90. Prosedurpengelolaan lingkungan dan sosial untuk Komponen 1 digambarkanpada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 3 ProsedurPengelolaan Lingkungan dan Sosial Komponen 1
Keterangan: *) Pemda/PDAM dibantu oleh Field Assistant (Tim Pendamping)
4.2.1 Penapisan
91. Semua usulan tahunan subproyek memerlukan penapisan yang dilakukan sendiri oleh Pemda/PDAM sebelum dikirim ke CPMU.Kegiatan infrastruktur yang akan dibiayai oleh Komponen 1 hanya terbatas pada (i) penurunan kebocoran ATR; (ii) efisiensi energi; (iii) pengembangan jaringan distribusi dan sambungan rumah tangga baru; (iv) pembangunan/perbaikan bak penampung (reservoir); (v) rehabilitasi/optimalisasi IPA. Jenis kegiatan ini tidak berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang besar dan penting, sehingga tidak wajib AMDAL.
4.2.2 Kerangka Pengelolaan Lingkungan dan Sosial
92. Tujuan dilakukan penapisan lingkungan adalah untuk memastikan apakah kegiatan yang akan dilakukan memenuhi persyaratan secara lingkungan (lihat Gambar 3 dan Lampiran 2). Penapisan sosial dilakukan apabila penapisan lingkungan memenuhi syarat. Tujuan dilakukan penapisan sosial adalah untuk (i) mengidentifikasi apakah lahan yang akan digunakan sudah dimiliki Pemda/PDAM atau memerlukan pengadaan lahan baru; (ii) mengidentifikasi keberadaan MA di lokasi subproyek yang diusulkan (lihat Lampiran 7).
93. Jika hasil penapisan lingkungan memenuhi syarat, dilanjutkan dengan kajian lingkungan yang dapat diwujudkan dalam dokumen lingkungan UKL-UPL atau SPPL. Penapisan sosial dilanjutkan ke kajian sosial apabila Pemda/PDAM memerlukan pengadaan lahan baru dan/atau teridentifikasi adanya MA di lokasi usulan subproyek.
Usulan subproyek dariPemda/PDAM Penapisan usulan subproyek (Lampiran 1) Lingkungan: Hutan dan Kawasan Lindung dan Dampak Penting Sosial: Masyarakat Adat, Pengadaaan Lahan Pemda/PDAM*) menyusun dokumen UKL/UPL atau SPPL dan/atau rencana tindak sosial Persetujuan Bank Dunia Memenuhi Syarat Dokumen dikirimke CPMU
untuk dikaji dan diteruskan ke Bank Dunia Ya Tidak Stop Pelaksanaan Revisi Setuju Kajian Lingkungan Kajian Sosial dengan cara transect walk
94. Kajian sosial dapat dilakukan dengan menggunakan transect walk sebagai berikut:
Melakukan survei bersama dengan perwakilan pemerintahan kabupaten/kota (dapat diwakili oleh tingkat desa/kelurahan) dan masyarakat untuk mengidentifikasi batas area subproyek yang diusulkan dan potensi dampak sosial (luas lahan yang terkena, pemilik lahan dan aset di atasnya, sosial ekonomi warga terdampak), lihat Lampiran 4.
Hasil kesepakatan transect walk ditandatangani oleh Pemda/PDAM, wakil masyarakat (misal: wakil desa/kelurahan, tokoh masyarakat, 2-3 wakil masyarakat yang terkena dampak) sebagai rencana tindak sosial.
95. Masyarakat mempunyai hak untuk menyatakan pandangannya/pendapatnya secara bebas apakah mereka mendukung adanya kegiatan subproyek di wilayahnya atau berharap mendapatkan manfaat dari kegiatan subproyek yang diusulkan tersebut.Transect walk yang dilakukan oleh Pemda/PDAM bersama dengan warga yang terkena dampak memiliki nilai yang sama dengan kajian sosial sederhana dan hasil dari Transect Walk memiliki nilai yang sama dengan LARAP sederhana (abbreviated LARAP) dan Rencana Tindak MA (IPP).
4.2.3 Pengesahan
96. Jika subproyek memerlukan penyusunan UKL-UPL maka pengesahan atas dokumen UKL-UPL dilakukan di tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota di tempat lokasi subproyek. Pengesahan atas dokumen UKL-UPL dilanjutkan dengan proses untuk mendapatkan izin lingkungan untuk subproyek. Kerangka UKL-UPL disediakan dalam Lampiran 9.
97. Jika subproyek memerlukan SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup), maka SPPL tersebut diserahkan kepada kantor badan lingkungan hidup yang berwenang di lokasi subproyek untuk memperoleh tanda terima penyerahan SPPL. Format SPPL disediakan dalam Lampiran 10.
98. Dokumen UKL-UPL (beserta izin lingkungan) atau SPPL (dan tanda terima penyerahan SPPL dari BLH) dan isian formulir transect walk yang sudah disepakati, disampaikan kepada CPMU untuk dikaji dan diteruskan kepada Bank Dunia untuk mendapat persetujuan.
99. Semua pekerjaan konstruksi baru dapat dilakukan apabila dokumen/izin lingkungan dan penyelesaian rencana tindak sosial sudah dapat diselesaikan dengan baik.
4.3 PROSEDUR PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL
UNTUK KOMPONEN 2B (b)
100. Komponen 2Badalah komponen yang memberikan dukungan program bantuan teknis pada Pemda/PDAM untuk:
a) Bantuan teknis untuk peningkatan kinerja operasional dan keuangan. NUWSP akan menyediakan bantuan teknis bagi PDAM untuk menyusun program untuk kegiatan spesifik seperti penurunan kebocoran (penurunan ATR/Air Tak ber-Rekening atau Non-Revenue Water/NRW reduction), penghematan penggunaan energi (energy efficiency), analisa dan manajemen keuangan, dll, berdasarkan proposal yang disusun oleh Pemda dan PDAM. Melalui kegiatan bantuan teknis ini Pemda dan PDAM juga dapat dibantu dalam penyusunan kerangka acuan kerja dan pengadaan jasa konsultan/ kontraktor sesuai kebutuhan,
ESMF tidak mengatur lingkup kerja subkomponen ini karena tidak berdampak langsung terhadap lingkungan dan sosial.
b) Bantuan teknis untuk penyusunan proposal proyek investasi. Melalui komponen ini Pemda dan PDAM yang memenuhi persyaratan akan mendapatkan dukungan dalam menyusun Proyek investasi yang diperlukan untuk memperluas pelayanan (termasuk pelayanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah) dan meningkatkan kinerja PDAM, dan bantuan dalam penyusunan proposal Proyek dan studi kelayakan. Pemda dan PDAM yang memenuhi syarat akan mendapatkan bantuan teknis khusus untuk mengidentifikasi sumber-sumber pendanaan yang sesuai termasuk dari sumber-sumber pendanaan non-pemerintah yang tersedia di dalam negeri, dan bantuan fasilitasi untuk dapat mengakses sumber-sumber pendanaan tersebut.
ESMF hanya terkait penyiapan dokumen studi kelayakan saja dan persyaratan untuk memasukkan rekomendasi lingkungan dan sosial dari studi kelayakan ke dalam desain teknik dan dokumen lelang. Komponen 2B (b) tidak mendanai pelaksanaan hasil studi atau pekerjaan konstruksi.
101. Semua bantuan teknis yang menggunakan dana Bank Dunia harus mengacu pada Interim Guidelines on the Application of Safeguard Policies to Technical Assistance (TA) Activities in Bank-Financed Projects and Trust Funds Administered by the Bank (January 2014). Ada 4 (empat) tipe kegiatan bantuan teknis yaitu:
Tipe 1: Penguatan kapasitas klien.
Tipe 2: Bantuan kajian kerangka kebijakan, program, rencana, strategi atau hukum. Tipe 3: Perencanaan tata guna lahan atau sumber daya alam.
Tipe 4: Penyiapan studi kelayakan, disain teknis atau kegiatan lainnya yang terkait langsung dalam penyiapan proyek investasi yang akan datang – baik didanai atau tidak didanai oleh Bank Dunia.
102. Kegiatan di bawah Komponen 2B (a) fokus pada bantuan teknis untuk meningkatkan kinerja operasi dan keuangan. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk program pengurangan ATR, program efisiensi energi, kajian kelayakan kredit berdasarkan proposal. Kegiatan (a) dikategorikan sebagai Tipe 1 yang tidak memerlukan instrumen apapun untuk mengelola dampak lingkungan atau sosial.
103. Pada Komponen 2B (b), Proyek hanya sebatas mendanai penyusunan studi kelayakan saja di mana tindak lanjutnya mungkin akan dilakukan pembangunan infrastruktur yang dapat berupa: IPA baru, jaringan transmisi, reservoir, jaringan distribusi, sambungan rumah tangga, dan lain-lain tidak didanai oleh Proyek. Berdasarkan uraian tersebut, maka kegiatan Komponen 2B (b) ini dikategorikan sebagai Tipe 4. Kegiatan di hilir dari dukungan ini berpotensi menyebabkan dampak lingkungan dan sosial yang mungkin akan terjadi secara langsung atau tidak langsung akibat induksi dari kegiatan subproyek.
Gambar 4 Prosedur Penyiapan Studi Kelayakan Komponen 2B (b).
4.3.1 Penapisan
105. Semua usulan investasi baru yang memerlukan bantuan teknis harus melalui proses penapisan lingkungan dan sosial untuk menentukan kedalaman kajian yang diperlukan. Pemda/PDAM melakukan pengecekan apakah dokumen studi kelayakan yang akan disusun atau yang sudah ada telah mengacu pada ESMF
106. JikaPemda/PDAM belum memiliki studi kelayakan, maka perlu disiapkan KAK Studi Kelayakan sesuai dengan jenisnya dan mengacu pada ESMF. KAK dikirim ke CPMU untuk dikaji dan diteruskan ke Bank Dunia untuk mendapat surat tidak berkeberatan.
107. Jika dokumen studi kelayakan sudah dimiliki, tugas Pemda/PDAM untuk mengkaji apakah isi dari studi tersebut sudah mengakomodasi persyaratan yang diuraikan didalam Lampiran 5 atau 6. Jika ada kesenjangan, tuangkan kesenjangan tersebut menjadi lingkup pekerjaan yang harus dilakukan oleh konsultan yang akan ditunjuk dalam bentuk KAK untuk perbaikan studi kelayakannya. KAK tersebut dikirim ke CPMU untuk dikaji dan diteruskan ke Bank Dunia untuk mendapatkansurat tidak berkeberatan bahwa KAK tersebut telah memenuhi persyaratan ESMF.
Usulan Subproyek dari Pemda/PDAM
Penapisan Subproyek sesuai Lampiran 3 dan menentukan jenis Studi Kelayakan:
- Lengkap, - Sederhana
- Justifikasi Teknik dan Biaya
Studi Kelayakan belum tersedia Studi Kelayakan sudah tersedia Susun KAK Studi Kelayakan sesuai jenisnya (Lampiran 4 atau 5) Analisis kesenjangan Studi Kelayakan sesuai jenisnya (Lampiran 4 atau 5) Rekomendasi untuk dokumen DED dan Lelang
Dikaji CPMU Revisi Disetujui KAK Baru Ada kesenjangan/ gap Sesuai/ tidak ada kesenjangan KAK Mengisi gap Hasil analisis Penyusunan Studi Kelayakan sesuai KAK
yang disetujui
Disetujui
Dikaji CPMU Bank Dunia (surat tidak berkeberatan) * Bank Dunia (surat tidak berkeberatan) * Revisi
Dikaji CPMU Bank Dunia (surat tidak berkeberatan)
*
Revisi
Disetujui
108. Jika dokumen studi kelayakan yang ada sudah memenuhi standard ESMF, maka Pemda/PDAM melampirkan hasil analisis yang menunjukan bahwa hal-hal yang dipersyaratkan didalam Lampiran 5 atau 6 sudah terakomodasi didalam dokumen studi kelayakan yang ada. Lampiran hasil analisis tersebut dan dokumen studi kelayakan yang ada dikirimkanke CPMU untuk dikaji dan diteruskan ke Bank Dunia untuk mendapatkansurat tidak berkeberatan bahwa studi kelayakan tersebut memenuhi persyaratan ESMF.
109. KAK studi kelayakan yang telah disetujui oleh CPMU dan Bank Dunia menjadi acuan bagi konsultan yang menyusun studi kelayakanatau perbaikannya. Setelah studi kelayakan disusun, dokumen tersebut dikirimkan ke CPMU dan Bank Dunia untuk mendapatkan surat tidak berkeberatandari Bank Dunia. Selanjutnya, hasil studi kelayakan sebagai rekomendasi untuk diintegrasikan dalam desain teknis dan dokumen lelang, termasuk dokumen lingkungan dan sosial yang diperlukan.
110. Jika hasil analisis atas dokumen studi kelayakan yang sudah ada disetujui oleh CPMU dan Bank Dunia, maka Pemda/PDAM menyusun dokumen DED dan lelang berdasarkan hasil studi kelayakan.
4.3.2 Kerangka Lingkungan dan Sosial
111. Hasil studi kelayakan harus mencakup KAK dokumen lingkungan (AMDAL, UKL-UPL) dan KAK dokumen sosial (LARAP, IPP) yang harus dilanjutkan penyusunannya. Penyusunan dokumen AMDAL dan UKL-UPL mengacu pada Lampiran 9 tentang format AMDAL dan UKL-UPL, sedangkan dokumen LARAP dan IPP mengacu pada Lampiran 11 tentang LARPF dan Lampiran 12 tentang IPPF.
4.3.3 Pengesahan
112. Dokumen KAK studi kelayakan dan studi kelayakan yang didanai Komponen 2B (b) harus dikirimkan ke CPMU untuk dikaji dan mendapatkan persetujuan (surat tidak berkeberatan)dari Bank Dunia.