ikut mengadvokasi kepada Kementerian Kesehatan RI dan mengusahakan pelaksanaan pemerataan khususnya tenaga spesialis Obgyn dan spesialis anak ke daerah- daerah Kab/ Kota.
Adapun permasalahan terkait dengan sistem Pelaporan RS yang belum berjalan optimal antara lain karena belum semua RS mengisi laporan tahunan dengan format yang diupload dalam software data dan analisa laporan RS Dinkes Provisi Jawa Timur, sehingga tidak terekapitulasi dalam software, masih diemukannya data yang tidak sinkron di RS dengan tahun yang sama antara data SIRS online, Laporan Tahunan RS, Profil kesehatan serta masih belum semua Dinas Kesehatan Kab/Kota menggunakan data/pelaporan RS sebagai bahan perencanaan atau evaluasi terkait pelayanan di RS. Untuk itu dirasa perlu update format data/ pelaporan di masing- masing RS.
Secara umum pencapaian target sasaran meningkatkatnya jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dengan kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang bisa diakses masyarakat dan prasarana kesehatan di Rumah Sakit, Rumah Sakit Khusus dan Balai Kesehatanpada tahun 2014 telah tercapai dengan BAIK.