BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Prosedur Operasional
Prosedur kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. meminta izin Dekan Fakultas Farmasi USU untuk melakukan penelitian di
RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
b. membawa surat pengantar yang dikeluarkan oleh Fakultas Farmasi USU ke bagian manajemen yang ada di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
c. membawa surat izin yang dikeluarkan manajemen ke bagian Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan dokter spesialis penyakit dalam untuk dapat dilakukan penelitian.
d. selanjutnya melakukan pengumpulan dan pencatatan data yang diperlukan serta wawancara kepada dokter spesialis penyakit dalam.
e. menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.
3.7 Definisi Operasional Penelitian
Definisi Operasional merupakan penjelasan dari masing–masing variabel yang ada dalam penelitian. Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka definisi operasional dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Definisi Operasional
NO. OPERASIONAL DEFINISI
1 Persepsi Apoteker dan Dokter
Tanggapan langsung dari Apoteker dan Dokter terkait pemahaman potensi interaksi antidiabetik oral pada resep.
2 Pemahaman Apoteker dan Dokter
Kemampuan untuk menjelaskan tentang interaksi antidiabetik oral yang diketahui dan diinterpretasikan secara benar sesuai fakta.
3 Potensi interaksi antidiabetik oral
Keadaan yang dapat mempengaruhi efek terapi antidiabetik oral namun belum tentu terjadi pada pasien (dapat dicegah) dan diketahui saat analisis resep.
4 Interaksi obat–obat Interaksi yang terjadi antara obat satu dengan obat lainnya.
5 Frekuensi potensi interaksi Jumlah potensi interaksi antidiabetik oral yang terjadi.
6 Mekanisme interaksi Bagaimana interaksi obat terjadi apakah farmakokinetik, farmakodinamik, atau unknown.
7 Jenis antidiabetik oral Golongan antidiabetik oral yang berinteraksi.
8 Tingkat keparahan interaksi obat
Potensi interaksi apakah ringan, sedang, berat.
Tabel 3.1 Definisi Operasional (Lanjutan)
NO. OPERASIONAL DEFINISI
9 Jumlah obat Berapa banyak obat yang diberikan dalam satu resep, jumlah obat ditentukan menjadi ≥ 2 obat.
10 Interaksi unknown Interaksi obat yang mekanismenya belum diketahui secara pasti.
11 Interaksi farmakokinetik Interaksi pada proses absorpsi, interaksi pada proses distribusi, interaksi pada proses metabolisme, interaksi pada proses eksresi.
12 Interaksi farmakodinamik Interaksi antara obat-obat yang mempunyai khasiat atau efek samping yang serupa atau berlawanan.
13 Interaksi yang menguntungkan
Kombinasi obat yang bisa meningkatkan efek terapi dari antidiabetik oral baik aditif, potensiasi maupun sinergis.
14 Interaksi yang merugikan Kombinasi obat yang bisa mengurangi atau bahkan meniadakan efek terapi antidiabetik oral serta membahayakan kondisi pasien.
15 Analisis Resep Penelitian analisis resep yang dilakukan sebatas potensi interaksi obat yang mengacu pada Medscape dan Drugs.com tanpa secara detail mempertimbangkan hasil-hasil laboratorium pasien.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penilaian Persepsi Apoteker dan Dokter Terhadap Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kepada apoteker dan dokter sebagai sumber informan melalui wawancara mendalam maka diperoleh berbagai pandangan dan pendapat. Hal ini dapat dilihat pada lampiran (Lampiran 2).
Hasil wawancara yang dilakukan kepada informan memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap potensi interaksi antidiabetik oral pada penyakit diabetes melitus. Wawancara dimulai dengan menggali pengetahuan dan pemahaman informan terkait penyakit diabetes melitus (pengertian diabetes melitus, faktor penyebab, jenis-jenis diabetes melitus, nilai KGD normal), kemudian pengetahuan dan pemahaman informan terhadap obat-obat antidiabetik oral, interaksi obat (mekanisme, tingkat keparahan, efek yang diakibatkan interaksi obat, kejadian interaksi obat, cara pengatasan masalah interaksi obat), serta interaksi obat-obat DM dengan obat lain.
4.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Informan dalam memberikan jawaban terkait pengertian penyakit diabetes melitus seluruhnya paham dan mengetahui hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa penyakit diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif dan metabolik yang ditandai adanya kenaikan KGD (kadar gula darah) yang diakibatkan kerusakan pankreas atau penurunan sensitivitas insulin, idiopatik, resistensi insulin, kelainan sekresi insulin.
“…suatu penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD (peningkatan KGD), bisa ada hubungannya dengan idiopatik, kemudian bisa karena perusakan masalah pankreas…”
“…suatu penyakit degeneratif yang ditandai dengan peningkatan KGD di dalam darah bisa karena kekurangan hormon insulin sehingga glukosa darah meningkat, bisa juga karena peningkatan resistensi insulin. Jadi secara jumlah dia oke cuma terjadi resistensi insulin terhadap reseptornya jadi kadar gula di darah tetap tinggi atau bisa juga karena keduanya…”
“…penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD yang tinggi pada pasien…”
“…penyakit metabolik dengan karakteristik resistensi insulin, kelainan sekresi insulin dan atau keduanya…”
“…DM itu penyakit degeneratif akibat dari kerusakan pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin atau sedikit…”
”…DM itu adalah penyakit degeneratif yang disebabkan oleh tingginya kadar insulin didalam darah melebihi normal…”
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Parkeni, 2011).
4.1.2 Faktor Penyebab Diabetes Melitus
Faktor penyebab diabetes melitus menurut informan adalah akibat obesitas, faktor genetik, faktor idiopatik, faktor lingkungan, gaya hidup yang salah, pola makan, tingkat stres yang tinggi, penggunaan obat-obat jangka panjang (steroid), merokok, terlalu banyak konsumsi gula dan karena kurang olah raga. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh informan mengerti dan memahami faktor penyebab diabetes melitus.
“…penyebabnya bisa karena obesitas salah satunya, kemudian bisa karena adanya faktor genetik, sama faktor idiopatik (tidak diketahui penyebabnya), penyebab lain dan bisa juga karena masalah pengerusakan pankreas…”
“…penyebabnya adalah faktor genetik (keturunan), kemudian bisa karena faktor lingkungan misalnya konsumsi makanan dan minuman yang mengandung index glikemik yg berlebihan, KGD tinggi, gaya hidup (lifestyle pada orang-orang yang malas bergerak sehingga glukosa darah tidak dirubah menjadi glikogen sehingga tidak menjadi gula otot sehingga glukosa di darah menjadi banyak, pada orang merokok, penggunaan obat-obat jangka panjang (steroid), pada orang-orang dengan gangguan imun sehingga menyebabkan hiperglikemik dalam darah.”
“…penyebabnya ada beberapa antara lain kerusakan pankreas, faktor karena adanya resistensi insulin..”
“…faktor genetik, perokok, makanan, gaya / pola hidup dan DM termasuk degeneratif…”
“…gaya hidup, pola makan dan stres…”
”…bisa karena keturunan, pola hidup yang terlampau banyak konsumsi gula, kurang olah raga…”
Diabetes melitus merupakan penyakit multifaktorial dengan komponen genetik dan lingkungan yang sama kuat dalam proses timbulnya penyakit tersebut.
Pengaruh faktor genetik terhadap penyakit ini dapat terlihat jelas dengan tingginya penderita diabetes yang berasal dari orang tua yang memiliki riwayat diabetes melitus sebelumnya. Diabetes melitus tipe 2 sering juga disebut diabetes life style karena penyebabnya selain faktor keturunan, faktor lingkungan meliputi usia, obesitas, resistensi insulin, makanan, aktifitas fisik dan gaya hidup penderita yang tidak sehat juga berperan dalam terjadinya diabetes ini. Perkembangan diabetes melitus tipe 2 yang lambat, sering kali membuat gejala dan tanda-tandanya tidak jelas (Betteng dkk., 2014).
4.1.3 Jenis Diabetes Melitus
Jenis-jenis dari diabetes melitus berdasarkan tanggapan informan, satu diantaranya mengatakan ada 4 jenis (tipe 1, tipe 2, DM kehamilan, DM tipe lain), dua informan mengatakan ada 3 jenis (tipe 1, tipe 2, gestasional) (tipe 1, tipe 2, tipe lain ) sedangkan 7 informan lainnya mengatakan ada 2 jenis (tipe 1 dan tipe 2).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas informan tidak mengetahui pembagian jenis diabetes melitus secara umum.
“…DM itu ada 4. Pertama DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah. Kedua DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin. Ketiga DM pada kehamilan yang sering disebut DM gestasional. Keempat DM tipe lain, ini biasanya pada penyaki-penyakit seperti fibrosis kistik, bisa juga pada
pankreatitis, bisa juga pada kasus penggunaan obat-obatan seperti steroid di pakai jangka Panjang…”
“…Tipe 1, tipe 2, gestasional…”
“…DM itu ada banyak macam tipenya yaitu tipe 1, tipe 2 dan tipe lain…”
“…Itu ada DM tipe 1 dan tipe 2. DM tipe 1 itu kerusakan di pankreas (sudah parah) bisa karena faktor dan kerusakan sudah mutlak makanya harus dapat insulin. Kalau tipe 2 yaitu tadi karena masalah penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
“…ada 2. DM tipe 1 dan tipe 2…”
“…DM tipe 1 dan Tipe 2…”
“…ada 2 yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya akibat pankreas sudah tidak bekerja.
Tipe 2 pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
“…tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
”…ada 2 jenis. Tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
”…ada diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2…”
Menurut Parkeni (2011), Klasifikasi Diabetes Melitus (DM) berdasarkan etiologis yaitu Tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut seperti autoimun dan idiopatik, Tipe 2 (bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin), Diabetes Melitus Gestasional, dan Tipe Lain (defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lainyang berkaitan dengan DM).
4.1.4 Perbedaan DM Tipe 1 Dan Tipe 2
Perbedaan DM tipe 1 dengan tipe 2 menurut informan adalah tipe 1 akibat kerusakan pankreas dan bawaan lahir sehingga sudah tidak bisa menghasilkan insulin dan harus mendapatkan insulin dari luar tubuh. Sedangkan untuk tipe 2
disebabkan karena masalah penyakit, kegemukan, resistensi insulin, karena faktor usia, sensitivitas reseptor insulin yang rendah, pola hidup yang tidak baik, dan pengatasan masalahnya masih bisa menggunakan obat-obat oral. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh informan memahami dan mengetahui perbedaan DM tipe 1 dan tipe 2.
”… DM tipe 1 itu kerusakan di pankreas (sudah parah) bisa karena faktor dan kerusakan sudah mutlak makanya harus dapat insulin. Kalau tipe 2 yaitu tadi karena masalah penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
“… DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah. DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin…”
“…DM tipe 1 karena autoimun jadi mulai dari bayi gitu lahir pankreasnya sudah tidak ada. Tapi kalau pada DM tipe 2 pada orang-orang dewasa karena pankreasnya itu sudah terganggu dalam proses produksi insulin sudah mulai terganggu karena usia…”
“…biasa tipe 1 dari anak-anak dan usia muda. Kalau tipe 2 seperti dewasa muda…”
“…tipe 1 pengobatannya harus pakai insulin karena tidak bisa lagi memproduksi insulin sehingga harus pake insulin sebagai terapinya. Tipe 2 itu masih bisa dengan obat-obatan yaitu obat-obat yang bisa memicu sekresi insulin, obat-obat yg menaikkan sensitivitas reseptor insulin…”
“…DM tipe 1 itu bawaan dari lahir dan Tipe 2 akibat pola hidup yang tidak baik…”
“…tipe 1 biasanya akibat pankreas sudah tidak bekerja. Tipe 2 pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
“…tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
”…tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
”…tipe 1 dia memang insulinnya sama sekali tidak bisa mengubah glukosa menjadi glikogen jadi harus di bantu dengan sediaan insulin. Tipe 2 masih bisa dibantu denagn obat…”
Perbedaan diabetes melitus tipe 1 dengan tipe 2 yaitu, tipe 1 karena sel beta pankreas kurang dalam memproduksi insulin atau sama sekali tidak bisa
memproduksi insulin akibat kerusakan oleh pankreas itu sendiri. Sedangkan diabetes melitus tipe 2 karena sel resistensi terhadap insulin (Widiyoga dkk., 2020).
4.1.5 Nilai Kadar Gula Darah Normal Puasa, Sewaktu, 2 Jam Setelah Makan Nilai KGD normal puasa, sesaat, 2 jam sesudah makan menurut informan berbeda-beda. Ada yang mengatakan puasa dibawah 126 mg/dl, ≤ 126 mg/dl, dibawah 120 mg/dl, dibawah 100 mg/dl. Nilai KGD sesaat ada yang mengatakan di bawah 200 mg/dl, ≤ 200 mg/dl, 100 – 130 mg/dl, di bawah 140 mg/dl. Nilai KGD 2 jam setelah makan ada yang mengatakan di bawah 200 mg/dl, ≤ 200 mg/dl, 120 – 130 mg/dl. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 4 informan dokter seluruhnya mengetahui dan memahami nilai KGD normal puasa, sesaat dan 2 jam setelah makan. Dan untuk 6 informan apoteker diperoleh dari 6 orang hanya 4 orang yang memahami dan mengetahui nilai KGD normal puasa, sesaat dan 2 jam setelah makan.
“… kalau puasa di bawah 126 mg/dl, kalau setelah makan di bawah 200 mg/dl dan sesaat di bawah 200 mg/dl juga…”
“… kalau gula normal saat puasa itu diharapkan ≤ 126 mg/dl, kalau sewaktu sama dengan 2 jam postprandial ≤ 200 mg/dl …”
“…sewaktu dan setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 120 mg/dl …”
“…2 jam setelah makan di bawah 200 mg/dl, puasa dibawah 140 mg/dl, namun ada juga yang di bawah 126 mg/dl tergantung apa yang dia makan…”
“…puasa dibawah 100 mg/dl, sesaat dan 2 jam setelah makan dibawah 200 mg/dl
…”
“…saat puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan diatas 120-130 mg/dl, sewaktu diantara 100-130 mg/dl …”
“…kalau setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 100 mg/dl …”
“…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu di bawah 200 mg/dl juga…”
”…puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan 120 mg/dl, sewaktu 140 mg/dl …”
”…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu dibawah 200 mg/dl …”
Menurut WHO kadar gula darah normal seseorang ketika puasa 4 – 7 mmol/l atau 72 – 126 mg/dl. Nilai normal 90 menit setelah makan 10 mmol/l atau 180 mg/dl. Nilai normal gula darah sewaktu normal 2 jam setelah makan 80 – 180 mg/dl. Nilai gula darah sewaktu normal kondisi ideal 80 – 144 mg/dl. Sedangkan kriteria diagnosis diabetes melitus menurut pedoman American Diabetes Association (ADA) 2011 dan Konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011 yaitu glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl dengan gejala klasik penyerta maka dengan demikian nilai normal untuk KGD puasa <126 mg/dl, glukosa 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dl maka dengan demikian nilai normal untuk KGD 2 jam setelah makan < 200 mg/dl, glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl maka dengan demikian nilai normal untuk KGD sewaktu <200 mg/dl (Pusdatin Kemenkes RI, 2018).
4.1.6 Golongan Antidiabetik Oral
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan dokter dan apoteker mengenai golongan antidiabetik oral. Dari 4 orang dokter hanya 1 orang dokter yang memahami dan mengetahui golongan obat antidiabetik oral sedangkan 3 lainnya hanya mengetahui nama obat nya saja. Informan dokter menyebutkan golongan obat antidiabetik oral yaitu golongan sulfonilurea yang fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga diharapkan bisa gula darah menjadi gula otot atau glikogen (glibenklamid, glimepiride), golongan obat yang bisa meningkatkan sensitivitas reseptor insulin seperti golongan biguanid (metformin) dan golongan thiazolidindion, golongan yang bekerja di usus yaitu alpa glucosidase inhibitor, akarbose (menghambat penyerapan
gula di usus, golongan sitagliptin / vitagliptin. Pertama sekali pasien diberikan golongan biguanid ketika terindikasi diabetes melitus.
“…golongan sulfonilurea untuk pasien seperti glibenklamid, glimepiride.
Kemudian golongan biguanid seperti metformin. Kemudian ada juga obat yang kerjanya di usus…”
“…obat-obat golongan sulfonilurea seperti glimipiride jadi obat ini fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga insulin yang lebih banyak itu diharapkan bisa merubah gula darah menjadi gula otot atau glikogen, golongan obat yang bisa meningkatkan sensitivitas reseptor insulin seperti metformin atau seperti thiazolidindion, kemudian golongan yang lain itu seperti obat ini kerja di usus misalnya alpha glukosidase inhibitor, akarbose…”
“…golongan biguanid contoh metformin untuk meningkatkan sensitivitas insulin diotot, kemudian sulfonilurea (bekerja dengan memaksa pankreas untuk meningkatkan produksi insulin contoh glibenklamid, glimepiride), akarbose (menghambat penyerapan gula di usus, sitagliptin / vitagliptin …”
“…kalau pertama kali si pasien belum pernah minum obat gula maka akan diberikan golongan biguanid (metformin)…”
Berdasarkan hasil pengamatan dari 6 informan apoteker hanya 1 orang yang menjawab lengkap golongan obat antidiabetik oral sedangkan 5 orang lainnya mayoritas menjawab sedikit golongan dan ada juga yang menjawab hanya nama obat saja. Informan apoteker menyebutkan golongan obat antidiabetik oral yaitu golongan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin sehingga aktivitas sel beta pankreas meningkat, golongan biguanid (metformin), golongan meglitinid, golongan tiazolidindion, golongan inhibitor DPP4, inhibitor alpha glukosidase, agonis reseptor GTP2, akarbose.
“…ada 4. Golongan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin sehingga aktivitas sel beta pankreas meningkat., metformin (2 x 1), akarbose dan pioglitazone (1 x 1)…”
“…ada glibenklamid, glimepiride, akarbose, glikazid, glikuidon…”
“…golongan biguanid (metformin), golongan meglitinid, golongan sulfonilurea, golongan tiazolidindion, golongan inhibitor DPP4, inhibitor alpha glukosidase, agonis reseptor GTP2…”
“…ada golongan biguanid seperti metformin, kemudian sulfonilurea (glimepiride, glikazid), inhibitor alpha glukosidase, golongan pioglitazone…”
”…setau saya ada 3. Golongan biguanid (metformin), golongan sulfonilurea (glimepiride), golongan inhibitor alpha glukosidase, akarbose…”
”…sulfonilurea (glimepiride), biguanid (metformin)…”
Sesuai dengan konsensus pengelolaan dan pencegahan DMT2 di Indonesia yang dikeluarkan oleh Parkeni, berdasarkan cara kerjanya, antidiabetik oral ada 5 golongan yang terdiri dari 6 golongan obat. Mereka diantaranya adalah : a. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) meliputi golongan sulfonilurea dan golongan glinid; b. peningkat sensitivitas terhadap insulin meliputi golongan metformin dan golongan tiazolidindion; c. penghambat glukoneogenesis meliputi golongan metformin; d. penghambat absorpsi glukosa meliputi golongan penghambat glukosidase alpa; e. golongan DPP IV inhibitor. Selain golongan diatas, ada golongan penghambat SGLT-2 yang bekerja dengan mengendalikan glukosa darah ( Sihotang dkk., 2018).
4.1.7 Definisi DRP (Drug Related Problem)
Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap dokter terkait DRP (Drug Related Problem) dari 4 dokter, hanya 1 dokter yang mengetahui mengenai DRP tersebut sedangkan 3 dokter lainnya tidak mengerti DRP. DRP merupakan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang dapat mempengaruhi outcome terkait dengan obat seperti pemberian obat yang tidak perlu, penggunaan obat yang tidak tepat, dosis yang rendah.
“…DRP itu merupakan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terkait dengan obat misalnya pemberian obat-obat yang tidak perlu, penggunaan obat-obatan yang kurang tepat, penggunaan obat-obat dosis terlalu rendah. Penggunaan obat-obat ini dapat mempengaruhi outcome (efek yang diharapkan)…”
Sedangkan hasil yang diperoleh dari 6 informan apoteker 1 diantaranya sama sekali tidak memahami dan mengerti DRP sedangkan 5 apoteker lainnya hanya mengetahui DRP tidak sepenuhnya (sedikit). Mereka mengatakan DRP yaitu
masalah yang tidak diinginkan yang timbul terkait obat, permasalahan komplikasi, tergantung dari obat-obat yang diminum, reaksi yang tidak diinginkan. Meliputi ketidakpatuhan pasien, kurangnya konsultasi dengan dokter atau tenaga farmasis, dosis terlalu rendah dan sebaliknya, obat tidak rasional, polifarmasi.
“…DRP merupakan masalah-masalah yang tidak diinginkan yang timbul terkait obat. Jenis-jenis kurang tahu…”
“…DRP adalah masalah-masalah yang timbul terkait obat misalnya seperti IO, obat tidak rasional, polifarmasi…”
“…adanya permasalahan yang komplikasi. Biasanya kalo sudah banyak obat bakal ada Interaksi dan semacamnya…”
“…tergantung dari obat-obat apa yang diminum…”
”…reaksi yang tidak diinginkan, dosis terlalu rendah, dosis terlalu tinggi…”
”…ketidakpatuhan pasien, kurangnya konsultasi dengan dokter atau tenaga farmasis…”
Menurut PCNE (2017), DRP adalah suatu peristiwa atau keadaan yang melibatkan terapi obat yang benar-benar atau berpotensi mengganggu hasil kesehatan yang diinginkan. Kategori dari DRP sendiri yaitu:
a) Pemilihan obat yang tidak benar
b) Peresepan obat yang salah tapi jelas indikasi c) Dosis terlalu rendah
d) Indikasi yang tidak jelas e) Kontraindikasi
f) Durasi yang lama dari pengobatan yang tidak perlu g) Pengobatan double
h) Dosis terlalu tinggi
i) Pemberian obat yang salah j) Interaksi obat – obat k) Tidak efektif
l) Efek samping dari penggunaan obat
m) Pengetahuan yang salah dari penggunaan obat n) Tidak puas dengan pengobatan
o) Takut akan efek samping (Ahmad et al, 2014)
4.1.8 Definisi Interaksi Obat
Berdasarkan wawancara mendalam dengan informan tentang pengertian interaksi obat berbeda-beda. Hasil menunjukkan dari 4 informan dokter hanya 1 dokter yang mengerti dan memahami definisi interaksi obat. Informan dokter menyebutkan interaksi obat dimana obat memberikan efek yang baik atau sebaliknya jika bersamaan dengan obat lain, efek yang terjadi jika 2 obat diberikan bersamaan, bisa meningkatkan atau menurunkan efek salah satu obat, bisa meningkatkan metabolisme di lever atau sebaliknya sehingga efektivitas obat berpengaruh. Sehingga interaksi obat itu sifatnya bisa merugikan ataupun menguntungkan.
“…interaksi obat artinya dimana obat akan memberikan efek yang baik atau sebaliknya jika bersamaan dengan obat lainnya…” dan Intinya ada merugikan dan ada yang menguntungkan…”
“…Interaksi obat termasuk salah satu dari DRP yang merupakan penggunaan obat satu dengan yang lain menimbulkan efek misalnya meningkatkan atau menurunkan salah satu obat. Secara umum IO itu merugikan oleh karena efek yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan…”
“…Karena IO itu bisa meningkatkan metabolisme di lever sehingga efektivitas obatnya cepet habis didalam tubuh jadi tidak selamanya bagus tapi juga tidak selamanya jelek. Hanya saja memang didalam tubuh pasien kita tidak bisa pastikan arahnya akan kemana…” dan Dan interaksi obat sendiri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan seperti dengan dosis kecil kita bisa dapat manfaat yang
“…Karena IO itu bisa meningkatkan metabolisme di lever sehingga efektivitas obatnya cepet habis didalam tubuh jadi tidak selamanya bagus tapi juga tidak selamanya jelek. Hanya saja memang didalam tubuh pasien kita tidak bisa pastikan arahnya akan kemana…” dan Dan interaksi obat sendiri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan seperti dengan dosis kecil kita bisa dapat manfaat yang