III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3. Prosedur Pengumpulan Data
Pada tahap awal untuk mendapatkan informasi, peneliti akan bertanya pada informan kunci (key informan) yaitu Ketua Latupati Pulau Saparua sekaligus sebagai Raja Negeri Tuhaha yang terlibat secara langsung dalam konflik dan manajemen konflik di Pulau Saparua. Selanjutnya melalui teknik bola salju (snowball) sebagai yang dijelaskan Moleong (1989), dengan informan selanjutnya sebagaimana dijelaskan berikut ini :
a. Penyerangan di negeri Iha (di Jazirah Hatawano) dengan informan : Sekertaris Latupati Saparua (Raja Negeri Itawaka), mantan Sekertaris Latupati (Raja Negeri Noloth), AL (tokoh pemuda Negeri Ihamahu sekaligus pemimpin kelompok kecil Sarani di Saparua), Sekertaris Negeri Iha, Raja Negeri Administratif Mahu.
b. Penyerangan di Negeri Sirisori Sarani dengan informan : Raja negeri Sirisori Sarani, Kepala Soa Sirisori Sarani (TS sekaligus tokoh Pemuda), Kepala Soa negeri Sirisori Salam (sebagai pelaksana tugas Raja yang lebih banyak beraktivitas di Ambon), Raja negeri Ulath, Pelaksana Tugas Raja negeri Ouw (Raja Negeri Ouw sudah meninggal).
c. Penyerangan di Dusun Pia dengan informan : Kepala Soa negeri Kulor (saat konflik Raja Kulor sekarang ini belum terpilih dan berdiam di Makasar sementara mantan Raja sudah meninggal), Kepala Urusan Pemerintahan negeri Kulor, Kepala Dusun Pia, EP (Kepala Keamanan Dusun Pia)
d. Konflik negeri Haria dan Porto : Raja negeri Haria, Raja negeri Porto
e. Negeri-negeri yang turut membantu saat konflik terjadi walaupun tidak berdekatan dengan negeri yang mengalami secara langsung dampak konflik : Raja negeri Booi, Raja negeri Paperu, Raja negeri Tiow, Kepala Pemuda negeri Saparua, Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku di Pulau Saparua, Ketua Majelis Ulama Indonesia di Pulau Saparua, Ketua Majelis Ulama Indonesia Maluku (keturunan/anak negeri Iha), Mantan Ketua DPR Kabupaten Maluku Tengah (Anak negeri Iha di Seram Barat).
Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait seperti Kantor Kecamatan Saparua, Dinas Sosial Maluku Tengah, serta LSM asing dan lokal yang turut terlibat sejak konflik sampai penanganannya. Selain itu didukung pula dengan catatan-catatan tertulis tentang konflik yang dimiliki oleh Organisasi Agama di Saparua maupun di Ambon seperti Crisis Centre Keuskupan Amboina, Crisis Centre Sinode GPM Ambon, dan Crisis Centre MUI Maluku.
3.3.2. Studi Riwayat Hidup Individu
Pada dasarnya studi riwayat hidup yang digunakan sebenarnya mengarah pada riwayat hidup informan yaitu, aktor yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam konflik serta penanganan implikasinya. Sebagaimana dijelaskan Denzin (1970 : 220), bahwa studi riwayat merupakan studi tentang pengalaman dan pemahaman dari sisi pandang individu sendiri, sebagai metode untuk memahami tindakan sosial. Tindakan sosial yang dimaksud di sini yaitu, pemanfaatan jejaring sosial sejak konflik sampai penanganan ikmplikasi konflik.
Studi riwayat hidup ini lebih spesifik lagi diarahkan pada riwayat hidup suntingan yang menurut Denzin (1970 : 221 - 223) merupakan riwayat hidup topikal (yang mengemukakan satu fase atau tahapan dalam kehidupan individu subjek riwayat) yang juga diselingi dengan komentar, penjelasan dan pertanyaan oleh seseorang di luar individu subjek riwayat. Pilihan ini didasarkan pada kenyataan bahwa fenomena sosial yang ingin dimaknai hanyalah sejak konflik muncul sampai pada penanganan implikasinya, yang terjadi pada satu fase/tahapan kehidupan aktor yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung. Studi riwayat hidup ini mencakup kasus aktor dalam konflik yang masing-masing sebagai berikut :
a. Informan pada sub bab penentuan kasus bagian a, b, c dan d; b. Informan pada sub bab penentuan kasus bagian e.
Teknik pengumpulan data riwayat hidup meliputi wawancara mendalam secara langsung, pengamatan, dan pemanfaatan arsip dokumentasi yang relevan (Laporan Organisasi Keagamaan saat konflik terjadi). Khususnya untuk menelusuri akar konflik serta jejaring sosial yang terbentuk saat itu sebagai bahan perbandingan dilakukan dengan mempelajari arsip pemerintahan kolonial Belanda yang ada di Arsip Nasional.
3.3.3. Metode Pengamatan Berperan Serta
Metode ini sebenarnya dikhususkan pada upaya peneliti untuk memahami jejaring sosial yang dimanfaatkan aktor (baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik) sejak konflik sampai pada penanganan implikasi konflik. Hal ini dimungkinkan mengingat dua alasan metodologis yang mendasari pengumpulan data kualitatif dengan metode pengamatan berperan serta (Moleong, 1989 : 138) yaitu,
pertama, pengamatan memungkinkan peneliti melihat, merasakan, dan memaknai dunia beserta ragam peristiwa dan gejala sosial di dalamnya sebagaimana para aktor melihat, merasakan dan memaknainya; kedua, pengamatan memungkinkan pembentukan pengetahuan secara bersama oleh peneliti dan aktor (intersubyektifitas).
Selain itu, ragam tipe pengamatan berperan serta yang dipilih yaitu peran serta dan keterbukaan peneliti secara penuh, mengingat para aktor mengenal peneliti dan mengetahui kegiatan pengamatan yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan pula untuk memperkecil jarak sosial antara peneliti dan aktor, sehingga semakin kecil jarak maka diharapkan aktor akan secara terbuka dan jujur pula mengungkapkan keberadaan jejaring sosial sejak konflik sampai pada penanganan implikasi konflik yang dipahaminya. Oleh karena itu, saya sebagai peneliti akan menghadapkan makna menurut kasus antara masing-masing informan. Hal ini juga sekaligus sebagai upaya peneliti untuk menguji keberadaan serta kelayakan makna tersebut, yang menurut saya sebagai suatu upaya baru dalam pendekatan kualitatif. Dalam hal ini, seakan-akan saya sebagai peneliti melakukan ferivikasi seperti pendekatan kuantitatif (padahal sebenarnya lebih tepat sebagai suatu strategi triangulasi atas makna yang diungkapkan pada kasus aktor.
Pengamatan berperan serta juga dilakukan peneliti melalui diskusi kelompok kecil pada masing-masing negeri yang hancur akibat konflik (negeri Iha, Sirisori Sarani dan Pia), dengan melibatkan tokoh-tokoh adat yang tergabung dalam Saniri Negeri (Badan Permusyarawatan Desa). Selain itu, peneliti juga mendiskusikan kembali hasil- hasil temuan lintas negeri yang berbeda agama dan berbatasan langsung, seperti antara Kepala Soa Sirisori Salam dan Kepala Soa Sirisori Sarani; Kepala Soa Kulor dan Kepala Dusun Pia; serta Tuan Tanah negeri Iha dengan Tuan Tanah negeri Ihamahu. Setelah draft Disertasi tersusun, melalui kerjasama Kepala Pemerintahan Kecamatan Saparua dan Latupati peneliti juga melakukan pemaparan Hasil Penelitian awal di tingkat Pulau Saparua yang diikuti oleh seluruh Informan serta Tokoh Agama dan Tokoh Adat masing-masing negeri di Saparua. Hasil pemaparan menjadi penting, karena ada masukan-masukan, kritik dan koreksi atas hasil yang diungkapkan. Sehingga, kolaborasi berbagai strategi penelitian yang digunakan peneliti kemudian bermuara sebagai suatu tulisan ilmiah hasil peneliti yang disebut Disertasi.