BAB V - Prosedur Lapangan Pemetaan Pohon
5.3 Prosedur Lapangan
5.3 Prosedur Lapangan
Inventarisasi dan pemetaan pohon dilaksanakan oleh Regu Inventori.
Regu ini mengikuti survei petak ukur yang dibuat oleh Regu Survei Topografi . Unit dasar adalah petak ukur yang berukuran 20 x 20 meter atau 20 x 40 meter petak ukur sesuai dengan jarak antar jalur.
Satu jalur dibuat sebagai garis referensi. Posisi pohon dicatat berhubungan dengan garis itu. Posisi-posisi itu seterusnya dihubungkan dengan titik “0” dari setiap petak ukur (Gambar 22).
1). Pencatat mencatat seluruh data pohon yang diberikan oleh Cruser dan Pengenal Pohon. Pencatat memberikan Nomor pohon yang berurutan dan mengatakan kepada anggota regu yang lain untuk menulis nomor apa pada label pohon.
Pencatat harus mengkonfi rmasi posisi pohon untuk setiap petak ukur. Aliran sungai atau perbedaan nyata yang lain juga harus dicatat pada tally sheet.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
2). Dua Cruser akan menempuh setengah dari petak ukur selama mereka berjalan pada arah jalur. Tugas mereka memilih pohon yang mana dicatat dan diberi label, sesuai dengan kriteria (patokan) yang sudah disetujui.
Contoh kriteria :
• Pohon di atas diameter tertentu, jenis pohon komersial dan kualitas kayu. Perhatikan bahwa, jenis kayu komersial dan kualitas kayu bisa berbeda di antar Unit Pengelola hutan yang berbeda.
• Pohon untuk panen yang akan datang, sesuai pertimbangan jenis pohon, diameter dan kualitas.
• Pohon yang dilindungi sesuai peraturan.
3). Dua cruser melakukan pengukuran atau estimasi diameter dan tinggi pohon. Bila mereka memerlukan bantuan untuk pemasangan label dan pengenalan jenis pohon, bisa dibantu oleh Pengenal Pohon.
4). Cruser akan meneriakan informasi pohon kepada Pencatat yang akan memberi tahu nomor pohon yang harus digunakan.
5). Informasi tersebut ditulis pada label tiga bagian yang akan dipaku di pohon. Pohon panen yang akan datang ditandai dengan label kuning yang sudah ditulis nomor pohon, jenis pohon dan diameter.
6). Tanda-tanda tambahan bisa dilakukan pada pohon yang dilindungi, dengan menggunakan cat kuning.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Tip : Pada waktu menetapkan kriteria pohon, harus dibedakan antara informasi (data) yang diperlukan dan informasi yang diinginkan. Kekeliruan yang biasa dilakukan mengumpulkan data yang diinginkan. Ini bisa menyebabkan pengumpulan informasi yang terlalu banyak dan mengurangi keefektifan dari seluruh proses inventori. Tentukanlah kriteria yang disetujui berdasarkan informasi yang diperlukan saja.
Gambar 23 : Label 3-bagian di pohon yang ditandai untuk ditebang.
7). Cruser harus memberi tahu kepada Pencatat, koordinat dari setiap pohon, menggunakan sudut tangan kiri bawah dari setiap petak ukur, sebagai titik awal (zero point) untuk sistem koordinat X / Y. Pencatat akan mencek nilai dari X and Y tersebut dan memperbaikinya bila dia berada pada posisi yang lebih bagus untuk lihat posisi relatif pohon terhadap titik awal (zero point).
8). Pencatat akan mencatat seluruh data pohon dan membuat sketsa dari posisi pohon. Gambar 25, memperlihatkan contoh tally sheet termasuk sketsa posisi pohon. Yang perlu di catat dalam tally sheet adalah nomor pohon, kode jenis pohon, tinggi batang, diameter. “Kode pohon” adalah kolom tambahan yang bisa digunakan untuk pembuatan kategori pohon yang bisa digunakan dalam penyortiran data pada database komputer.
Koordinat “X” dan “Y” dan sketsa peta adalah informasi yang diperlukan pada pemetaan manual atau dengan bantuan komputer.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Gambar 24 : Menentukan posisi pohon dalam petak.
INVENTORY DATA FORM
Gambar 25 : Tally sheet termasuk sketsa posisi pohon.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Survei tingkat rendah (low order surveys) seperti yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi kontur hampir selalu terdapat kesalahan pembacaan. Kunci keberhasilan dari pencatatan data lapangan yang tepat untuk menghasilkan suatu peta kontur adalah dengan jalan mencermati kesalahan-kesalahan pembacaan dan menyesuaikannya dengan cara yang konsisten.
Hasil peta akhir harus menggambarkan kesalahan-kesalahan pembacaan yang sudah diperbaiki. Cara ini akan meminimkan penyimpangan lokasi data lapangan dengan mendistribusikan kesalahan-kesalahan ke wilayah peta yang lebih luas.
6.1 Asumsi-Asumsi 6.1 Asumsi-Asumsi
Perlu ada asumsi-asumsi tertentu untuk menyesuaikan kesalahan pembacaan baik jarak horisontal maupun vertikal.
• Salah satu bagian dari seluruh kerja survei harus diasumsikan benar. Semua penyesuaian akan dibuat berdasarkan survei yang “benar” ini. Survei yang dianggap benar ini biasanya adalah batas ikat, atau batas jalur. Semua survei lainnya akan disesuaikan dengan pekerjaan ini.
• Diasumsikan bahwa suatu kesalahan pandangan, baik jarak vertikal maupun jarak horizontal, didistribusikan secara merata sepanjang jalur survei. Dengan cara ini akan memudahkan penyesuaian kesalahan terhadap total jarak survei.
6.2 Mempersiapkan Catatan Lapangan 6.2 Mempersiapkan Catatan Lapangan
Tingkat persiapan ini harus dilakukan tiap hari di camp lapangan.
Pengabaian pengecekan catatan lapangan akan menyebabkan kesalahan yang tidak terdeteksi dan mengakibatkan masalah yang berarti pada waktu pemetaan.
1) Periksa kelengkapan catatan lapangan. Pastikan bahwa semua kebutuhan informasi untuk memplot catatan
Prosedur Pemetaan
Prosedur Pemetaan
BAB VI BAB VI
BAB VI
lapangan telah dicatat dengan jelas dan semua informasi ikatan sudah lengkap.
2) Masukan perbedaan jarak vertikal dari tabel kelerengan.
3) Hitung ketinggian dari setiap titik survei.
4) Hitung kesalahan temu gelang jarak horisontal.
5) Hitung kesalahan temu gelang jarak vertikal.
6.3 Mempersiapkan Peta Kontur 6.3 Mempersiapkan Peta Kontur
Prosedur : Prosedur : Prosedur
1) Plot batas ikat di atas kertas grafi k yang cukup besar untuk mengakomodasi seluruh pekerjaan survei, biasanya di satu petak. Perlihatkan semua stasiun dan ketinggiannya ke depan dari titik awal. Kertas ini akan digunakan untuk membuat peta komposit yang telah terkoreksi.
2) Plot setiap kerja survei di kertas grafi k yang terpisah.
Semua koreksi harus dibuat di atas peta kerja individu ini dan kemudian menyalin di atas peta komposit.
3) Di atas lembaran kertas terpisah, plot perkiraan posisi jalur dengan tipis.
4) Atur kesalahan temu gelang jarak datar.
Contoh di Gambar 26 memperlihatkan garis survey dua jalur mulai dari titik survey 20 sampai batas garis ikat titik 21. Kesalahaan temu gelang +10m di arah utara/
selatan dan 8.5 m di arah timur/barat. Sesuai prosedur survey lapangan titik 10 jalur 21 seharusnya berada pada garis titik ikat di titik 21 (Gambar 27).
Prosedur PemetaanBAB VI
Gambar 26 : Catatan lapangan yang sudah lengkap dan dikoreksi untuk traverse tertutup.
Prosedur PemetaanBAB VI
Gambar 27 : Kesalahan temu gelang.
Kesalahan dua kali, dalam pengukuran jarak dan pengukuran azimuth. Karena tidak diketahui di mana kesalahan itu terjadi, dianggap kesalahan itu terjadi secara akumulasi dan seterusnya setiap 20 meter diperbaiki.
5) Cara paling mudah memperbaiki kesalahan pengukuran jarak datar dalam dua jalur dengan panjang yang sama adalah dengan membagi kesalahan jarak dengan dua, atur titik akhir pada setiap jalur.
Gambar 28 mengambarkan posisi perbaikan untuk titik 10 di jalur 20 dan titik 0 di jalur 21.
6) Mengatur ulang posisi Jalur 20 dari garis ikat titik 20 ke posisi baru titik 10. Mengatur posisi semua titik dengan menghitung tambahan sbb. :
Prosedur PemetaanBAB VI
Gambar 28 : Menyesuaikan kesalahan temu gelang horizontal.
Station 1 0.5 m Utara and 0.42 m Timur Station 2 1.0 m Utara and 0.85 m Timur Station 3 1.5 m Utara and 1.27 m Timur Station 4 2.0 m Utara and 1.70 m Timur
7) Mengatur ulang posisi Jalur 21 dari tempat dimana Jalur sebenarnya mencapai garis ikat ke posisi baru di titik 0 dengan menggunakan tambahan yang sama seperti pada jalur 20.
Prosedur PemetaanBAB VI
8) Dari sketsa catatan lapangan, menggambarkan posisi sungai dan informasi fi sik yang lain.
9) Atur kesalahan vertikal
Pada Gambar 28 menggambarkan ketinggian garis ikat pada titik 21 adalah 527.0 m, tetapi, ketinggian di titik ini yang diambil dari catatan lapangan adalah 532.0 m. Ini adalah kesalahan ketinggian + 5.0 m.
Karena tidak diketahui dimana dan apa yang menyebabkan kesalahan ini, maka diasumsikan pembagian merata dari kesalahan tersebut.
Ada 21 interval survey yang kira-kira sama, harus dikurangi ketinggian dari tiap titik dengan menghitung sbb. :
Titik 1 / Jalur 21 528.8 – 0.238 = 528.6 Ketinggian yang sudah dikoreksi
Titik 2 / Jalur 21 536.0 – 0.476 = 535.6 Ketinggian yang sudah dikoreksi
Titik 3 / Jalur 21 546.8 – 0.714 = 546.1 Ketinggian yang sudah dikoreksi
Titik 4 / Jalur 21 548.3 – 0.952 = 547.4 Ketinggian yang sudah dikoreksi, etc.
Catat ketinggian yang sudah dikoreksi di bulatkan ke 0.1 m terdekat dengan pensil pada plot yang sudah diperbaiki dengan dua jalur.
10) Sekarang sudah siap untuk membuat sketsa dari kontur pada peta jalur yang sudah diperbaiki. Gunakan catatan lapangan untuk menaksir arah dan bentuk dari kontur.
Perpanjang kontur kira-kira 10 meter pada sisi kanan dari sketsa peta. (Gambar 29).
11) Bila anda telah selesai dan telah mengecek seluruh peta-peta individu jalur untuk petak yang bersangkutan,
Prosedur PemetaanBAB VI
Gambar 29 : Peta kontur yang sudah dikoreksi untuk dua jalur.
anda siap untuk memulai mengkompilasi peta komposit.
Letakkan peta individu jalur dibawah peta komposit besar di atas meja kaca, dan pasangkan titik-titik awal di atas ikat. Pastikan bahwa garis-garis grid/koordinat dari kedua peta tersebut berpasangan.
12) Tulis/gambar dengan tipis detil planimetri dan topografi ke atas peta komposit. Yakinkan juga untuk memindahkan lokasi-lokasi jalur yang telah dikoreksi.
Ini akan memudahkan memplot lokasi-lokasi pohon yang terpisah.
13) Bila hal ini telah selesai, gabungkan detail planimetri dan kontur di seluruh lembar peta. Yakinkan bahwa semua kontur dilabeli dengan ketinggian yang sebenarnya.
Protokol pelabelan kontur mensyaratkan bahwa ketinggian kontur harus selalu bernilai naik (lihat Gambar 30).
Prosedur PemetaanBAB VI
Gambar 30 : Peta kontur dan posisi pohon, yang menunjukkan hanya posisi pohon komersial.
6.4 Menambah data posisi pohon 6.4 Menambah data posisi pohon
Sesudah peta kontur selesai diperbaiki langkah terakhir adalah memindahkan data posisi pohon di atas peta kontur dengan menggunakan catatan lapangan. (Gambar 30).
Anda harus memutuskan apakah memindahkan seluruh data posisi pohon atau hanya data posisi pohon komersial. Juga harus dipilih system symbol yang tepat. Misalnya bentuk symbol yang berbeda untuk jenis pohon yang berbeda. Bila peta dikerjakan dengan komputer dan plotter warna yang berbeda juga merupakan pilihan.
Gambar 31 memberikan contoh tally sheet inventarisasi lapangan untuk jalur 20 dari contoh peta kontur sebelumnya. Gambar 30 menggambarkan peta kontur yang lengkap dengan posisi pohon untuk dua jalur yang sama.
Prosedur PemetaanBAB VI
Nama Cruser : ________________
Ulasan : No. Pohon, Kode Jenis Pohon, Diameter dan Tinggi harus diisi, Kode Pohon, adalah pilihan. “X” dan “Y” dianjurkan diisi. Peta pohon harus dibuat.
Gambar 31 : Contoh catatan inventarisasi lapangan dengan posisi pohon.
Prosedur PemetaanBAB VI
A P H I : Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia / Association of Indonesian Forest Concession Holders.
Baseline : batas garis ikat
Block : petak, (usually 1000m x 1000m management unit
Compassman : pengompas, kompasmen Countour : kontur, transes
Contour Interval : interval, jarak antara kontur, skala trases Corner post : patok batas Horizontal distance : jarak datar
H P H : Hak Pengusahaan Hutan / Forest Concession I F S : Intermediate Fore Shot
I T S P : Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan / Pre-harvesting Inventory
Istilah Inggris - Indonesia
Terms
LAMPIRAN I LAMPIRAN I
Lampiran I
I T T O : International Tropical Timber Organization Jalur : strip or survey line
Note Keeper : pencatat, record Pohon Inti : future crop tree
R I L : Reduced Impact Logging / Pembalakan Berdampak Lingkungan
River : sungai
R K T : Rencana Kerja Tahunan/Annual Operating Plan
Slope : kelerengan Slope distance : jarak miring Stake : ajir, patok Starting point : titik permulaan Station : titik survei
Stream : parit, sungai kecil Strip : jalur
Survey point : stopan
T F F : Tropical Forest Foundation Tie : ikatan
T P T I : Tebang Pilih Tanam Indonesia / Indonesian Selective Cutting and Planting system.
Traverse : jalur survei Vertical distance : beda tinggi
English - Indonesian TermsLampiran I
Tabel Kelerengan Horizontal (20 m)
Tabel Kelerengan Horizontal (20 m)
LAMPIRAN II LAMPIRAN II
Lampiran II
Tabel Kelerengan - Jarak Miring (20 m)
Tabel Kelerengan Jarak Miring (20 m)
LAMPIRAN III LAMPIRAN III
Lampiran III
Tabel Kelerengan, Interval 20/10/1 m
Tabel Kelerenganal, 20/10/1 m
LAMPIRAN IV LAMPIRAN IV
Lampiran IV
Tabel Kelerengan, Interval 20/10/1 m (lanjutan)
Tabel Kelerengan Interval, 20/10/1 mLampiran IV
Tabel Kelerengan, Interval 20/10/1 m (Lanjutan)
Tabel Kelerenganal, 20/10/1 mLampiran IV
Formulir Data Kontur
Formulir Data Kontur
LAMPIRAN V LAMPIRAN V
Lampiran V
Formulir Data Inventori
Formulir DataInventori
LAMPIRAN VI LAMPIRAN VI
Lampiran VI
Rangkaian buku-buku pedoman teknis pembalakan berdampak rendah (RIL) yang telah terbit lebih dahulu adalah :
1. “Pertimbangan dalam Merencanakan Pembalakan Berdampak Rendah”, Agustus 2005.
Berdampak Rendah”, Agustus 2005.
Berdampak Rendah”
2. “Pertimbangan Operasional untuk Pembalakan Berdampak Rendah”, Maret 2006.
Rendah”, Maret 2006.
Rendah”
3. “Perencanaan, Lokasi, Survei, Konstruksi dan Pemeliharaan untuk Pembuatan Jalan Logging Berdampak Rendah”, May 2006.
Berdampak Rendah”, May 2006.
Berdampak Rendah”
4. ”Pertimbangan Manajemen Untuk Penerapan Pembalakan Berdampak Rendah Yang Berhasil”, July 2006.
Berdampak Rendah Yang Berhasil”, July 2006.
Berdampak Rendah Yang Berhasil”
Buku Pedoman Teknis Lain
Formulir Data Inventori
LAMPIRAN VII LAMPIRAN VII
Lampiran VII